Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
36


__ADS_3

Hati siapa yang tak bahagia, ketika sesuatu yang ditunggu-tunggu selama berbulan-bulan akhirnya dia dapatkan. Bahkan kata bahagia, seolah tidak cukup untuk menggambarkan apa yang Arlan rasakan saat ini.


Pagi itu Arlan menuju ruang makan untuk sarapan. Di sana Aira tengah menata piring untuk mereka berdua.


"Pagi, sayang..." tangan Arlan melingkar di perut Aira, lalu mencium pipi istrinya.


"Pagi, mas..." balas Aira. "Ayo sarapan." kata Aira.


Mereka berdua kemudian duduk berdampingan dan menyantap sarapan yang sudah tersaji.


"Hari ini ikut ke toko kan?" tanya Arlan di sela aktivitas makannya.


"Aku di rumah saja boleh?" balas Aira.


Arlan menaruh sendoknya, dia menatap Aira.


"Kamu sudah lama tidak ke toko. Chika tanyain kamu terus. Dia kesulitan menghadapi pembeli tahu..." begitu alasan Arlan.


Padahal Arlan hanya ingin Aira menemaninya bekerja. Karena belakangan ini, Arlan selalu merindukan istrinya itu setiap kali bekerja. Sehingga dia ingin pulang saja. Padahal banyak sekali yang harus dia kerjakan di toko.


"Baiklah..., baiklah..., aku ikut." putus Aira.


Arlan dan Aira tiba saat para pegawai sedang bersiap membuka toko. Ada yang bersih-bersih, ada yang menata ulang barang yang berantakan sisa semalam, mengisi rak dan etalase yang kosong.


Ketika semuanya siap, Aira minta izin untuk turun. Tapi Arlan melarangnya.


"Kan mas yang bilang kalau Chika butuh aku." kata Aira.


"Lihat sayang...!" Arlan menunjukkan CCTV yang terhubung dengan laptopnya. "Toko masih sepi.


Jadi di sini saja dulu." katanya.


Aira menurut saja. Dia memang merasa kalau akhir-akhir ini suaminya sedikit manja.


Karena bosan, Aira beranjak dari sofa dan pergi ke arah jendela. Dia melihat gerobak kacang hijau di bawah sana. Tepat di seberang tokonya.


"Maaas...!!" panggil Aira.


"Heeem..." balas Arlan.


"Sini, deh!" ujar Aira tanpa menoleh ke arah suaminya.


"Apa, sayang...?" tanya Arlan.


"Beli bubur yuk...!!" Aira menunjuk tukang bubur di bawah sana.


"Oke. Mas akan minta tolong anak-anak di bawah." Arlan mengeluarkan ponselnya.


"Iiiih..., mas!" sentak Aira. "Aku maunya mas yang beli." katanya.


"Mas lagi sibuk, sayang..."


"Sebentar saja..." Aira memohon.


Akhirnya Arlan sendiri yang turun. Aira memperhatikan suaminya di bawah sana yang sedang menunggu bubur pesanannya. Tak lama kemudian Arlan kembali.


Aira sangat menikmati bubur itu, sesekali dia menyuapi suaminya yang masih sibuk dengan laptopnya.


"Mas..., aku turun ya?!" Aira minta izin keluar lagi.


"Sebentar lagi, mas juga mau turun kok. Sabar ya..." katanya.


Setelah Arlan menyelesaikan pekerjaannya, mereka turun bersama. Aira pergi ke counter kosmetik. Dia cukup puas melihatnya. Ternyata pegawai toko tidak melupakan apa yang Aira ajarkan waktu itu.


"Mbak, ada tester facial foam juga." lapor si Chika.


"Itu bisa kalian bagi ke teman-teman di sini." kata Aira.


"Benar mbak..?" tanya Chika.


"Iya..." balas Aira.


"Terimakasih, mbak..."


Setelahnya, Aira berkeliling lagi. Kali ini dia menuju box es krim. Arlan melihatnya, lalu menghampirinya.


"Kenapa? Banyak yang habis?" tanya Arlan.


"Rasa alpukat kosong ya...?" kata Aira.


"Masa?!" Arlan tidak percaya. Kemudian ikut mencari, dan benar tidak ada satu pun.


