Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
6


__ADS_3

Sejak acara makan-makan itu, Aira merasa Icha seolah menjauhinya. Sementara Rangga terus mencibirnya mengenai hal yang sama, guru privat dan kedekatannya dengan Ryan.


Tapi Aira berusaha tidak mempedulikan hal itu. Karena dia sedang fokus mengajari anak-anak yang sebentar lagi akan mengikuti ujian akhir.


Hingga suatu hari...


"Terimakasih sudah mengantarku." kata Aira pada Ryan.


"Sama-sama. Besok ngajar lagi?" tanya Ryan.


"Liburlah, kan sabtu." katanya..


"Yaaa..., tidak bisa ngantar kamu pulang lagi dong." ujar Ryan.


"Nggak usah lebay. Sudah ya aku masuk dulu."


Baru saja Aira mendaratkan tubuhnya di kasur bekas pemberian seseorang itu, terdengar seseorang menutup pintu dengan sangat keras. Hingga membuat Aira keluar, ibu yang sedang berada di dalam kamarnya pun terkejut.


"Ayah...?!" gumam ibu.


Mata ayah begitu bulat dan memerah. Dia menatap putri semata wayangnya yang masih berada di depan pintu kamarnya.


"Mulai hari ini berhenti ngajar les!" hardik sang ayah.


"Kenapa yah?" tanya Aira. "Kan dulu ayah juga yang memberi izin."


"Jangan banyak tanya Aira!" nada itu semakin tinggi.


"Yaaah..., duduk dulu." titah ibu.


"Diam, bu!" ibu pun kena bentak suaminya. "Anak ini sudah menghancurkan nama baik kita!" teriak ayah sambil menunjuk wajah anaknya yang masih kebingungan.


Urat di leher ayah nampak menonjol dan berkedut. Membuat Aira ketakutan. Ini adalah kali pertamanya melihat ayahnya semarah ini.


"Aku?!" gumam Aira. "Ke..., kenapa aku yah?"


"Les itu hanya alibimu kan. Kamu sengaja menerimanya karena kamu sedang menjalin hubungan dengan anak itu! Agar kamu bisa terus bertemu dengannya begitu!!"


Mata Aira mulai berkaca-kaca. Bahkan dalam hitungan sepersekian detik air mata itu membasahi pipinya.


"Tidak ayah, itu tidak benar." Aira berusaha meluruskan agar ayah tidak salah paham. Tapi sang ayah seolah tidak ingin mendengarkan apapun.


"Awalnya ayah bangga sama kamu. Bisa berbaur dengan baik dengan mereka. Melakukan banyak hal baik. Tapi semakin kesini kelakuanmu semakin buruk. Bahkan kamu merusak hubungan orang lain!"


"Ayah..., aku nggak melakukan itu. Sungguh...!" Aira meraih tangan ayahnya, tapi ayah menepis dengan kasar.


"Cukup Aira!!" sentaknya. "Bahkan ibunya menghadang ayah di tengah jalan. Di depan banyak orang dia mengatakan kalau kamu selalu cari perhatian pada Rangga, hingga membuat Rangga meninggalkan anaknya. Lalu kamu juga mendekati pacar orang lagi. Yang sering mengantar kamu pulang. Mau jadi apa kamu, hah?!!!"


Braaakk


Pyaaarrr


Ayah melempar kursi plastik ke sembarang arah, hingga mengenai gelas dan pecah.


"Ayah sudah..., tidak enak didengar orang." ibu mengusap punggung suaminya.


"Sejak kapan kamu seperti ini?? Apa ayah pernah mengajarkan hal menjijikkan macam itu sama kamu?!" ayah tidak berhenti marah.


"Ayah kecewa sama kamu. Kamu sudah menyakiti hati ayah dan ibu. Ayah menyesal membawamu kemari, Aira!!!"


Setelah ucapan penyesalan itu, ayah pergi ke kamarnya. Ibu mendekati Aira.

__ADS_1


"Sayang..., tenangkan dirimu ya. Tidurlah, biar ibu yang bicara sama ayah." ibu segera menyusul ayah setelah mengusap punggung putrinya.


Aira masih menangis, dia terduduk di lantai yang dingin dan lembap. Kepalanya disandarkan pada bilik bambu yang membatasi kamarnya dengan ruang tamu.


Mata Aira tertuju pada satu benda di hadapannya. Dia menyeret tubuhnya yang lemah karena shock mendengar semua makian sang ayah. Semakin dekat dengan sesuatu yang menarik perhatiannya, lalu mengambilnya.


"Maafkan aku ayah, ibu. Aku sudah membuat kalian kecewa."


Pecahan gelas itu kini sudah berada di tangan kanannya. Entah setan apa yang menguasainya, hingga Aira memiliki keberanian menyayat tangannya sendiri berulang kali. Dia seolah ingin membuat dirinya kesakitan sebelum akhirnya pergi selamanya, dan tidak mengecewakan orang tuanya lagi.


Lambat laun Aira mencium aroma anyir dari cairan merah yang nengalir pelan memenuhi tangannya. Dengan air mata yang terus berderai, Aira beranjak dan membuka pintu belakang rumahnya


Kriiieett...


"Ayah..., Aira ke belakang." ibu berlari. Ayah pun menyusulnya.


Di halaman belakang itu, Aira terlihat berdiri di pinggir sumur. Tatapan matanya kosong menghadap ke dalam sumur, dengan air mata yang mengalir tiada henti.


"Airaaa!!!" teriak ibu.


"Aira!!" ayah berlari dan memeluknya putrinya dari belakang. "Ya Allah, nak..." pekik sang ayah mencium bau amis.


Ayah manarik lembut tubuh putrinya, lalu membasuh tangan Aira itu dengan air yang sengaja ditandon untuk mengambil wudhu.


