Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
16


__ADS_3

Jika sebelumnya yang mengunjungi warung ayah Aira adalah dua sejoli Aditya dan Putri. Atau hanya Ryan. Belakangan mereka sering datang bersama. Termasuk Ninik dan Hendri. Gio dan Tiara pun terkadang ikut gabung. Seperti saat ini.


"Siapa teh hangat?" tanya Aira.


"Aku!" Ninik mengangkat tangannya seperti seorang siswa yang merespon panggilan gurunya.


"Silakan, silakan..." ibu Aira menghidangkan nasi goreng yang sudah tersaji di piring.


"Biar aku bantu, bude." kata Putri.


Setelah semua siap, mereka menyantap berbarengan. Termasuk Aira. Tadinya menolak, tapi semua temannya memaksa. Akhirnya dia mengalah, dan ikut makan bersama.


Ayah dan ibu Aira sangat bersyukur, karena Aira memiliki teman seperti mereka. Sopan, baik, dan ramah. Meski tak dapat dipungkiri, masih ada kegelisahan dalam hati seorang ayah terhadap masa depan putrinya.


"Apa jadinya kalau mereka benar-benar saling jatuh cinta? Apakah aku siap melepas Airaku di sini? Ah, tidak. Bahkan aku sangat takut untuk membayangkannya." begitu kecemasan ayah Aira.


Sepertinya Aira bisa menangkap kegelisahan ayahnya. Pancaran yang tersirat dari mata cinta pertamanya itu membuat hati Aira pilu. Ada bahagia, tapi juga sedihnya.


Tiba di rumah, setelah membersihkan dan merapikan semua peralatan tempur mereka. Mereka ngobrol santai sambil menikmati teh hangat dan gorengan pemberian si Aa' warung sebelah. Seperti menjadi tradisi wajib setiap malamnya, mereka sesama pedagang akan membarter barang dagangan untuk dinikmati bersama. Entah itu disantap di sana atau dibawa pulang dinikmati bersama keluarga di rumah.


"Ayah..., aku memperhatikan ayah tau..." Aira membuka suara.


"Putri ayah kan memang selalu begitu." balas ayah, kemudian menyeruput tehnya.


"Ayah, aku dan Ryan hanya teman. Ayah jangan khawatirkan tentang hubungan kami ya." kata Aira.


Ayah mengusap puncak kepala Aira. Kemudian sang ayah tersenyum.


"Ayah sering memikirkan itu, nak. Sering sekali. Kadang ayah merasa takut. Bagaimana kalau takdir Tuhan mengikatmu di sini? Sementara ayah dan ibu harus kembali." ujar ayah.


"Ayah..." Aira memeluk ayahnya.


"Karena setelah anak perempuan bertemu jodohnya. Dia akan menjadi tanggung jawab suaminya. Dia akan mengikuti kemanapun suaminya membawanya." kata ayah lagi.


"Seperti ibu." sahut ibu yang baru kembali dari dapur mengambil air putih.


"Yang selalu mendampingi ayahmu." ibu tersenyum.


"Maka sebelum aku bertemu jodoh, aku akan selalu mengikuti ayah dan ibu." balas Aira.


"Dan sebelum hari itu tiba, kamu harus pergi dari sini." pikir ayah Aira.


"Apa kabar kakek ya, yah?" ibu tiba-tiba mengalihkan topik.


"Kemarin ayah dari sana. Alhamdulillah kakek baik. Dia merindukan penjaga bendungan." ayah melirik Aira sambil sedikit terkekeh.


"Ayah, iiih...!!!" balas Aira.


Kakek Mail memang menyebut Aira penjaga, karena setiap kesana Aira selalu betah berdiam diri di tepi bendungan besar itu.


"Libur nanti temui kakek, ya." ujar ayah berpesan.


"Iya, ayah. Padahal baru dua minggu lho aku absen kesananya." kata Aira.


"Bagi kamu dua minggu itu cuma sebentar. Tapi buat kakek yang sendirian, itu pasti itu sangat lama, nak." sahut ibu.


"Benar kata ibu." ayah pun sependapat dengan ibu.


......................


Sesuai janjinya pada sang ayah. Saat Aira libur kerja, dia pergi ke rumah kakek Mail. Aira kegirangan saat melihat buah mangga yang sudah bisa dipetik, meski belum matang. Padahal terakhir kesana masih sangat kecil.


"Ke sini mau ketemu kakek apa ambil mangga?" begitu kata kakek saat Aira tak kunjung sampai di rumah panggungnya.


"Hahahaaa..., kakek suka gitu." sahut Aira.


Aira berjalan menuju tempat kakek yang sedang menikmati ketupat sayur kiriman dari anaknya. Aira mencium punggung tangan si kakek. Lalu menaruh bingkisan yang dia bawa di samping mangkok sayur.


"Kakek sehat?" tanya Aira.


"Kalau makanan ini masih terasa enak di lidah, berarti kakek sehat." jawabnya.


"Alhamdulillah..." Aira tersenyum.