"Bro...!!" Arlan memanggil pegawainya.


"Ya, pak..."


"Alpukat kosong?" tanya Arlan.


"Oh, ada pak. Permisi." pegawai itu mengangkat keranjang es krim. Rupanya masih ada satu karton, memang belum dikeluarkan.

__ADS_1


"Oh, terimakasih..." mata Aira terlihat sangat berbinar-binar.


Setelah pegawai itu pergi, Aira mengambil satu bungkus.


"Satu ya, mas?" Aira menunjukkannya pada Arlan.


"Ambil saja sesuka kamu, sayang." Arlan mencium pipinya.


"Mau?" Aira menyuapi suaminya juga.


"Ya ampuuuun..., bikin baper..."


"Sweet banget sih mereka..."


Begitu reaksi pegawai yang melihat drama romantis di dekat box es krim itu.


................


"Maaaas...!!!" seru Aira dalam kamar mandinya.


Arlan bergegas membuka pintu kamar mandi yang memang tidak dikunci.


"Apa sayang...?!" Arlan sangat panik.


Dalam kamar mandi itu terlihat Aira yang sedang berdiri di dekat pintu.


"Itu...!!" Aira menunjuk ke arah dinding.


Ada seekor cicak di sana. Dan itu membuat Aira sangat ngeri dan jijik. Padahal biasanya dia biasa saja, dia akan mengusirnya sendiri tanpa perlu teriak-teriak memanggil suaminya.


"Aaahh...!!!" Aira pergi keluar saat cicak itu terjatuh karena disiram air oleh Arlan.


Tak cukup dengan drama cicak di kamar mandi. Kali ini terjadi lagi di dapur.


"Mas Arlaaaan...!!" Aira kembali berteriak.


Arlan sedikit berlari menuju dapur. Dilihatnya sang istri berdiri di depan kulkas yang pintunya terbuka, sambil menutup hidung hingga mulutnya dengan tangan kirinya.


"Kenapa?!" tanya Arlan.


"Bau sekali, tolong mas bersihkan ya. Aku tidak tahan baunya." kata Aira sambil menunjuk kulkas di hadapannya.


Karena banyak sekali kejadian tak terduga di rumah, Arlan jadi kesiangan datang ke toko.


Sampai di ruangannya, Arlan mendaratkan tubuhnya di atas sofa. Memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing karena memikirkan tingkah istrinya yang tidak biasa.


Arlan tiba-tiba teringat tentang Aditya, sahabat istrinya. Baru-baru ini Aditya memberi kabar kalau istrinya telah melahirkan bayi perempuannya. Arlan pun menghubungi Aditya.


"Putri hanya nyidam saja sih, Lan. Sempat minta nasi gorengnya pakde juga. Sampai aku minta resep pada pakde. Iya kali aku terbang ke sana hanya minta nasi goreng."


"Hahahaaa...!" Arlan tertawa. "Kalau Aira..., dia jadi lebih suka jajan. Terus sedikit-sedikit jijikan."


"Ada mual muntah pagi-pagi?"


"Tidak."


"Telat?"


"Apanya yang telat?!"


"Datang bulan, Lan...!!!"


"Kenapa aku tidak kepikiran ya? Coba nanti aku tanyakan."


"Suami tidak peka!"


"Bukan tidak peka, cuma belum kepikiran." begitu sangkal Arlan.


"Lebih perhatian lagi sama Aira. Seperti memang dia sedang mengalami gejala hamidun itu."


"Aku akan bawa dia ke dokter sekarang juga kalau begitu. Sudah dulu ya. Thanks, bro."


Saking antusiasnya, Arlan sampai tidak mengucapkan salam pada Aditya.


................


"Sayang..., kamu di mana?" Arlan terus berteriak saat tiba di dalam rumah.


"Ada apa, mas? Kenapa teriak-teriak?" sahut Aira sambil membuka pintu kamarnya.


"Ayo ikut aku, kita ke dokter." katanya.


"Mas Arlan sakit?" Aira menyentuh kening suaminya.


"Sudahlah ayo...!!" Arlan menarik tangan istrinya.


"Tunggu, mas. Aku lagi tes." Aira menoleh ke dalam kamar.


