Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
39


__ADS_3

Aira telah dipindah ke ruang rawat inap, karena telah melewati masa kritisnya. Tinggal menunggu kesadarannya pulih. Arlan tak henti-hentinya mendo'akan Aira agar cepat sadar. Tangannya tak pernah lepas dari Aira, sesekali dia menciumi tangan Aira. Berharap Aira bisa merasakannya dan segera terbangun.


"Sayang..., kamu tidur terlalu lama. Bahkan anak kita belum meminum ASInya. Bangunlah..., apa kamu tidak capek terus tidur seperti ini...?!"


"Bangun, sayang...!! Jangan membuatku takut..." entah sudah keberapa kali Arlan menangis.


Dia tidak peduli orang mengatainya cengeng, lemah, atau banci sekalipun, karena tangisannya. Dia sangat takut kehilangan, rindu, dan segala macam hal berbaur dalam dirinya. Membuatnya semakin frustasi saja.


Ceklek


Ibu Aira masuk bersama sang cucu dalam dekapannya. Arlan menoleh ke arah ibu mertuanya.


"Nak, suster mengatakan ada kasus yang sama sebelumnya. Dan suster membawa bayinya pada ibunya. Alhamdulillah ibunya kemudian sadar." tutur ibu Aira penuh harap.


"Berikan padaku, bu..." Arlan mengambil putranya.


Arlan menidurkan anaknya di samping Aira.


"Sayang..., lihatnya baby kecil kita ada di sini. Dia menunggumu." suara itu bergetar.


Ibu yang masih berada di sana menitihkan air matanya. Lalu dia mendekati Arlan. Mengusap punggung lebarnya.


"Bu..., aku takut..." Arlan menangis lagi.


Ooweeekk... Oooweeekk...


Bayi laki-laki itu ikut menangis ketika Arlan menangis. Ibu menggendongnya, berusaha menenangkan cucunya.


"Arlan..." ujar ibu sambil mendekat pada Aira.


"Aira..."


Arlan meraih tangan Aira saat melihat tangan Aira bergerak. Berlahan Aira membuka matanya.


"Mas..." ucapnya lirih.


"Sayang, kamu bangun..." Arlan reflek mencium kening sang istri yang belum sadar sepenuhnya.


Ibu beranjak dari tempatnya, dia memencet tombol yang ada di sisi kanan Aira.


"Ini..." Aira melihat bayi dalam gendongan ibu.


"Anak kamu sayang. Cucu ibu..." ibu memberikan cucunya pada Aira dengan air mata yang terus menetes.


"Anak kita, mas..." Aira tersenyum.


Tak lama kemudian dokter dan seorang suster datang. Ibu menggendong cucunya kembali, lalu mundur beberapa langkah agar mereka leluasa melakukan pemeriksaan. Begitu juga dengan Arlan.


"Bagus, mama muda yang sangat kuat." puji dokter pada Aira.


"Mama cantik..., waktunya memberi ASI. Itu sudah rembes, sayang..." ujar suster.


Setelah suster menata posisi Aira, dan memastikan Aira sudah merasa nyaman. Dokter membawa bayi Aira, dan menaruhnya di pangkuannya. Kemudian mereka keluar, setelah dirasa tidak ada masalah lagi.


Aira menangis saat dia merasakan sentuhan pertama dari bayinya.


"Ibu..." ujar Aira saat ibu merangkulnya yang sedang fokus menyusui.

__ADS_1


"Kamu ibu yang hebat, nak..." kata ibunya.


"Ibu akan beritahu yang lain. Arlan akan menemanimu."


Arlan duduk di tepi kasur, memperhatikan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya.


"Hai..., mama muda..." goda Arlan sambil menoel hidung Aira.


"Jagoan papa..." Arlan beralih mencium puncak kepala sang buah hati.


......................


Rumah yang tadinya sepi, kini jadi ramai. Selain karena kehadiran bayi imut itu, banyak juga sanak keluarga yang berdatangan menjenguk si malaikat kecil itu.


"Akhirnya mereka pulang..." dengus ibu Arlan sambil menutup pintu rumah anaknya.


Aira menahan senyumnya melihat sang mertua.


"Sudah sore, nak. Kamu mandi sana, sebentar lagi kan Arlan pulang." katanya.


"Iya, bu." balas Aira dengan lembut.


Dua orang nenek yang sedang berbahagia itu kini lebih sering berada di rumah sang cucu. Malah terkadang sampai bermalam di sana. Kalau tidak begitu, mereka akan datang pagi setelah pekerjaan di rumah beres. Lalu kembali sore harinya, bahkan terkadang sampai malam.


