
Aira mendekati neneknya yang sedang memilih bulir padi pada beras yang baru dibelinya dari sebuah warung. Aira mengikuti aktivitas si nenek, sesekali Aira melirik neneknya.
"Apa yang mau kamu katakan, heeem?" ujar nenek tiba-tiba.
"Bagaimana ngomongnya ya...?!"
"Katakan saja! Uang sakumu kurang buat berangkat besok?" terka nenek.
"Tidaklah, nek. Masih ada, kok." balas Aira.
"Beras di kos habis?" tanya nenek lagi. Aira menggelengkan kepalanya. "Lalu apa? Katakan saja!" titah nenek.
"Nek..."
"Apa?"
"Boleh aku tahu?" Aira menatap neneknya.
"Sebenarnya..., kenapa ya nek..., kok aku tidak bisa melanjutkan hubungan dengan Ryan?" tanya Aira dengan hati-hati.
Nenek pun menghentikan aktivitasnya. Dia menaruh nampan dari anyaman bambu itu di sampingnya. Nenek menatap cucunya lekat-lekat.
"Kamu sungguh ingin tahu?" tanya nenek, dan Aira mengangguk.
"Kenapa? Kamu masih tidak bisa melupakan orang itu?" pertanyaan itu dijawab sendiri oleh nenek.
"Bagaimana mungkin bisa nenek...?" jawab Aira dalam hatinya.
"Perhitungan kalian tidak cocok." ucap nenek.
"Perhitungan apa, nek?" tanya Aira yang memang belum mengerti.
"Nenek jelaskan juga kamu belum tentu paham." jawab nenek.
"Intinya, kalau orang tua sudah berkata seperti itu, jangan sekali-kali kamu berani melangkah. Tidak baik." ujarnya.
"Aku tidak mengerti, nek..." kata Aira.
Nenek mengusap rambut panjang Aira, dia tersenyum.
"Dengarkan nenek! Kamu masih sangat muda. Masa depanmu masih panjang. Suatu hari nanti, kamu akan bertemu dan berhubungan dengan banyak orang. Kamu pasti bisa melupakan orang itu, dan menjalin hubungan dengan orang yang lebih cocok sama kamu." tutur nenek.
"Iya, nek." Aira tampak sendu.
"Aira..., dari dulu leluhur kita sudah menerapkan perhitungan ini. Jadi nenek harap kamu bisa mengerti, ya..." pinta nenek.
Nenek tidak ingin hal buruk menimpa cucunya, karena dia tidak menuruti ucapan orang tua. Aira hanya menjawab dengan anggukan kepala. Dia tidak tahu harus mengatakan apa.
Karena tidak ada yang bisa menjawab rasa penasarannya. Akhirnya Aira mencari sendiri jawabannya di internet. Jaman sudah canggih, semua bisa dicari jawabannya dengan mudah lewat internet.
"Oh, begitu..." gumam Aira dalam hati setelah membaca sebuah artikel.
"Kok ayah bisa menghitung?!... Apa ayah tahu hari lahirnya Ryan...?!" pikir Aira.
"Apa aku tanya Ryan saja?"
......................
Salah satu hal yang tidak bisa diprediksi adalah musibah. Tidak ada yang tahu kapan akan datang, dan dimana tempat terjadinya. Seperti yang dialami Aira.
Bus yang ditumpangi Aira mengalami masalah. Sebuah kendaraan menabraknya dari arah belakang, sehingga bus mengalami oleng. Kemudian menabrak pembatas jalan. Dan Aira yang duduk di bangku depan terjungkal, dia pasti terlempar keluar andai saja pintunya terbuka.
__ADS_1
Tidak ada korban jiwa dalam kecelakaan itu, tapi beberapa orang mengalami luka. Apalagi berada di bangku depan, termasuk Aira. Mereka pun dibawa ke rumah sakit terdekat.
Aira mengalami benturan, hingga pelipisnya terluka. Kemudian tangan kanannya keseleo karena dia gunakan untuk menahan tubuhnya.
"Sakit banget..." umpat Aira.
Aira berusaha menghubungi Mega, tapi nomornya tidak aktif. Dia tidak mungkin menghubungi Bianka atau Rima, karena hubungan mereka tidak begitu dekat. Tiba-tiba dia teringat Samuel.
"Ah, tidak. Sebaiknya aku pulang sendiri."
"Mbaknya sudah menghubungi keluarga?" tanya suster.
"Tidak bisa dihubungi, sus. Biar saya pulang sendiri saja." ujar Aira.
"Jangan, mbak. Beberapa saat lagi mungkin obat yang kami berikan bereaksi, bahaya kalau mbaknya pulang sendirian. Belum tentu orang yang bersama mbak itu baik. Kalau jahat bagaimana?"
Setelah mendengar ucapan suster, Aira mencoba menghubungi Mega lagi. Hasilnya masih sama. Dia kemudian menghubungi Bianka, juga Rima. Tersambung, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Akhirnya sampai pada pilihan terakhir, menghubungi si koko.
"Iya, Aira. Ada apa?"
"Maaf, ko. Boleh minta tolong...?" ujarnya.
