Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
23


__ADS_3

Hari demi hari dilalui Aira seorang diri. Tanpa ada tempat untuk mengadu dan berbagi rasa. Memang ada Mega di dekatnya, tapi Aira tidak sepenuhnya percaya padanya. Dia belajar dari pengalaman sebelumnya. Yang terlihat baik, belum tentu tulus. Karena itu, sekarang dia lebih berhati-hati. Bukan tidak mau berteman baik. Dia hanya sedang membangun benteng pertahanan, agar kejadian waktu itu tidak terjadi lagi. Tidak perlu terlalu dekat, tapi tidak harus menjauh.


Tok... Tok...


"Mbak Airaaa...?!" seseorang memanggilnya. Perempuan itu adalah mbak Wati, pengurus kos-kosan.


"Iya, mbak. Ada apa ya?" tanya Aira setelah membuka pintu.


"Ada tamu di depan." katanya.


"Siapa?"


"Lha iya, kok lupa tidak tanya. Dia cowok, tinggi, ganteng, hidungnya mancung. Pacarnya ya...?!" begitu ujar mbak Wati dengan lirikan genitnya.


"Siapa sih, mbak? Takut deh..." kata Aira.


Dia tidak ada janji dengan siapa pun. Lagi pula, dia juga tidak memiliki teman cowok di sini.


"Keluar saja dulu. Mau aku temani?"


Sebelum sampai di lantai bawah, Aira melihat seseorang duduk membelakanginya. Orang yang dimaksud mbak Wati itu memakai jaket yang sangat dia kenal. Rambutnya, bahu lebarnya, cara duduknya. Semua terasa sangat familiar.


"Kenal?" tanya mbak Wati saat melihat Aira menghentikan langkahnya.


"Iya, mbak. Terimakasih ya." kata Aira.


"Apa benar dia?!"


Aira menuruni anak tangga dengan langkah pelan, jantungnya mulai berdetak tak beraturan. Seolah sedang bereaksi dengan sesuatu.


"Mencariku...?!" tanya Aira ragu saat berada tidak jauh dari orang itu.


Orang yang di hadapannya itu menoleh dengan cepat.


Deg


Kaki Aira tiba-tiba terasa lemas. Sungguh dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat saat ini.


"Aku tidak bisa lama, Aira..." katanya. "Bisa kita keluar sebentar?!" pinta orang itu.


Aira tersenyum sangat manis.


"A..., aku..., akan segera kembali." Aira buru-buru kembali menaiki tangga.


"Tidak bisakah dia hati-hati? Kenapa harus lari?" gumamnya.


Tak lama kemudian Aira kembali. Masih dengan setelan yang sama. Dia hanya menambahkan outer dan sebuah tas selempang untuk menyimpan ponselnya.


Di depan kos sudah ada taksi yang menunggu mereka. Kendaraan itulah yang akan membawa mereka pergi.


"Masuklah!" orang itu membuka pintu untuk Aira. "Ke tempat yang bapak bilang tadi ya." titanya.


"Iya, mas. Siap...!!" kata si bapak driver.


"Mau kemana?" tanya Aira.


"Tempat yang bagus. Kata bapaknya begitu." jawabnya.

__ADS_1


"Ryaaaan..., aku serius...! Kamu tidak akan bawa aku ke tempat aneh-aneh kan?!"


Ya, orang yang tiba-tiba datang, yang membuat Aira lemas dan terpaku, dia adalah Ryan.


"Pak, itu bukan tempat aneh-aneh kan?" tanya Ryan memastikan.


Jujur saja, Ryan juga tidak tahu tempatnya. Dia hanya bertanya pada drivernya tentang tempat yang nyaman buat ngobrol saat dia dalam perjalanan ke kosan Aira tadi.


......................


Karena Ryan tidak ingin terlalu jauh dari bandara, dia minta ditunjukkan tempat yang dekat-dekat saja. Sehingga dia tidak akan kerepotan ketika akan kembali nantinya.


Di sinilah mereka sekarang. Sebuah taman di tengah kota. Suasananya tidak terlalu ramai, tidak sepi juga. Karena memang bukan akhir pekan, dan kebetulan masih pagi.


"Kamu terlihat baik." ujar Ryan.


"Mungkin karena kamu ada di sini sekarang." jawab Aira.


"Belajar gombal dari mana?" sahut Ryan.


"Kamu." celetuk Aira.


"Fitnah saja bisanya." Ryan tampak menyunggingkan senyuman.


Ryan menatap langit yang berwarna biru cerah, dengan awan aneka rupa yang bertebaran di atas sana. Dia nyaris tidak bisa berkata-kata saat kembali bertemu dengan Aira.


"Kok tiba-tiba bisa sampai sini? Tidak kasih tahu lagi. Untung tidak nyasar." kata Aira.


"Kan kamu sudah kasih tahu alamatnya. Kamu juga yang kasih tahu jadwal kerja kamu. Sudah lupa?" Ryan mencoba mengingatkan.