"Kenapa tidak datang-datang? Lembur terus kerjanya?" tanya kakek setelah menyelesaikan suapan terakhir.


"Kalau minggu kemarin aku nggak ambil off, kek. Karena gantiin temanku yang tiba-tiba harus izin." kata Aira.


"Kalau minggu kemarinannya, aku capek. Habis menghadiri pernikahan teman." katanya lagi.


"Lalu kapan kamu menikah?" tanya kakek.


"Hahahaa..., masih kecil kek, besok-besok saja bahas nikah." Aira terkekeh.


"Kalau orang sini, kecil-kecil sudah pada menikah. Kalau di daerah kalian beda ya."


"Hhmm. Iya, kek." Aira mengangguk. "Tapi di sini juga tidak semua menikah muda kan kek. Sebagian saja. Karena teman-temanku masih banyak yang sendiri, lho..." secara tidak langsung Aira menyampaikan ketidaksetujuannya pada pendapat kakek Mail.


"Iya, semua juga tergantung orangnya masing-masing. Kalau anak kakek dulu lulus SMP sudah nikah." kakek menceritakan soal anaknya.


"Kakek sih, pakai jodoh-jodohin segala. Biar saja cari sendiri." Aira asal nyeplos.


"Daripada dia menikah dengan orang yang kakek tidak suka. Yang penting dia sekarang bahagia." kakek tampak tersenyum.


"Kira-kira kamu akan menikah di sini apa di sana?" kini kakek beralih menatap Aira.


"Coba kakek tebak." sahut Aira.

__ADS_1


"Pasti di daerah kamu sana." terka kakek.


"Ayahmu sudah bilang sama kakek dia akan menyelesaikan segala urusannya di sini. Dan dalam waktu dekat ini akan kembali."


Ucapan kakek sontak membuat Aira terkejut. Pasalnya baik ayah maupun ibunya tidak pernah menyinggung hal itu.


"Kakek yakin ayah bilang begitu?" Aira masih tidak percaya.


"Iya, ayahmu pernah mengatakan itu pada kakek. Kakek memang sudah umur, tapi pendengaran kakek masih sangat jelas." balas kakek Mail.


"Kenapa jadi sedih? Belum mau pulang? Betah ya di sini?" lanjut kakek.


"Iya kek. Aku bahkan belum main jauh, baru dekat-dekat sini saja. Masih mau menjelajahi banyak tempat yang indah di sini." bual Aira.


......................


Aira tampak kurang bersemangat menyantap makan siangnya. Tatapan matanya pun kosong. Hal itu menarik perhatian Ryan.


"Kenapa? Tidak enak badan?" tanya Ryan.


"Tidak." jawab Aira sambil menggelengkan kepalanya.


"Makanannya tidak enak ya? Mau aku beliin sesuatu?" tawar Ryan.


Aira mengangkat kepalanya. Dia melihat ke arah Ryan.


"Aku hanya nggak nafsu makan, kenapa ekspresi kamu begitu sekali." Aira sedikit terkekeh.


"Aku khawatir dan kamu menertawakanku?" balas Ryan.


"Kamu lucu, sih." kata Aira.


"Bagian mananya yang lucu hah?!" sahut Ryan.


"Tidak ada. Ayo makan." Aira kembali mengambil sendoknya.


Aira melihat makanan milik Ryan. Ayam suwir, dengan sayur nangka muda.


"Masakan ibu?" tanya Aira.


"Em. Mau?" Ryan menyodorkan kotak makan siangnya.


"Boleh tukeran?" ujar Aira sedikit ragu.


"Ambillah." kata Ryan.


"Thank you..." Aira sangat bersemangat.


Ryan pun senang karea Aira terlihat lahap memakan bekal dari ibunya. Ryan pun tak mau kalah, dia juga menyantap habis bekal milik Aira.


Menjelang sore Ryan mengantar Aira pulang. Kali ini Ryan tidak masuk. Dia hanya mengantar sampai pintu pagar.


"Serius?!" Ryan sedikit kaget. Ini pertama kalinya Aira mengajaknya pergi.


"Em, ya." Aira mengangguk. "Aku mau lihat laut."


"Oke siap! Kabari aku kapan kamu off, aku akan sesuaikan jadwalku." katanya.


"Oke!"


"Ya sudah, masuk gih!" titah Ryan. "Mumpung si mata keranjang itu belum datang." Ryan memelankan suaranya.


"Ya udah, kamu hati-hati ya. Bye...!!" Aira melambaikan tangannya.


Ryan masih berdiam diri di atas motornya. Dia melihat Aira hingga masuk ke dalam rumah.


"Aku siap membawamu kemanapun kamu mau pergi, Ra. Kapan lagi seorang Aira mengajak jalan. Bisa masuk keajaiban dunia ini."


Ryan tersenyum sendiri. Untung memakai helm teropong, jadi tidak akan ada yang curiga atau menertawakannya.


