Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
17


__ADS_3

Ryan menertawakan dirinya sendiri ketika mengetahui sebuah fakta bahwa bukan hanya dirinya yang diajak oleh Aira. Tapi teman yang lain juga.


"Kamu kelewat PD, Ryan..." batinnya sambil menyisir rambutnya yang masih setengah basah.


"Haaaah...!!!" Ryan menghela nafas, lalu menaruh ponselnya di meja.


"Tumben sekali Aira ngajak jalan ya? Apa dia lagi ulang tahun? Oh tidak, masih beberapa bulan lagi."


Bicara soal ulang tahun membuat Ryan teringat sebuah momen di hari ulang tahun Aira. Itu adalah pertama kalinya dia mengenal lebih dekat seorang Aira yang banyak dibicarakan oleh orang-orang di kampungnya.


Tapi siapa sangka itu adalah awal dari timbulnya masalah untuk Aira dan keluarganya. Sampai mereka harus segera pindah dan meninggalkan nama buruk di kampungnya.


"Ah tidak. Mereka orang baik. Itu hanya kesalahpahaman." Ryan meralat lamunannya sendiri.


Tok... Tok... Tok...


Ryan beranjak membuka pintu kamarnya.


"Iya bu, ini sudah selesai." katanya sambil menutup lagi pintu kamarnya


"Ibu pikir ketiduran lagi." balas sang ibu. "Aditya sudah menunggu di luar."


"Mana mungkin ketiduran bu, ini kan acara spesial." sahut Ryan.


"Ya sudah, cepat berangkat. Keburu panas." kata ibu.


"Iya. Berangkat ya bu." pamitnya.


......................


Meski bukan hari libur, tapi pantai lumayan ramai. Sebagian besar pengunjung yang datang untuk menikmati suasana pantai adalah turis dari mancanegara. Ada yang berjemur, berenang, main kano, hingga pasir.


Aira ditemani Ninik dan Putri duduk di atas tikar yang mereka sewa. Sambil menikmati hidangan yang sudah mereka pesan.


Tapi beberapa saat kemudian Aira mulai tertarik untuk bermain air.


"Kesana yuk!" ajak Aira.


"Males, Ra. Lagi dapet aku. Nggak nyaman banget main air." balas Ninik.


"Aku juga mager, Ra." sahut Putri.


"Kalian ini. Ya sudah, aku ke sana ya." Aira pergi meninggalkan teman-temannya.


Aira melangkah dengan anggun di atas pasir pantai tanpa alas kaki. Dia mendekati bibir pantai dan membiarkan air laut menyentuh kakinya melalui ombaknya yang tenang.


Aira menutup matanya, menghirup udara laut secara berlahan. Dia seolah terbuai dengan deburan ombak dan angin sepoi yang berhembus sopan menyapa pori-pori kulitnya. Hatinya yang semula gelisah berangsur menenang.


"Laut itu bisa membuat suasana hati lebih baik."


Suara itu mengejutkan Aira. Aira menoleh ke samping kanannya. Rupanya Ryan sudah berada di sisinya sambil menatap hamparan air laut.


"Apa hati kamu sedang tidak baik? Makanya kamu mengajak kita ke sini?" Ryan menatap Aira.


Aira tersenyum tipis. Dia memilih untuk duduk di atas pasir yang basah. Ryan pun melakukan hal yang sama.


"Kenapa diam? Ada yang mengganggu pikiranmu?" tanya Ryan lagi.


Aira masih memilih diam.


"Baiklah, aku tidak akan bertanya lagi." putus Ryan.


"Ryan..." ujar Aira kemudian.


"Hemmm..."


"Jika suatu hari nanti aku pulang." kata Aira.

__ADS_1


Kalimat yang keluar dari bibir mungil Aira itu bagai batu besar yang menghantam dada Ryan. Membuat dadanya terasa sesak dan sakit.


"Mungkin nggak sih, kamu dan teman-teman yang lain akan terus mengingatku?" tiba-tiba setetes air mata terjatuh dari kedua sudut matanya.