"Katakan, ada apa?"
"Saya sedang di rumah sakit. Bus yang saya tumpangi mengalami kecela..."
"Sharelok sekarang. Kamu jangan kemana-mana sampai aku datang."
Sambungan telepon terputus. Tanpa ragu Aira segera mengirim lokasinya.
"Maafkan aku ya Allah. Aku terpaksa. Aku tidak kenal siapa-siapa lagi di sini." batin Aira.
"Apa ini reaksi yang suster bilang tadi? Jangan tidur dulu ya, tunggu nanti saja pas sampai di kosan."
"Aira...!!!"
Aira menoleh ke arah datangnya suara itu.
"Ya Tuhan, kenapa sampai begini?" tanya Samuel. "Apa tidak dirawat saja?"
"Tidak, ko. Saya istirahat di kos saja." jawab Aira.
"Tidak, Ra. Siapa yang jagain kamu di kos? Atau aku antar kamu pulang ke rumah?" Samuel mencoba memberikan pilihan.
"Tidak. Kasihan nenek dan kakek."
"Oke. Kamu tetap di sini. Aku urus semuanya." putus Samuel.
"Jangan, ko...!! Aaahh...!!" Aira merasakan sakit yang luar biasa pada kepalanya saat hendak beranjak dari kursinya.
"Diamlah, Aira! Semua akan baik-baik saja kalau kamu menurut. Oke?!" katanya.
Samuel memutuskan untuk bertanggung jawab penuh untuk pemulihan Aira. Aira tidak berkutik.
"Koko Sam benar, tidak akan ada yang merawatku kalau tidak tinggal di sini."
"Istirahat dulu. Aku akan segera kembali." kata Samuel sebelum meninggalkan kamar rawat inap Aira.
"Terimakasih, ko." balas Aira.
"Jangan sungkan. Aku keluar sebentar."
__ADS_1
......................
Saat Samuel kembali, Aira sudah tertidur. Samuel menaruh makanan dan minuman yang dia bawa di atas nakas.
"Cepat sembuh Aira..." batin Samuel.
Samuel membiarkan Aira tidur dengan tenang. Dia memilih duduk di sofa sambil menyelesaikan pekerjaannya dengan laptopnya.
Beberapa menit kemudian Aira terbangun. Lalu Samuel mendekatinya.
"Sudah bangun, apa yang kamu rasakan? Apa butuh dokter?"
"Tidak." jawabnya.
"Oh, ini ponselmu. Dia terus bergetar." Samuel memberikan ponsel yang tadi sempat dia ambil dari atas nakas.
"Terimakasih, ko."
Aira melihat sekilas, beberapa panggilan tak terjawab. Kemudian ada banyak pesan juga. Tapi Aira tidak membukanya. Dia pikir itu tidak sopan, lantaran dia sedang berbicara dengan Samuel. Orang yang sudah menolongnya.
"Mau makan dulu?" tawar Samuel.
Aira tidak mungkin menolak, karena dia memang sangat lapar. Karena tangannya sedang sakit, Samuel yang bertindak menyuapinya.
Canggung?!... Sudah pasti iya.
Bagaimana tidak, Aira disuapi oleh bosnya. Bos yang tadinya sedang dia hindari. Justru dia sendiri yang menciptakan jarak sedekat ini.
"Aku bisa utus mbak di rumahku buat menemani kamu di sini. Bagaimana? Biar kamu lebih nyaman." tutur Samuel.
"Tidak perlu repot-repot, ko. Kan ada suster." balas Aira.
"Suster tidak bisa terus menjagamu. Karena mereka memiliki banyak pasien juga." terang Samuel.
"Saya tidak enak terus merepotkan, koko." Aira menundukkan kepalanya.
"Aku lebih tidak enak lagi, kalau tidak menyediakan perawatan terbaik buat kamu. Biar bagaimanapun juga, kamu dan karyawan yang lain adalah tanggung jawab kami juga." begitu katanya.
"Oh, satu lagi." katanya.
Aira melihat ke arah kokonya.
"Jangan terlalu formal saat kita ngobrol seperti ini. Itu akan terasa canggung." ujar Samuel
"Iya, ko." balas Aira.
Menjelang sore, mbak yang diutus untuk menemani Aira datang juga. Sehingga Aira tidak terlalu merasa was-was.
"Mbak Aira kalau sudah mengantuk tidur saja. Jangan khawatir, saya akan menjaga mbak di sini." kata mbak Ina.
"Iya, mbak. Mbak juga sebaiknya istirahat." balas Aira.
"Saya sih gampang mbak. Orang saya biasanya juga begadang. Koko Sam sukanya minta makan tengah malam." mbak Ina mendadak curhat.
"Aku tidak akan minta makan malam kok, mbak." Aira terkekeh. "Mumpung di sini, sebaiknya mbak tidur."
"Mbak Aira bisa saja." ujar mbak Ina.
Aira tidur lebih dulu, bisa jadi memang efek obat juga. Jadi dia mudah sekali mengantuk. Setelahnya, mbak Ina menyusul mengarungi lautan mimpinya sendiri.
......................
__ADS_1