Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
38


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian...


Aira mondar-mandir di dalam kamarnya. Sesekali melirik benda kecil yang ada di atas nakas. Gelisah, penasaran, tidak sabar, semua bercampur menjadi satu hingga membuat hatinya seolah ingin meledak saja.


Samar-samar satu lagi garis merah mulai terlihat. Semakin lama semakin jelas. Aira menutup mulutnya karena terkejut. Dia menangis, tapi bukan karena sedih. Dia sangat bahagia. Kalau saja dia tidak ingat dengan calon bayinya, di dalam perutnya yang masih rata itu. Mungkin dia akan melompat dan berlarian kegirangan menemui suami yang sedang sibuk di dapur.


"Sayang..., ini mas bawakan air hangat."


Iya, Arlan tadi mengambil air hangat karena perut Aira terasa tidak enak. Aira yang menjadi lebih peka sejak kejadian kala itu, mulai berinisiatif untuk mengecek apakah yang dia rasakan merupakan pertanda baik? Dia tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Bahkan dia sempat berencana langsung melakukan USG, kalau nantinya hasilnya negatif.


"Mas..." Aira menunjukkan testpack itu pada Arlan.


Arlan menerimanya, reaksinya sama dengan Aira tadi. Arlan melotot melihatnya. Lalu dia membuang benda itu begitu saja. Dan memeluk istrinya. Tangis mereka pecah, berbagai ucapan syukur mereka haturkan pada Sang Pencipta atas anugerah yang mereka dapatkan.


Arlan pun segera membuat janji dengan dokter yang selama beberapa bulan ini menangani Aira. Dan siang itu mereka berangkat ke rumah sakit. Melakukan beberapa pemeriksaan yang dibutuhkan.


"Ingat untuk lebih berhati-hati, ya!" pesan dokter. "Jangan terlalu capek. Hindari segala pekerjaan berar, dan hal-hal yang memicu stress." kata dokter sambil menulis resep untuk Aira.


"Baik, dokter."


"Ini resepnya. Minum rutin, jangan sampai kelupaan." dokter itu tersenyum.


"Terimakasih dokter..."


Sejak mengetahui ada calon buah hati dalam rahim sang istri, Arlan semakin posesif saja. Over protektif. Aira tidak boleh lagi melakukan pekerjaan rumah. Bahkan dia berencana memakai jasa asisten rumah tangga.


"Mas, tidak perlulah. Mencuci juga sudah ada mesin cuci, atau kita bisa pakai jasa laundry. Masak juga aku masih bisa. Yang penting tidak melakukan angkat beban yang berat kan." Aira berusaha memberi pengertian pada suaminya.


"Lagian, aku juga kurang nyaman ada orang asing tinggal bersama kita."


"Tapi mas khawatir dengan kamu dan calon anak kita." Arlan mengusap perut Aira.


"Mas..., khawatir boleh. Tapi jangan berlebihan. Aku juga bisa mengontrol semuanya, mana yang bisa aku kerjakan dan tidak. Mas jangan khawatir. Toh kalau pagi sampai sore, ada ibu kita yang bergantian datang." ujarnya.


"Baiklah, kalau itu mau kamu. Tapi kalau suatu saat kamu merasa butuh pembantu, kasih tahu mas ya...!" perintah Arlan.


"Iya, mas..." Aira menyetujuinya.


"Mumpung masih jam segini, yakin tidak ingin apa-apa?" tanya Arlan sambil membelai rambut Aira yang terurai.


"Tidak, memang mas mau apa?" Aira balik bertanya.


"Mas pingin makan ayam bakar madu yang ada di dekat toko itu. Tapi masa iya mas pergi sendiri. Nanti kamu sendirian di rumah, kan sudah malam."

__ADS_1


"Aku temani, deh..." kata Aira kemudian.


"Benar nih?" Arlan memastikan.


"Em!" Aira mengangguk.


Tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk sampai di sana. Arlan memarkir mobilnya di depan toko. Karena warung yang dituju tidak memiliki lahan parkir yang cukup luas. Hanya cukup untuk parkir motor. Jadi mereka harus jalan kaki lagi sebentar untuk sampai di warung ayam bakar madu itu.


......................


Sepertinya tidak masuk akal bukan?... Saat istri hamil, tapi yang mengidam suami. Tapi itu benar-benar dialami oleh Arlan. Banyak sekali maunya, sedangkan Aira biasa saja.