"Ini alasan kamu membawa kita kemari?" suara Ryan terdengar tak selantang sebelumnya. Lebih lirih, namun Aira masih bisa mendengarnya.


"Aku merasa ingin menghabiskan banyak waktu bersama kalian. Paling tidak setelah aku pulang nanti, aku memiliki banyak kenangan dengan kalian." Aira mengusap air matanya.


Ryan mengulurkan tangannya, mengambil alih pergerakan tangan Aira untuk mengusap air mata yang seolah tak bisa berhenti mengalir.


"Jangan menangis, please...!!" pinta Ryan. Lalu dia menggengam tangan Aira.


"Kita sama-sama tahu, cepat atau lambat saat itu pasti tiba. Tapi aku benar-benar tidak menyangka, kamu akan mengatakannya sekarang." tidak dapat dipungkiri, bahwa Ryan sangat sedih mendengarnya. Tapi dia tidak ingin terlihat sedemikan rapuh di hadapan Aira, yang jelas-jelas saat ini butuh sandaran.


"Apa menurutmu aku sangat jahat?!" kali ini Aira menatap Ryan, sangat dalam.


"Iya, jahat banget malahan." celetuk Ryan dengan nada tengilnya. Kemudian melepas tangan Aira.


"Setelah kamu hadir dalam kehidupanku dan mengusik ketenanganku. Sekarang kamu tiba-tiba ingin pergi dariku, hah...?!" kali ini dia menoel hidung Aira. "Tanggung jawab dulu, dong..." ujar Ryan.


"Bagaimana caraku bertanggung jawab?" balas Aira sambil memamerkan senyuman yang beriringan dengan air mata.


"Berhentilah bersedih dan menangis, Aira." ujar Ryan sambil mengusap air mata Aira yang lagi-lagi menetes tanpa permisi.


"Aku tidak mau melihat ini lagi." Ryan menunjukkan sisa air mata Aira di ibu jarinya.


"Maaf..." jawabnya lirih.


"Bukannya kamu ingin kita mengukir momen yang indah di sini?" Ryan tersenyum. "Ayo ikut aku!" ajak Ryan.


"Kemana?" tanya Aira setelah Ryan berdiri dan mengulurkan tangannya.


"Kita naik kano." katanya.


"Enggak, aku takut..."


"Ayo...! Ada aku ini. Aman!" kata Ryan meyakinkan Aira sambil menarik tangan Aira.


"Ayolah...!! Seru tahu...!!" Ryan sengaja memaksanya.


"Dibilangin nggak mau juga." Aira memilih menjauh dari Ryan.


Ryan tidak menyusulnya, dia justru menyiprati Aira dengan air laut.


"Ryaaaann!!!" sentak Aira.


Ryan tertawa sambil berlari, Aira mengejarnya dan sesekali mengambil air untuk membalas kejailan Ryan. Skenario Ryan berjalan lancar, dia memang sengaja melakukan itu agar Aira melupakan kesedihannya.


"Nggak kena, lari makanya...!!" Ryan terus menggoda Aira yang ada di belakangnya.


"Aauuhh...!!!" jerit Aira sambil memegang kakinya.


"Ra...!!!" Ryan yang panik berlari ke arah Aira yang sudah terduduk di atas pasir.


"Kenapa?" tanya Ryan setelah mendekat. "Ya ampun...!!" seru Ryan saat melihat kaki Aira berdarah.


Aira tidak sengaja menginjak patahan cangkang kepiting saat berlari mengejar Ryan. Dengan sigap Ryan menggendong Aira, dan membawanya ke tempat teman-temannya.


"Ada apa?!" Aditya tampak khawatir. Teman yang lain pun ikut panik.


"Kena cangkang." balas Ryan datar.


Ryan mendudukkan Aira dengan hati-hati. Lalu membersihkan luka Aira dengan air mineral.


"Tasku." ujar Ryan.


Aditya memberikan tas milik Ryan. Ryan mengambil obat merah dan plester yang memang selalu dia bawa setiap bepergian.

