
Berat sekali langkah kaki Aira hari ini. Jika boleh, Aira ingin sekali tidak masuk kerja. Sampai Mega kembali. Tapi semua hanya angan-angan. Dia tidak mungkin bisa seenaknya berlaku seperti itu. Setiap menitnya Aira selalu dilanda kegelisahan, lantaran khawatir akan kedatangan Samuel.
"Terimakasih, kak. Kami tunggu kunjungan berikutnya..." ujar Aira pada customer yang baru saja menyelesaikan pembayaran.
"Kembali kasih, kak..." jawabnya.
Setelah orang itu pergi, datanglah sosok yang sama sekali tidak dia harapkan kehadirannya. Koko Sam, alias Samuel.
"Apa semua berjalan lancar?" tanya Samuel pada Aira.
"Iya, ko." balas Aira.
"Mega bilang ada file yang harus diperiksa." kata Samuel sambil menunjuk komputer di atas meja.
"Oh, iya. Silakan, ko." Aira mengambil langkah untuk menjauh. "Saya permisi dulu, ko. Mau ke belakang." bualnya.
"Silakan." balasnya.
Aira segera pergi dari tempat itu. Dia sudah memikirkan segalanya sebelum berangkat tadi pagi. Dia akan selalu cari cara untuk bisa jauh dari si koko itu.
"Sampai kapan aku di dalam sini? Aku tidak bisa begini terus. Masa iya setiap koko mendekat aku izin ke toilet?!"
Aira menarik nafas panjang sebelum membuka pintu ruang karyawan.
"Ya ampun..., masih di sana saja..." batin Aira saat melihat Samuel masih fokus menatap layar komputer.
"Kak...?!" seorang pengunjung menghampiri Aira.
"Iya, ada yang bisa dibantu?"
"Aku bingung mau pilih mana. Bisa bantu aku?"
"Oh, tentu. Mari!" Aira tampak menyunggingkan senyuman.
"Syukurlah... terus saja ada pengunjung yang seperti ini." begitu batin Aira.
"Apa dia sengaja menghindariku?" pikir Samuel.
Sesekali Samuel melirik Aira, memperhatikan aktivitas yang dia lakukan. Tanpa dia sadari hal itu tak luput dari pantauan Bianka dan Rima.
"Haduuuh...!!!" gumam Rima lirih.
"Sudah, ayo kerja." tegur Bianka dengan pelan.
"Apa sih hebatnya Aira? Baru juga beberapa bulan kerja sudah bisa saja narik perhatian koko. Orang biasa saja begitu. Bagus aku kemana-mana kali!"
Bianka ngedumel dalam hati, sambil terus melihat Aira yang membelakanginya.
Saat tiba waktunya Aira untuk isrirahat. Bianka menghampirinya.
"Istirahat, Ra." katanya.
Aira melihat ke sekeliling counter bernuansa pink dan peach itu. Dia tidak menemukan si koko. Akhirnya dia bisa bernafas lega.
"Kamu sudah?" tanya Aira.
"Sudahlah. Makanya aku suruh kamu." jawabnya ketus.
"Oke." balas Aira dengan singkat. Dia malas sekali melihat jutek Bianka.
Saat Aira pergi untuk beribadah dan memakan bekal sederhananya di ruang karyawan. Tiba-tiba Samuel datang. Dia celingak-celinguk setelah mendapati orang yang berada di balik meja bukan Aira. Melainkan Bianka.
"Aira mana?" tanya Samuel tanpa basa-basi.
"Istirahat, ko. Di ruang karyawan." balas Bianka dengan senyuman yang dibuat semanis mungkin.
"Baru?" tanya Samuel lagi.
"Iya, kok."
Samuel melihat jam tangannya. Kemudian dia duduk di sofa yang berada di samping meja setengah lingkaran itu.
"Aku perhatikan, koko lagi PDKT sama Aira ya...?" ujar Bianka.
Samuel menatapnya sejenak. Dan Bianka tersenyum.
"Tidak usah malu begitu, ko. Semua juga tahu." tambahnya.
"Apa begitu terlihat?" batin Samuel.
"Mungkin Aira juga menyadari itu. Makanya dia terkesan menghindariku..." pikirnya.
Tiba-tiba handphone Samuel berdering. Dia berlalu dari hadapan Bianka untuk menerima panggilan.
......................
Aira merebahkan tubuh mungilnya di atas kasur lantai yang sudah tidak empuk lagi. Tapi dia tetap bersyukur, karena masih bisa istirahat di sana. Seperti biasa, dia akan memeriksa pesan masuk dari handphonenya sebelum pergi tidur.
Ryan :
Apa kabar cantikku?...
Aira :
__ADS_1
Baik
Ryan :
Kenapa lama sekali balasnya?
Aira :
Aku baru pulang tahu...
Ryan :
Capek?
Aira :
Dikit
Ryan :
Jadi kapan kamu menemui kakek dan nenekmu?
Aira :
Tunggu kak Mega datang. Dia lagi cuti.
Ryan :
Oh begitu.
Aira :
Kenapa tidak tidur?
Ryan :
Kamu pikir aku bisa tidur, sedangkan chat aku saja baru kamu balas.
Aira :
🤣🤣 Kalau begitu tidurlah sekarang. Kan sudah aku balas ini
Ryan :
Tidak bisa
Aira :
Ryan :
NOOOO..!!!
Aira :
😴 ngantuk
Ryan :
Bilang dulu kamu kangen aku
Aira :
Diih..., ogah
Tanpa menunggu lama, Ryan melakukan panggilan. Aira tersenyum melihat layar handphonenya.
