
Sore itu setelah mengecek mini marketnya, Arlan pergi ke rumah Aira. Dia ingin bicara dengan ayah Aira.
"Pergi dua hari?!" ayah sedikit terkejut. Lalu melihat ke arah bapak mertuanya.
"Izinkan saja." celetuk kakek. "Tapi sebelum pergi, sebaiknya kalian dinikahkan dulu secara agama. Karena kami tidak akan membiarkan Aira pergi dengan lelaki selama itu tanpa ikatan yang halal." putus kakek.
Semua orang terkejut dengan putusan kakek. Arlan dan Aira saling tatap.
"Aku terserah mas Arlan saja." begitu ujar Aira.
"Bagaimana, Arlan?" tanya ayah.
"Baik." jawab Arlan singkat.
Malam itu juga mereka dinikahkan, disaksikan oleh keluarga dari kedua belah pihak. Tak lupa juga beberapa tetangga sekitar, agar tidak terjadi kesalahpahaman.
Dan malam itu juga Arlan bermalam di rumah Aira.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arlan sambil menatap Aira.
"Apanya, mas?" Aira balik bertanya.
"Bukannya kamu ingin menemui dia dulu baru kita menikah?" sahut Arlan, dia sejak awal tidak pernah menyebut nama Ryan.
"Sekarang atau nanti sama saja. Ujungnya kita juga akan menikah." balas Aira.
"Jika setelah kita pergi, dan kamu berubah pikiran. Bagaimana?" tanya Arlan lagi.
"Statusku sebagai istri mas Arlan tidak akan berubah. Jika Tuhan tidak menghendakinya." kata Aira.
Setelah ngobrol cukup lama, mereka memutuskan pergi ke kamar. Arlan melihat sekelilingnya.
"Maaf, hanya seperti ini adanya, mas." kata Aira.
Aira sangat tahu, kondisinya dan Arlan sangat jauh berbeda. Arlan dan keluargnya adalah mantan perantau sukses, yang kini memiliki mini market sendiri. Sedang Aira dan keluarganya, masih tetap berjuang pelan-pelan. Oleh sebab itu, kondisi rumah mereka pun berbeda. Aira tidur beralaskan kasur dari kapuk randu, itu pun sudah sangat usang dan tak empuk lagi. Sedang Arlan memiliki springbed di kamarnya.
"Ini menyenangkan. Entah kapan terakhir kali aku tidur di kasur seperti ini." Arlan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang diselimuti seprai bunga-bunga.
Aira sedikit terkejut dengan reaksi Arlan. Tapi dia tidak ambil pusing. Aira mengambil selimut di lemarinya.
"Ini buat mas." katanya sambil memberikan selimut pada Arlan.
"Terimakasih. Wangi sekali." Arlan sangat menikmati aroma pewangi pada selimut yang dia terima.
......................
Arlan dan Aira sudah sampai di tempat tujuan. Arlan awalnya berniat membawa mobil sendiri, tapi Aira tidak mau. Akhirnya mereka naik pesawat.
"Kamu sepertinya bahagia sekali." ujar Arlan saat mereka dalam perjalanan menuju hotel.
"Aku hanya suka dengan pemandangan di sini." jawab Aira.
Setelah beristirahat sebentar, Arlan mengajak Aira pergi menemui Ryan. Karena dia ingin semuanya cepat selesai. Akhirnya Aira pun membawa Arlan ke rumah Ryan.
"Aira...!!" seru Ninik.
"Hai...!!" Aira melambaikan tangannya.
Mereka kemudian berpelukan. Arlan yang berada di samping Aira hanya bisa tersenyum melihat interaksi keduanya.
"Cantiknya..., mau kemana?" tanya Aira.
"Ke rumah Ryan." jawabnya. "Aku tidak tahu lho, kalau kamu datang juga. Aku pikir Ryan tidak undang kamu." celoteh Ninik.
