
Aira sudah berada di rumahnya. Ibu langsung memeluk dan menciumi pipi putri semata wayangnya itu.
"Putri ibu..." ibu mengusap bekas luka di pelipis Aira. "Tangannya masih sakit?" tanya ibu sambil mengusap lengan kanan Aira.
"Tidak ibu. Aku sudah sembuh." kata Aira.
Aira sangat bahagia berada di tengah-tengah keluarganya. Kerinduan yang dia rasakan akhirnya terbayar juga. Bagi Aira, hari libur kali ini adalah hari libur terbaiknya. Dan seterusnya akan tetap seperti ini, karena kedua orang tuanya tidak akan kembali lagi.
Malam harinya...
"Rupanya Ryan masih sering menghubungimu...!" suara itu mengejutkan Aira dan seluruh penghuni rumah.
Ayah tiba-tiba datang ke ruang tamu membawa handphone Aira.
"Bahkan dia menemuimu..?!" geram ayah.
"Apa itu benar, Aira?" tanya ibu dengan suara yang lebih lembut.
Aira menganggukkan kepalanya. Lalu dia menundukkan kepalanya.
"Apa maumu, Airaaa...?!" teriak sang ayah.
Braaak...!!
Seiring teriakan itu, ayah memukul meja di ruangan itu dengan tangannya yang masih membawa handphone milik Aira.
"Mau sampai matipun, ayah tidak akan pernah merestui hubungan kalian!!" bentak ayah Aira.
"Jangan bawa-bawa mati!" tegur nenek. "Istighfar, nak...!"
"Aira..." nenek membelai rambut cucunya yang sedang terisak salam pelukan ibunya.
"Bukankah nenek sudah mengatakan semuanya. Apa kamu tidak mengerti...?!" nada suara nenek memang pelan, tapi terdengar sangat penuh dengan rasa kecewa pada Aira.
"Dia hanya mengunjungiku sekali. Itu pun cuma sebentar, dan kita cuma ngobrol." Aira berusaha membela dirinya.
"Aku tidak melakukan apapun, kenapa kalian menatapku seolah aku melakukan kesalahan yang sangat fatal?!" protes Aira.
"Kecuali aku melangkah lebih jauh. Atau menikah dengannya diam-diam. Aku hanya berkomunikasi biasa dengannya." Aira menatap mata ayahnya.
"Sudah bicaranya?!" sahut ayah.
Kali ini Aira diam. Dia sangat lelah, dan sakit hati.
"Kamu tahu apa?" ayah menyeringai. "Sedewasa apa kamu sampai bisa menyimpulkan perbuatan kamu itu benar, hah?!"
"Iya, sekarang cuma komunikasi. Tapi dia sudah berani menemuimu diam-diam tanpa persetujuan ayah. Dengan jarak yang begitu jauh, dia senekat itu. Lalu besok lagi apa? Membawamu pergi bersamanya, begitu yang kamu mau?! Iya...?!!!" mata bulat dan merah itu kembali tampak pada ayah.
"Ryan tidak seburuk itu ayah, dia baik. Ibu juga tahu itu kan?" Aira mencoba mencari pembelaan.
Tapi ibu menggelengkan kepalanya. Dna Aira tidak percaya itu dilakukan oleh ibunya.
"Sekalipun dia baik, nak. Tapi dia tidak bisa masuk dalam keluarga kita. Jadi berhentilah berhubungan dengannya sebelum kamu jatuh cinta terlalu dalam. Dan cintamu membuatmu sengsara." tutur ibu.
"Kenapa?! Karena perhitungan itu?!" sahut Aira.
"Kalau memang dari awal semua sudah tahu seperti itu. Kenapa ayah dan ibu membiarkan kami terus bersama? Ayah dan ibu seolah membuka pintu lebar untuk kami. Tapi lihat sekarang, semua menyalahkan aku. Apa ayah dan ibu sadar, kalau hubungan kami semakin dekat juga karena ayah dan ibu yang memberi dia kesempatan bersamaku." Aira mengungkapkan segala isi hatinya saat itu.
"Aira...!" tegur kakek yang sedari tadi hanya menyimak. "Hentikan, nak...! Jangan sampai kamu kualat karena berani melawan orang tua. Terlepas kamu benar ataupun salah. Itu tetap tidak baik." ujar kakek kemudian.
"Baiklah. Terserah kalian saja. Mungkin memang aku tidak punya hak atas hidupku."
