
Mega membuka pintu kamarnya. Kamar kos itu memiliki satu kasur lantai. Ada kamar mandi juga di dalam, yang berhadapan langsung dengan dapur. Lalu di samping kamar mandi ada ruang juga untuk menjemur pakaian. Memang tidak luas, dan semua bagian ruangan di dalam berukuran kecil. Tapi privasi mereka terjaga di sana.
"Taruh barangmu di sini." kata Mega sambil membuka lemari kecil di sudut kamar.
"Iya, kak."
"Cuma itu?" tanya Mega saat Aira mengeluarkan dan menata barangnya.
"Hahahaa..., sebenarnya banyak yang aku siapin kak. Besok kalau pulang lagi aku akan bawa."
"Asal jangan semuanya saja dibawa. Soalnya serba minimalis. Hahahaaa...!" Mega tertawa.
"Yang penting kan nyaman kak." kata Aira.
"Yups, semoga kamu betah ya."
Kini Aira sendirian di dalam kosnya, karena Mega sudah berangkat bekerja. Sedangkan Aira baru mulai kerja esok hari.
"Semoga betah ya..."
Seperti biasa, ketika sedang tidak ada kegiatan Aira akan menghubungi teman-temannya. Kali ini dia menghubungi Aditya.
"Bagaimana kosnya? Nyaman tidak?"
"Ya, begitulah. Pasti tak senyaman rumah sendirilah." kata Aira.
"Aira ya? Sini, aku mau ngomong juga."
Aira hafal sekali siapa pemilik suara itu. Dia pun tersenyum.
"Raaa..., miss you...!!!"
"Miss you too..." balas Aira. "Kalian sedang bersama rupanya?"
"Iya. Dan ketahuan lagi teleponan sama calon suamiku."
"Hahahaaa..., siapa suruh nomornya tidak aktif."
"Iya juga sih. Handphonenya rusak, Ra. Heheheee..."
"Eh, sebentar dulu. Kamu bilang tadi calon suami? Kalian sudah mau nikah?"
"Iya, Ra. Kira-kira kamu bisa datang tidak? Datang dong, please...!!!"
"Sambung do'a dari sini ya. Maaf lho..." Aira merasa tak enak hati.
"Yaaa, Ra...!!!" Putri sedikit kecewa.
"Kalian saja bulan madunya di sini, gimana?" Aira mencoba menghibur Putri.
__ADS_1
"Coba aku tahu jauh-jauh hari kalau kamu akan pulang. Aku pasti mempercepat pernikahan ini, Ra. Biar kamu bisa hadir." sahut Aditya.
"Kan sudah aku kode, kamunya tidak peka."
"Makanya to the point saja lain kali." begitu jawab Aditya.
Cukup lama mereka sambung silaturahmi via telepon, hingga Aditya mengakhiri lebih dulu karena ada yang harus dia kerjakan.
"Akhirnya mereka akan segera menikah. Ending yang membahagiakan..." gumam Aira dalam hati.
......................
Tibalah hari pertama Aira bekerja. Tidak terlalu sulit menerima arahan dari Mega. Karena konsepnya sama dengan yang dulu. Aira hanya butuh menghafal letak produknya.
Di hari pertama itu Aira langsung diuji juga oleh customer yang sedikit menggemaskan. Banyak tanya, giliran diberi solusi, dia beralih pada topik yang berbeda lagi. Tapi itu bisa diatasi Aira dengan mudah.
Setelahnya, seorang ibu dengan penampilan modisnya datang menemuinya.
"Ada yang bisa dibantu ibu...?" sapa Aira.
"Kamu anak baru itu?" si ibu balik bertanya. Aira mengangguk pelan. "Kamu sudah tahu siapa saya?" kali ini Aira menggelengkan kepalanya.
Ibu itu tersenyum, lalu dia mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah kartu kecil berbentuk persegi panjang dia sodorkan pada Aira.
"Oh, ibu. Maaf..." Aira terkejut setelah membacanya, ternyata dia adalah bos besar pemilik counter kosmetik tempat dia bekerja. Ibu Gracee.
"Benar, bu."
"Saya sengaja datang diam-diam, karena ingin melihat kamu hari ini." ujarnya sambil memutari meja setengah lingkaran, agar bisa duduk santai di balik meja itu.
"Saya juga telepon swalayan tempat kamu kerja sebelumnya, lho. Sebelum memanggil kamu untuk interview kemarin." katanya kemudian.
"Oh, iya..." Aira kembali tercengang.
"Oh, seperti itu ya rupanya cara orang merekrut pegawai..."
