Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
29


__ADS_3

Aira membenci dirinya saat ini. Terlalu mudah terbawa perasaan, membuat dia terlalu cepat memutuskan bahwa seseorang itu sangat berarti baginya. Dan dia juga merutuki dirinya sendiri. Seharusnya dia tidak serapuh ini, sampai dia jatuh sakit dan dirawat inap. Lagi-lagi melibatkan Samuel.


Saat ini Samuel sedang berdiri samping ranjang. Menunggu dokter yang sedang melakukan pemeriksaan pada Aira.


"Semua sudah normal. Lain kali jadwal makannya lebih teratur ya." ujar dokter itu pada Aira.


"Jadi kapan bisa pulang, dokter?" tanya Aira.


Aira sudah sangat bosan di sana. Terlebih Samuel bersamanya, membuatnya merasa tidak nyaman.


"Tunggu sampai vitaminnya habis." jawab dokter sambil melihat kantong infus yang tadi pagi sudah disuntikkan vitamin.


"Kalau begitu kami permisi." katanya kemudian.


"Terimakasih." kata Aira sambil sedikit menganggukkan kepalanya.


"Terimakasih." ujar Samuel juga.


"Koko tidak kerja?" tanya Aira setelah dokter dan susternya keluar.


Samuel kemudian melihat jam yang melingkar tangannya.


"Sejam lagi." katanya dengan santai. "Butuh sesuatu tidak? Sebelum aku pergi." tanya Samuel.


"Tidak, ko. Terimakasih." balas Aira. "Aku minta maaf selalu merepotkan koko."


"Aku tidak merasa direpotkan. Justru aku senang bisa membantumu, Aira." Samuel tersenyum padanya.


"Aku tidak enak sama koko, juga bu Gracee." Aira menundukkan kepalanya.


"Jangan bicara seperti itu. Mamaku pun akan melakukan hal yang sama kalau berada di posisiku." terang Samuel.


......................


Setelah kembali ke kosan, Aira menghubungi bu Gracee. Dia pamit untuk mengundurkan diri dari pekerjaannya. Dia tidak ingin terlibat lagi dengan apapun yang berhubungan dengan Samuel. Sudah cukup banyak masalah yang dia hadapi sejak bertemu Ryan. Dia tidak ingin menambah daftar masalah baru kalau terus berhubungan dengan Samuel.


"Apa kamu melakukan ini karena kamu merasa sungkan pada kami? Seperti yang Sam katakan." terka bu Gracee setelah mengetahui maksud Aira.


"Ibu dan koko terlalu baik, saya khawatir suatu hari nanti saya justru mengecewakan ibu dan koko." ujar Aira.


"Apa kamu tahu kalau itu akan terjadi? Tidak bukan?" sahut bu Gracee.


"Aira..., toko kami butuh kamu. Kami akan sangat keberatan kalau kamu keluar dari sini." kata bu Gracee.


Aira masih diam, bukan sedang mempertimbangkan keputusannya. Tapi dia sedang berpikir bagaimana caranya agar ibu bosnya mengizinkan dia resign.


"Baiklah kalau itu keputusanmu." putus bu Gracee, karena melihat keyakinan di mata Aira.


"Ingat ya, hubungi saya kalau kamu butuh pekerjaan lagi." bu Gracee tersenyum.


"Iya, bu. Terimakasih. Maaf kalau saya banyak salah dan sering merepotkan." ucap Aira.

__ADS_1


"Tidak, Aira. Justru saya minta maaf, mungkin saya banyak salahnya. Juga Sam, yang mungkin selalu mengganggumu." ujar bu Gracee.


Ucapan bu Gracee itu sedikit ada benarnya. Mungkin kalau bukan karena Samuel yang tiba-tiba mengungkapkan isi hatinya. Ditambah lagi dia yang selalu menjadi garda terdepan dalam setiap kesulitan Aira. Aira tidak akan berhenti bekerja.


......................


Dan akhirnya Aira sampai di rumahnya. Sedikit ada keraguan untuk melangkah memasuki rumah sederhana itu. Karena dia takut ayahnya masih marah. Meski niatnya baik, ingin memperbaiki hubungannya dengan keluarganya. Meminta maaf atas segala sikap buruknya waktu itu.


"Bismillah..." gumam Aira dalam hati sebelum mengucapkan salam.


Ibu keluar lebih dulu setelah mendengar putrinya mengucapkan salam. Disusul oleh nenek dan kakek. Baru kemudian ayahnya. Semua memeluk Aira. Termasuk ayahnya.


"Aira mohon ampun ayah...!!" Aira menangis dalam pelukan sang ayah.


"Ayah sudah melupakan semuanya, nak. Dengan kembalinya kamu bersama kami, itu sudah cukup membuat kami bahagia. Lupakan semuanya. Kita mulai hidup yang baru." ujar ayahnya.


Mereka bersyukur karena hati putrinya sudah terbuka. Begitu tanggapan mereka. Padahal mereka tidak pernah tahu, hal apa yang tersimpan dalam hati anak perempuannya itu.


