Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
24


__ADS_3

Melihat bagaimana perjuangan Ryan yang rela menempuh jarak sejauh ini. Hanya untuk menemuinya dan ngobrol bersama. Itu adalah sesuatu yang tidak pernah Aira bayangkan sebelumnya. Bahkan bisa Aira sempat berpikir, 'Siapa aku?... Mana mungkin dia mau mengunjungiku ke sini. Buang uang, waktu, dan tenaga. Sudah Aira, itu mustahil.'


Tapi faktanya, sosok spesial itu tiba-tiba hadir. Percaya atau tidak, sejak kedatangan Ryan hari itu, Aira jadi semakin bersemangat.


"Ekhm!" deheman itu mengejutkan Aira yang sedang membuat laporan akhir bulan.


"Koko Sam..., selamat siang." sapa Aira.


Koko Sam adalah anak pertama ibu Gracee. Namanya Samuel, tapi biasa dipanggil Sam. Dan semua pegawai ibunya memanggilnya koko Sam.


"Siang. Sedang sibuk?" tanya Samuel.


"Sedikit, ko. Sedang membuat laporan." balas Aira.


"Oh. Mega dimana?" tanya Samuel lagi.


"Kak Mega sedang di dalam, memeriksa stok produk. Koko mau bertemu kak Mega? Biar..."


"Ah, tidak. Saya kebetulan sedang lewat, dan melihat counter sedang sepi. Jadi saya mampir." katanya.


"Tadi ramai kok, ko. Sebelum koko datang." sahut Mega yang baru keluar, sambil membawa satu kardus kecil produk skincare.


"Baguslah. Kalian sudah makan siang?" tanya Samuel kemudian.


"Belum, kok. Sebentar lagi." Mega yang menjawab.


Samuel melirik komputer di hadapan Aira. Rupanya dia m sudah menutup aplikasi di komputer itu.


"Kalau begitu biar saya pesankan." ujar Samuel. "Aira sudah selesai?" tanya Samuel.


"Sudah, ko." katanya.


"Kamu bisa ikut saya?" pertanyaan itu lebih mirip intruksi.


Aira melirik Mega untuk minta pendapat. Mega mengangguk sambil tersenyum.


"Iya, ko." balas Aira patuh.


Aira berjalan di belakang Samuel. Dia sebenarnya tidak ingin pergi. Tapi dia juga tidak enak menolak Samuel. Takut kalau-kalau Samuel tersinggung.


"Mama biasanya pesan di sini. Mau yang ini atau yang lain?" tanya Samuel.


"Terserah koko saja sih." balas Aira sopan.


"Ada yang enak juga. Saya biasa ke sana. Kita coba ya." katanya. Aira mengangguk saja.


Samuel membawa Aira ke restoran milik temannya, yang ada di area mall itu juga.


"Pilih saja. Jangan khawatir, semua halal." ujar Samuel sambil memberikan daftar menu.


"Koko saja yang pilih." Aira memberikan daftar menu itu pada Samuel.


Samuel hanya tersenyum, kemudian memilih beberapa menu untuk Aira dan yang lain.


"Saya ke kasir dulu ya." pamit Samuel.


"Em, iya."


Samuel menuju meja kasir, untuk membayar pesanannya.


"Tambahkan satu cake coklat terbaik di sini!" titah Samuel.


"Siap, ko...!" balas mbak kasirnya, yang memang sudah akrab dengan teman bosnya itu.


"Buat dia yang di ujung sana?"


Samuel terkejut. Si pemilik restoran, Fardan, tiba-tiba ada di sampingnya.


"Berikan yang paling spesial!" ujar Fardan pada pegawainya.


"Laksanakan, bos!"


Samuel bersandar di meja kasir, begitupun dengan Fardan.


"Benar dia orangnya?" Fardan melirik meja tempat Aira.


"Apa sih, kamu..." Samuel terlihat salah tingkah.


"Menarik juga sih, pantas kamu terpikat." gumam Fardan, yang langsung ditatap tajam oleh Samuel.


"Komentar doang, yaelaaah...!!" balas Fardan.

__ADS_1


......................


Di kamar kos...


"Roman-romannya ada sesuatu, nih?" Mega menggoda Aira. "Ceritakan, apa saja yang kalian lakukan tadi?" desak Mega.


"Ya itu, pesan makanan terus balik." jawab Aira.


"Kamu tahu tidak? Seumur-umur aku kerja di sini, koko itu tidak pernah begitu tahu. Makanya kita tadi sempat heran. Dan..., sedikit gosipin kamu." celetuk Mega.


"Seriusan kak?! Ya ampun...!!!" Aira terlihat panik.


"Tenang, itu sudah biasa, Ra..." kata Mega. "Banyak kok SPG yang pacaran sama bosnya." imbuhnya.


"Tapi bukan aku." balas Aira tegas, dan sedikit kesal dengan ucapan Mega.


"Sorry..., sorry...!" Mega mendekat ke tempat Aira dan merangkulnya. "Maaf omonganku buat kamu tersinggung."


"Tidak apa-apa, kak." Aira tersenyum simpul.


"Aku hampir lupa kalau kamu punya pacar." Mega baru ingat soal tamu laki-laki yang diceritakan oleh mbak Wati.


Aira tidak meresponnya. Dia sudah mengerti siapa yang Mega maksud. Karena setelah Aira kembali dari bandara tempo hari, teman-teman kos menggodanya.


Obrolan itu membuat Aira tidak bisa tidur. Dia menyesal karena tidak menolak ajakan Samuel tadi siang. Sekarang teman-temannya sudah menggosipkan mereka.


"Ada-ada saja...!" Pikir Aira.


Ddrrrt... Ddrrrtt...


