Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
34


__ADS_3

"Ayo, makan yang banyak, nak." ujar ibu. "Kamu kurusan, Aira. Apa anakku tidak memberimu makan?" ibu melirik Arlan, putranya.


"Ibu bisa saja." balas Aira sambil sedikit tertawa.


Bukan karena tidak diberi makan, nyatanya Arlan telah memberikan apapun yang Aira minta. Bisa jadi berat badannya menurun karena dia tertekan menjalani kehidupan rumah tangganya.


"Atau kamu merindukan orang tuamu?" tanya ibu mertua Aira sambil mengusap punggung tangan Aira.


Dan lagi, si ibu menyudutkan putranya. Dia melirik tajam ke arah Arlan.


"Bu, aku bahwa selalu membawanya berkunjung ke sana setiap Aira minta." kata Arlan.


"Memang beberapa hari ini Aira sedang kurang enak badan." imbuhnya, Aira menoleh ke arahnya.


"Ya ampun, kenapa tidak telepon ibu, nak? Sakit apa?"


"Ah, tidak bu. Hanya masuk angin." ujar Aira.


"Apalagi isi?" sahut ayahnya. "Masa iya masuk angin sampai beberapa hari." celotehnya.


"Isi dari mana? Tidur bersama saja belum..." batin Arlan menggerutu.


"Benar juga. Ayo kita periksakan, besok pagi ibu temani." ibunya sangat antusias.


"Tidak, bu. Masih negatif." Kata Aira.


"Oh, sudah dites?" tanya ayah. Aira mengangguk. "Ayah do'akan disegerakan, ya." begitu kata ayah.


Arlan hanya mendengarkan saja obrolan mereka berdua.


Malam itu Aira masih sendirian di kamarnya. Dia sedang berkirim pesan dengan Putri.


Aira :


Berapa bulan?


Putri :


Sudah 3, Ra. Ya ampun, Ra..., aku itu tidak sadar kalau hamil. Tidak ada tanda apapun.


Aira :


Selamat ya. Adit pasti senang ya.


Putri :


He'em. Dia semakin manjain aku. Aku terharu, Ra. Kamu juga pasti merasakan hal yang sama nanti.


Aira :


Do'akan saja ya, Put.


Putri :


Pastinya dong.


Btw, ini sudah malam banget. Sudah dulu ya, kamu juga punya suami. Dia pasti lebih membutuhkanmu di jam malam seperti ini.


Aira :


Apa sih kamu.


Putri benar-benar tidak menjawab pesannya lagi.


Ceklek


Tanpa melihat pun Aira tahu siapa yang datang. Karena selain Arlan, semua akan mengetuk pintu dulu sebelum masuk.


"Belum tidur rupanya." katanya.


"Mas Arlan sudah mau tidur?" tanya Aira.


"Em." dia hanya menjawab dengan deheman.


Aira meletakkan ponselnya. Dia menyusul suaminya yang sudah merebahkan diri di kasur.


"Kita akan menginap berapa hari mas?" tanya Aira.


"Kenapa? Kamu tidak betah di sini?" sahut Arlan tanpa menoleh pada istrinya.


"Bukan, mas. Aku hanya bertanya." kata Aira.


"Oh. Ya sudah, sekarang tidurlah!" Arlan menarik selimut, kemudian membelakangi Aira.


Aira pun melakukan hal yang sama. Dia menitihkan air matanya. Itu terjadi setiap malam. Karena setiap malam sikap Arlan berubah menjadi dingin padanya.


Arlan tidak benar-benar tidur. Dia terus melamun di balik punggung Aira. Hingga tengah malam dia terjaga. Arlan duduk dan menyadarkan punggunya pada kepala ranjang. Dilihatnya sang istri yang sedang tertidur pulas. Posisinya pun sudah berubah terlentang. Sehingga Arlan bisa melihat paras cantiknya. Meski kata ibunya dia lebih kurus.


Dan lagi, Aira mengigau. Kali ini bukan nama Ryan lagi yang dia sebut.


"Mas Arlan..., aku mohon maafkan aku..."


