Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
12


__ADS_3

Kegelisahan menyelimuti hati Aira, karena Ryan tak bisa dihubungi sejak kepulangannya sore itu. Butiran bening pun menetes dari sudut matanya, setiap kali dia memikirkan sesuatu yang mungkin terjadi pada Ryan. Ryan bukan tipe orang yang suka mengabaikan pesan apalagi telepon darinya. Jadi pikiran Aira mulai macam-macam saat nomor Ryan tidak bisa dihubungi. Pesannya juga belum dibaca.


Lamunannya terusik karena dering ponsel yang ada di sampingnya. Aditya memanggil.


"Tadi meneleponku. Maaf tadi aku lembur. Jadi baru bisa telepon balik."


"Dit..."


"Kamu kenapa, Ra? Kamu sedang menangis?"


"Adit kamu tahu dimana Ryan?"


"Aku belum bertemu dengannya. Ada apa?"


"Aku takut dia menemui Gio, dan terjadi sesuatu. Tadi Gio mencoba mengangguku di swalayan." adu Aira pada Aditya.


"Gio katamu?!"


"Ada apa sebenarnya? Siapa Gio? Kenapa kalian seperti ini saat mendengar namanya?"


"Tidak ada. Kamu tenang dulu. Biar aku ke rumah Ryan. Mungkin dia ketiduran sepulang kerja tadi. Nanti aku kabari lagi ya."


"Segera kabari aku."


"Iya..."


Untuk kali ini Aira tidak patuh pada Aditya. Bagaimana dia bisa tenang, sementara dia belum mendapat kabar apapun tentang Ryan.


......................


Di tempat yang berbeda, yaitu di rumah Ryan.


"Ryan keluar?! Sejak kapan?" tanya Aditya pada ibu Ryan.


"Sepulang kerja dia pamit. Ibu lupa tanya dia mau kemana." jelasnya.


"Baiklah bu, terimakasih. Permisi..."


Aditya pergi dari rumah Ryan tanpa hasil apapun. Aditya tidak langsung pulang, dia memilih pergi ke rumah Putri dan meminta pendapat dari Putri.


"Kamu coba hubungi Gio. Barang kali Ryan benar-benar bersama Gio." begitu usul Putri.


"Temani aku yuk!" ajak Aditya.


Kemudian sepasang kekasih itu pergi menuju rumah Gio. Aditya memilih langsung ke rumah Gio, karena dia sangat yakin Gio tidak akan mengatakan apapun tentang Ryan kalau dia hanya meneleponnya.


"Sayang, stop..., stop...!!!" Putri menepuk pundak Aditya berkali-kali.


Aditya pun menghentikan motornya. Tepat di depan gedung PMI.


"Putar balik, itu seperti Ryan." Putri menunjuk seorang pengendara motor. "Dia baru keluar dari PMI."


Tanpa banyak berpikir, Aditya putar balik dan mengikuti pemotor itu. Dia yakin itu adalah Ryan, karena dia juga hafal plat motor milik Ryan. Setelah diikuti ternyata motor Ryan memasuki sebuah rumah sakit.


"Ryaaan...!!!" seru Putri. Sementara Aditya masih memarkir motornya.


Ryan menoleh, dia cukup terkejut melihat keberadaan Putri.


"Siapa yang sakit?" tanya Putri setelah posisinya berdekatan dengan Ryan.


"Maaf, Put. Nanti saja aku jelaskan. Aku buru-buru." dengan sedikit berlari Ryan meninggalkan Putri.


Putri tidak tinggal diam, dia terus mengikuti Ryan. Dan Aditya menyusul di belakangnya.


Ryan tampak sangat letih. Dia duduk di depan ruang operasi sambil menyibak rambutnya ke belakang, setelah memberikan dua kantong darah pada suster. Aditya dan Putri menghampirinya.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Aditya.


"Entahlah, Dit..." balasnya.


"Siapa di sana? Kamu menabrak orang?" celetuk Putri. Ryan menggeleng pelan.


