
"Raaa...!!!" Putri melambaikan tangannya pada Aira yang sudah berdiri di depan pintu keluar bandara.
Di belakangnya, tampak Aditya yang sedang menarik koper. Di tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah sang istri.
"Kangeeen...!!!" katanya.
Aira dan Putri saling berpelukan melepas kerinduan. Sementara Aditya hanya bisa memperhatikan mereka dari dekat.
"Ayo cepat, aku tidak sabar sampai di rumahmu!" celoteh Putri.
"Tunggu!" Aira melihat ke mobil pakdenya. Memastikan pakdenya masih duduk dengan aman di sana.
"Kenapa?" tanya Aditya.
"Nanti di rumah, tolong jangan bahas-bahas soal Ryan ya!" pinta Aira.
"Kita datang juga bawa kabar soal Ryan, Ra." ujar Putri dengan ragu, sambil melirik suaminya.
"Kita pulang dulu deh, ya. Perjalanannya masih dua jam lagi." kata Aira.
"Jauhnyaaa..." balas Putri.
"Makanya. Yuk...!!"
"Berapa lama terus si Ryan bertemu kamu waktu itu?" tanya Putri.
"Dia menemuiku di sini, bukan di rumahku. Jadi ya lumayan sih." balas Aira.
Tiba di rumah...
"Ya ampun benar-benar hampir dua jam lho." ujar Putri sambil memperhatikan jam tangannya.
Mereka disambut dengan hangat oleh keluarga Aira. Saling berpelukan juga seperti yang dilakukannya bersama Aira waktu di bandara.
"Beginilah rumahnya. Harap maklum ya." kata ayah.
"Sama saja kok, pakde." balas Ryan.
"Pakde jualan di depan?" tanya Putri.
"Iya, datang ke sana dan ambil yang kalian mau!" perintah ayah.
"Nanti deh, capek kita. Jauh sekali. Aku pikir dekat." kata Putri.
"Makan dulu ya. Ibu dan sudah menyiapkan semuanya." kata Aira.
"Aku lihat ada berugak di belakang tadi. Benar?" tanya Aditya
Dia memastikan kalau dia tidak salah lihat. Karena tadi dia melihatnya waktu pamit ke kamar mandi.
"Gubuk namanya." ralat Aira. "Memang ada, soalnya di belakang juga ada kolam ikan kecil."
"Kita ke sana yuk...! Pasti adem deh di sana." sahut Putri.
"Mau kemana?" tanya ibu yang baru saja keluar membawa piring.
"Ke belakang, bude. Ada kolam katanya." balas Putri.
"Oh..., mau makan di sana juga?" tanya ibu.
"Tidak apa-apa bude?" Aditya balik tanya.
"Ya tidak. Ayo!" balas ibu.
"Kita bantu bawa ya." kata Putri.
Keputusan Putri sangat tepat, suasana di belakang rumah Aira sangat sejuk.
"Enak ya tempatnya." kata Putri.
"Bukannya sama saja ya dengan di sana." balas Aira.
"Beda dong. Setiap tempat akan memiliki ciri khasnya sendiri." ujar Putri.
"Oh, iya." Putri teringat sesuatu. "Sayang, ayo!" Putri melihat ke arah suaminya yang sibuk ngemil tempe goreng.
"Oh, iya." Aditya mengeluarkan amplop putih dari kantong celananya.
"Titipan dari Ryan, Ra. Bacalah, mumpung hanya ada kita." katanya.
Aira menerimanya, membukanya dengan hati yang berdebar-debar.
__ADS_1
Aira...
Saat aku dengar Aditya akan mengunjungimu, aku memutuskan untuk menulis ini. Karena tidak mungkin kan aku datang ke rumahmu bersama mereka. Apalagi setelah ayahmu meneleponku waktu itu, agar aku menjauhimu. Demi kebaikanmu.
Karena aku sangat mencintaimu, aku pikir aku rela melakukannya demi kebahagiaan kamu.
Tapi nyatanya, semakin aku jauh darimu. Tidak mendapat kabar darimu lagi. Aku semakin yakin aku tidak bisa memenuhi permintaan ayahmu.
Aku mencoba menghubungimu. Tapi nomormu sudah tidak aktif lagi.
Aku mulai putus asa. Saat itu aku putuskan datang ke kosanmu. Tapi mbaknya bilang kamu sudah tidak di sana lagi. Aku juga ke mall tempat kerjamu, mereka bilang kamu sudah kerja di sana lagi.
Aku merasa kamu benar-benar ingin pergi dariku. Kenapa Aira?!...
Apa kamu takut aku tidak bisa membuatmu bahagia, seperti anggapan ayahmu?!...
Mana Airaku yang dulu, yang selalu percaya padaku?!...
Apa perjuangan kita harus berhenti sampai di sini?!...
Kalau kamu masih peduli padaku, hubungi aku, nomorku masih sama Aira.
Aku menunggumu
Aku masih sangat mencintaimu...
Aira menangis saat membaca surat itu. Putri memberikan tisu untuknya. Aira berlahan menceritakan semuanya. Tentang tradisi perhitungan dalam keluarganya, tentang foto Ryan bersama seorang perempuan, juga handphonenya yang rusak.
"Masih ingat wajahnya?" tanya Aditya. Aira mengangguk.
