Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
27


__ADS_3

Aira merenungi takdir yang harus dia jalani. Dia menitihkan air matanya. Dia tidak bisa protes, tidak bisa menyalahkan siapa-siapa juga. Dia hanya merasa tidak tahan. Dia rindu dengan orang tuanya, nenek, dan kakeknya. Kalau dia sakit ada mereka yang sangat perhatian. Tidak seperti sekarang, di rumah sakit ditemani orang lain.


Semasa kecil dia ingin sekali cepat tumbuh dewasa, meraih cita-citanya yang awalnya ingin menjadi seorang guru. Tapi setelah dewasa, dia harus berusaha mengurus dirinya sendiri. Jauh dari keluarga pula.


"Sekarang aku sendirian..."


Aira mengusap air matanya yang terus menetes, hingga membuat bantalnya basah. Dia memutuskan untuk menghubungi orang tuanya besok pagi. Ini sangat larut, pasti mereka sedang beristirahat setelah jualan.


Keesokan harinya Aira benar-benar menelepon orang tuanya. Karena dia kesulitan untuk mengetik sebuah pesan.


"Ayah dan ibu tidak perlu khawatir. Ada mbak Ina yang merawatku." kata Aira sambil melihat mbak Ina yang sedang menyiapkan sarapan.


"Siapa mbak Ina, nak? Temanmu?"


"Dia asisten rumah tangga bosku, ibu."


"Mereka baik sekali."


"Iya, bu. Makanya ibu jangan sedih. Anak ibu kan baik-baik saja." Aira tersenyum.


"Jaga dirimu baik-baik, nak. Oh, iya mungkin minggu depan ayah dan ibu pulang. Semua sudah selesai di sini. Kita akan segera berkumpul lagi."


Nada suara ibu terdengar sangat bahagia. Sedangkan Aira justru merasakan sesuatu yang hambar, tidak bisa didefinisikan.


Sejak mengakhiri sambungan teleponnya, Aira lebih banyak diam. Sibuk dengan dunia batinnya sendiri.


"Harusnya aku senang orang tuaku kembali, tapi bagaimana bisa aku juga merasa sangat sedih. Sepertinya setelah ini hubunganku dengan Ryan akan semakin kandas. Ryan..., apa yang harus kita lakukan setelah ini?!"


Mbak Ina melihat Aira yang dari tadi diam. Dia menghampirinya.


"Mbak Aira kenapa? Ada yang terasa sakit?" tanya mbak Ina.


"Tidak, mbak. Aku hanya ingin pulang ke rumah." Aira asal jawab saja.


"Mbak Aira kangen orang tua ya?" terka mbak Ina. Aira mengangguk saja.


"Sabar ya mbak." katanya. "Saya juga kangen sama anak saya, mbak. Rasanya menunggu lebaran itu lama sekali." ujarnya.


Mereka berdua sama-sama sedang mengais rejeki di kota orang. Sama-sama jauh dari keluarga. Sedikit banyak mereka bisa saling mengerti.


"Suami mbak Ina kerja di sini juga?" tanya Aira.


Mbak Ina tersenyum simpul.


"Saya tidak memiliki suami, mbak. Kita sudah lama bercerai."


"Maaf..." Aira menyesal karena terlalu banyak tanya.


"Tidak apa-apa, mbak. Memang saya juga yang salah, menerjang batasan dari keluarga bapak saya." ungkapnya.


"Batasan...?!" Aira merasa semakin ingin tahu.


"Iya. Sebenarnya sesepuh di keluarga sudah melarang saya menikah dengan mantan suami saya itu. Tapi saya nekat. Kami memang bisa menikah, tapi ada saja masalah dalam rumah tangga kami. Hingga berujung perpisahan setelah anak saya lahir." begitu curhatan mbak Ina.


"Batasan apa maksudnya mbak?"


"Desaku dan desanya dilarang menjalin pernikahan. Kata orang tua dulu begitu. Tapi kami nekat. Sampai kami tidak boleh tinggal di rumah lagi. Katanya orang serumah bisa kena sial." jelas mbak Ina.


