
Sore itu di perempatan lampu merah. Sebuah mobil merah menurunkan kaca mobilnya.
"Hai...!!" sapanya.
Ryan dan Aira kompak menoleh ke arah kanan. Ryan menatapnya malas. Sementara Aira bertanya-tanya.
"Siapa?!"
"Halo..." perempuan itu melambaikan tangannya pada Aira.
"Hai..." Aira membalas dengan melakukan hal yang sama. Tak lupa tersenyum ramah.
"Kalian baru pulang kerja?" tanya perempuan itu.
"Emm." balas Ryan.
Lampu berganti hijau, Ryan melajukan motornya lebih dulu.
"Siapa sih?" tanya Aira sambil mendekatkan wajahnya pada telinga Ryan
"Tiara." jawabnya sedikit menoleh, lalu kembali fokus.
"Ooh..." Aira kembali pada posisi awalnya.
"Cantik sih..., pantas jadi rebutan Gio dan Ryan."
Sementara Ryan mengantar Aira pulang, Tiara sudah memasuki daerah rumah Ryan. Dia memarkir mobilnya di tepi jalan raya. Lalu memasuki gang dengan berjalan kaki.
"Tiara..." sapa seorang lelaki yang sedang nongkrong dengan teman-temannya.
"Hai..." balasnya dengan ramah.
"Mau kemana?" tanya lelaki lainnya.
"Mengunjungi ibu." jawabnya.
Ibu yang dia sebut adalah ibunya Ryan. Waktu masih pacaran dengan Ryan, Tiara memang sangat akrab dengan keluarga Ryan. Hingga sudah dianggap sebagai anak sendiri sama ibu Ryan.
"Gila nyalinya itu cewek." kata salah seorang dari mereka ketika Tiara sudah tidak terlihat.
"Sudah memberikan semua pada Gio, masih berani datang kemari. Gokiiill...!!!"
"Jaman now bro, penting kan cantik dan banyak uang. Apalagi tunggangannya." dia melihat mobil merah yang terparkir di depan.
"Heh, bro. Jangan salah. Sebejat-bejatnya cowok, masih menginginkan cewek baik-baik dan terhormat untuk jadi teman hidupnya di masa depan." ujarnya.
"Kamu benar, aku pun sepemikiran sama kamu."
......................
"Assalamualaikum..." Ryan mengucapkan salam.
Ryan duduk di lantai sambil melepas sepatunya. Matanya menyipit kala melihat sepatu perempuan di sana. Dan ketika masuk, dia mendapati ibunya sedang sibuk di dapur dengan Tiara.
"Sudah pulang rupanya." kata ibu Ryan.
"Ke kamar dulu ya bu." pamit Ryan, tanpa menyapa Tiara.
"Kalian bertengkar?" ibu menatap Tiara.
"Enggak bu. Mungkin dia hanya lelah." jawab Tiara.
"Tapi tidak biasanya cuek sama kamu lho. Ibu jadi khawatir." katanya.
"Ibu..., kami baik-baik saja." Tiara mengusap bahu ibu Ryan.
"Mungkin Ryan sedang bingung menentukan pilihan...?" begitu batin ibu Ryan.
"Kamu juga sih, terlalu lama tidak mengunjungi kami. Mungkin Ryannya kesal." celetuk ibu.
"Maaf bu..." Tiara tersenyum. "Kemarin juga dia menjagaku waktu sakit bu, jadi aku rasa hubungan kami baik-baik saja." terang Tiara penuh percaya diri.
__ADS_1
"Dia sekarang sedang dekat dengan Aira. Gadis pendatang itu."
"Aira?"
"Mungkin cewek yang tadi..."
"Mereka pacaran ya bu?" Tiara ingin memastikan kebenaran dari ucapan Ryan waktu itu.
"Ibu rasa belum, mereka hanya berteman dekat." jawab sang ibu. "Kalau pacaran, pasti sudah dikenalkan sama ibu. Seperti kamu waktu itu."
"Ah, ibu. Kan aku jadi teringat masa itu." Tiara berujar sambil tersipu malu.