Kemudian Aditya menunjukkan beberapa foto dalam galeri handphonenya. Setelah Aira melihat semuanya, dia menemukan wajah perempuan itu saat momen pernikahan Aditya.
"Dia." katanya.
"Ya, ampun!" Aditya tepuk jidat. "Ini adik sepupunya Ryan, Ra. Aku rasa dia sengaja jail sama kamu." katanya.
"Serius?!" Aira masih tidak yakin.
"Benar, Ra. Dia memang usil anaknya." imbuh Putri.
"Harus aku bertanya sejak awal. Aku hanya bisa marah dan menganggapnya jahat." gumam Aira.
"Itu wajar, Ra." Putri mengusap bahu Aira. "Yang penting kan sekarang kamu mengetahui kebenarannya."
"Kadang aku juga heran. Bagaimana bisa Ryan bertahan dalam keadaan seperti ini...?!" sahut Aditya.
"The power of love, sayang...!!" balas Putri. "Sama halnya dengan kita. Pacaran sejak dini, dan segitu lamanya. Dan sekarang kita menikah. Itu juga karena cinta. Iya kan, Ra?!" Putri melihat ke arah Aira.
"Dan aku iri dengan kalian, tahu..." balas Aira.
"Eh, mau menelepon Ryan?" tanya Aditya.
Aira menggeleng sambil melihat sosok ibunya yang sedang berjalan ke arah mereka. Aditya dan Putri pun melihatnya. Aira bergegas menyimpan surat dari Ryan.
......................
Tak hanya warung ayah Aira yang ramai di malam hari, di dalam rumah pun tak kalah ramai. Kedatangan Aditya dan Putri membuat suasana malam jadi berbeda.
"Ingat tidak bagaimana hebohnya kita saat jadi supporter mereka?" ujar Putri.
"Kamu kali yang heboh. Aku sih biasa saja." sahut Aira.
"Iyalah biasa. Orang kamu dukungnya Ryan doang." gumam Aditya.
"Eh, Ra..." Putri celingukan, memastikan tidak yang mempeehatikan mereka. "Pakai saja ponselku buat hubungi Ryan. Ini." Putri menyerahkan .
"Aku sudah silent. Nanti kamu tinggal kunci pintu kamar, aman deh." kata Putri.
Putri sadar kalau ulahnya ini bisa membuat ayah Aira marah. Tapi kalau ayahnya tidak tahu, maka tidak akan terjadi apa-apa. Itulah yang dia yakini.
Untuk beberapa alasan, Aira pun mengikuti saran Putri.
"Ayah, maafkan aku..." batin Aira.
Malam itu pun Aira mulai mengirim pesan pada Ryan.
Ryan :
Syukurlah kamu baik-baik saja. Masih merindukanku?...
Aira :
__ADS_1
Aku tidak pernah berhenti merindukanmu
Ryan :
Aku mencintaimu Aira
Aira :
Aku juga
Ryan :
Aku harap ada jalan untuk bersamamu, Aira.
Aira :
Kita pasrahkan pada Allah saja ya.
Ryan :
Sepertinya kamu menyerah
Aira :
Tadinya iya, sebelum aku tahu cewek itu sepupumu. Sekarang tidak lagi. Tapi tetap saja aku tidak bisa melawan orang tuaku. Semoga Allah membantu kita.
Ryan :
Sepertinya aku harus stok sabar banyak-banyak
Aira :
Kalau ada lebihan bagi ke aku ya
Ryan :
Jangan menggodaku Aira
Aira :
Tidak kok
Ryan :
Kalau Adit pulang, aku tidak bisa menghubungimu lagi ya...
Aira :
Do'akan aku cepat dapat pekerjaan ya, dan bisa membeli HP baru
Ryan :
Bagaimana kalau aku yang kirimkan? seolah hadiah kuis
Aira :
Tidak, Ryan. Ayahku pasti curiga.
Ryan :
Terserahlah
Aira :
Ryan, aku ngantuk sekali. Sudahan dulu tidak apa kan?
Ryan :
Iya, tidurlah. Ketemu dalam mimpi ya. I love you
Aira :
Love you too
Aira menyimpan ponsel milik Putri di bawah bantal sebelahnya. Dia sangat bahagia malam ini, bisa kembali ngobrol dengan Ryan meski hanya via chat. Setidak itu bisa meluruskan kesalahpahaman yang sempat terjadi. Dan dia semakin yakin dengan pilihan hatinya. Ryan!
Dia berharap tetap bisa menjaga hubungan jarak jauhnya dengan Ryan. Dan membuat orang tuanya mengerti, bahwa nasib manusia itu ada di tangan Allah SWT. Bukan manusia.
......................
"Ya Allah, terimakasih Engkau masih menjaga hatinya untukku. Terkadang aku bingung, diusiaku sekarang ini, kenapa aku harus terlibat masalah serumit ini?... Semua orang mengatakan aku belum dewasa, masih kecil. Tapi sekarang aku sadar, rupanya dewasa bukan cuma tentang usia.
__ADS_1
Semoga bisa lebih baik kedepannya. Lebih bijak dalam mengatasi sebuah masalah. Bukan cuma mementingkan egoku, apalagi sampai menghindar dari masalah."