Aira menatap Arlan. Arlan pun mengulurkan tangannya untuk merangkul bahu Aira.
"Ini siapanya kamu?" tanya Ninik.
"Ini mas Arlan." jawab Aira tanpa menyebutkan status Arlan.
"Hai..." sapa Ninik. "Aku Ninik, temannya Aira." Arlan hanya menganggukkan kepalanya sebentar.
"Ada acara apa di rumahnya?" tanya Arlan.
__ADS_1
"Kan dia nikah. Memangnya tidak baca undangannya?" sahut Ninik sambil memperhatikan keduanya bergantian.
Deg
"Jangan kacau Aira, kamu juga lebih dulu mengkhianati Ryan dengan menerima Arlan. Bahkan kamu sekarang menjadi istrinya."
"Ayo...!" Arlan membimbing Aira yang terlihat shock.
Halaman rumah Ryan sudah ramai orang. Orang pertama yang menyadari kehadiran Aira adalah Yesi, anak yang pernah belajar dengannya.
"Kak Aira...!!" serunya.
Seketika semua menoleh ke belakang. Tak terkecuali Ryan, yang baru saja menyelesaikan ijab kabulnya. Yesi merlari ke arah Aira, lalu memeluk Aira. Seperti yang Ninik lakukan.
"Kakak balik lagi?" tanya Yesi.
"Tidak, sayang. Kakak hanya sedang liburan." begitulah alasan Aira.
Sebagian besar orang melirik Aira sambil berbisik. Arlan memperhatikan gerak-gerik mereka. Lalu dia melihat ekspresi wajah istrinya.
"Apa aku salah karena membawamu ke tempat ini?" pikir Arlan.
Aditya yang juga ada di sana, datang menghampiri Aira. Tak lupa nemberi salam juga pada Arlan. Meski dia tidak mengenalnya.
Dengan suasana hati yang begitu rumit, Aira menyaksikan orang-orang memberi selamat pada kedua mempelai. Hingga tiba gilirannya.
"Aira..." suara Ryan terdengar bergetar.
"Selamat." kata Aira.
Ibu Ryan mengajak Aira dan Arlan duduk bersamanya. Dia sangat merindukan Aira.
"Ibu kenapa menangis?" Aira mengusap air mata ibu Ryan.
"Ibu bahagia karena bertemu kamu. Tapi ibu juga sedih, nak. Ibu salah, ibu minta maaf tidak bisa menjaga putra ibu." ujarnya.
"Ibu..., bukan salah ibu kok. Semua sudah diatur sama Allah." kata Aira.
"Jodoh itu rahasia Allah, bu. Kita tidak akan bisa tahu dengan siapa kita berjodoh." tambah Aira.
"Ini mas Arlan."
Aira baru saja akan mengatakan kalau itu suaminya. Tapi Arlan tiba-tiba memotong.
"Saya Arlan, tante. Calon suami Aira." katanya.
"Alhamdulillah..., kamu sudah menemukan jodoh juga." ibu terlihat lebih lega.
"Ibu..." istri Ryan tiba-tiba datang.
"Duduklah, nak." ujar ibu Ryan. "Kenalan dulu, ini Aira sahabat baik suamimu. Dan ini calon suaminya."
"Halo, aku Lita." kata Lita.
......................
Berkali-kali Aira mengusap air matanya. Lagi-lagi dia menangis tanpa suara.
"Keluarkan saja biar lega." kata Arlan.
Aira menoleh ke belakang, dia melihat Arlan berdiri di sana. Aira memeluk Arlan dan menumpahkan tangisnya. Tidak ada kalimat yang keluar, yang terdengar hanya isakan tangis yang memilukan. Arlan tergerak untuk mengusap punggung istrinya, meski sebenarnya ada rasa sakit juga dalam hatinya.
"Aku memang sakit hati, sebagai istriku kamu justru mencintai orang lain. Tapi lebih sakit rasanya melihat kamu semenderita ini."