"Aku bertemu Tiara saat ingin menemui Gio." Ryan mulai buka suara. "Dia terlihat kesakitan, dan kakinya mengalir darah. Aku panik dan membawanya kemari. Dokter bilang dia keguguran."


"Dia sudah menikah?!" tanya Aditya.


Sepengetahuan mereka, Tiara belum menikah. Kabar terakhir setelah dia meninggalkan Ryan, Tiara jadian sama Gio. Gio adalah saudara Ryan, tapi mereka berbeda ibu.


Tiara adalah perempuan yang dijadikan bahan taruhan oleh Gio. Gio memenangkan pertandingan sepak bola kala itu, dan dia merebut Tiara dari Ryan. Awalnya Ryan menolak, dia tidak terima kekasihnya dijadikan taruhan. Tapi fakta yang terjadi sungguh menyakitkan. Justru Tiara sendiri yang menawarkan dirinya pada Gio.


"Aku tidak tahu." begitu jawab Ryan.


"Hubungi keluarganya, dia bukan tanggung jawabmu. Kamu hanya orang yang tidak sengaja menemukannya di jalan." ujar Aditya.


"Aku sudah menghubungi mereka. Tapi mereka sedang tidak ada di sini. Jadi aku tidak bisa meninggalkannya." ucap Ryan.


"Kalau begitu kabari Aira. Dia sangat mengkhawatirkan kamu, Yan." sahut Putri.


"Em." Ryan hanya berdehem.


Ryan baru sadar kalau dia belum memeriksa ponselnya sama sekali. Yang dia bawa sejak tadi adalah ponsel milik Tiara.


......................


Sore itu Aira sedang menunggu angkutan umum. Tadi pagi dia berangkat seorang diri, pulang pun dia sendiri lagi. Sebuah motor mendekatinya. Aira menyipitkan matanya. Dia tidak tahu siapa sosok di balik helm itu. Yang pasti bukan Ryan ataupun Aditya.


"Gio..." gumam Aira dalam hati saat pemotor itu membuka helmnya.


"Sendirian? Butuh tumpangan?" Gio duduk di sebelah Aira.


"Oh, jangan-jangan sedang menunggu Ryan?" ujar Gio kemudian.


"Percuma, dia tidak akan datang." cicit Gio sambil memainkan ponselnya.


Tak lama kemudian Gio memberikan ponsel itu pada Aira. Tadinya Aira tidak peduli, akan tetapi saat melirik sekilas foto itu adalah Ryan. Ryan yang sedang menggendong seorang perempuan.


"Dia pasti sedang repot." ujar Gio kemudian. "Pulang sama aku saja, daripada menunggu terlalu lama. Sendirian pula."


Aira tetap diam, berusaha tenang, meski rasa penasaran perihal foto itu terus mengganggunya. Dari kejauhan dia melihat angkutan mengarah ke halte tempat dia menunggu.


"Hati-hati..." Gio melambaikan tangannya saat Aira beranjak dari halte.


"Kenapa reaksinya biasa saja sih? Harusnya kan dia marah, cemburu, menangis bahkan."


Gio pun kemudian kembali menaiki motornya.


Tak butuh waktu lama bagi Aira untuk sampai di rumahnya. Karena kondisi jalanan sore itu tidak begitu ramai.


Aira merebahkan tubuhnya setelah membersihkan diri. Handuk kecil masih membalut rambutnya yang masih basah. Dia menatap langit-langit kamarnya yang belum dipasang plafon. Sehingga tampak jelas atap rumah yang tersusun rapi. Pikirannya kembali tertuju pada foto di handphone Gio.


"Apa mungkin Ryan tidak sengaja menabrak orang. Dan dia berusaha bertanggungjawab."


"Tapi jika itu bukan kecelakaan, bisa jadi cewek itu adalah orang terdekat Ryan. Mungkin juga sangat berarti. Sampai dia tidak punya waktu menghubungiku sekedar untuk memberi kabar."


Aira menutup matanya. Dia menarik nafas panjang dan membuangnya berlahan untuk melepaskan beban yang ada dalam dirinya.


Tok... Tok...


