
Aditya dan Putri sangat menikmati liburannya. Bagi mereka hal yang paling berkesan adalah bisa menghabiskan waktu bersama Aira.
"Lain kali kita ketemu lagi ya." Putri masih setia mengenggam tangan Aira.
"Em." Aira mengangguk.
"Jaga diri baik-baik, Ra." ujar Aditya.
"Kalian juga." balas Aira. "Jangan lupa, segera berikan aku ponakan yang lucu kayak aku." katanya.
"Do'akan saja ya." Putri tersenyum sambil melihat ke arah suaminya.
Aira tersenyum bahagia melepas kepergian mereka. Dua sejoli yang begitu baik dan perhatian padanya.
"Semoga secepatnya kita bersama-sama lagi." batin Aira sambil melambaikan tangan pada Aditya dan Putri.
Dalam perjalanan pulang, handphone pakdenya berdering. Istrinya memanggil.
"Ra, tolong jawab ya." titah pakdenya.
"Iya."
"Loudspeaker, Ra."
"Baik." Aira yang patuh menuruti segala perintah pakdenya.
"Iya, bude. Ini lagi perjalanan pulang." kata Aira.
"Ya sudah, bude tunggu saja di rumah."
"Ada apa, bu?" pakde terlihat sangat penasaran.
"Nanti saja, pak."
Kemudian telepon dimatikan setelah bude mengucapkan salam.
"Budemu itu kebiasaan." kata pakde.
"Kan istri pakde." balas Aira. Pakde dan Aira sama-sama tertawa.
Sesampainya di rumah, mereka melihat motor matic terparkir di halaman. Itu adalah motor istri Yusuf.
"Mbak datang pakde." kata Aira.
Rupanya kedatangan Rina bukanlah kunjungan biasa. Dia sedang mengadukan perbuatan suaminya.
"Apa kamu tidak salah, Rin?" tanya pakde.
"Pak, aku melihatnya sendiri. Mas Yusuf bahkan menyewa rumah untuk perempuan itu..." Rina mengadukan semuanya sambil menangis. Aira mengusap punggungnya, mencoba memberi kekuatan.
"Kalau bapak tidak percaya, aku bisa membawa bapak ke sana." ujarnya kemudian.
"Kamu di sini saja. Biar bapak sendiri yang ke sana. Katakan dimana?"
Setelah mendapatkan alamat lengkap dari Rina. Pakde pun pergi. Aira pun pamit pada bude dan Rina.
......................
Di tengah obrolan santai keluarga Aira, nenek membahas tentang masalah rumah tangga Yusuf. Hal itu membuat Aira tertarik. Bukan soal masalahnya, tapi tentang suatu hal yang masih terkait.
"Bukannya sebelum menikah mereka dihitung-hitung juga ya, kek?... Harusnya kan tidak sampai terjadi hal seperti ini." ujar Aira.
"Tidak semua pernikahan berakhir bahagia." balas kakek. "Bisa jadi Allah menggaris jodoh mereka hanya sampai di sini." imbuhnya.
"Apa itu artinya perhitungan kakek salah...?" tanya Aira lagi.
Semua menatap Aira. Termasuk ibunya yang sedang melipat baju.
"Aira, jangan mulai!" tegur ibunya.
"Ibu, aku cuma bertanya. Apa itu salah?" balas Aira.
"Sudah larut, sebaik kamu tidur!" titah ayahnya.
"Iya, ayah." Aira pun patuh, dia beranjak dari ruangan itu menuju kamarnya.
Setiap harinya, ibu-ibu tidak henti-hentinya membicarakan Yusuf dan Rina. Bahkan mereka sudah mendengar, kalau keduanya telah mengurus perceraian.
"Iya, Ra, mereka sedang proses cerai?" tanya seorang ibu.
"Maaf, bulek. Tidak tahu. Permisi." kata Aira.
__ADS_1
"Masa iya saudaranya tidak tahu?!" sindir yang lain.
Aira menarik nafas panjang, kemudian segera pergi dari toko itu.