Keesokan harinya Arlan mengajak Aira jalan-jalan, tapi Aira menolak.
"Aku mau mengunjungi kakek saja. Boleh?" tanya Aira.
"Boleh. Asal jangan bersedih lagi." begitu kata Arlan.
Tiba di rumah tepi bendungan itu, Aira melihat beberapa orang di sana yang sedang memetik buah mangga. Dan ada mobil pickup juga di depan pagar.
"Cari siapa mbak?" tanya seorang bapak.
__ADS_1
"Cari kakek Mail." katanya.
"Oh, kakek tua yang tinggal di sini?" tanya orang itu.
"Iya." balas Aira.
Rupanya kakek Mail sudah meninggal. Kabar itu membuat Aira cukup shock.
"Sabar..." kata Arlan.
Aira dan Arlan pun pergi dari tempat itu. Mereka memilih jalan kaki, karena sekalian menikmati suasana di sana.
Langkah mereka tiba-tiba terhenti. Karena sebuah motor menghadang mereka. Aira tahu betul siapa itu. Ryan.
"Aira, tolong dengarkan aku!" Dengan cepat Ryan menarik tangan Aira.
Arlan tidak tinggal diam, dia kembali menarik tangan Aira.
"Jangan sentuh dia!" ujarnya.
"Bukan urusanmu!" bantah Ryan. "Aira, beri aku waktu untuk menjelaskan semuanya!"
"Semua sudah jelas, Ryan." balas Aira.
"Aira, aku tidak mencintainya. Sungguh!" Ryan berusaha meyakinkan Aira. "Ikut aku, sebentar saja!" katanya.
"Hei..., bung...!" Arlan memukul tangan Ryan, seperti memukul nyamuk.
"Kamu bisa diam tidak?!!" bentak Ryan.
"Bisa, asal kamu tidak mengganggu Aira." balas Arlan. "Dia sudah tidak mau berhubungan denganmu lagi."
"Berisik!" sahut Ryan.
Entah setan mana yang merasuki Ryan, di tepi jalan itu Ryan memukul Arlan hingga sudut bibirnya sedikit berdarah.
"CUKUP...!! SERU Aira.
" Mas..." ujar Aira sambil mengusap darah itu.
"Ikut aku, Ra!" Ryan manarik tangan Aira.
"Aku tidak akan ikut denganmu. Sebaiknya kembali pada istrimu!" Aira menarik tangannya.
"Sekarang kita hidup masing-masing. Lupakan saja kalau kita pernah dekat." katanya.
"Ayo, mas. Kita pergi!"
"Aira...!!!" Ryan terus menyerukan nama Aira. Bahkan air matanya menetes saat melihat Aira dan Arlan memasuki taksi. Kebetulan ada taksi kosong yang lewat.
Di hotel, Aira mencoba mengobati luka Arlan. Tapi Arlan menolak.
"Aku bisa sendiri." katanya.
Aira pun memilih diam. Dan menyerahkan kotak obat itu.
"Jadi kapan mau pulang?" tanya Arlan.
"Terserah mas saja." jawab Aira.
"Kalau begitu berkemas sekarang!" titah Arlan.
Aira menurut saja. Dia merapikan tasnya. Arlan terus memperhatikannya.
"Apakah suatu hari nanti, air mata itu ada untukku, Aira...?!"
......................
"Tiba-tiba berstatus sebagai istri orang. Padahal aku tidak memiliki rasa apapun. Bersedia menikah hanya demi keluarga, ternyata menyakitkan. Ditambah lagi melihat Ryan menikah.
Sungguh luar biasa sakitnya ya Allah...
Apakah aku durhaka pada suamiku ya Allah?...
__ADS_1
Aku mohon bantu aku melewati semua ini...!!"
Hapus semua masa laluku. Aku rela jika harus kehilangan ingatan masa laluku ya Allah. Demi membuang rasa sakit ini."