Sebuah pesan masuk dari Ryan. Aira pun tersenyum saat mendapatkan notif itu.


Ryan :


Sudah tidur?


Aira :


Belum


Ryan :


Mikirin aku?


Aira :


Aku tidak bisa tidur. Apa kabar di sana?


Ryan :


Baik sih. Cuma salah satu penghuninya saja tidak baik.


Aira :


😪😪


Ryan :


Teganya...


Aira :


Ke tempat ayah tidak?


Ryan :


Ini lagi di warung calon ayah mertua. Baru pulang kerja, lapar.


Aira :


🤭🤭 Salam buat ayah


Ryan :


NO!!


Aira :


Kok gitu?!


Ryan :

__ADS_1


Kamu lupa kita belum dapat restu. Mau orang tuamu tahu kalau kita masih berhubungan?.. Bahkan aku sudah membawa putrinya diam-diam...


Aira :


Maaf...😔


Ryan :


Aku mau jalan pulang. Kamu cepat tidur ya. Kan besok kerja.


Aira :


Oke. Hati-hati ya


Ryan :


Kamu juga. Jaga diri baik-baik


Aira menghela nafasnya. Bahagia, sedih, bingung, semua bercampur jadi satu.


"Apa yang akan ayah lakukan, kalau tahu Ryan datang menemuiku? Bahkan dia berjanji akan datang lagi. Bagaimana dengan kakek dan nenek? Mereka pasti sama kecewanya. Apalagi mereka selalu mewanti-wanti agar aku tidak berhubungan dengan Ryan lagi. Ya Allah..., kenapa masalah ini tidak kunjung selesai?..."


Aira menarik selimutnya dengan hati-hati. Berharap pergerakannya tidak mengganggu ketenangan Mega yang sedang tidur.


"Aku harus segera minta penjelasan mereka. Ada apa sebenarnya? Kenapa Ryan seolah sangat berbahaya untukku?"


......................


"Berangkat kerja itu tidak usah bawa banyak bekal. Bawa muka saja yang banyak, beres." cibir Bianka.


"Oh, begitu...!!!" sahut Rima.


Keduanya melirik Aira yang sedang menata produk dalam rak. Aira sudah tahu untuk siapa sindiran itu ditujukan. Tapi Aira tidak peduli. Dia cuma bisa ambil hikmahnya saja. Mulai saat ini dia akan lebih berhati-hati dalam bersikap. Terlebih pada Samuel.


Saat pulang kerja pun sama.


"Langsung pulang, Bi?" ujar Rima.


"Tidaklah, jalan dulu yuk. Cari koko-koko..." balas Bianka.


"Baju koko maksudmu?"


"Hahahaaa...!!!" keduanya tertawa.


Mereka tidak pernah seperti itu kalau ada Mega. Tapi waktu Mega libur, mereka sering menunjukkan ketidaksukaannya pada Aira. Apalagi setelah Samuel mengajak Aira pergi beli makanan.


Sampai di kosan, Aira dihadang oleh mbak Wati. Ada paket untuknya.


"Terimakasih, mbak."


"Sama-sama. Mbak Mega tadi pamit pulang, mungkin beberapa hari. Tiba-tiba dapat telepon ibunya sedang sakit." tutur mbak Wati.


"Oh iya? Kok tumben tidak ngomong?" balas Aira.


"Mungkin karena dia buru-buru."


"Iya kali. Aku naik ya mbak." pamit Aira, kemudian dia menaiki tangga menuju kamarnya yang ada di lantai 3.


Hampit tengah malam, Mega baru mengirim pesan padanya.


Kak Mega :


Aku pulang karena ibu sakit. Aku sudah izin sama ibu. Ibu bilang selama aku cuti, koko akan datang untuk cek kondisi counter.


Aira :


Ya, kak. Semoga ibu kakak segera sembuh ya


Hanya itu yang Aira ketik untuk membalas pesan Mega. Dia tidak akan menceritakan apapun pada Mega. Tidak soal teman-teman mereka. Tidak pula soal kekhawatirannya tentang Samuel yang beberapa hari ke depan akan berada di counter.


Di saat seperti ini dia teringat Aditya. Orang yang sangat peka ketika dia sedang ada masalah. Meski dia belum menceritakannya. Hanya dengan melihat matanya, isi chatnya, atau suaranya di telepon. Aditya bisa menerka kalau keadaannya sedang tidak baik. Tapi sekarang, rasanya sangat berat untuk menghubungi Aditya.


Aditya sudah menikah dengan Putri. Meskipun mereka berdua teman baik Aira, tetap saja Aira harus menjaga perasaan keduanya. Karena sebaik-baiknya seorang istri, dia akan merasa cemburu ketika suaminya dekat dengan perempuan lain. Sekalipun mereka berteman baik.


Aira juga tidak mungkin mengutarakan unek-uneknya pada Ryan. Pasti nantinya akan membuat Ryan khawatir.


Pada akhirnya Aira memilih untuk tidur setelah mematikan lampu utama. Menyisakan lampu tidur yang cahayanya lebih redup, sehingga dia bisa beristirahat dengan lebih nyaman.


......................


"Saat aku tidak memiliki tempat untuk mengadu, bahu untuk bersandar, dan tangan untuk mengusap air mataku. Aku akan menyimpannya sendiri. Dan memberi semangat pada diriku sendiri. Bahwa semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Bukan maksudku melupakanMu ya Allah. Aku tahu, semua yang terjadi karena kehendak dariMu. Jadi aku tidak perlu banyak bicara lagi padaMu kan.


Aku hanya memohon agar Engkau menguatkan gadis nelangsa ini. Yang sedang memainkan perannya. Apalagi sangat jauh dari keluarga..."


__ADS_2