
Jika ditanya siapa yang paling peka dengan kondisi Aira, dia adalah Aditya. Aditya sudah mendengar perihal fitnah yang menimpa Aira, karena pamannya kebetulan ada di tempat kejadian saat ayah Aira di hadang oleh ibu Icha.
"Aira, apa kamu baik-baik saja. Kenapa tidak jawab teleponku, bahkan pesanku kamu abaikan...?!"
Sementara orang yang dia pikirkan saat ini sedang membaca chat satu persatu. Tidak ada pesan lain yang dia balas, kecuali pesan dari Aditya.
Adit :
Aira jawab aku, kamu baik-baik saja??? Kamu boleh tidak jawab panggilanku, tapi setidaknya balaslah pesanku!! Aku sangat mengkhawatirmu Raaa!!!
Aira :
Aku baik, Dit.
Adit :
Aku akan bantu untuk meluruskan semuanya.
Aira :
Tidak perlu
Adit :
Setelah mereka memfitnahmu, dan membuat ayahmu marah padamu???!! Itu keterlaluan, Raaa!!
Aira :
Aku nggak apa-apa. Sungguh.
Adit :
Kamu orang baik Aira. Mereka sungguh sangat jahat, tega sekali melakukan ini sama kamu.
Siapa sangka malam itu Aditya mengunjungi tempat jualan ayah Aira bersama kekasihnya, Putri.
"Pakde, nasi dua makan sini." katanya.
"Siap. Minumnya apa?" tanya ayah.
"Jeruk hangat satu, es teh manis satu." jawab Aditya.
Aditya masih memperhatikan setiap pergerakan Aira. Dia melihat lengan baju Aira yang tertarik saat mengambil sesuatu di laci atas. Meskipun samar tapi Aditya yakin yang dia lihat adalah luka. Bukan hanya sebuah luka, tapi banyak. Dan ada bagian yang ditempeli plester.
"Ra, tolong buatkan jeruk hangat dan es teh!" seru ayahnya.
Tak lama kemudian Aira datang membawa minuman pesanan Aditya.
"Silakan..." ujar Aira sambil tersenyum.
"Terimakasih, Ra." balas Putri.
"Kalian ini masa malam mingguannya di sini sih. Kurang keren tau...!!" gurau Aira.
"Dia maunya makan nasi goreng ayah kamu." sahut Aditya.
"Oh iya?!" Aira menatap Putri sambil tersenyum.
"Lama nggak makan di sini, jadinya pengen." ujar Putri.
"Sering-sering saja, Put. Kamu juga bisa hubungi aku, nanti langsung aku antar ke rumah kamu." Aira mengangkat kedua jempolnya.
"Buat Putri saja nih?" sahut Aditya.
__ADS_1
"Layanan khusus cewek ya. Nggak berlaku buat cowok." timpal Aira.
"Dengar kan. Khusus cewek..." kata Putri.
"Aku ambil pesanan kalian dulu ya." Aira kemudian menghampiri ayahnya.
"Bagaimana bisa anak semanis itu digosipkan yang tidak-tidak ya...?" gumam Putri.
"Sudah jangan dibahas. Kasihan Aira."
"He'em. Kamu benar, Dit." Putri mengangguk patuh.
"Kenapa dia bisa terluka seperti itu?" batin Aditya.
Sebenarnya malam itu Aditya ingin mengajak Putri pergi ke tempat lain. Tapi tiba-tiba Putri ingin makan nasi goreng ayah Aira. Aditya pun tidak bisa menolak. Karena dia juga ingin memastikan kondisi Aira yang selalu mengaku dirinya baik-baik saja.
......................
Langit tampak sangat cerah dan matahari belum seberapa terik, ketika Aira pergi ke rumah kakek Mail. Aira mengayuh sepeda untuk menuju ke sana. Dia seolah menutup mata dari pandangan orang-orang yang tidak menyukainya. Tetap abai meskipun hati masih terasa sangat sakit.
"Aira...!!!" seru Ninik saat mereka berpapasan di jalan.
Aira menarik rem sepedanya, lalu berhenti di depan Ninik.
"Mau kemana?" tanya Ninik yang baru saja selesai berbelanja.
"Ke tempat kakek. Borong nih..." Aira melirik kantong plastik yang dibawa Ninik.
"Ah, tidak. Hanya bumbu dapur." kata Ninik. "Sekarang kenapa jarang kumpul? Kamu pasti tidak nyaman ya dengan kabar itu?"
Aira menundukkan kepalanya sejenak, menatap isi dalam keranjang sepedanya. Ninik mengusap lembut tangannya.
"Apapun yang mereka katakan, aku percaya kok sama kamu. Kamu jangan terlalu memikirkan itu ya." tutur Ninik.