"Tidak bisakah mereka berhenti membicarakan aib orang lain?" Aira terus menggerutu. "Kalau keluarganya digosipin juga pasti tidak terima."
"Apa sih...?" sahut ibunya.
"Ibu-ibu di toko itu, bukannya cepat pulang masak, malah ngerumpi." kata Aira.
"Apa bedanya sama kamu, bukannya cepat bantu ibu malah ngomel terus." cibir ibunya.
"Aku kan cuma curhat." Aira nyengir.
"Bisa saja kalau ngeles."
Aira sebenarnya juga sudah tahu, kalau yang dibicarakan orang-orang itu benar adanya. Tapi dia memilih untuk diam, karena itu bukanlah hal yang pantas untuk digembar-gemborkan.
......................
Malam itu Aira mendengar pembicaraan antara ayah dan kakeknya.
"Mereka ingin datang untuk melamar Aira, pak."
"Kapan?"
"Dalam minggu ini katanya. Bagaimana menurut bapak?"
"Apa anakmu itu setuju?"
"Sebaiknya dia setuju. Bukannya ini termasuk jalan yang terbaik agar dia tidak lagi memikirkan lelaki itu."
"Apa mereka masih berhubungan?"
"Entah, pak. Tapi saya bisa merasakan, dia masih mengharapkan lelaki itu."
Tiba-tiba cairan bening dan hangat itu menetes, Aira duduk bersimpuh di balik pintu kamarnya tanpa alas.
"Apa aku benar-benar tidak punya hak atas hidupku? Kenapa mereka sangat kejam...?! Ryaaaan..., tolong aku...!!! Aku butuh kamu...!!"
Aira terisak tanpa suara, dadanya terasa begitu sakit. Saking lelahnya dia menangisi nasibnya, matanya pun terlelap. Dia tertidur di atas tanah yang dingin.
Aira membuka pintu kamarnya, lalu pergi ke belakang menuju kamar mandi. Dia berlalu begitu saja tanpa peduli pada sapaan nenek dan ibunya yang sedang sibuk di dapur.
Tiba waktunya sarapan, ayah mengatakan sesuatu yang semalam dia dengar.
"Arlan dan orang tuanya akan datang, dia bermaksud melamarmu." ujar ayah tanpa keraguan sedikitpun.
"Bagaimana, Aira?" tanya kakek.
"Terserah kalian saja." jawab datar sekali. Tanpa ekspresi apapun.
"Terserah berarti iya." putus ayah.
"Ayah...!!" sahut ibu pelan, tapi penuh penekanan.
"Aku tidak keberatan ibu. Permisi." Aira beranjak dari kursinya, dan pergi ke kamarnya.
......................
Arlan adalah anak dari keuarga jauh kakek. Dia baru saja pulang dari perantauan. Saat mengunjungi rumah kakek, dia melihat Aira dan terpesona pada pandangan pertama. Arlan tampak tidak percaya awalnya, kalau perempuan yang menyuguhkan teh kala itu adalah Aira. Pasalnya perempuan yang dulunya sangat kurus dan tidak terawat itu, berubah jadi cantik dan anggun.
Tanpa banyak menuntut syarat, Aira menyetujui saja pinangan itu. Meski di lubuk hatinya yang paling dalam masih ada Ryan.
"Apa yang sedang kamu pikirkan, Aira?" tanya Arlan.
"Tidak ada, mas." jawab Aira.
"Kalau ada yang ingin kamu katakan, katakan saja!" ujar Arlan. "Aku tidak ingin ada yang menjanggal dalam hubungan kita nantinya."
"Mas Arlan bisa berhenti sebentar?" tanya Aira kemudian.
Saat ini mereka sedang di jalan. Mereka dalam perjalanan pulang setelah fitting baju pengantin. Atas permintaan Aira, Arlan menepikan mobilnya.
"Jadi apa?" tanya Arlan.
"Sebelum kita menikah, aku ingin menuntaskan semuanya." kata Aira.
"Apa?" Arlan semakin penasaran.