"Jangan kaget, namanya juga anak ayah." kata ibu Arlan.


"Ayah juga begitu?" sahut Aira.


"Iya, waktu ibu hamil suamimu itu. Kalau waktu kakaknya sih tidak." katanya.


"Ini sudah siap, berikan pada Arlan." titah ibu mertuanya.


Hari ini Arlan ingin makan kolak kacang hijau buatan ibunya. Kebetulan jadwalnya ibu Arlan berkunjung, jadi sekalian masaknya di rumah Arlan.


"Mas..., ini mumpung masih hangat." Aira menaruh semangkok kolak di samping laptop suaminya.


"Sini duduk sama mas!" Arlan menepuk sofa di sampingnya. "Coba lihat ini...!" Arlan menunjukkan sebuah foto di laptopnya.


Ternyata Arlan sedang melihat desain kamar anak-anak. Tadinya Aira pikir suaminya itu sedang bekerja.


"Kamu suka yang mana?" tanya Arlan.


"Semua suka, mas. Lucu-lucu, sih...!!" mata Aira tak lepas dari laptop.


"Mas ingin anak kita nantinya mendapatkan yang terbaik. Cukup orang tuanya saja yang masa kecilnya sulit. Anak kita jangan." Arlan mengecup pipi Aira.


"Terimakasih, mas..." balas Aira.


"Tidak terasa ya, sudah semakin dekat. Sebentar lagi kita bertemu sayang..." lagi-lagi Arlan mengusap perut istrinya.


Sore harinya Aira merasakan sakit yang luar biasa pada perutnya.


"Sakit, mas..." Aira menggigit bibir bawahnya karena menahan rasa sakit.


"Aaahh...!!!" pekik Aira.

__ADS_1


"Bu..., ibu...!!!" teriak Arlan sambil menggendong Aira menuju ke mobil.


"Ada apa?" ibu Arlan panik saat melihat anaknya menggendong sang menantu.


Sempat tertegun juga, bagaimana Arlan bisa sekuat itu?... Menggendong istrinya yang sedang berbadan dua.


"Tolong ibu ambil tas di sudut itu. Ikut Arlan ke rumah sakit!"


Ternyata benar, Aira sudah waktunya melahirnya. Rasa sakit itu terus datang, membuat Aira terus merintih kesakitan. Hingga tengah malam, barunya terjadi bukaan yang sempurna. Dan lahirnya bayi laki-laki, disertai suara tangisan yang sangat nyaring.


Arlan dan Aira sama-sama menangis sambil tersenyum. Ini adalah kebahagiaan yang sungguh luar biasa bagi mereka. Tapi itu tidak berlangsung lama, karena kondisi Aira semakin lama semakin menurun.


"Tensi pasien menurun, dokter!" kata seorang suster, tepat setelah Arlan selesai mengadzani sang buah hati.


"Tolong, suster!" Arlan menyerahkan bayinya pada suster yang lain.


"Istri saya kenapa dokter?!" Arlan gelisah saat melihat Aira menutup matanya.


Dokter memberi isyarat pada suster agar membawa Arlan keluar.


"Pak Arlan tolong tenang, biar kami menanganinya. Silakan tunggu di luar!"


"Tapi suster, istri saya..."


"Semua akan baik-baik saja." suster menutup kembali ruang persalinan itu.


Sementara itu di ruang tunggu, para orang tua kompak berdiri menyambut Arlan dengan raut wajah yang penuh tanda tanya.


"Ada apa, nak?" tanya ibunya.


"Aira bu..., Aira...!!!"


Arlan sangat rapuh saat itu. Tubuhnya sempoyongan saat keluar dari ruang persalinan. Mengingat sang istri yang tiba-tiba saja menutup matanya, suster yang panik, ditambah sorot mata dokter yang begitu serius. Membuat pikiran Arlan melayang kemana-mana.


Para orang tua itu saling tatap, mereka sama-sama penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di dalam sana.


"Aira, ayah..." air mata ibu Aira lolos begitu saja.


Ayah Aira merangkul dan mengusap bahunya. Berharap istrinya itu bisa lebih tenang, agar tidak membuat situasi semakin menegangkan.


"Lindungi anak hamba ya Allah..., kuatkan Aira. Dia baru saja merasakan kebahagiaannya...." begitu batin ayah Aira mendo'akan putri semata wayangnya.


......................

__ADS_1


__ADS_2