Aira bangun, dan membuka pintu. Ternyata ibunya yang datang.


"Mau ikut bantu ayah?" tanya ibu. "Ada yang pesen nasi goreng cukup banyak. Ayah pasti butuh pasukan tambahan." ibu tersenyum pada Aira.

__ADS_1


"Daripada aku terus melamun, mending aku ikut ibu." begitu pikir Aira.


Aira pun memutuskan untuk pergi bersama ibunya.


Benar saja, saat sampai di warung sudah terlihat beberapa bungkus nasi goreng di atas meja.


"Bantu masukin kardus, sekalian di hitung ya!" titah sang ayah.


"Siap, yah!" Aira pun segera melaksanakan tugas dari ayahnya.


Beberapa saat kemudian sebuah mobil datang, dan pemiliknya segera menemui ayah Aira.


"Sudah pakde?"


Aira sangat mengenal suara itu. Gio.


"Tinggal 5 bungkus, silakan duduk dulu." jawab ayah Aira.


Aira menoleh ke arah Gio, dan Gio tersenyum padanya. Gio terus memperhatikan setiap pergerakan Aira. Hingga Aira selesai memasukkan bungkusan nasi goreng yang terakhir.


"Biar aku saja." Gio beranjak dari duduknya saat melihat Aira hendak mengangkat nasi goreng pesanannya.


"Terimakasih." kata Gio pada Aira.


Diam-diam sang ayah memperhatikan interaksi keduanya. Ayah tersenyum. Dan setelah Gio pergi, ayah menghampiri putrinya.


"Teman baru kamu?" tanya ayah.


"Temannya Aditya dan Ryan, ayah." balas Aira apa adanya.


"Beginilah kalau punya anak perawan cantik." ujar ayah. "Ayah jadi bingung menyeleksi calon menantu." ayah menggoda putrinya.


"Ayaah..., pikirannya terlalu jauh deh..." sahut Aira.


"Ayah ini juga pernah muda. Ayah bisa lihat kok, siapa-siapa teman cowok kamu yang sedang melakukan pendekatan sama anak ayah ini." katanya lagi.


"Terus ayah pilih yang mana?" ibu ikutan nimbrung.


"Kalau bisa sih bukan anak sini, bu." balasan ayah itu seakan memberi isyarat, bahwa ayah belum rela kalau Aira menjalin hubungan serius dengan penduduk asli sana.


"Lha yang mendekati anak kita saja penduduk asli 100% di sini."


"Tapi kalau memang jodohnya anak sini, ya ayah bisa apa bu. Manusia hanya bisa berencana, selebihnya urusan Tuhan." tutur ayah.


"Yang jelas, pendamping Aira kelak harus benar-benar bisa bertanggungjawab atas Aira. Dan tidak menyia-nyiakannya." ayah menatap putrinya. "Karena anak ayah adalah harta yang paling berharga."


"Ayah..." Aira memeluk ayahnya.


"Anak ayah harus lebih bahagia setelah menikah nanti." ayah mengusap rambut Aira.


"Tapi aku masih 19 tahun ayah. Belum mau menikah." sahut Aira.


"Iya..., iya..." ayah dan ibu tertawa melihat ekspresi wajah sang anak yang terlihat kesal.


......................


"Ternyata benar, masalah itu seperti pohon pisang. Setelah ditebang akan tumbuh tunas baru. Baru beberapa waktu belakangan ini aku merasa sedikit damai dengan kehidupanku, sekarang muncul masalah baru. Harusnya sih..., ini tidak menjadi masalah besar bagiku. Tapi aku terus saja membuat otakku bekerja keras memikirkannya.


Ryan bukan siapa-siapa, dia hanya seorang teman. Toh aku tidak memiliki hubungan khusus dengannya. Tapi kenapa rasanya sakit sekali ketika dia mengabaikanku???...


Apa yang dia lakukan sekarang?...


Apa dia masih sibuk dengan perempuan dalam foto itu?...


Meski pesanku sudah dibaca, dia juga tidak membalasnya. Sepertinya dia mulai melupakanku."

__ADS_1


__ADS_2