
Aku sudah menyiapkan semuanya. Kecuali keberanian. Karena sampai hari itu tiba pun, aku masih merasa sangat takut untuk pergi.
Dan mereka berdua, Ryan dan Aditya. Apa mereka begitu bersemangat mengantar kepergianku?... Sampai-sampai mereka datang ke rumahku terlalu awal. Bahkan kami sempat sarapan bersama.
"Taksinya sudah datang." kata ayah setelah mengakhiri panggilannya.
"Biar saya bantu bawa kopernya, pakde." Aditya kemudian beranjak mengambil koperku yang tergeletak di teras.
"Ayah..." agak ragu untuk mengatakannya.
"Kamu boleh boncengan sama Ryan. Ayah dan ibu yang akan naik taksi."
Sungguh ayah mengerti sekali apa yang aku mau.
"Terimakasih ayah." kataku.
"Jangan mampir-mampir ya. Nanti ketinggalan pesawat." pesan ibu.
"Ayo berangkat. Biar ayah yang kunci pintunya." kata ayah.
Seperti biasanya, Ryan memakaikan helm untukku.
"Ini terakhir kalinya aku memakaikan helm untukmu..." gumamnya.
"Jangan ngomong begitu..."
Kalimat itu terdengar sangat menyakitkan.
"Kenyataannya memang begitu, kan?" Ryan tersenyum tipis.
"Maafkan aku..."
"Ayo, naik. Yang lain sudah menunggu!"
__ADS_1
Tiba di lampu merah, Ryan menarik tanganku dengan tangan kirinya. Menggenggamnya sangat erat. Lalu membuka kaca helmnya. Dia menoleh ke arahku.
"Berjanjilah, kamu tidak akan melupakanku."
"Bagaimana kalau kamu yang lebih dulu melupakan aku?" kataku.
"Aku sudah diskusi kemarin, aku tidak ingin Aira yang lain, selain kamu." katanya.
"Siapa yang kamu ajak diskusi?" tanyaku.
Aku kurang paham dengan apa yang dia katakan.
"Allah dong!" jawaban yang sangat mengejutkanku.
"Luar biasa...!!!" kataku. "Lalu apa jawabNya?"
"Kita harus banyak berdo'a untuk hubungan kita. Jangan sampai kisah kita seperti judul novel yang mengenaskan." ujarnya.
"Apa itu?" aku terus saja meladeninya. Karena momen seperti itu tidak akan terjadi lagi setelah aku pergi.
Suara klakson dari kendaraan di belakang membuatku terkejut. Rupanya lampu sudah hijau.
Sampai di bandara, aku berpamitan dengan kedua orang tuaku. Mereka tidak ikut pulang bersamaku. Karena masih ada hal yang harus mereka rampungkan.
Aku juga berpamitan dengan Ryan dan Aditya.
"Hati-hati, jangan lupa terus kabari kita." Aditya menepuk pundakku.
"Iya, kalian juga."
"Ingat pesanku kemarin, kan?" ujar Ryan.
Aku mengangguk mengerti.
__ADS_1
"Satu lagi. Dilarang merindukan yang lain selain aku." Ryan menoel hidungku.
"Haalaaah...!!!" sahut Aditya.
"Aku pergi. Salam buat semuanya." kataku.
"Hati-hati. Setelah sampai kabari aku ya." kata Ryan.
"Em." aku mengangguk lagi.
Aku duduk di dekat jendela, memandang hamparan laut dan pulau-pulau yang tampak kecil di bawah sana. Sungguh aku tidak mengerti jalan hidupku endingnya akan seperti apa.
Ku hapus air mata yang sedari tadi aku tahan. Karena aku tidak ingin mereka melihatku menangis.
Dan untukmu, Ryan.... Aku tidak tahu siapa yang akan meninggalkan siapa setelah ini. Tapi aku berharap rasa ini tetap ada. Bohong kalau aku tidak menyukaimu, dan tidak mengharapkan hubungan yang lebih dari sahabat. Semoga kamu tidak melupakanku, Ryan...
......................
Seperti yang pernah aku katakan, 'setinggi-tingginya bangau terbang, akhirnya ke pelimbahan juga.'
Di sinilah aku sekarang. Kampung halamanku. Tempat aku dilahirkan dan dibesarkan. Tidak dapat dipungkiri, bahwa rumah ini adalah rumah ternyaman bagiku. Meski aku merasa nyaman dengan tempat tinggalku yang sederhana. Tapi batinku tetap merindukan mereka. Iya, mereka...
Ryan..., biasanya pagi-pagi begini dia akan datang ke rumah menjemputku. Dan kita berangkat kerja bersama. Aku terlalu percaya diri, menganggap kami berjodoh karena takdir mempertemukan kami dalam satu komplek pertokoan. Sekalipun aku sudah keluar dari kampungnya. Dia juga selalu bisa menyesuaikan jadwal kerjanya denganku. Kecuali jadwal liburnya.
Ryan juga diterima dengan sangat baik oleh ayah dan ibuku. Tapi sayangnya, mereka tetap tidak menginginkan ada hubungan lebih dari pertemanan. Kakek dan nenekku juga mengatakan hal yang sama ketika aku tiba kemarin. Tapi saat aku menanyakan alasannya. Mereka hanya bilang 'tidak boleh.' Dan aku dilarang untuk banyak tanya setelahnya.
Sekali lagi maafkan aku, Ryan...
Mungkin kalau saat ini dia ada di sampingku, dia sudah mencubit hidungku karena terlalu sering mengatakan maaf.
Sampai hari ini aku, Ryan, dan yang lain masih sering berkomunikasi. Bahkan Ryan sangat rajin mengirim pesan. Entah itu menanyakan kabar, atau sekedar bilang 'aku merindukanmu, Aira...'
Aku berusaha tidak terbawa perasaan. Ini baru beberapa hari, dan itu sangat wajar. Ketika hari berganti minggu, minggu ke bulan, semua pasti akan berangsur berubah. Jika sekarang tiada waktu tanpa kirim pesan atau telepon. Kedepannya bisa saja kita tidak saling berhubungan lagi. Sedih... ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
__ADS_1
......................