Diam-diam Ryan menguping semua pembicaraan mereka. Dia kesal sekali dengan tingkah Tiara yang sok manis dan lembut di hadapan ibunya. Dalam hatinya, dia lebih menginginkan Aira yang ada di posisi Tiara saat ini.
Ryan kembali ke kamarnya, mengunci pintu dengan rapat. Tidak ingin siapapun memasuki kamarnya saat ini, termasuk sang ibu. Bahkan dia pura-pura tidur saat ibu mengetuk pintu kamarnya, karena Tiara ingin berpamitan pulang.
"Tidak apa-apa bu. Mungkin dia ketiduran, pasti capek sekali. Aku pamit ya bu..." Tiara mencium punggung tangan ibu Ryan.
"Iya, hati-hati ya. Sering-sering main kemari." ujar ibu.
"Siap, bu..." tentu saja Tiara bersemangat, karena dia ingin kembali dalam pelukan Ryan lagi.
Belum jauh Tiara pergi, Aditnya datang dari arah yang berbeda.
"Siapa itu bu?" tanya Aditnya sambil menunjuk punggung Tiara.
"Tiara."
"Tiara? Dia kemari?!" Aditya terkejut.
"Iya. Kamu mau ketemu Ryan?" tanya ibu kemudian.
"Iya." jawab Aditya yang masih melihat Tiara di
"Bangunin dia. Tadi sudah dibangunkan tapi tidak mau bangun-bangun." ibu Ryan memasuki rumah sambil menggerutu. Dia kesal dengan sikap Ryan yang mengabaikan Tiara.
Tanpa meminta maaf apalagi memberikan penjelasan terlebih dulu pada ibunya, Ryan pamit pergi bersama Aditya.
......................
Minggu pagi yang cerah. Aira sudah bersiap untuk pergi joging bersama teman-temannya. Ryan, Aditya, Hendri, Ninik, dan Putri. Aira dan Ryan sengaja mengambil shift sore agar bisa berkumpul dengan teman-teman yang lainnya.
Ryan melihat sekilas penampilan Aira dari halaman rumah itu, kemudian mengirim pesan pada Aira.
Ryan :
Di luar dingin, sebaiknya pakai baju yang lebih tebal.
Aira :
Kita mau joging lho. Bisa gerah nanti.
Ryan :
Ayolah...!!! Please...!!!
Aira tak kunjung memberi balasan. Ryan mulai tidak tahan.
Ryan :
Aku tidak suka orang-orang melihat lekuk tubuhmu. Apalagi orang macam om mata keranjang seperti depan rumahmu itu.
Akhirnya Ryan bisa bernafas lega. Saat melihat Aira keluar dengan setelan yang lebih longgar. Sedaritadi dia merasa dadanya sesak saat melihat Aira mengenakan celana olahraga dengan atasan berupa kaos yang menurutnya terlalu ketat. Apalagi om genit terlihat sudah duduk di depan rumahnya. Ryan sangat tidak menyukainya.
Taman kota terlihat sangat ramai. Ada yang sedang senam bersama, jalan santai, joging, atau sekedar duduk manis sambil memainkan gadget.
Putri mulai merasa lelah, padahal baru setengah putaran. Akhirnya Aditya memilih menemaninya duduk di bawah pohon yang cukup rindang. Sementara yang lain melanjutkan aktivitasnya.
Setelah beberapa menit, Aira berjalan menuju ke tempat Aditya dan Putri untuk beristirahat.
"Mana Ryan?" tanya Putri.
__ADS_1
"Beli minum katanya." jawab Aira sambil mengusap keringatnya.
"Hendri dan Ninik?" sahut Aditya.
"Tahu tuh, beli apaan tadi." kata Aira.
"Aku juga pengen beli sesuatu deh." Putri beranjak dari tempatnya.
"Aku temani ya?!" ujar Aditya.
"Nggak ah, kamu suka ribet kalau ikut. Di sini saja. Jagain, Ra!" kata Putri. Aira hanya tersenyum.
Aditya terpaksa kembali duduk setelah menerima penolakan dari sang kekasih.