"Tak segampang itu melupakanmu. Segala sikap manismu padaku masih tersimpan indah dalam memoriku. Tapi untuk saat ini, aku benar-benar kecewa, Ryan. Yang terbaik untuk saat ini adalah tetap bersama keluargaku. Yang sudah jelas kasih sayangnya selalu tulus untukku. Aku bahagia melihat mereka yang sekarang."


Kedua orang tua Aira sekarang membuka warung kecil di depan rumahnya. Dengan menu utama nasi goreng dan aneka mie. Jangan lupakan ibunya, yang semangat sekali memasak aneka gorengan untuk menambah isian di warungnya.


"Seperti apapun menderitanya kita. Kalau kita melihat orang tua kita bahagia. Itu akan menjadi obat yang sangat mujarab, untuk kesedihan kita." tutur nenek sambil mengusap rambut Aira.


Mereka sedang duduk di teras rumah. Melihat aktivitas ayahnya yang sedang melayani pembeli.


"Iya, nek." Aira tersenyum.


"Kamu bagaimana? Tidak mau mencari pekerjaan lagi?" tanya nenek.


"Baiklah. Apapun itu, kamu harus mengerjakannya dengan ikhlas, InsyaAllah semua akan menjadi berkah."


"Baik, nek. Terimakasih, aku sayaaaang banget sama nenek..." Aira memeluk neneknya.


"Memangnya berani kamu tidak sayang nenek." gurau nenek. Aira menggeleng dalam pelukan neneknya.


......................


Tak terasa sudah satu bulan lebih Aira berada di rumah. Harusnya dia merasa nyaman, karena berada di sekitar orang-orang yang sangat menyayanginya. Hanya saja orang-orang di lingkungannya membuat telinganya gatal.


Aira kembali menjadi bahan omongan tetangga, karena tidak memiliki pekerjaan. Terus dibandingkan dengan anak-anak seusianya yang mulai sibuk di pabrik, atau sibuk dengan kuliahnya.


Tak hanya itu, Aira sering disebut sebagai kembang warung, lantaran dianggap memancing banyak pembeli datang ke warung orang tuanya. Padahal Aira hanya membantu masak di dapur rumahnya, dan kalau malam dia tidak pernah berada di warung. Dia hanya berdiam diri di dalam rumah bersama sang nenek.


"Jangan hiraukan. Yang penting kan kamu tidak seperti itu." kata ibunya.


"Iya sih, bu. Tapi juga kesel akunya..." balas Aira yang sedang mengupas bawang merah.


"Terus kamu maunya bagaimana? Cari kerja lagi?" tanya ibu.


"Aku sedang memikirkan itu, bu." ujar Aira.

__ADS_1


"Bagaimana kalau kerjanya di sekitar sini saja. Yang penting punya kesibukan. Dan tetap dekat dengan keluarga." kata ibunya.


"Ra..." ayahnya datang sambil membawa handphone. "Adit dan Putri ini mau bicara sama kamu."


"Tapi, yah..." Aira sedikit ragu.


"Mereka itu pilihan." bisik ibu sambil tersenyum.


Aira pun mengambil handphone jadul milik ayahnya.


"Hai..." sapa Aira.


"Aira...!!!" teriak Putri.


"Kamu kenapa sih tidak bisa dihubungi?"


"Maaf, ponselku rusak." jawab Aira. "Apa kabar?" tanya Aira.


"Kita baik. Kamu bagaimana?"


"Baik juga."


"Hai, Ra..." kali ini giliran Aditya.


"Putri dapat voucher liburan, dia ingin menemui kamu. Boleh kan kita ke sana?"


"Serius?!" Aira menatap kedua orang tuanya bergantian. Ayah menganggukkan kepalanya.


"Tentu. Kapan kalian akan berangkat?"


"Besok kita kabari lagi, ya."


"Oke. Aku tunggu kabar baiknya."


Setelah cukup lama mengobrol, mereka memutuskan untuk menyudahinya. Aira segera mengembalikan handphone milik ayahnya itu.


"Aditya sudah bilang sama ayah sebelumnya. Ayah juga sudah bilang pakdemu, untuk menjemput mereka kalau datang." ujar ayah.


"Terimakasih ayah..." Aira tampak sangat bahagia.


"Sama-sama, nak." ayah mengusap rambut Aira. Kemudian kembali ke warung.


"Cuma Aditya dan Putri yang mendapat kepercayaan dari ayahmu. Dari dulu, ketika mereka pertama bertemu." jelas ibunya.


"Aku pun sama seperti ayah." balas Aira.


"Bukannya..."


"Ibu..." Aira memotong kalimat ibunya yang belum selesai. "Aku tidak mau bahas dia lagi." kata Aira.


"Maafkan ibu, ibu hampir kelepasan."

__ADS_1


......................


"Kabar bahagia yang datang di tengah segala rasa pedih ini, ibarat sebuah doorprize. Oh, bukan sebuah untuk kali ini. Tapi sepaket. Karena yang datang sejodoh. Pasti menyenangkan bertemu mereka lagi. Apalagi mereka yang datang ke rumahku. Aku tidak sabar menunggu hari itu...!!!"


__ADS_2