"Iya, atas persetujuan semuanya juga. Akhirnya saya panggil kamu. Selamat bergabung ya. Semoga kamu betah. Dan bisa memberikan yang terbaik juga buat counter kita. Seperti yang kamu lakukan di sana sebelumnya."
"Saya akan berusaha, bu." ujar Aira.
Tak lama kemudian muncul seorang lelaki berkulit putih dengan mata sipit. Dia mendekati meja tempat Aira dan bu Gracee ngobrol.
"Ma, sudah? Kita harus segera pergi." katanya sambil melihat jam tangannya.
"Oh, iya." bu Gracee mengambil tas jinjingnya. "Lanjutkan pekerjaan kamu, saya pergi dulu." pamitnya.
"Iya, bu. Hati-hati..."
Lelaki itu diam-diam memperhatikan Aira. Sedangkan Aira tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Mega...!" ujar bu Gracee sambil melambaikan tangannya.
"Iya, bu." balas Mega setelah berada di hadapan ibu bos.
"Saya pesan makanan di tempat biasa. Ini tanda buktinya, kamu simpan ya." katanya.
"Apa yang ibu pesan kak?" tanya Aira setelah ibu dan anak itu pergi.
"Tenang, stay halal kok. Ibu memang beda keyakinan dengan kita. Tapi ibu selalu memberikan yang terbaik untuk kita, mulai dari hal kecil seperti camilan. Sampai tempat ibadah di dalam toko." terang Mega.
"Oh..., baik sekali..." begitu reaksi Aira.
Memang benar, ada ruang untuk sholat di tempat istirahat karyawan. Dan sangat terjaga kebersihannya.
"Lihat koko tadi kan?... Bukankah dia keren...?!" ujar Mega.
"Kak Mega suka, yaaa...?" Aira menggoda supervisor sekaligus roommatenya itu.
"Malu aku, Ra. Mungkin kalau aku sepertimu aku akan sangat bersemangat tebar pesona. Sayang, aku kan jendong." Mega terlihat meringis, menertawakan dirinya.
"Hah?! Apa kak?!" Aira tidak mengerti maksud Mega.
"Janda, sayang..." Mega memperjelas dengan bisikan.
"Ah?!" Aira hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
"Sudah, ayo kembali kerja. Kita digaji bukan buat curhat." katanya.
"Semudah itu, cantik, pekerja keras. Tapi janda. Kok bisa? Suaminya ada masalah apa coba, masa cewek hebat seperti kak Mega ditinggal...?!"
Selagi memikirkan nasib Mega, Aira tiba-tiba teringat kisah cinta teman-temannya.
Tiara dan Gio. Kisah mereka yang berawal dari saling memanfaatkan, rupanya bisa langgeng sampai saat ini. Meski sebelumnya pernah ada konflik juga. Sekarang anaknya sudah hampir setahun.
Aditya dan Putri. Kata orang-orang mereka pacaran sejak SMP. Mereka bisa menjaga hubungan dengan baik, hingga sebentar lagi mereka akan menikah.
Rangga dan Icha. Mereka saling mencintai. Tapi orang tua Icha tidak merestui. Dan ketika dia datang, dia dianggap orang ketiga dalam hubungan mereka. Tapi ujungnya, fitnah itu membawa Rangga dan Icha mengarungi bahtera rumah tangga. Karena orang tua Icha sudah merestui mereka.
"Nasibku begini amat...!!!" umpatnya.
"Apa kabar cintaku...???! Ah, Aira..., jangan memikirkan cinta. Kerja saja baru mulai." Aira memperingatkan dirinya sendiri.
Aira kembali melanjutkan pekerjaannya. Menata produk yang baru saja diantarkan rekannya, untuk mengisi ruang yang kosong. Karena produk sudah menipis.
Begitulah kesibukan Aira di tempat kerja yang baru. Mendisplay produk dan melayani pengunjung. Aira sangat menikmati pekerjaannya. Meskipun dia harus pulang malam. Karena tidak ada pergantian shift di sana. Beruntung ada Mega bersamanya. Setidaknya dia tidak sendirian di kota yang baru saja dia singgahi.
......................
"Tidak ada pekerjaan yang mudah. Semua ada sisi plus dan minusnya. Saat temanmu baik, dan bosmu juga baik. Kamu akan sering dihadapkan dengan customer yang bikin geregetan setiap harinya. Ah bukan..., malah kadang hanya selisih jam, bahkan menit, mereka yang unik-unik itu datang silih berganti. Sungguh luar biasa. Haaaah..., nikmati saja prosesnya. Semangat...!!!"
__ADS_1