"Mana ada lupa. Cuma aku masih tidak menyangka, kamu bakal menyusulku ke sini. Ini jauh Ryan...!!!"


"Apa aku terlihat kesal?" balas Aira balik.


"Tidak. Kamu sangat menggemaskan." Ryan mencubit pipi Aira.


"Tapi kamu kurusan, Aira..." katanya kemudian.


"Masa sih?" tanya Aira. Dia bahkan tidak menyadari itu.


"Apa pekerjaanmu sangat berat? Atau kamu makannya tidak teratur ya?" terka Ryan.


"Tidak. Aku hanya sedang beradaptasi dengan lingkungan baruku." ujar Aira.


"Kalau tidak nyaman kenapa tidak berhenti saja? Cari pekerjaan lain kan bisa." begitu saran Ryan.


"Semua baik-baik saja, Ryan. Lihat aku, aku sangat sehat." katanya.


"Baguslah...!!" Ryan menepuk puncak kepala Aira.


Rasanya sangat berbeda, setelah sekian lama akhirnya dia melakukannya lagi. Kebiasaan sederhana tapi begitu berkesan dalam hati dan ingatan Aira.


Ryan sedang berusaha percaya dengan ucapan Aira. Meski dalam hatinya masih sangat mengkhawatirkan gadis yang sangat dia cintai itu.


"Apa ibu tahu kamu kemari?" tanya Aira kemudian.


"Ibuku, apa ibumu?" Ryan balik tanya.

__ADS_1


"Ibu kamulah. Kalau ibuku tahu, pasti dia akan mengatakannya." jawab Aira.


"Ibu tahu kok. Ibu juga titip pesan agar kamu jaga diri baik-baik. Ibu sangat merindukanmu." ujar Ryan.


"Hanya ibunya? Anaknya tidak ya?" cicit Aira.


"Masih kurang, setiap hari aku mengirim laporan rinduku padamu, hah?!" Ryan sangat gemas pada Aira.


Aira hanya menahan tawanya. Dia memang sengaja bertanya seperti itu.


"Semoga aku bisa sering mengunjungimu. Kamu tahu, sulit sekali jauh darimu..." ungkapnya.


"Aku juga." jawab Aira, sangat jujur.


"Tapi maaf, aku tidak bisa lama. Jam 2 nanti pesawatku berangkat. Tidak apa-apa kan?" ujar Ryan dengan mata yang senduh.


"Aku mengerti. Tidak apa-apa kok." Aira tersenyum.


"Aira...?!"


"Heeem...?!"


"Masih mau memperjuangkan masa depan bersamaku?"


Pertanyaan itu sontak membuat Aira tertegun. Tapi juga bahagia. Rupanya setelah beberapa bulan berjauhan, Ryan masih menjaga hatinya untuk Aira.


"Sulit ya?!" sahut Ryan.


"Bagaimana mungkin aku membiarkan kamu berusaha keras sendirian." balas Aira.


"Sungguh?!" Ryan sangat senang mendengarnya.


"Tunggu sampai aku tahu alasan mereka yang sebenarnya. Setelah itu kita akan sama-sama mencari jalan keluarnya." terang Aira.


"Tapi..." Ryan sedikit khawatir. "Bagaimana kalau selama menunggu, ada yang merebut posisiku?"


"Seperti yang pernah kamu katakan waktu itu. Jika aku tercipta untukmu, maka aku hanya milikmu." Aira tersenyum. Begitu juga dengan Ryan.


"Kamu orang baik Aira. Aku sudah berjanji pada diriku sendiri. Aku akan membawamu dengan cara yang baik pula. Semoga Tuhan merestui kita." tutur Ryan.


"Aamiin...!!"


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. Ryan harus segera kembali ke bandara.


"Hati-hati ya. Salam buat ibu." kata Aira.


"Iya. Kamu juga hati-hati di sini. Aku pergi, bye...!!" Ryan.


"Bye..." Aira melambaikan tangannya.


Seperti mengulang momen beberapa bulan silam. Saat Ryan mengantar kepergian Aira. Bedanya, saat ini Aira yang mengantar Ryan. Dan tidak ada gurat kesedihan sedikitpun di wajah mereka. Sangat berbeda dengan waktu itu. Sekarang keduanya tampak berseri-seri. Selain karena dipertemukan kembali, mereka juga mengikrarkan sebuah janji untuk berjuang bersama menuju masa depan yang mereka impikan.


......................


"Siapa sangka Ryan akan datang menemuiku. Begitu tiba-tiba hingga semua terasa sangat berkesan. Setelah berbulan-bulan kami **be**rpisah. Hanya bisa ngobrol lewat ponsel. Dan hari ini aku bersamanya. Sungguh aku sangat bahagia.


Apa ini awal dari jawaban Tuhan atas do'aku?...

__ADS_1


Aaah, tidak. Aku tidak boleh terlalu senang. Tapi terimakasih ya Allah. Engkau meridhoi kita bertemu lagi. Semoga Engkau selalu menjaga hubungan kami, jaga hati kami. Aamiin...!!"


__ADS_2