"Apa? Sudah malam ini..."
"Kamu sudah tidak kangen aku lagi? Iya?!"
"Maunya?!" Aira tiba-tiba ingin melancarkan aksi jailnya.
"Maunya???"
Hening...
"Maunya kamu selalu merindukanku, Aira. Tapi sepertinya tidak lagi."
Aira tersenyum mendengar suara Ryan yang sedang merajuk.
"Menurutmu begitu?" Aira makin semangat menggoda Ryan.
"Sudahlah. Aku tutup saja."
"Tutup sudah." Aira menahan tawanya.
"Ai..."
"I miss you!" Aira memotong ucapan Ryan.
"Hah?! Apa-apa...?!"
"Tidak ada siaran ulang."
__ADS_1
"Aira...?!!"
"Aku akan selalu merindukanmu."
Kemudian Aira memutus sambungan teleponnya secara sepihak. Membuat Ryan di seberang sana merasa sangat geregetan.
Bersamaan dengan terputusnya sambungan telepon itu, Ryan meremas benda pipih itu. Saking gemasnya dengan kelakuan Aira.
"Makin lama kamu itu makin bikin geregetan. Awas saja kalau ketemu ya. Iiiihhh...!!" geram Ryan gemas, tentunya hanya dalam angannya.
Ryan sambil memukulkan handphonenya di atas berulang kali sebagai pelampiasan.
"Ryaaaan...!" itu suara ibunya.
"Sampai kapan kamu seperti itu. Ini sudah malam!" tegur ibunya.
"Ryan tidur, bu..." sahutnya dari dalam kamar.
"Pamit tidur sudah sejak jaman prasejarah. Sampai sekarang masih sibuk dengan ponselmu itu." gerutu ibunya.
"Sekarang benar-benar tidur, ibu. Malam bu..., sweet dream...!!" seru Ryan.
Di balik pintu kamar Ryan itu, sang ibu hanya menggelengkan kepalanya.
"Ya Allah..., jika memang Engkau menakdirkan putraku berjodoh dengan gadis itu. Percepat saat itu tiba, pastinya dengan cara yang baik. Jangan biarkan mereka terlalu lama berjauhan."
Begitulah do'a sang ibu pada Sang Khalik, untuk anak tercintanya. Ibu mana yang tidak ingin anaknya hidup bahagia. Semua ibu pasti menginginkannya.
......................
Hari demi hari berlalu, Mega sudah kembali karena ibunya sudah mendapat perawat terbaik. Dan kini giliran Aira yang libur.
Aira terkejut saat melihat Samuel ada di depan gang masuk menuju kosannya.
"Mau kemana? Bukannya hari ini off?" tanya Samuel. Tentunya hanya basa-basi.
"Iya, ko. Ini mau pulang." katanya.
"Masuklah, saya antar." ujarnya.
"Tidak, terimakasih ko..." Aira menolak dengan lembut.
"Saya akan lewat terminal. Kita bisa barengan." kata Samuel.
"Koko duluan saja. Saya masih harus ke tempat lain."
"Tidak masalah. Masuklah!" Samuel masih bersikeras.
Samuel tiba-tiba keluar dari mobilnya. Dia menghampiri Aira.
"Kenapa? Kamu takut aku berbuat jahat?" tanya Samuel.
Samuel yang mengubah panggilannya dari saya menjadi aku, membuat Aira semakin merasa tidak nyaman.
"Saya hanya tidak ingin orang salah paham." Aira tertunduk.
"Salah paham atas apa?" sahut Samuel.
"Tidak perlu saya jelaskan, koko pasti mengerti. Saya permisi." pamit Aira.
Tapi langkah Aira terhenti, karena Samuel menarik tangannya.
"Masuk sendiri, atau aku paksa kamu?" ujarnya pelan.
Tapi intonasi suara yang tiba-tiba berubah itu membuat nyali Aira menciut. Lebih dingin, dan menakutkan. Sehingga dengan terpaksa Aira menurut saja.
Selama dalam perjalanan yang tidak seberapa makan waktu itu, keduanya hanya diam. Sampai mobil mewah Samuel berhenti di terminal.
"Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan. Aku tidak akan menyakitimu, Aira. Percayalah." Samuel berusaha meyakinkan Aira.
"Dengan sikap koko yang seperti ini, membuat saya sangat tidak nyaman." ujar Aira sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa? Kamu keberatan aku mendekatimu? Apa kamu sudah memiliki pacar?" Samuel terus membeo karena keberatan dengan pernyataan Aira barusan.
"Busnya datang, ko. Terimakasih sudah mengantar saya." Aira pamit dengan sopan, meskipun dia sedang kesal bercampur sedikit ketakutan.
"Aira...!!" Samuel keluar dan menyusul Aira.
"Aku minta maaf kalau sudah melakukan kesalahan." ujarnya.
Aira hanya mengangguk. Kemudian meninggalkan si koko.
Sampai di dalam bus, dan setelah dia mendapatkan kursi kosong, dia membuka pesan yang baru masuk. Sebuah nomor baru.
Xxx :
Hati-hati ya. Kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi aku. Sam.
Aira hanya menghela nafas panjang.
......................
"Ya Allah, hanya padaMu aku mohon pertolongan. Jauhkanlah aku dari orang-orang yang akan membuat hidupku rumit. Aku tidak ingin membuat orang lain salah paham. Apalagi kalau bu Gracee. Aku ingin bekerja dengan tenang. Hanya itu. Tolong ya Allah..., please...!!!"
__ADS_1