Aira yang tersulut emosi beranjak dari kursinya, dan masuk ke dalam kamarnya.
......................
Siapa sangka hari libur yang tadinya berawal dengan indah, tiba-tiba berubah penuh emosi. Aira terus mengurung diri di kamarnya. Dia baru keluar setelah adzan subuh berkumandang. Aira melihat handphone malangnya masih tergeletak di atas meja. Dia pun meraihnya. Berharap masih bisa digunakan. Setelah memastikan masih bisa dipakai, Aira menyimpannya di kamar. Kemudian dia pergi mandi dan sholat subuh.
"Aira..." panggil ibunya.
"Masuk bu..." sahut Aira dari dalam kamar.
__ADS_1
"Kamu kerja hari ini?" tanya ibu saat melihat Aira sudah rapi.
"Iya, bu. Aku hanya libur sehari." jawabnya datar.
"Jangan berangkat dalam kondisi seperti ini, nak. Ibu sangat khawatir." ujar ibunya.
"Aku tidak apa-apa, bu."
"Tapi, nak..."
"Aku pastikan, aku tidak akan berhubungan lagi dengan Ryan atau siapapun tanpa persetujuan keluarga. Jangan khawatir soal itu. Bahkan ibu dan ayah, kakek, nenek, bisa kok memilihkan jodoh untukku. Atau apapun. Bukannya aku tidak punya andil dalam hidupku sendiri?!" ucapan itu sangat ketus.
"Astaghfirullah, naaak..." keluh sang ibu.
"Begitu caramu bicara sama ibumu?!" sahut ayah. "Sopan sekali!" cibir ayah.
"Ayah, sudah..." tegur ibu.
"Memang itu kan yang ayah mau? Ayah tenang saja. Aku akan jadi anak yang patuh, kok. Aku berangkat dulu. Assalamu'alaikum..."
Meski sedang tidak enak hati, Aira tetap berpamitan pada seluruh keluarganya. Kemudian dia berangkat diantar oleh kakak sepupunya, Yusuf. Seperti biasa hanya sampai di terminal.
Sampai di kamar kosnya, Aira disambut dengan tatapan heran dari Mega.
"Kamu oke, Ra?!" tanya Mega.
Mata sembab, pucat, lesu, tidak bersemangat. Bukanlah Aira yang biasanya.
"Kak..." Aira memeluk Mega yang masih memakai piyamanya.
"Kenapa kamu nangis?" Mega semakin khawatir.
"Buatkan aku izin untuk hari ini. Aku ingin istirahat. Aku lelah sekali, kak..." katanya.
"Apa yang terjadi?" tanya Mega.
Aira hanya menggeleng, dengan air mata yang terus mengalir.
"Oke..., oke...? Tenangkan hatimu, istirahatlah. Aku yang urus nanti." begitu kata Mega.
......................
Jangan lupa makan ya. Aku hanya masak itu tadi. Jangan kemana-mana sampai aku kembali. Oke...!!!
Aira tersenyum setelah membacanya. Dia membuka tudung saji. Ada nasi putih, telur ceplok, tempe goreng, dan sambal kecap. Lalu Aira menutupnya kembali. Bukan tidak doyan, dia hanya sedang nafsu makan. Terlalu banyak hal yang berputar-putar di otaknya. Membuatnya sulit menelan makanan.
Aira memeriksa ponselnya, bisa menyala tapi mulai tidak stabil. Hanya bisa digunakan untuk mengirim pesan. Aira mengirim pesan pada Ryan.
Aira :
Hai
Tidak ada balasan. Aira pun baru sadar, seharian kemarin mereka tidak berkomunikasi sama sekali.
"Apa ayah sudah menghubungi Ryan?" pikir Aira.
Tak lama kemudian Aira menerima sebuah pesan.
Ryan :
Ryan bersamaku
Pesan itu disertai beberapa foto yang membuat Aira semakin menertawakan dirinya sendiri.
"Lengkap sudah Aira. Setidaknya kamu tidak perlu menjelaskan banyak hal."
Aira kembali menangis. Sungguh malang sekali nasibnya. Dia sampai berdebat dengan keluarganya karena Ryan. Tapi di sana Ryan sedang bersenang-senang dengan perempuan lain.
"Cerita macam apa yang Engkau buat untukku, ya Allah. Adakah ending yang bahagia kelak?... Maaf kalau aku mengeluh. Aku benar-benar lelah. Aku tidak bisa lagi menahan semua ini...!!!"