"Tapi setiap daerah berbeda, mbak. Tidak semua seperti itu. Kadang ada yang mempermasalahkan hasil perhitungan juga. Pesan saya, sebaiknya kalau besok mbak Aira ingin berumah tangga, ikuti saja nasihat orang tua." begitu pitutur bijak seorang asisten rumah tangga koko Sam.


"Ini kisah nyata dari yang aku baca di internet kemarin. Ternyata benar-benar ada kejadian seperti itu. Tapi aku yakin, semua yang terjadi pada manusia adalah atas kehendak Sang Pencipta." gumam Aira dalam hati.


Sore itu Samuel datang, dia membawa beberapa macam buah untuk Aira.


"Sudah baikan? Apa kata dokter?" tanya Samuel sambil menarik kursi untuk duduk.


Sementara mbak Ina memilih mundur, dan duduk di sofa setelah Samuel datang.


"Lebih baik, ko." kata Aira.

__ADS_1


"Baguslah. Mau makan sesuatu?" Samuel menawarkan makanan yang dia bawa.


"Tidak, ko. Nanti saja."


"Mau lihat pemandangan di luar? Mungkin kamu merasa bosan?"


"Koko cepat pulang, atau paling tidak diamlah. Aku sudah sangat senang." itulah yang ingin Aira katakan, tapi dia tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.


......................


Setelah tiga hari Aira dirawat di rumah sakit, Aira kembali ke kosannya. Atas permintaan Aira, Samuel tidak mengantarkannya sampai kos. Samuel hanya memesan taksi, dan meminta mbak Ina menemaninya. Setelah tiba di kosan, Aira mengirim pesan pada kokonya itu.


Aira :


Terimakasih atas semuanya, ko


Aira tidak tahu saja, kalau yang menerima pesan itu sedang berada di luar. Samuel sengaja mengikuti taksi yang Aira tumpangi bersama mbak Ina. Sekalian menunggu mbak Ina agar nanti bisa pulang bersama.


Koko Sam :


Sama-sama. Banyak istirahat, jangan memikirkan pekerjaan dulu. Yang penting sehat dulu.


Aira :


Iya, ko


Aira kemudian merebahkan tubuhnya. Mumpung kosan sepi, dia bisa istirahat dengan tenang. Kalau semua sudah pulang kerja nanti, pasti akan berbondong-bondong datang ke kamarnya untuk melihat kondisinya. Seperti teman satu kosan yang waktu itu baru saja menjalani operasi. Jadi Aira memilih istirahat lebih awal.


Malam pun tiba. Mega membantu mengoles salep di tangan kanan Aira, setelah teman satu kosan keluar dari kamar mereka.


"Semoga tidak trauma naik bus, kayak aku waktu itu. Jatuh dari motor, akhirnya sampai sekarang tidak mau naik motor." celotehnya.


"Kalau aku tidak naik bus, aku ke sini pakai apa coba." Aira tertawa. "Takut sih ada kak, tapi tidak mungkin juga tidak naik bus. Bismillah saja."


"Minta antar jemput koko pasti mau..." goda Mega.


"Jangan mulai deh, kak. Aku saja tidak mungkin telepon koko kalau kak Mega yang lain jawab panggilanku." balas Aira.


"Kaaaak..." geram Aira.


"Hahahaaa..." Mega justru terkekeh.


Aira tiba-tiba teringat soal kandasnya hubungan mbak Ina, saat melihat Mega. Pasalnya mereka sama-sama berstatus janda. Hanya saja, Mega belum dikaruniai seorang buah hati.


"Kak Mega, boleh aku bertanya soal hal pribadi?" tanya Aira dengan hati-hati.


"Katakan saja." jawabnya dengan santai.


"Maaf sebelumnya, kak. Kakak kenapa memilih berpisah?" tanya Aira.


"Aku tidak mau dimadu." jawabnya singkat, dan santai. Seperti tidak ada beban.


"Dimadu?" balas Aira.


"Iya, dia minta izin untuk menikah lagi. Dan aku minta diceraikan saja." katanya.