"Sebelum bersama mas Arlan, sebenarnya aku sedang menjalin hubungan dengan seseorang." ujar Aira jujur. "Tapi, keluargaku tidak merestui kami. Dengan alasan perhitungan yang tidak menemukan titik cocoknya."
__ADS_1
"Kalian masih berhubungan?" tanya Arlan.
Aira menggelengkan kepalanya.
"Tidak ada komunikasi, karena aku tidak memiliki HP."
"Siapa dia? Apa aku mengenalnya?" tanya Arlan lagi.
"Tidak, mas." jawab Aira.
Kemudian Aira menceritakan semua hal tentang Ryan.
"Maaf, mas." Aira menunduk.
Dia sangat sadar, kalau yang dia ucapkan akan menyinggung Arlan, calon suaminya. Tapi Aira tidak punya pilihan lain, selain berkata jujur.
"Aku akan antar kamu bertemu dengannya. Tuntaskan semuanya!" putus Arlan dengan nada tenang, tapi sangat tegas.
"Mas..." Aira terkejut.
"Sudah aku katakan, aku tidak ingin ada sesuatu yang mengganggu hubungan kita ke depannya." katanya datar.
Aira terdiam sejak saat itu. Hingga mereka sampai di depan halaman rumah Aira yang berpagar kayu. Yang mana berdiri warung kecil juga di sana.
"Duuuh..., calon penganti habis borong ya..." seru seorang ibu yang sedang jajan di warung.
Arlan yang sedang menenteng beberapa kantong plastik berlogo nama toko yang dia kunjungi, tampak sedikit menundukkan kepalanya untuk menghormati mereka yang menyapa.
"Langsung masuk saja, nak. Tangan ibu kotor." kata ibu saat dua sejoli itu hendak menyaliminya.
"Aku tidak bisa lama, aku harus segera pulang. Besok aku akan minta izin pada orang tua kamu." ujarnya.
Aira yang tadinya menunduk saja, langsung mengangkat kepalanya dan melihat Arlan.
"Jangan khawatir, aku yang akan atur semuanya. Kamu terima beres saja." begitu janji Arlan.
"Eh, Arlan. Masuk..., masuk...!" kata ayah yang baru keluar. "Kenapa malah bisik di luar...?"
"Aku tidak bisa lama, pak. Ada sedikit urusan lagi." jawabnya.
"Oh, baiklah. Hati-hati..."
Kemudian Arlan berpamitan pada Aira dan ayahnya.
"Aira...?" panggil ayah.
"Iya, ayah." balasnya.
"Kamu benar-benar serius kan dengan keputusan kamu?" tanya ayah.
"Iya, ayah." jawabnya. "Ayah tidak perlu khawatirkan aku." katanya kemudian.
"Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu, nak." ayah mengecup kening Aira.
Aira bisa merasakan kasih sayang yang begitu besar dan tulus dari kecupan ayahnya. Sampai-sampai mata Aira berkaca-kaca.
"Kenapa?" tanya ayah saat mengetahui putrinya menangis.
"Aku bahagia saat melihat ayah bahagia." jawabnya.
"Ayah juga..." katanya. "Bersihkan diri kamu, lalu istirahat." titah ayah.
"Baik, ayah."
......................
"Cukup dijalani saja, Aira...! Tidak perlu banyak mengeluh. Karena mengeluh pun percuma, tidak ada tempat lagi.
Seperti pinangan yang tiba-tiba datang itu, sungguh di luar dugaan. Tapi aku tidak bisa menolak. Karena keluargaku mengharapkan itu. Dan menurut para orang tua, bertemunya baik.
Baik?!...
Baik dari mananya?!...
Bahkan sejak awal aku merasa ini tidak baik bagiku. Apa mereka tidak bisa melihatnya?...
Dan jika mas Arlan benar-benar membawaku bertemu Ryan, apa itu akan menjamin keadaanku jadi lebih baik?...
Atau justru semakin tidak ikhlas dengan pernikahanku bersama mas Arlan?!...
Ya Allah..., hatiku bimbang sekali. Aku mohon pertolonganMu...!!"
__ADS_1