Senyum bahagia Ryan tidak luntur bahkan sampai dia tiba di rumahnya. Ryan yang bersenandung riang saat memasuki rumahnya, membuat sang ibu tergerak untuk menegurnya. Lantaran putranya itu tidak mengucapkan salam.


"Waalaikumsalam." begitu cara ibu mengingatkan Ryan.


"Eh, assalamu'alaikum..." kata Ryan kemudian, sambil menyalimi ibunya.


"Bahagia boleh, tapi jangan sampai melupakan hal penting. Termasuk salam." tegur ibunya.


"Iya maaf, ibu. Aku khilaf." ujarnya.


"Iya." balas ibunya.


Ryan kemudian duduk di samping ibunya yang sedang menjahit daster kebanggaannya.


"Ibu tahu tidak?" kata Ryan berbasa-basi.


"Ya tidaklah. Kan kamu belum cerita." sahutnya.


"Biasanya kan ibu punya indra keenam." ucap Ryan sekenanya. Hal itu sukses membuat ibunya menatap tajam.


"Aku akan pergi sama Aira bu." katanya kemudian.


Ibu Ryan tersenyum. Dia bisa melihat pancaran kebahagiaan dari mata sang anak.


"Jadi ini yang membuat kamu melupakan salam." cibir ibu.


"Maaf, bu..." Ryan merasa malu pada ibunya.

__ADS_1


"Apa kalian diam-diam berencana menikah?" tiba-tiba otak ibu melanglang jauh.


"Ibu..., tidak begitu juga." sahut Ryan. "Kita hanya jalan-jalan, dia ingin melihat laut." terang Ryan.


"Hanya itu?" ibu sedikit tidak yakin.


"Kamu pasti merencanakan sesuatu?" dan lagi lirikan ibu seolah menyudutkan Ryan.


"Ibuuu...!!!" Ryan mulai geregetan. "Sudah ah, aku mau mandi dulu." Ryan pun beranjak dari ruang tamu.


"Ryan, kamu belum jawab ibu!!" seru ibunya.


"Tidak ada bu...!!!" sahut Ryan.


"Jangan macam-macam!!" ibunya memberi peringatan pada Ryan.


"Macam-macam kan lebih kreatif bu...!!" tiba-tiba kepala Ryan muncul dari balik kelambu yang menutupi pintu tengah.


"Anak bengal...!!!" ibu melempar dasternya ke arah Ryan.


Tak pelak Ryan lari secepat kilat setelah menjaili ibunya. Dia tidak ingin mendapat bonus tambahan dari ibunya.


"Kan, kemana lagi larinya itu kancing." gerutu ibu setelah tahu kancing dasternya lepas gara-gara dia lemparkan tadi.


......................


Lain Ryan, lain pula Aira. Dalam pikiran Aira saat ini hanya ingin menikmati momen kebersamaan dengan teman-temannya, sebelum dia kembali ke tempat asalnya bersama keluarganya. Karena dia yakin setelah itu akan sulit untuk kembali lagi.


Ddrrt... Drrttt...


Sebuah pesan masuk dari Aditya. Rupanya Aditya meresponnya dengan sangat cepat.


Aditya :


Tumben tanya, mau kemana?


Aira tersenyum simpul saat membacanya. Dia menyadari selama ini memang dia tidak pernah punya inisiatif mengajak temannya pergi. Malahan dia yang sering menolak ketika diajak pergi.


Aira :


Pantai. Kamu tahu selama aku di sini, aku belum pernah menginjak pasir pantai dan menyentuh air laut di sini. Cuma lewat doang.


Aditya :


Aduuuh, kasihannya ini anak...!!!🤣🤣


Aira :


Awas ya...!!😤👊


Aditya :


🤣🤣🤣


Asal jangan main terlalu ke tengah ya. Ingat, kamu tidak bisa berenang. Bagaimana kalau kejadian di sungai itu terulang lagi??!!!


Aira :


Aku tahu


Aditya :


Kenapa tidak ke gunung saja sih, Ra?


Aira :


Sudah sering.


Aditya :


Okelah kalau begitu. Aku juga sudah bilang ayang, dan dia mau.


Aira :


Ciieeh..., yang selalu didampingi ayang.


Btw, kalian tidak ada rencana nikah dalam waktu dekat ini apa?!😁🤭


Aditya :


Kita yang pacaran kenapa kamunya yang bingung😆


Aira :


Kan biar bisa hadir di acara nikahan lagi🤭


Aditya :


Makan gratis yaaa🤣


Aira :


🤫🤫🤫


Mereka sangat menikmati obrolan melalui chat itu. Hingga Aira merasa sangat ngantuk dan menyudahinya.


......................

__ADS_1


"Aku tidak mungkin selamanya di sini. Aku juga tidak mungkin membawa kalian bersamaku. Tapi setidaknya aku memiliki banyak momen berharga bersama kalian. Dan itulah yang akan kubawa. Sebelum aku benar-benar pergi, aku akan memanfaatkan waktuku dengan baik bersama kalian."


__ADS_2