
"Assalamualaikum...!!"
Aira menghentikan aktivitasnya setelah mendengar salam dari luar.
"Ryan..?!" gumamnya. "Masa iya?" dia masih tidak yakin.
Tak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekati kamarnya. Aira bisa langsung tahu kalau yang datang adalah ibunya, karena pintu kamar yang dibiarkan terbuka lebar.
"Matikan setrikanya. Ada Ryan di luar." begitu lapor sang ibu.
"Ryan?"
"Iya, cepat keluar!" titah ibu.
Aira dan ibunya beriringan keluar dari bangun utama. Kemudian ibu mengambil arah ke dapur untuk membuat minuman, sementara Aira menemui Ryan yang sedang menunggu kedatangannya di teras.
"Hai..." sapa Aira.
Baru beberapa hari tidak bertemu, sikap mereka menjadi canggung. Seakan baru saja berkenalan.
"Aku ganggu?" tanya Ryan. Aira membalas dengan gelengan kepala.
"Apa kabar?" tanya Ryan lagi setelah Aira duduk di kursi yang berseberangan dengan kursi yang diduduki oleh Ryan.
"Baik. Kamu gimana?" jawab Aira sambil kembali bertanya.
Obrolan mereka terjeda sejenak, karena mereka melihat kedatangan ibu.
"Diminum dulu nak Ryan. Seadanya ya." ujar ibu Aira.
"Terimakasih bude, jadi merepotkan." balas Ryan.
"Hanya es teh, tidak repot kok."
Ibu Aira kembali ke belakang, setelah menaruh es teh dan camilan di atas meja.
"Kamu terlihat kusut begitu, kamu sakit?" Aira sedikit khawatir.
"Tidak, mungkin karena aku terlalu memikirkan kamu akhir-akhir ini." celetuk Ryan. "Sampai aku sulit untuk tidur." adunya.
"Masih banyak hal lain yang perlu kamu pikirkan. Kenapa harus memikirkan aku sih...? Aku baik-baik saja." sahut Aira.
"Maafkan aku karena tidak memberi kabar." ujar Ryan. "Kamu pasti marah sama aku kan?" begitu terka Ryan.
"Aku bertemu teman lama, dia kesakitan di jalan. Lalu aku membawanya ke rumah sakit." Ryan mulai menceritakan kronologinya tanpa Aira minta.
"Karena orang tuanya belum bisa datang, aku diminta menjaganya sampai mereka tiba. Dan tadi pagi orang tuanya baru datang, karena mereka baru mendapatkan tiket pesawatnya. Jadi aku langsung menemuimu. Aku tahu kamu off hari ini."
"Sebegitu parah kah keadaannya? Sampai kamu tidak ada waktu untuk mengabariku?" begitu umpat Aira yang hanya bisa melantun dalam hatinya.
"Mau memaafkanku?" Ryan menatap lekat mata Aira.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan. Lain kali jangan diulangi ya. Aku sempat berpikir kamu kenapa-kenapa, mungkin Gio melukaimu." ujar Aira yang apa adanya.
"Tidak. Aku belum sempat bertemu dengannya." jawabnya. "Apa dia menemuimu lagi??" Ryan sangat ingin tahu.
Anggukan pelan dari Aira membuat Ryan kembali menahan amarahnya di depan Aira.
"Dia menyakitimu?!" nada Ryan sedikit naik oktaf.
"Tidak. Dia hanya menawariku tumpangan. Tapi aku menolak." Aira sangat jujur, karena memang seperti itu faktanya. "Dia juga datang memborong nasi goreng ayahku." sambungnya.
"Cari mukaaaa...!!" dengus Ryan membatin.
"Ngomong-ngomong besok masuk jam berapa?" Ryan tidak ingin membahas Gio lagi.
"Pagi." kata Aira.
"Baiklah, besok aku jemput." Ryan sangat bersemangat.
......................
Hari itu ketika Ryan baru saja sampai di halaman komplek pertokoan, tiba-tiba handphonenya berdering. Tiara memanggil. Aira tidak ingin bertanya apapun. Dia hanya memperlambat pergerakannya melepas helm, karena dia penasaran.
"Ya, kenapa?"
__ADS_1
"...."
"Aku sedang mengantar pacarku kerja."
"Hah, pacar?!" gumam Aira. Pasalnya yang dialah orang yang sedang bersama Ryan.