Arlan terkejut. Tubuhnya meremang. Setelah beberapa kali mendengar istrinya menyebut nama orang lain dalam tidurnya. Kini tiba-tiba Aira menyebut namanya.


Arlan mendekatinya, meraih tangannya dan mengecupnya.


"Semoga ini awal yang baik. Cintai aku seperti aku yang selalu mencintaimu, Aira..."


......................


Aira menggeliat, dia merasakan deru nafas yang hangat menerpa wajahnya. Dan seseorang memeluknya.


"Mas..." gumamnya lirih.


"Eemmm..., diamlah..., ini belum subuh..." balas Arlan dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


Aira tidak berkutik. Karena seiring berakhirnya kalimat yang diucapkan suaminya, dia merasakan pelukan itu semakin erat. Arlan tersenyum dalam dia. Sebenarnya dia pun sudah bangun.


"Aku tidak akan membiarkan orang itu menguasaimu. Mulai saat ini aku akan membuatmu lebih mencintaku. Dan melupakan orang itu." begitu batin Arlan.


"Tidak nyaman sekali jantungku. Apa mas Arlan mendengarnya?" umpat Aira.


Perang batin keduanya terus berlanjut, hingga keduanya sama-sama tertidur kembali.


Saking nyenyaknya mereka tidur, hingga mereka tidak mendengarkan kumandang subuh. Mereka baru bangun ketika mendengar ceramah dari masjid.


"Aku tinggal bantu ibu di dapur ya, mas." pamit Aira setelah merapikan mukenah dan sajadahnya.


"Iya." balas Arlan.


Saat Aira tiba di dapur, semua sudah siap dan tinggal menyajikan di atas meja makan. Aira sangat tidak enak, karena bangun kesiangan.


"Maaf bu, aku kesiangan." ujar Aira.


"Tidak perlu minta maaf, ayo bantu ibu bawa." balas mertuanya.


"Iya, bu." balas Aira.


Setelah sarapan, Aira dan Arlan pamit untuk pulang. Tapi sebelumnya Arlan mengajak Aira ke toko.


Aira meninggalkan Arlan yang sedang fokus memeriksa laporan. Dia keliling untuk melihat-lihat. Meski ini bukan kali pertama dia datang ke toko Arlan.


"Ada tisu basah?" tanya Aira pada pegawai berhijab yang menjaga etalase kosmetik.


"Ada, mbak. Sebentar." katanya. Tak lama kemudian gadis berhijab itu kembali dengan membawa tisu basah.


Rupanya Aira ingin membersihkan wadah tester lipstik yang belepotan.


"Biar saya saja, mbak." gadis itu segera ingin mengambil alih apa yang dilakukan Aira.


"Tidak apa. Lanjutkan pekerjaanmu. Aku dulu juga bekerja seperti kamu. Aku pikir..., sepertinya kita juga seumuran." ujar Aira. "Siapa namamu?" tanya Aira.


"Chika. Aku baru lulus mbak." katanya.


"Oh, berarti kamu adik kelasku." Aira tersenyum. "Aku masuk ya?!" Aira minta izin pada Chika.


Mereka berdua pun mulai sibuk sendiri-sendiri. Chika mengecek barang di etalase, sedangkan Aira membersihkan segala sesuatu membuat penglihatannya tak nyaman.


"Bagaimana mungkin mereka melakukan ini...? Mana ada yang tertarik coba..." gerutu Aira.


"Chika, aku ke atas dulu ya." kata Aira.


"Iya, terimakasih mbak."


Aira menemui Arlan yang sedang sibuk di balik meja kerjanya.


"Mas..." panggil Aira.


"Iya, mau pulang?" sahut Arlan.


"Ah, tidak. Mas lagi sibuk?" tanya Aira.


"Lanjutkan dulu yang sebentar itu." balas Aira sambil tersenyum.


"Apa yang terjadi?" tanya Arlan pada dirinya sendiri.


Tak lama kemudian Arlan menyelesaikan pekerjaannya. Kemudian dia duduk di samping Aira.


"Ada apa?" tanya Arlan.