"Tes apa?" Arlan menyipitkan matanya.

__ADS_1


Aira tidak menjawab, dia kembali masuk kamar karena alarmnya sudah berbunyi. Arlan mengikutinya.


"Lihat mas!" Aira menunjukkan testpack dengan satu garis merah.


Arlan menerimanya, lalu memeluk istrinya.


"Kita bisa coba lagi. Jangan sedih." Arlan mencoba menguatkan istrinya.


"Aku juga sedikit kecewa. Tapi kita masih punya banyak waktu, sayang..." itulah yang ingi Arlan katakan, tapi dia tidak mampu mengungkapkannya di hadapan sang istri.


Malam harinya...


"Maaass...!!!" teriak Aira dari dalam kamar mandi.


Arlan yang ada di ruang tamu tersenyum.


"Pasti ada cicak lagi ini." batinnya.


"Mas Arlaaan...!!"


"Iya sayang...!!" Arlan bergegas menuju kamarnya.


"Ya Allah, Aira...!!!" Arlan terkejut melihat Aira terjatuh di kamar mandi, dan tangannya berdarah.


"Aku berdarah, mas. Sakit sekali perutku..." Aira benar-benar kesakitan saat itu.


Arlan langsung menggendong Aira. Tidak peduli dengan darah yang mengenai tangan dan bajunya.


Sampai di rumah sakit...


"Maaf, janin dalam kandungan bu Aira tidak dapat kami selamatkan."


"Janin?!" Arlan terkejut, pasalnya siang itu hasil tesnya negatif.


"Seperti dugaan saya, kemungkinan kehamilan ini belum dirasakan. Usianya juga masih sangat mudah." ujar dokter.


"Kita harus melakukan kuret untuk membersihkan rahim bu Aira." katanya lagi.


"Lakukan yang terbaik buat istri saya dokter...!" pinta Arlan.


"Pasti kami usahakan yang terbaik."


Arlan benar-benar shock. Dia terus menyalahkan dirinya karena tidak peka pada istrinya, seperti yang dikatakan Aditya.


"Nak Arlan...!!" suara ibu Aira terdengar.


"Arlan...!!" kali ini suara ibunya.


"Ibu..., Arlan gagal jadi suami yang baik..." tangis Arlan pecah dalam pelukan kedua ibunya.


"Bukan salah siapa-siapa, nak." balas ibu Aira. "Semua kehendak yang Kuasa."


"Benar, Lan. Sabar ya..."


Selepas proses kuret, Aira dipindahkan ke ruang rawat inap karena kondisinya sudah stabil. Sementara itu orang tua Arlan menemui dokter yang menangani menantunya.


"Sakit ya...?" tanya Arlan. Aira mengangguk.


Arlan menggenggam tangan Aira, lalu dia taruh di pipinya. Sesekali dia menciumnya.


"Hanya sebentar, nak. Nanti juga sakitnya hilang." ujar ibunya. Aira mengangguk saja.


Tak lama kemudian orang tua Arlan datang. Ibu Arlan mencium kening menantunya.


"Apa kata dokter, bu?" tanya Arlan.


"Tidak ada yang serius. Kondisi menantu ibu ini sangat sehat." katanya. "Hanya saja, kandungannya masih lemah. Belum matang." ujarnya sambil mengusap pipi Aira.


"Tapi bisa hamil lagi kan, bu...?" tanya Aira.


"Bisa dong. Ibu sudah daftarkan kamu untuk konsultasi setiap dua minggu sekali." kata ibu Arlan lagi.


"Terimakasih, bu." kata Aira.


"Sama-sama, nak." jawabnya.


......................


"Berasa ada sesuatu yang hilang dalam diriku. Kosong, sakit, sesak sekali rasanya. Meski baru gumpalan darah, tapi itu adalah calon buah hati kita.


Aku yang awalnya tidak siap, sekarang menjadi orang yang paling menderita karena kehilangan calon anakku.


Bagaimana ibu bisa tidak menyadari kehadiranmu, nak...??


Maafkan ibu, sayang...!!


Ibu tidak tahu kalau kamu sudah berada di sini sama ibu...


Maaf...!!!"

__ADS_1


__ADS_2