__ADS_1


"Sakit ya, Ra?" tanya Putri.


"Dikit." balas Aira. "Aaahh!" pekik Aira. "Pelan..." katanya.


"Maaf..." sahut Ryan. "Sudah. Nanti kita beli obat pas pulang."


Aditya tersenyum melihat dua sejoli itu. Dia merasa ada kabar gembira di balik tragedi tusukan cangkang. Dia belum tahu saja, kalau pemikirannya berbanding terbalik dengan fakta yang ada.


......................


Aira yang pulang dengan langkah sedikit pincang, membuat panik kedua orang tuanya.


"Tidak apa-apa, ayah. Tadi pas main kena cangkang. Tapi mereka sudah membawaku ke dokter." terang Aira sambil melihat ke arah teman-temannya.


Aira menatap bangga pada teman-temannya. Dia bersyukur memiliki teman sebaik mereka.


"Terimakasih ya." kata ibu.


"Sama-sama." balas teman-teman Aira.


"Eh, pakde lagi libur. Kalian mau makan malam di sini?" tawar ayah Aira.


"Maulah pakde..." sahut Aditya sangat antusias.


"Aku juga." Putri mengangkat tangannya.


Semua memutuskan untuk menerima ajakan makan malam dari orang tua Aira. Dan mereka tidak berkeinginan untuk pulang. Mereka lebih memilih tetap di kontrakan Aira. Sebagian membantu ibu memasak. Ada yang sedang menyapu halaman, yang nanti akan dijadikan tempat mereka berkumpul. Sementara Ryan membantu ayah Aira membakar ikan.


"Bagaimana? Enak bumbu ikannya?" tanya ayah Aira.


"Enak pakde. Pakde yang buat?" balas Ryan kembali bertanya.


"Budelah." katanya.


"Kirain pakde."


Hari mulai gelap, setelah sholat maghrib berjamaah mereka berkumpul di halaman untuk makan malam bersama.


"Hati-hati, Ra." kata Ninik.


"Aman." balas Aira.


Mereka menikmati makan malam dengan menu ikan bakar, tempe dan tahu goreng. Tidak lupa sambal terasi dan sayur bening.


"Yaaa, siapa ini yang bakar sampai hitam begini." celetuk Hendri sambil mengangkat ikan yang separuh badannya sedikit gosong.


Sebenarnya semua sudah tahu siapa tersangkanya. Hendri hanya ingin membuat suasana lebih ramai.


"Nih si kangmas Ryan." sahut Putri.


"Ngelamun saja dia bakar ikan." ayah ikutan nimbrung. "Untung bukan tangannya yang gosong."


Semua tertawa mendengarnya, Ryan pun ikut tertawa bersama mereka.


"Enak bumbunya." kata Ninik.


"Coba tadi kita ke pantai bawa makanan begini ya..." sahut Aditya.


"Kapan-kapan agendakan lagi, tidak keberatan kan kalau kita ikut?" begitu ujar ibu Aira.


"Waah..., boleh itu. Pasti tambah seru." Hendri sangat bersemangat.


"Tapi nanti setelah Aira sembuh. Masa iya kita ke pantai bawa orang sakit." sang ayah menggoda putrinya.


"Ayah, iih..." sahut Aira. "Awas saja, kalau aku sembuh tapi ayah dan ibu tidak jadi ke pantai." ujar Aira sekenanya.


Ini adalah hari yang indah buat Aira. Meski sempat banyak drama dan air mata ketika di pantai. Tapi semua berakhir menyenangkan setelah acara makan malam dadakan yang dibuat oleh ayahnya.

__ADS_1


......................


"Ayah..., ibu..., sebenarnya aku tidak mengerti ada apa dengan kalian?... Kalian terlihat begitu akrab dan menerima mereka dengan baik. Tapi kalian juga ingin segera membawaku pergi. Maafkan aku, ayah, ibu... Karena kehadiranku di sini membuat ayah dan ibu gelisah sepanjang waktu."


__ADS_2