
Aira sudah kembali ke rumah setelah beberapa hari dirawat di rumah sakit. Kedua ibu mereka bergantian menginap di rumah. Karena mereka tidak tega melihat kedua anak mereka berdua saja di rumah.
"Ibu..., benar kan aku masih bisa hamil?"
Aira masih meragukan ucapan mertuanya dan dokter yang menanganginya waktu di rumah sakit.
"Iya, nak. Jangan khawatirkan itu." ujar ibu. "Hanya waktunya saja belum tepat, karena kondisi rahim kamu belum kuat."
"Aku takut ibu..." adu Aira. "Bagaimana kalau ternyata mereka berbohong, sebenarnya aku tidak..."
"Jangan bicara seperti itu!" potong ibunya. "Bukankah setiap ucapan adalah do'a. Bagaimana kamu bisa mengatakan hal seperti itu, nak...?" katanya.
"Maaf, ibu. Aku hanya takut mas Arlan akan meninggalkanku karena aku tidak sempurna."
Ibu mengusap air mata putrinya itu. Dia terus memberi kekuatan pada putrinya, agar tetap tegar dalam menghadapi segala hal yang menimpanya.
"Nak Arlan itu baik. Dia sangat tulus mencintai putri ibu yang cantik ini." ujarnya.
Ceklek
Arlan membuka pintu kamarnya. Dia membawa obat yang baru diantar oleh kurir rumah sakit.
"Sudah datang?" tanya ibu.
"Iya, bu." Arlan menyimpan obat itu dalam laci nakas.
"Kenapa?" tanya Arlan pada istrinya, karena dia melihat mata Aira yang merah.
"Apa ada yang sakit, sayang?" Arlan mengecup kening Aira tanpa sungkan dengan keberadaan mertuanya. Sedangkan Aira menggelengkan kepalanya.
"Nak Arlan tidak kemana-mana kan? Tolong temani Aira ya. Ibu mau masak buat kalian, karena nanti sore ibu harus pulang."
"Kenapa tidak menginap lagi, bu?" sahut Arlan.
"Kasihan nenek nanti di rumah masak sendiri." balas ibu. "Ibu akan kirim makanan ke kalian setiap hari, jadi kalian tidak perlu repot masak."
"Bu, kita bisa beli. Ibu tidak perlu repot-repot. Kasihan nanti ibu jadi capek." kata Arlan.
"Mas Arlan benar, bu." Aira setuju dengan suaminya.
"Baiklah. Terserah kalian saja."
Setelah ibu keluar, Arlan menaiki kasurnya dan merebahkan tubuhnya di samping sang istri.
"Kenapa menangis lagi? Mas kan sudah bilang, mas tidak suka melihatnya." Arlan menarik kepala Aira agar bersandar di dadanya.
"Maaf..."
Arlan mencium tangan Aira dengan lembut, kemudian beralih pada keningnya.
"Kita bisa berusaha lagi, sayang... Jangan sedih begitu." bujuk Arlan.
"Iya, mas." balas Aira yang memaksakan senyumannya.
"Setelah kamu sehat nanti, mas akan ajak kamu jalan-jalan. Kamu mau kemana?" Arlan mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku terserah mas saja." kata Aira.
"Bagaimana kalau kita ke Bali, ala-ala honeymoon begitu..." usul Arlan.
"Aku lebih suka udara si pegunungan." balas Aira.
"Kalau begitu kita sewa vila di puncak. Bagaimana menurutmu?"
"Boleh, aku mau." Aira tersenyum.
"Kiss mas dulu dong." Arlan pasang mode merajuk sambil menyodorkan pipinya.
Aira mengecup pipi Arlan sekilas, lalu kembali menenggelamkan wajahnya dalam dekapan Arlan.
"I love you, sayang..." ucap Arlan, dia semakin mempererat pelukannya.
"I love you too, mas..." balas Aira.
......................
Sesuai janjinya, Arlan mengajak Aira ke puncak setelah kesehatan Aira benar-benar pulih.
Aira berada di balkon kamarnya, dia sedang menghirup udara yang sangat sejuk. Meski sudah siang, tapi sama sekali tidak terasa panas.
Sementara itu Arlan sibuk menata barang bawaan mereka. Dia sengaja tidak meminta bantuan istrinya, karena tujuannya kali ini benar-benar ingin memanjakan sang istri.
"Mas..., coba lihat...!!" seru Aira.
Arlan tersenyum, kemudian mendekati Aira.
"Apa?" tanya Arlan.
"Di bawah sana ada sungai. Kita ke sana nanti ya. Sepertinya sangat segar." kata Aira.
"Apapun yang kamu mau sayang..." Arlan tiba-tiba mencium pipi Aira.
"Mas, iiih..." Aira tersipu malu. "Kalau ada yang lihat bagaimana...?"
__ADS_1
Arlan justru memeluk Aira, dan menghadiahi istrinya itu dengan ciuman yang betubi-tubi.