"Aku tadi lihat-lihat di bawah." kata Aira.


"Terus...?"


"Mas tidak ada BA di kosmetik?" tanya Aira.


"Tidak. Memangnya kenapa? Aku pikir kita tidak butuh itu, beda dengan swalayan besar kan." balas Arlan.


"Iya sih, mas benar. Tapi setidaknya dengan adanya BA, bisa memberi edukasi pada pelanggan mas tentang kosmetik yang cocok dengan mereka. Juga bisa mempermudah pekerjaan pegawai mas Arlan." Aira mulai menjelaskan banyak hal pada Arlan.


"Mas tidak perhatikan ya counter kosmetik itu..? Segala barang ditata asal rapi, tidak ada daya tariknya. Terus tester lipstik itu, ya ampun..., bisa-bisanya belepotan begitu tidak dibersihkan. Kan jorok...!!" Aira seperti sedang memarahi bocah TK saja.


Arlan fokus memperhatikan istrinya itu, dia tidak menyangka mode cerewet istrinya itu sangat menggemaskan. Hingga membuatnya terus tersenyum.


"Mas...?! Mas dengar aku bicara tidak?!" tegur Aira.


"Ah iya." Arlan geragapan. "Lalu menurutmu aku harus bagaimana?" tanya Arlan.


"Meski tidak ada BA, harusnya mas kasih tunjuk ke pegawai mas bagaimana cara mendisplay yang bagus. Yang bisa menarik pelanggan. Yang tadinya tidak ingin beli, jadi tertarik." terang Aira.


"Kalau begitu kamu saja yang bantu aku. Tidak keberatan kan?" ucap Arlan.


"Aku?" Aira menunjuk dirinya sendiri.


"Kamu kan sudah pernah bekerja di bidang ini. Coba berbagi ilmu pada mereka." kata Arlan.


"Boleh?!" Aira masih ragu.


"Bolehlah, ayo kita turun!" ajak Arlan.


Ketika turun, customer di counter kosmetik sudah cukup banyak. Bahkan ada empat pegawai di sana, termasuk Chika. Arlan memberi kode dengan lirikan matanya, agar Aira turun tangan.


"Aku ingin lihat seberapa hebat istriku." bisik Arlan.


"Ah?!" Aira belum mengerti maksud Arlan.


"Tolong bantu mereka." ujar Arlan.


Aira pun masuk dan membantu pegawai Arlan.


Sementara Arlan tetap berdiri di anak tangga sambil memperhatikan istrinya.

__ADS_1


"Sepertinya dia lebih nyaman di sini daripada di rumah." gumam Arlan.


......................


Sejak saat itu, Aira ikut andil dalam toko. Dia merubah semua tatanan toko layaknya swalayan besar yang rapi, dan selalu bersih. Counter kosmetik juga tak kalah cantik. Setiap ada sales produk yang datang, dia akan meminta tester untuk produknya. Terutama lipstik.


Sejak Aira di sana, orang tidak hanya membeli lalu pulang. Mereka kadang menghabiskan banyak waktu untuk konsultasi dengan Aira.


"Mbak Aira bisa tahu banyak ya..." puji Chika.


"Tidak banyak. Aku hanya sering dengar saat BA ngobrol dengan pembeli. Jadi aku sedikit tahu." balas Aira.


"Karena mbak Aira di sini, kita juga jadi belajar banyak hal." sahut Rani, teman Chika di counter kosmetik.


"Kita sama-sama belajar." kata Aira.


Aira memutuskan naik ke lantai 2 ketika mendengar suara adzan ashar. Belum juga masuk ke ruangan Arlan, pintu ruangan itu terbuka.


"Mas mau kemana?" tanya Aira.


"Aku baru saja mau panggil kamu." jawabnya. "Kita sholat dulu, baru pergi ya." katanya.


"Memang mau kemana, mas?" tanya Aira.


"Aku kangen nasi goreng ayah." katanya sambil menutup kembali pintu ruangannya.


"Oke. Baiklah...!" Aira pun semakin bersemangat.