"Assalamu'alaikum..." Arlan datang membawa sebuket bunga, dan paperbag dengan logo permata.


Kedua ibu saling pandang sambil tersenyum. Mereka sangat bersyukur memiliki anak dan menantu seperti Arlan.


"Aira mana bu?" tanya Arlah setelah menyalimi keduanya. Dan mencium pipi putranya yang sedang digendong oleh ibu mertuanya.


"Mas sudah pulang..."


Aira melangkah menghampiri suaminya. Menyalaminya, dan mencium tangannya. Kemudian Arlan memberikan bunga dan paperbag pada sang istri tercinta.


"Buat kamu, sayang." katanya. "Selamat ya, sudah genap sebulan menjadi ibu."


"Terimakasih, mas. Harusnya tidak perlu seperti ini juga. Berlebihan sekali." balas Aira.


"Tidak ada yang berlebihan buat kamu." katanya.


Kedua ibu mereka terharu melihat perlakuan manis Arlan pada Aira.


"Aira..." sahut ibu Arlan.


"Iya, bu...?" balas Aira.


"Ibu request cucu lagi ya. Biar Arlan semakin manis seperti ini." goda sang mertua.


Hal itu sukses membuat Aira tertunduk, dan tersipu malu.


"Ibu request juga tidak?" sahut Arlan sambil melihat ibu mertuanya.


"Iya, dong. Banyakan kalau ibu sih, biar ramai." ibu Aira tidak mau kalah.


"Bagaimana sayang? Mereka mau cucu yang banyak." giliran Arlan yang mulai jail pada istrinya.


"Mas, iih...!!!" Aira mencubit pinggang suaminya hingga kesakitan.

__ADS_1


"Aah..., aaah..., sakit...!! Ibu..., lihat ini...!!" Arlan mengadu pada kedua ibunya.


"Syukurin, jail sih...!!" Aira mendengus. Bukan kesal, tapi dia malu kalau digoda di depan orang tuanya.


......................


Pagi yang cerah. Seperti biasa Aira duduk di teras rumahnya. Dan si baby berada di atas keretanya. Tak lama kemudian Arlan datang membawa segelas susu untuk sang istri.


"Minum dulu susunya." katanya.


"Terimakasih, mas..." balas Aira.


Setelah menghabiskan setengah bagian, Aira menaruhnya di atas meja.


"Bisa-bisanya dia tidur..." ucap Arlan saat melihat bayinya.


"Mas dulu juga begitu kata ibu. Habis mandi pasti tidur lagi." sahut Aira.


"Oh iya...? Ibu bahkan tidak pernah cerita." Arlan tidak percaya pada ucapan istrinya.


Arlan beralih menatap istrinya. Dia tersenyum, lalu berdiri di belakang sang istri dan memeluknya.


"Terimakasih atas semuanya, sayang..." katanya.


"Mas terlalu sering berterimakasih." kata Aira sambil mengusap tangan Arlan.


"Sebanyak apapun ucapan terimakasih mas, tidak akan sebanding dengan apa yang kamu berikan pada mas, Aira..." tutur Arlan. Aira tersenyum.


"Apa yang aku berikan juga tidak bisa mengimbangi cintanya mas Arlan padaku." balas Aira.


"Oh iya..?!" sahut Arlan. "Bagaimana kamu tahu kalau mas sangat mencintaimu...?!"


"Apa aku perlu mengulang lagi bagaimana pengorbanan yang mas lakukan di awal pernikahan kita?"


"Tidak..., tidak...!!!" potong Arlan. Aira tertawa.


"Yang lalu biarlah berlalu, mas. Sekarang ini kita harus menata masa depan bersama anak kita." kata Aira.


"Anak-anak kita." Arlan meralat ucapan sang istri.


"Iya, anak-anak kita kelak." ujar Aira.


"I love you, sayang..."


"I love you too, mas..."


Arlan mengecup puncak kepala Aira dari belakang. Aira pun menyandarkan kepalanya pada lengan Arlan yang masih melingkar di lehernya. Sangat nyaman berada dalam dekapan Arlan seperti itu.


......................


"Terimakasih sudah memberiku cinta sebanyak ini, mas...!!


Aku sampai tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Tidak mudah menerimamu waktu itu. Tapi sekarang, aku bahkan tidak bisa berpaling darimu.


Kamu cinta terbaikku. Aku sangat mencintaimu, mas...!!"


..._Selesai_...

__ADS_1


__ADS_2