"Sengaja biar mereka iri." jawabnya asal.
Tanpa permisi Arlan menggendong Aira dan membawanya ke atas kasur.
"Mas..., masih siang..."
"Tapi mas maunya sekarang. Boleh kan...?"
"Tapi hati-hati ya, mas. Aku takut sakit..."
"Mas tahu, mas akan bermain dengan lembut." bisik Arlan.
Aira semakin malu, dia mengangguk pelan sambil menutup matanya.
Siang itu pun adegan panas di atas ranjang kembali terjadi. Mereka tidak peduli dengan apapun lagi. Terbuai dengan surga dunia yang sedang mereka arungi bersama.
"Kalau sakit bilang ya..."
Aira mengangguk saja.
Adegan itu pun berakhir dengan jatuhnya tubuh Arlan di samping Aira. Dia menarik selimut kemudian memeluk Aira yang sama letihnya.
"Terimakasih sayang..." ujar Arlan di sela deru nafasnya yang masih memburu.
Malam harinya mereka pergi berburu kuliner di sekitar vila. Gerobak demi gerobak mereka singgahi. Setelah dirasa cukup, mereka pergi ke tempat lain yang lebih indah. Di mana banyak sekali pasangan yang menghabiskan waktu berdua di sana.
"Tikar kak..." seorang anak menjajakan tikarnya pada Arlan dan Aira.
"Berapa?" tanya Arlan.
"Dua puluh ribu saja." jawabnya.
Arlan kemudian memberikan selembar uang lima puluh ribu.
"Tidak usah kembali, buat kamu saja." kata Arlan.
"Terimakasih, kak..."
Di atas tikar itu Arlan duduk selonjoran, lalu Aira tidur di atas paha Arlan.
"Pernah pacaran seperti mereka sebelumnya?" tanya Arlan pada Aira sambil melirik orang-orang di sekitarnya. Aira menggelengkan kepalanya.
"Aku yang pertama?" tanya Arlan lagi. Kali ini Aira mengangguk. "Lalu dia?"
Aira pun bangun, dia melihat suaminya sambil menarik nafas panjang.
"Maaf..., maaf..." Arlan merangkul istrinya sebelum kena semprot.
"Apa?"
"Aku hanya takut satu hal setelah kejadian itu. Aku takut mas Arlan akan meninggalkanku." begitu ujar Aira.
"Kamu mulai takut kehilangan aku rupanya? Sampai berpikiran seperti itu." goda Arlan. Aira mengangguk.
"Mas minta maaf ya. Harus waktu itu mas bisa lebih memperhatikan kamu. Benar kata Aditya, mas tidak peka."
"Aku pun merasa sangat bersalah mas, aku bahkan tidak bisa menyadari keberadaannya."
"Semoga kedepannya kita bisa saling menjaga." Arlan mempererat dekapannya.
"Iya, mas..." Aira menyunggingkan senyuman terbaiknya.
"Terimakasih sudah memberiku suami sebaik ini ya Allah..."
......................
"Pagi..., sayang...!!!" Arlan mengecup bibir Aira.
Aira hanya membalas dengan senyuman.
"Bangun yuk, katanya mau jalan-jalan...?" kata Arlan.
"Sekarang...?" suara Aira sangat serak.
Semalam mereka mengulang adegan romantis yang sama. Sehingga setelah sholat subuh berjamaah mereka kembali tidur.
"Kalau tidak jadi tidak apa-apa. Kita bisa melakukan hal lain." senyuman Arlan itu membuat Aira sedikit parno.
"Sebaiknya aku bersiap. Kita butuh menghirup udara segar." begitu ujar Aira sambil beranjak dari kasurnya.
Arlan menahan tawanya ketika melihat reaksi sang istri.
"Sayang..., aku tunggu di luar ya...!!" seru Arlan.
"Iya...!" balas Aira dari dalam kamar mandi.
Setelah Aira menyelesaikan ritualnya di kamar mandi, dia segera keluar menemui Arlan.
"Sudah? Kita cari sarapan di luar ya?" kata Arlan.
"Oke."
__ADS_1
Dengan mengendarai mobilnya, Arlan membawa Aira keluar dari vila itu. Mereka berhenti di sebuah warung kecil yang ada di tepi jalan.
Warung itu adalah pilihan Aira. Bukan karena menunya, tapi karena suasananya. Warung yang berdiri di atas lahan miring itu membuat Aira tertarik. Karena para pengunjung bisa menyantap makanan mereka di atas hamparan padi yang tampak segar dengan warnanya yang masih hijau.
Di tambah dengan suara aliran sungai di bawah warung yang memanjakan telinga. Di padu juga dengan kicauan burung. Itu sungguh sangat menyenangkan. Aira sangat menyukainya.
"Pengunjung vila ya...?" begitu cara si ibu beramah-tamah.