Aira kembali berbaring di kasur lantai dan memeluk gulingnya. Dia tidak tahu lagi harus bagaimana menenangkan hatinya. Saat ini yang bisa dia lakukan hanya menangis. Menangis karena bertengkar dengan keluarganya, demi memperjuangkan seseorang yang ternyata mengkhianatinya.
__ADS_1
Malam itu saat Mega kembali, dia melihat Aira yang sedang menggigil. Tapi suhu badannya sangat tinggi. Mega sangat panik. Dia teringat Samuel yang tadi datang ke counter sebelum tutup.
"Ko, masih di mall?" tanya Mega.
"Ya, ada apa?"
"Ke kosan, ko. Aira demam tinggi."
"Aku segera datang."
Karena jaraknya yang sangat dekat, Samuel tiba di kosan dengan cepat. Dia sempat dilarang masuk, hanya boleh sampai batas tamu.
"Mbak, urgent. Aira sakit!" seru Mega yang sempat mendengar keributan.
"Permisi!" kata Samuel.
Dengan langkah lebarnya, dia berlari menaiki anak tangga. Kemudian menggendong Aira dan membawanya ke klinik terdekat. Semua dibuat melongo melihat adegan tersebut. Karena hampir semua tahu siapa Samuel. Putra pemilik counter kosmetik yang paling terkenal di mall itu.
"Ko..." ucap Aira lirih.
"Tidak apa-apa. Tenang ya." Samuel membawa Aira masuk ke klinik sambil sedikit berlari.
"Tolong suster." katanya sambil merebahkan Aira dengan hati-hati.
Akhirnya Aira dirawat di sana. Sampai kondisinya stabil. Mega dan Samuel yang menemaninya.
"Mau apa? Katakan!" Mega mengusap tangan Aira yang baru saja terbangun tengah malam.
Aira melihat ke sekelilingnya. Mega tersenyum.
"Kamu di klinik." Mega seakan tahu kebingungan Aira.
"Kenapa di sini, kak?" suara Aira sangat pelan.
"Kamu demam tinggi. Harus dirawat di sini. Makan, ya. Dokter bilang perutmu kosong." ucap Mega.
Aira menggelengkan kepalanya. Dia hanya minta air untuk membasahi tenggorokannya yang kering.
"Maaf merepotkan kak Mega." ujar Aira.
"Tidak kok. Yang penting kamu cepat sembuh. Lain kali kalau sakit, tidak usah balik. Izin buat libur lagi juga tidak apa-apa. Untung aku cepat pulang."
Ceklek
Samuel masuk ke ruangan itu.
"Sudah bangun." katanya sambil melihat wajah Aira yang masih pucat.
"Ini kopimu." Samuel menaruh segelas kopi untuk Mega di atas nakas.
"Terimakasih, ko." balas Mega.
"Belum dimakan?" Samuel melihat Aira dan Mega bergantian.
"Nanti ko." Mega yang menjawab.
"Baiklah. Aku ada di luar, kalau kalian butuh apa-apa panggil saja."
Samuel pun kembali keluar, dia akan menunggu di luar. Agar keduanya bisa lebih santai.
"Makan ya, Ra. Daripada nanti koko balik lagi, dan dia maksa nyuapin kamu. Kamu mau apa?" bujuk Mega.
Akhirnya Aira mau makan, meski hanya beberapa suap.
"Yakin, tidak ada yang kamu sembunyikan?" tanya Mega setelah menyuapi Aira. Aira hanya menggeleng.
"Kalau butuh teman ngobrol, dan berbagi cerita. Ada aku, kamu jangan khawatir. Itu pun kalau kamu percaya padaku." Mega sangat mengerti, bahwa Aira masih belum sepenuhnya percaya padanya.
......................
"Biar ku simpan sendiri apa yang terjadi padaku. Semakin kesini, aku semakin kehilangan rasa percayaku pada orang lain. Terlalu banyak orang yang menyakitiku, Tuhan. Itu terlalu sakit. Apa ada lagi yang sedang Engkau siapkan untukku?... Datangkan semuanya. Semuanya tanpa terkecuali...!
__ADS_1
Kesakitanku datang bertubi-tubi. Jika penderitaanku levelnya akan lebih tinggi lagi nantinya, apakah aku bisa bertahan?...
Aku ingin menyerah saja dengan hidupku, ya Allah...! Aku sungguh tidak sanggup lagi. Aku lelaaah...!!!!"