"Madu itu memang manis. Tapi kehidupan rumah tangga, kalau sudah bermadu tidak akan nyaman lagi." ujarnya.


"Kak Mega benar."


......................


Hari ini Aira sedang bersiap untuk bekerja. Dia baru tiga hari bekerja lagi, setelah kecelakaan itu.


"Orang tuamu bukannya tiba hari ini? Kenapa tidak izin saja?" tanya Mega sambil menyemprotkan parfum di bajunya.


"Kak, aku saja baru mulai kerja beberapa hari. Masa izin lagi. Tidak enaklah..." balas Aira.


"Kamu itu banyakan tidak enaknya." Mega meraih tas selempangnya. "Yuk berangkat. Tidak enak kan kalau telat." katanya.

__ADS_1


"Hahahaaa..." Aira dan Mega tertawa bersahutan.


Di luar gang itu ada mobil Samuel. Mega menyenggol bahu kiri Aira. Tak lama setelah itu Samuel keluar.


"Ada apa, ko?" tanya Mega.


"Ini." Samuel memberikan sebuah paperbag. "Bagi juga buat yang lain. Saya permisi."


"Terimakasih, ko..." ujar Mega dan Aira.


"Kita otw menggendut bersama." Mega melirik Aira. Aira hanya menahan tawanya.


"Terimakasih, ko. Maafkan aku..." batin Aira.


Aira teringat saat Samuel mengutarakan perasaannya pada Aira.


Flashback On


"Aku mencintaimu Aira. Bisakah kita menjalin hubungan lebih serius?... Maaf kalau aku lancang mengatakannya."


Aira terkejut. Dia tidak menyangka Samuel akan mengungkapkan semuanya di rumah sakit. Ketika mbak Ina pamit pulang sebentar.


"Maaf, ko. Tapi aku tidak bisa." jawab Aira.


"Apa karena kita berbeda?"


Sebenarnya Samuel sangat menyadari hal itu akan menjadi halangan terbesar mereka. Tapi Samuel nekat, karena dia juga melihat teman-temannya tak sedikit yang menjalin hubungan dengan orang yang tak seiman. Pada akhirnya salah satu dari mereka akan mengalah dan mengikuti salah satunya.


Samuel pun berharap itu bisa terjadi padanya dan Aira. Tidak peduli siapa yang akan ikut siapa nantinya. Yang terpenting dia usaha dulu. Begitu pikirnya.


"Koko bisa dapatkan yang lebih baik dari aku, ko." begitu kata Aira untuk membesarkan hati kokonya.


"Jika aku mengikutimu?" cetusnya.


"Ko, itu hal yang sangat serius. Tolong jangan main-main." tegur Aira dengan sopan.


Samuel membenarkan ucapan Aira. Dia sadar kalau dia terlalu gegabah.


Flashback Off


Aira dan Mega melanjutkan perjalanan menuju tempat kerja mereka. Setelah sampai Mega membagikan makanan yang diberikan oleh Samuel pada semua temannya.


Di sela aktivitasnya, Aira menerima notifikasi pesan masuk. Karena counter sedang sepi, Aira memeriksa ponselnya.


Koko Sam :


Meski aku tidak bisa memilikimu. Tolong izinkan aku tetap menyayangimu dengan caraku, Aira.


Aira :


Terimakasih ko


Koko Sam :


Aku harap kamu tidak menjauhiku, apalagi membenciku


Aira :


InsyaAllah tidak


Koko Sam :


Terimakasih, Aira..


Aira kembali mengantongi ponselnya. Dan melanjutkan pekerjaannya.


......................


"Rasanya ingin sekali kembali ke masa kanak-kanak. Yang tahunya hanya main dan bersenang-senang semauku sendiri. Mudah mengadukan banyak hal pada orang tua. Bermanja.

__ADS_1


Tapi sekarang..., aku merasa menyembunyikan segalanya jauh lebih baik. Daripada mereka ikut pusing memikirkan masalahku. Cukup mereka tahu bahwa aku di sini baik-baik saja, aku bahagia menikmati pekerjaan, dan juga hidupku."


__ADS_2