"Aku kesana nanti, pacarku juga ingin menjenguk kamu. Nanti aku kabari, bye..." Ryan kembali memasukkan handphonenya ke dalam saku celana.
"Ngomongnya suka asal ya." ujar Aira sambil menyerahkan helmnya pada Ryan.
"Maaf, aku harus melakukannya. Biar dia tidak terlalu berharap padaku." jawab Ryan.
"Dia siapa?" tanya Aira.
"Orang yang aku tolong itu."
"Oooh..."
"Nanti ikut aku ya sepulang kerja?" pinta Ryan.
"Untuk menemui Dia...?!" sahut Aira dengan kata terakhir yang penuh penekanan.
"Pintar!" Ryan menepuk-nepuk puncak kepala Aira.
"Baiklah. Aku masuk duluan ya." pamitnya.
"Oke." balas Ryan.
"Eh, Aira...!!" seru Ryan sebelum Aira menjauh. "Memangnya kamu tidak mau jadi pacarku?!" goda Ryan. Meski pada dasarnya memang menginginkan hubungan itu terjadi padanya dan Aira.
"Kerja..., kerja...!!!" seru Aira sambil berlalu.
"Maaf Tiara, karena posisimu sudah tergantikan dengan kehadiran gadis yang manis ini." batin Ryan.
Sore harinya Ryan dan Aira benar-benar datang ke rumah sakit untuk menjenguk Tiara. Akan tetapi sampai di depan kamar Tiara, Ryan mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Karena dia mendengar sesuatu dari dalam.
"Aku bersyukur anak itu tidak terlahir di dunia. Karena pada kenyataannya kamu menginginkan aku hanya untuk menyakiti Ryan, iya kan? Bagaimana bisa kamu sekarang marah karena aku keguguran???!! Dasar manusia jahat!!!"
"Awalnya iya! Tapi setelah aku tahu ada janin di perutmu, aku ingin hubungan kita lebih serius dan kamu melahirkan anak itu yang merupakan darah dagingku. Siapa yang lebih jahat? Seorang ibu yang sengaja minum obat untuk menggugurkan calon bayinya, atau aku???!!"
"Sebaiknya kita pergi!" ajak Aira. Ryan hanya mengangguk.
Keduanya tidak langsung pulang, mereka duduk di taman rumah sakit terlebih dulu.
"Ternyata benar bayi itu milik Gio..." gumam Ryan.
"Kenapa kalau milik Gio?" pertanyaan itu spontan keluar dari bibir Aira.
"Tidak ada." balas Ryan. "Makanya aku menjagamu darinya, takut hal yang Tiara alami terjadi juga sama kamu." katanya kemudian.
"Hah?!" Aira masih kurang paham.
"Gio selalu ingin mengambil apa yang aku miliki. Karena dia selalu berpikir, ibuku telah merebut ayahnya. Aku dan Gio bersaudara, ibuku istri kedua ayah Gio."
"Jadi dia kakakmu?" Aira baru mengetahuinya.
"Eem." balas Ryan. "Cukup Tiara saja. Aku tidak akan membiarkan dia mengambilmu dariku. Meski aku sadar kamu bukan milikku. Tapi kamu adalah satu-satunya cewek yang dekat denganku saat ini." Ryan menoleh pada Aira yang ada di sampingnya.
"Aku bukan barang yang mudah diambil-ambil ya!" celetuk Aira dengan ekspresi ngambek yang dibuat-buat. Sengaja dia lakukan untuk mencairkan suasana.
"Bisa saja kalau ngomong ya...!!!" Ryan mencubit pipi Aira dengan gemas.
"Cewek sialaaann...!!" seru seseorang sambil menendang angin.
Aira dan Ryan menoleh ke sumber suara. Gio. Iya, orang itu adalah Gio. Yang wajahnya dipenuhi amarah.
Ryan beranjak dari bangkunya, dia menghampiri Gio. Aira pun mengekor di belakangnya.
"Jika Tiara sialan, lalu kamu apa?" kata Ryan. "Kalian berdua sama. Sebaiknya kalian bertobat." tegasnya.
"Kamu...!!" geram Gio.
Amarah Gio seakan naik level di hadapan Ryan. Dia mengepalkan tangannya, siap untuk menghantam adiknya. Tapi kehadiran Aira, membuat dia ragu.
"Kita pergi saja!" Aira menarik tangan Ryan, lalu pergi meninggalkan Gio.
