
Babak baru perjalanan Aira dimulai. Di usianya yang ke-20 tahun, Aira telah resmi menjadi istri Arlan. Angannya untuk menata masa depan bersama Ryan telah usai. Kini keduanya menjalani hidupnya dengan pasangan masing-masing.
Aira merasa sedikit menyesal. Di saat dia galau dengan perasaannya, dihantui rasa bersalah karena menikah dengan Arlan. Rupanya lelaki yang selama ini dia sebut namanya dalam setiap do'anya, hari itu menikah dengan perempuan lain. Tanpa ada niatan untuk memberitahunya.
Siapa sangka, sebelum dia menuntaskan semuanya, masa lalunya itu telah menuntaskan segalanya dengan sendirinya. Inikah yang dinamakan takdir?... Tidak dapat diperkirakan, tidak dapat ditebak endingnya akan seperti apa. Dan sekarang, Aira telah bersama Arlan. Mencoba menerima Arlan, meski sulit. Karena Ryan masih menguasai hatinya.
Setelah tinggal di rumah orang tua Aira, mereka memutuskan pindah setelah rumah mungil yang Arlan bangun siap huni. Mereka menempati rumah baru yang letaknya tidak jauh dari mini market Arlan. Memang sengaja Arlan membeli tanah di sana, agar dia tidak terlalu jauh dari tokonya.
Pagi ini Arlan menemui Aira yang sedang memasak di dapur. Dia sibuk menggoreng tahu telur, dan menyiapkan sambal kecap.
"Kita sarapan seadanya ya, mas. Belum banyak bahan di kulkas." katanya.
Arlan hanya manggut-manggut sambil menikmati tahu telurnya. Karena memang mereka belum fokus mengisi segala kebutuhan pangan. Arlan lebih banyak membeli di luar.
"Aku akan ke toko setelah ini. Mau ikut?"
"Tidak, mas. Aku di rumah saja."
"Baiklah. Jangan lupa kunci pintu, dan simpan kuncinya. Aku sudah bawa cadangannya." ujarnya.
"Mas Arlan akan pergi sekarang?" tanya Aira kemudian.
"Kenapa?" Arlan menatap Aira.
"Tadinya, aku mau belanja bahan makanan. Aku mau membeli sayur dan lauk. Di sini tidak ada dagang sayur lewat." kata Aira sambil menyuguhkan teh hangat untuk Arlan.
Arlan kemudian melihat jam tangannya.
"Jarang ada jual sayur di sini. Pasarnya juga jauh. Tidak mungkin aku suruh dia pergi sendiri."
"Baiklah, kita sarapan dulu. Nanti aku antar."
"Iya, mas. Terimakasih."
Selesai menyantap menu sarapan yang seadanya itu, mereka pun pergi ke pasar dengan mengendarai motor matic. Entah ada apa di otak Aira?... Setiap kali dia dibonceng Arlan naik motor, ingatannya tentang Ryan muncul begitu saja.
"Maafkan aku, mas Arlan. Sungguh aku tidak menginginkan ini terjadi. Tapi bayangan itu selalu muncul tiba-tiba." batin Aira.
Tak hanya mengantar, Arlan bahkan tidak keberatan memasuki pasar dan membawakan belanjaan istrinya.
"Ada belut." celetuk Arlan. "Beli ya!" titahnya.
"Mas bisa bersihinnya? Aku geli..." adu Aira sambil sedikit mengkidik.
"Saya akan bersihkan dan potong sekalian, kalau mbak mau." sahut ibu penjual.
"Oh, iya. Kalau begitu beli setengah ya, bu." kata Aira.
Setelah mendapatkan belutnya, mereka pindah ke tempat yang lain. Membeli sayur, dan perikanan lainnya untuk stok di rumah. Agar tidak terlalu sering ke pasar. Aira juga tidak ingin merepotkan Arlan terus.
"Yakin sudah?" tanya Arlan sebelum mereka pulang. "Diingat-ingat, mumpung masih di sini!"
"Sudah kok, mas." balas Aira yakin.
Keseharian mereka serasa normal-normal saja. Tapi setiap malam tiba kecanggungan mulai menghantui keduanya.
"Tidurlah, aku akan keluar sebentar." katanya.
"Mas Arlan mau kemana?" tanya Aira.
"Jangan khawatir, aku tidak ke mana-mana. Aku hanya akan menyelesaikan beberapa laporan di depan sambil nonton TV." jelasnya.
Dan itu memang benar adanya. Ketika masih tinggal bersama kedua orang tua pun sama. Bedanya, Arlan tidak keluar kamar. Tapi dia selalu menyibukkan diri. Entah dengan handphone atau bukunya, hingga tertidur.
"Aku buatkan teh hangat, atau kopi ya?" tawar Aira.
"Tidak perlu, kamu tidur saja. Jangan terlalu lelah." katanya.