"Iya, bu." balas Aira.
"Pantas saja ibu tidak pernah lihat." katanya. "Pengantin baru...?" si ibu tersenyum pada Aira dan Arlan yang sedang salah tingkah.
Ibu itu menyajikan nasi di bakul, satu cobek sambal, juga ayam goreng, beserta lalapannya di hadapan mereka. Tak lupa juga tempe dan ikan asin kesukaan dua sejoli itu.
Ibu pemilik warung juga heran, bagaimana bisa pengunjung vila mendatangi warungnya. Yang biasanya hanya dibuat nongkrong sama tukang ojek, dan beberapa petani yang sedang menggarap lahannya.
"Ibu ada gorengan apa saja?" Arlan terlihat mendekati si ibu yang baru mengangkat pisang goreng dari penggorengan.
"Pisang, tahu, nangka, bakwan. Tempenya belum matang." jawab ibu.
"Sayang..., ada nangka goreng. Mau coba tidak?" Arlan melihat istrinya.
"Boleh..." jawab sang istri.
"Mau deh, bu." kata Arlan. "Semua saja dicampur."
"Baik, mas."
"Tidak apa-apa kan kami masih di sini?" Arlan merasa tidak enak, kalau terlalu lama.
"Tidak apa-apa, mas. Ibu malah senang."
"Terimakasih, bu. Soalnya istri saya masih betah."
Memang Aira yang masih enggan beranjak dari warung itu. Dia sangat menyukai tempat itu.
Dan sebagai balasan karena kebaikan si ibu pemilik warung. Arlan memberikan bayaran lebih dari yang seharusnya.
"Ini terlalu banyak..." katanya karena merasa tidak berhak.
"Tidak apa-apa ibu. Kami sangat berterimakasih." ujar Aira.
"Ya Allah, baik sekali. Semoga selalu berbahagia, segera diberi momongan yang cantik-cantik, dan ganteng-ganteng." begitu do'a si ibu.
"Terimakasih, bu..." balas Arlan dan Aira kompak.
Setelah itu mereka pergi meninggalkan warung si ibu.
Mereka terus berkeliling, dan berhenti jika ada sesuatu yang membuat mereka tertarik. Begitu terus hingga tiba waktu dhuhur. Mereka memasuki halaman sebuah masjid.
Aira terlihat sangat kusyuk dalam melangitkan segala do'anya. Cairan bening nan hangat kembali menetes dari setiap ujung matanya. Selesai berdo'a, dia kembali melipat mukenah seperti semula.
Tiba-tiba seorang nenek dengan wajah yang begitu teduh, dan masih memakai mukenah, menyapanya dengan ramah.
"Dari mana?" tanya nenek itu.
"Jalan-jalan saja nek, di sekitar sini." jawab Aira.
"Cantik sekali." puji nenek.
"Terimakasih, nek..." Aira jadi malu dipuji seperti itu.
"Nenek tinggal di sekitar sini?" tanya Aira kemudian.
"Iya, dekat sini. Mari mampir."
"Ah, terimakasih nek. Saya harus segera kembali. Suami sudah menunggu di depan." tolak Aira dengan sopan.
Nenek itu tiba-tiba menyentuh pipi Aira. Membuat Aira sedikit terkejut dan merinding.
"Jangan terlalu banyak melakukan aktivitas yang berat. Jangan sampai lelah. Semoga disegerakan segala do'a yang kamu panjatkan, nak..." nenek tersenyum sangat tulus pada Aira.
"Terimakasih, nenek."
Aira berjalan beriringan dengan sang nenek asing itu. Arlan yang melihatnya tersenyum sambil sedikit membungkukkan badannya.
"Suamimi?" tanya nenek.
"Iya, nek."
Arlan mendekati dua perempuan beda generasi itu. Kemudian pamit sama nenek.
"Dijaga istrinya, jangan boleh banyak bekerja." tutur nenek.
"Iya, nek. Terimakasih." balas Arlan.
"Hati-hati..." begitu pesan nenek.
Arlan dan Aira pun pergi meninggalkan halaman masjid.
......................
"Rasa takut kehilangan itu masih ada. Meskipun aku mendengar sendiri dari dokter kalau aku baik-baik saja. Karena tidak ada yang bisa melihat takdir masa depan seseorang. Apalagi Allah sangat pandai membolak-balikan hati manusia.
__ADS_1
Tapi aku tidak pernah berhenti berdo'a. Meminta padaNya agar mas Arlan menjadi pendamping setiaku. Dan aku juga menginginkan segera dihadirkan buah hati dalam rumah tangga kami.
Maafkan aku ya Allah..., aku yang tidak tahu diri ini terlalu sering meminta hal yang sama. Itu-itu saja. Padahal aku tahu, tanpa aku sebutkan pun Engkau mengetahui apa yang aku mau. Semoga Engkau tidak pernah bosan mendengar do'aku."