"Makanya jangan ribet kalau diajak cewek jajan." celetuk Aira setelah Putri pergi. Ryan tertawa menggelengkan kepalanya.
"Jadi gimana? Pacaran nih sama Ryan?" Aditya membuka percakapan.
Aira menggeleng pelan. Dia menatap jauh ke depan. Seperti sedang memikirkan sesuatu.
"Kalau tidak, jangan memberi kesan seolah kamu memiliki perasaan yang sama dengan Ryan. Kasihan tahu, dia jadi berharap banyak." ujar Aditya.
"Kalian tahu kan siapa aku?" sahut Aira. "Ibaratnya, setinggi-tingginya burung terbang, jatuhnya pasti ke pelimbahan juga."
Aditya sangat mengerti maksud ucapan Aira. Aditya menyadari kehadiran Ryan. Dia melihat ke arah Ryan diam-diam. Lalu mengangguk setelah Ryan memberi kode agar dia diam.
"Kamu tidak akan selamanya di sini, makanya kamu tidak ingin menjalin hubungan dengan siapapun?" pertanyaan itu sengaja dilontarkan oleh Aditya untuk memancing Aira. Sehingga Aira mengungkapkan perasaannya.
"Apa tidak ada pengecualian untuk Ryan?" tambahnya.
"Tidak Ryan atau siapapun." balas Aira singkat.
"Tapi kamu menyukainya kan?"
"Suka?" Aira terdiam sesaat.
"Aku pikir tidak ada yang tidak menyukainya." Aira tersenyum simpul. "Semua orang menyukainya. Mereka mengidolakannya. Bahkan ada yang sampai tidak bisa move on darinya."
"Lalu kamu?" Aditya melirik Aira.
"Entah sejak kapan dia menjadi seseorang yang berarti untukku. Sampai aku tidak bisa mendefinisikan apa yang aku rasakan." ungkap Aira dengan penuh kesungguhan.
"Karena itu, aku tidak mau melabeli hubungan dengan status apapun. Aku tidak bisa membayangkan, jika suatu saat nanti dia atau aku pergi menjauh. Tidak ada yang bisa melihat takdir di masa depan. Aku hanya berharap hubungan yang sekarang selalu terjalin dengan baik. Itu saja."
Mata Aira yang sudah terasa panas sedaritadi, kini sukses membuat air matanya mengalir.
Aira terkejut tiba-tiba Ryan berada di sampingnya. Hingga posisinya berada di tengah, antara Ryan dan Aditya. Ryan mengusap air mata Aira, sedangkan Aditya mengusap punggungnya. Keduanya sangat menyayangi Aira. Tulus, tanpa embel-embel apapun.
"Kalian ngapain sih??" Aira tersipu malu. "Sengaja yaaa??? Kan aku jadi sedih..."
"Terimakasih untuk semuanya." kata Ryan. "Kamu juga sangat berarti."
"Kamu juga berarti banget buat kita...!!!" suara itu datang dari Putri, Nanik, dan Hendri.
Mereka memeluk Aira bersamaan. Kalimat manis dan penuh sayang keluar dari bibir mereka secara bergantian.
......................
"Jika aku boleh meminta, aku ingin selalu berada di antara mereka. Mereka yang menyayangiku, dan menganggap aku berarti dalam hidup mereka.
Aditya, yang sejak awal selalu care ke aku. Bahkan sempat membuat orang salah mengartikan kedekatan kita.
Ryan, dia sangat meresahkan. Selalu membuat jantungku memberontak. Tapi dia sangat berarti dalam hidupku.
Putri, dia baik. Tidak pernah berprasangka buruk padaku. Sekalipun pacarnya dekat denganku.
Ninik, teman pertamaku yang membawaku mengenal banyak orang. Meski sempat menghindariku, pada akhirnya dia kembali memilih kembali berjalan bersamaku.
Hendri, si paling polos dan apa adanya. Tidak pernah menjauhiku, sekalipun banyak berita buruk tentangku.
Mungkin akan semakin lengkap, jika teman yang dulu berada di sini bersamaku, saat ini."
__ADS_1