Arlan pun keluar. Dia duduk di ruang tengah sambil menonton televisi. Hingga dia terlelap. Dan itu selalu terjadi sejak seminggu mereka pindah rumah.
"Apa mas Arlan sengaja karena tidak ingin tidur bersamaku?" pikir Aira saat melihat Arlan tertidur tanpa selimut.
"Maaas..., mas Arlan bangun...!" Aira membangunkan suaminya dengan hati-hati.
"Kenapa kamu di sini?" Arlan mencoba membuka matanya.
"Pindah ke kamar mas. Mas tidur di sini terus, nanti badannya pegel. Mas bisa sakit juga." ujar Aira.
__ADS_1
"Apa aku ketiduran?" Arlan terlihat sedang mengingat sesuatu.
"Seminggu berturut-turut ketiduran di luar. Mas tidak nyaman tidur di kamar?" tanya Aira penuh selidik, kemudian duduk di samping Arlan.
"Iya." jawabnya singkat.
"Kenapa mas? Apa yang membuatmu tidak nyaman?" tanya Aira.
"Aku pria normal Aira, bagaimana pria sepertiku bisa tenang saat tidur bersama perempuan...? Tapi aku harus menahan sesuatu yang..." Arlan menggantung kalimatnya.
"Aah..., sudahlah. Sebaiknya kamu tidur saja." katanya.
Aira tersentil dengan kalimat Arlan. Memang dia menyadari hal itu sudah lama. Bagaimana Arlan bisa tidak menyetuhnya selama sebulan pernikahan mereka?... Aira sempat beranggapan suaminya itu tidak normal. Atau mungkin ada hal lain yang dia sembunyikan.
"Mas, aku istrimu. Harusnya kamu tidak perlu begitu." Aira menunduk karena dia masih malu mengatakannya dengan gamblang. Aira berharap Arlan mengerti maksud perkataannya itu.
"Aku tahu kamu istriku. Dan aku sangat tahu, itu hanya status bagimu bukan?" celetuk Arlan sambil melirik Aira.
Aira terkejut, dia menatap Arlan penuh tanya.
"Bagaimana bisa aku menyentuh istriku? Yang dalam hati dan pikirannya hanya ada satu pria di masa lalunya." sindiran itu tepat sasaran.
"Mas..." sahut Aira.
"Tidak usah bicara apa-apa, Aira!" larang Arlan. "Aku hanya minta tolong sama kamu. Biarkan ini jadi rahasia kita. Kalau kita bertemu keluarga, jagalah sikapmu seolah rumah tangga kita baik-baik saja. Sampai kamu bosan, dan akhirnya menentukan jalan hidupmu. Entah kamu maunya seperti apa." tegasnya.
Ucapan Arlan yang panjang lebar itu semakin membuat hati Aira sakit.
"Pergilah ke kamar! Jangan pikirkan aku!" perintah Arlan.
Tanpa banyak cakap Aira meninggalkan Arlan.
"Ya Allah..., ini salahku...!! Aku salah, hukum aku ya Allah...!! Aku bukan istri yang baik. Aku mengkhianati suamiku. Aku secara tidak langsung telah menduakannya...!! Ampuni aku ya Allah...!!"
Aira merintih penuh rasa bersalah. Hingga dia tertidur. Hanya memeluk guling yang telah basah sebagian sisinya, dan tidak berselimut.
......................
Dini hari, Arlan masuk ke kamarnya. Suhu yang sangat dingin menyembur keluar menerpa Arlan.
"Sejak kapan dia betah tidur pakai AC begini?" gumamnya pelan.
"Astaga...!" Arlan mengambil remot AC dan mematikannya.
Arlan bergegas mendekati istrinya, kemudian menyelimutinya.
"Aira..." Arlan mulai khawatir.
"Mas..." suara itu sangat lirih, tak bertenaga.
"Aku buatkan minuman hangat dulu."
Setelah memastikan Aira mendapat kehangatan di atas kasur itu, Arlan berlari keluar kamar menuju ke dapur. Beruntung sekali istrinya selalu menyediakan air hangat dalam tremos. Jadi Arlan hanya perlu mencelupkan teh dan menambah gula saja dalam gelasnya.
"Minumlah...!" Arlan membantu Aira minum teh hangat buatannya.
Arlan memperhatikan wajah Aira yang pucat, matanya yang merah dan bengkak.
"Apa dia menangis semalaman, hingga lupa dengan AC nya?"
"Kita ke dokter ya, aku khawatir kamu kenapa-kenapa." ujar Arlan. Aira hanya menggelengkan kepalanya.
"Ada yang sakit?" tanya Arlan.
"Tidak." jawab Aira.
"Istirahat saja kalau begitu."
"Mas Arlan mau keluar lagi?" tanya Aira.
Arlan tidak kuasa melihat mata sayu sang istri. Dia menggenggam tangan Aira.