__ADS_1
......................
"Langsung pulang ya, jangan mampir-mampir lagi." begitu pesan Aira pada Ryan.
"Siap!" katanya.
"Hati-hati..."
Ryan berlalu meninggalkan rumah Aira. Aira segera menutup pintu pagarnya, dan menguncinya. Dia sempat memergoki om depan rumah yang sedang memperhatikan dirinya sambil tersenyum.
"Hiiiih...!!!" Aira mempercepat langkahnya menuju ke dalam rumah.
"Menyebalkan sekali sih. Nggak ingat umur apa?!"
"Ada apa?" tanya ibu, karena mendengar Aira yang terus menggerutu.
"Tetangga depan tuh, bikin kesal ibu...!!" rengeknya. "Aku nggak suka dia melihatku seperti itu. Mengerikan!"
"Ssstt..., ngomongnya kok begitu." tegur ibu.
"Memang dia begitu. Lama-lama nggak betah aku di sini." Aira masuk kamar begitu saja tanpa pamit pada ibunya yang ada di ruang tamu.
"Aira..., Aira..." gumam ibunya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Malam harinya, Aira dan ikut bersama ibu pergi ke toko depan membeli lilin. Mereka sama-sama lupa kalau daerah mereka mendapat giliran pemadaman listrik.
"Ah!" Aira terkejut saat sorot lampu senter mengarah ke wajahnya.
"Maaf mengagetkan." orang itu adalah om tetangga depan. Pak Rendi.
"Bude dan dek Aira mau kemana?" tanya pak Rendi sambil melirik Aira.
"Ke kios depan pak. Beli lilin. Kami kehabisan stok." jawab ibu Aira.
"Biar saya bantu beri penerangan." katanya.
"Tidak perlu, pak. Ada ini." Aira menyalakan senter dari ponselnya.
"Permisi ya pak." pamit ibu dengan sopan.
"Hati-hati..." balas pak Rendi.
"Dak dek dak dek. Sejak kapan aku punya kakak...!!!" dengus Aira kesal.
Di depan gang banyak pemuda yang sedang nongkrong, karena kebetulan pos ronda ada di depan gang sempit menuju rumah kontrakan Aira tersebut. Meski begitu, Aira tak merasa takut atau sungkan. Karena para pemuda di lingkungannya tidak pernah mengusiknya. Mereka selalu sedikit menganggukkan kepala dan tersenyum ramah setiap kali bertemu keluarga Aira. Mereka juga sangat menghormati ayah Aira. Hanya satu yang meresahkan, yaitu om tetangga depan rumah.
"Kita bantu terangi ya bude..." ujar seorang pemuda dengan sopan, sambil menyalakan lampu motornya.
"Terimakasih, jadi merepotkan." balas ibu Aira tak kalah ramah.
"Terimakasih." Aira pun tak lupa mengucapkan terimakasih atas kebaikan mereka.
"Sama-sama..." ujar sebagian dari mereka.
Aira kembali cemberut ketika mendekati rumahnya. Karena pak Rendi terpantau masih duduk di depan rumahnya sambil memainkan ponselnya.
"Cepetnya balik?" kata pak Rendi berbasa-basi.
Aira mengabaikannya, dia segera masuk meninggalkan ibunya.
"Iya, pak. Permisi..." ibu Aira kembali menutup pintu pagar dan menguncinya dengan rapat.
"Kapan Aira bisa hidup dengan nyaman di sini?!... Setelah di sana, sekarang di sini pun ada pak Rendi yang sepertinya mengusik ketenangan putriku."
Firasat seorang ibu memang tidak pernah salah. Belakangan ini ibu Aira memang sempat mecurigai pak Rendi, tapi dia selalu menekan prasangka buruknya. Tapi malam ini dia benar-benar melihat semuanya. Persis sekali dengan yang sering diadukan putrinya.
......................
"Pandangan orang terhadap kita tidak akan pernah sama. Ada yang memandang dengan teduh. Ada yang sinis. Ada juga yang melihat kita penuh....
Aahh, sudahlah.
Andai aku bisa menutup matanya. Mungkin aku akan melakukannya dan tidak akan pernah membukanya meski dia memohon padaku. Mata itu sangat mengerikan dan menjijikkan.
Astaghfirullah....!!!
__ADS_1
Ya Allah..., jauhkanlah aku dari hal-hal buruk...."