Mereka sholat ashar berjamaah di ruangan itu. Setelah memanjatkan do'a, Aira mencium punggung tangan Arlan. Dan Arlan mengecup keningnya.


Arlan memasangkan helm untuk Aira, lalu membantu Aira menarik resleting jaketnya.


"Nanti masuk angin." katanya.


"Terimakasih." Aira tersenyum.


"Ayo!"


Aira pun naik dengan hati-hati. Arlan menarik tangan Aira agar berpegangan padanya. Aira menurut saja.


Sampai di perempatan lampu merah.


"Kita beli apa ya buat orang rumah?" tanya Arlan.


"Terserah mas saja." jawab Aira.


"Jangan bilang terserah. Aku kalau jajan suka kalap." sahut Arlan.


"Nanti aku yang akan injak remnya." gurau Aira.


"Remnya blong, bagaimana?" balas Arlan tak mau kalah.


"Putar sih telinganya." kata Aira.


Begitulah mereka sekarang, lebih santai saat ngobol. Meski keduanya belum total menjalankan tugas mereka sebagai pasangan seutuhnya.


Keluarga Aira sangat senang melihat kedatangan anak-anaknya. Padahal minggu kemarin mereka baru saja berkunjung, tapi sudah rindu saja.


"Nasi goreng pedas plus telur ceplok dan acar." kata Aira saat menyajikan nasi goreng untuk suaminya.


"Terimakasih. Sepertinya sangat enak." balas Arlan.


"Sudah, cepat makan." sahut nenek.


"Iya, nek." kata Arlan.


"Nenek tidak makan?" tanya Aira.


"Sudah tadi sama kakek. Nenek makan pakai ikan asin dan sambal terasi." kata nenek.


"Masih, nek?" tanya Aira kemudian.


"Ada di dalam. Nenek ambilkan ya."


"Ah, jangan. Biar aku saja. Nenek temani mas Arlan saja."


Aira pergi ke dapur untuk mengambil ikan asin yang dikatakan nenek tadi. Aira melihat sekeliling rumahnya. Dia bersyukur memiliki Arlan. Dia menyayangi keluarganya, seperti orang tuanya sendiri. Sedikit demi sedikit rumah keluarga Aira dibenahi oleh Arlan. Meski ayahnya sempat menolak, tapi Arlan terus saja memaksa.


Dinding bambu diganti dengan bata. Lantai yang tadinya tanah, kini berlapis keramik. Kasur kapuk randu juga diganti dengan springbed. Kecuali di kamar kakek dan nenek. Mereka sulit tidur kalau kasur lamanya diganti. Jadi Arlan membawa springbed itu ke rumahnya.


"Kita tidur sini ya?!" pinta Arlan pada istrinya.


"Iya, mas." jawab Aira.


Harusnya tidak perlu ditanyakan, Aira jelas sangat bersedia kalau diajak menginap di rumah orang tuanya.


Sampai jam sembilan malam Arlan masih belum kembali dari warung. Dia betah sekali ngobrol di sana. Hingga Aira sudah tertidur pulas, saat dia masuk ke kamar.


Dengan hati-hati Arlan merebahkan tubuhnya. Berharap tidak mengusik Aira. Tapi nyatanya gagal.


"Mas sudah pulang..." gumam Aira.


"Iya. Sudah, tidur lagi sana." katanya.


"Em..." Aira yang sangat mengantuk, kembali terlelap menghadap ke arah Arlan.


Arlan tersenyum sambil membelai pipi istrinya itu. Kemudian menyusul Aira mengarungi mimpi.


......................


"Kata ayahku, manusia tidak boleh banyak meminta pada Allah. Apalagi memaksakan kehendak. Malu...!!


Sebagai manusia tempatnya salah dan dosa, tidak layak kita minta banyak hal padaNya. Cukup berdo'a agar semuanya dipermudah. Itu saja.


Dan jika semua terasa mudah, jangan bangga. Jangan terlalu senang, akhirnya berujung sombong.

__ADS_1


Karena ujian dari Allah pun ada yang berupa kenikmatan hidup."


__ADS_2