Aira benar-benar tidak merasakan apapun saat tangan sang ayah membasuh tangannya, dan ketika sisa-sisa air meresap menembus luka-lukanya. Dia hanya merasakan sakit di dadanya karena mendapati sebuah fakta, bahwa ayahnya lebih percaya orang lain daripada anaknya sendiri.


Ayah menggendong Aira menuju kamar, lalu mengobati luka sayatan yang begitu banyak di lengan kiri Aira. Tidak ada jeritan karena rasa sakit. Lagi-lagi hanya cairan bening yang keluar dari mata Aira yang masih menatap kosong. Ayah dan ibunya pun menangis saat mengobati luka-luka itu.


"Maafkan ayah..., tolong jangan melakukan hal seperti ini lagi, nak..." bisik ayah. "Tidurlah. Ayah dan ibu akan menemanimu."


Aira merebahkan dirinya di atas kasur. Dia berada di antara ayah dan ibunya. Tidak ada ucapan apapun. Dalam dekapan kedua orang tuanya, Aira hanya menatap plastik usang besar yang tergantung membentang di langit-langit kamarnya.


......................


"Astaghfirullah..." ujarnya lirih.


Aira tersentak saat melihat beberapa luka sayat di tangannya itu. Dan dua plester antiseptik menempel di sana.


"Aauuhh...!!" pekik Aira saat memberikan sedikit tekanan di atas kedua plester itu.


"Sepertinya sangat dalam..." begitu gumamnya dalam hati.


Sebelum beranjak untuk mengambil wudhu, Aira menatap dirinya dalam cermin yang tergantung di dinding kamarnya. Mata merah, sembap, bengkak. Karena dia terus menangis sepanjang malam.


"Ayaaah..., tidak bisakah ayah mendengar penjelasanku. Aku nggak melakukan semua itu."


Aira melihat luka di tangannya dan kembali menitihkan air matanya, saat teringat rentetan kejadian semalam yang begitu tiba-tiba menyerang mentalnya.


"Eh, sudah bangun." ibu masuk ke kamar putrinya. "Ayo subuhan, keburu siang." kata ibu sambil tersenyum.


"Ibu..." ucapnya lirih.


Ibu memeluk Aira, lalu mengusap punggung putrinya itu.


"Semua akan baik-baik saja. Lambat laun kebenaran pasti terungkap, nak. Ibu yakin, anak ibu adalah anak yang baik. Airanya ibu tidak akan menyakiti orang lain. Dan setelah anak-anak itu lulus dengan nilai yang baik, ayah pasti bangga sama kamu." tutur ibu.


"Terimakasih ibu..."


"Ayo ambil wudhu dan sholat. Biar ibu yang merapikan kamar kamu." katanya.


Langit mulai terang, ibu sudah sibuk di dapur membuat sarapan. Sedangkan ayah sedang berbelanja ke pasar.

__ADS_1


"Bude...!!!" seru seseorang dari luar.


"Iya, bu..." ibu keluar menemui orang itu.


"Ibu Ina bilang suruh ambil pesanannya, soalnya dia mau keluar." katanya.


"Baiklah, terimakasih ya bu."


Setelah itu ibu kembali ke dapur.


"Aira, ibu tinggal dulu ya."


"Mau kemana?" tanya Aira.


"Ambil sayur di tempat ibu Ina, kemarin ibu pesan sam bu Ina."


"Biar aku yang ambil bu." kata Aira.


Aira pergi ke rumah bu Ina untuk mengambil pesanan ibunya. Sepulang dari rumah itu, Aira tidak sengaja bertemu dengan Ryan.


"Aira...!! Tunggu!" dengan sedikit berlari Ryan mendekati Aira.


"Hai..." hanya itu salam yang Aira ucapkan.


"Kenapa semalam tidak balas pesanku?" tanya Ryan.


Ya, sejak semalam sampai detik ini Aira tidak memeriksa ponselnya. Membiarkan benda pipih itu tergeletak di atas meja.


"Maaf, aku belum pegang HP sejak semalam." ujarnya. Sangat datar, tanpa ekspresi.


"Ra, kamu kenapa?" tanya Ryan yang mulai khawatir. Dia merasakan ada sesuatu yang berbeda.


"Nggak apa. Aku harus pulang, ibu menungguku." pamit Aira.


"Aaahhh...!!!" jerit Aira pelan.


Ryan menarik tangan kiri Aira, ketika Aira hendak melangkah.


"Kenapa Ra?!" Ryan semakin panik.


"Lepas, Ryaaan. Ini sakiiit...!!" ujar Aira menahan kesakitan yang dia rasakan.


"Ah, maaf." Ryan segera melepas tangannya dari tangan Aira.


"Biar aku lihat!" kata Ryan kemudian.


"Jangan!" Aira menyembunyikan tangannya di balik punggung.


"Aira, please...!" pinta Ryan dengan tatapan yang sangat tajam. "Atau aku akan memaksamu!!"


Ancaman itu rupanya tidak membuat Aira menyerah. Dia tidak ingin berlama-lama di tempat itu. Juga tidak mau menciptakan bahan gosip baru buat orang-orang yang nanti melihat mereka.


"Ryan, aku harus pergi. Permisi!" Aira meninggalkan Ryan yang masih terpaku di tempat itu.


"Apa yang terjadi??!!" pikir Ryan.


"Maafkan aku, Ryan..." Aira memejamkan matanya sejenak.


......................


"Luka-luka ini tidak sebanding dengan kekecewaan ayah. Tidak ada apa-apanya juga jika dibandingkan dengan rasa sakit karena ayah tidak mempercayaiku lagi. Apa aku berhak menuntut balas atas perbuatan mereka terhadapku??!..."

__ADS_1


__ADS_2