"Aku di sini, tidurlah. Kalau ada apa-apa panggil aku." katanya. Aira mengangguk.
Pagi harinya, Aira sudah kembali beraktivitas seperti biasa. Meski kondisi tubuhnya yang tak sesehat hari-hari kemarin. Aira sangat pusing, dan kadang terasa mual. Efek semalam lupa mematikan AC kamarnya.
"Yakin tidak mau ke dokter? Kamu pucat sekali." kata Arlan saat mereka sarapan.
__ADS_1
"Hanya masuk angin kayaknya, mas. Istirahat saja cukup." balas Aira.
"Maaf jika kata-kataku semalam menyakitimu, Aira." Arlan menghentikan aktivitas makannya.
"Aku yang minta maaf, mas." ujar Aira.
"Hari ini aku tidak akan ke toko. Aku akan menemanimu. Takutnya kamu butuh apa-apa." Arlan tidak ingin membahas segala hal yang berkaitan dengan Ryan.
"Mas bilang mau ambil sesuatu di toko." Aira mengingatkan.
"Aku akan hubungi anak-anak untuk mengantarnya ke rumah."
Dan benar apa yang dikatakan Arlan. Menjelang siang ada salah seorang pegawai toko yang datang membawa dua karton paket.
"Lho, mana orangnya?" tanya Aira saat kembali dari dapur. Dia membawa minuman untuk pegawainya Arlan.
"Sudah kembali." jawab Arlan.
"Kalau begitu buat mas saja ya. Aku taruh di meja." Aira meletakkan gelas berisi jus jeruk di atas meja.
"Terimakasih." kata Arlan.
Aira tidak habis pikir, bisa-bisanya Arlan membuat satu ruangan khusus untuk kebutuhan mereka. Mulai dari sabun, sampo, dan segala macamnya. Bahkan dia tidak melupakan kebutuhan pribadi sang istri.
"Mas sudah kayak buka toko di rumah." gumam Aira yang sedang menata barang bersama suaminya.
"Agar kita tidak perlu jauh-jauh kalau lagi butuh." katanya.
"Berarti yang di rumah itu juga kamu mas, yang punya inisiatif?" tanya Aira.
"Iya, mempermudah ibu saat butuh sesuatu." Arlan tersenyum.
Hal serupa juga Arlan lakukan untuk keluarga Aira. Kebaikan Arlan membuat Aira semakin merasa berdosa, karena hatinya belum bisa menerima Arlan sepenuhnya.
"Terimakasih ya, mas Arlan juga memberikan fasilitas yang sama untuk keluargaku." ujar Aira dengan tulus.
"Karena mereka juga keluargaku." balas Arlan.
Banyak sekali yang Arlan lakukan ketika seharian di rumah. Mulai dari menata barang, sampai membersihkan bagian luar rumahnya.
"Mas Arlan kemana ya?" tanya Aira pada dirinya sendiri, ketika baru bangun tidur siang. Karena rasa pusing kembali menyerangnya selepas menata barang bersama Arlan.
"Kok pagarnya terbuka?" gumamnya.
"Rajin sekali mas Arlan..."
Aira mendengar suara seorang perempuan di luar sana. Dia segera menyusul ke depan.
"Hanya bersih-bersih sedikit. Dari mana?" tanya Arlan.
"Baru pulang kerja, mas." perempuan itu melihat ke arah Aira yang sudah berdiri di belakang Arlan.
"Mbak Aira..." sapanya.
"Baru pulang, mbak?" balas Aira dengan sopan.
"Iya. Permisi ya, mbak, mas..." pamitnya kemudian.
Aira terus memperhatikan perempuan bernama Desy itu. Yang merupakan tetangga mereka.
"Sudah enakan?" tanya Arlan.
"Iya, mas. Sini aku bantu."
"Tidak. Kamu mandi saja, gih!" tolak Arlan diikuti sebuah perintah. "Ibu telepon, kita diminta datang ke rumah. Ibu kangen sama kamu." katanya.
"Ah, iya. Aku mandi dulu ya, mas."
Aira meninggal Arlan yang terus melihat kepergiannya.
"Allah Maha membolak-balikan hati manusia. Semoga Allah juga melakukan hal sama padamu, Aira."
......................
"Dulu aku selalu menyebut namamu dalam do'aku, agar kita bisa bersama. Sekarang aku pun masih menyebut namamu, agar Allah segera membuang jauh ingatanku tentangmu.
Aku sudah memiliki suami yang baik, harusnya aku bersyukur. Bukan malah menduakannya dengan masa laluku, apalagi yang sudah beristri juga.
__ADS_1
Ampuni aku ya Allah. Aku akan terus berusaha membuka hatiku. Dan menjadi istri seutuhnya buat mas Arlan. Bimbing aku ya Allah...!!!"