"Jangan khawatir, aku baik-baik saja. Aku harus segera pergi. Kakek sudah menungguku. Byee..." Aira melambaikan tangannya sebelum kembali mengayuh sepeda.
"Kakeeek...!!" seru Aira saat melihat kakek memotong pohon tebu.
"Kamu datang. Mau tebu?" begitu kata kakek.
"Apa itu manis?" tanya Aira sambil mengambil barangnya di keranjang.
"Kakek pikir ini tidak semanis kamu." kakek mulai berkelakar. Aira hanya tersenyum.
Aira menaruh rantang berisi sayur di teras rumah panggung sang kakek. Lalu menghampiri kakek.
"Ini coba rasa." kakek memberikan potongan tebu yang sudah dikupas. "Manis?"
"Eeemmm, manis." Aira menganggukkan kepalanya.
"Habis manisnya, sepahnya dibuang. Tapi tebu tetaplah tebu yang menghasilkan rasa manis dalam setiap kehidupannya." ujar kakek Mail.
Aira teringat ucapan Rangga kala itu.
"Kita ini bagimu cuma tebu sekarang. Habis manis sepah dibuang. Setelah kenal kita, akhirnya kamu bertemu tambatan hati dan melupakan kita."
"Padahal aku nggak pernah seperti itu." batin Aira.
"Dan siapa tambatan hati yang dia maksud??? Apa itu Ryan??? Apa karena dia sering menungguku ngajar les dan mengantarku pulang?"
"Kenapa cuma dia yang sering protes. Yang lain biasa saja. Apa karena sikapnya itu, Icha berpikir dia berpaling padaku??"
"Ya Tuhaaan...!!! Rumit sekali terlibat masalah perasaan dengan mereka. Bahkan melibatkan orang tuaku dan memancing amarah ayahku. Padahal aku tidak memiliki perasaan apapun pada Rangga."
__ADS_1
"Kok melamun?!" kakek mengejutkan Aira.
"Ah, kakek. Enggak kok. Lagi menikmati manisnya tebu saja." bual si Aira.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya kakek Mail.
"Tidak ada, kakek..." balas Aira.
"Ingat Aira, rumit tidaknya sebuah masalah tergantung bagaimana cara kita menyikapinya. Semua yang hidup pasti memiliki masalah. Jadi tidak perlu merasa paling bermasalah." tutur si kakek.
"Iya, kek." Aira membalas dengan anggukan kecil.
Percayalah, kalau anggukan Aira hanya sebatas untuk menghargai lawan bicaranya. Sejatinya dia masih sangat terganggu dengan apa yang menimpanya saat ini. Dia bukanlah orang yang mudah menyepelekan sebuah masalah. Dia sangat pemikir dan mudah terbawa suasana. Tujuannya datang ke rumah panggung kakek Mail yang sebenarnya adalah untuk mencari ketenangan. Sejenak membebaskan hati dan otaknya dari semua yang terjadi belakangan ini
Kini Aira sedang duduk di atas tangga batu menikmati suasana yang begitu tenang di sana. Tapi ketenangan itu kemudian terusik karena getaran ponsel di atas buku novel yang dia bawa.
"Adit..."
Aira menerima panggilan telepon dari Aditya. Tanpa ragu dia menerimanya.
"Sedang apa?"
"Nggak ada. Lagi menemani kakek saja."
"Kenapa tidak balas pesanku lagi? Kamu tidak mau cerita kenapa tanganmu terluka?"
Spontan Aira mengusap lembut lengan kirinya.
"Tidak semua hal harus diceritakan bukan. Yang pasti aku baik-baik saja."
"Sungguh?!"
"Iya, Dit. I'm fine."
"Mungkin memang aku yang terlalu bodoh karena mengkhawatirkan cewek kuat sepertimu."
"Hahahaaa, bisa saja kamu."
"Aku dengar dari Ryan kamu tidak lagi ngajar les di rumah Bima. Kenapa?"
"Aku hanya mau ngajar di rumahku. Eh, salah. Rumah kontrakan orang tuaku."
"Hahahaaa..., sekarang itu rumahmu juga. Kan pakde yang sewa."
"Kamu nggak takut Putri marah, karena sering telepon aku?" cibir Aira.
"Atas dasar apa dia marah? Aku hanya menelepon temanku apa itu salah?"
"Aku hanya khawatir..." Aira teringat kembali soal Rangga dan Icha.
"Bagaimana kalau dia marah dan menganggapku merebut perhatian kamu."
"Aira..., jangan samakan Putriku dengan mereka. Dia tau bagaimana hubungan kita."
"Bagaimana dengan orang tuanya dan orang tuamu? Pasti mereka sudah mendengar semuanya." tak terasa air mata Aira menetes begitu saja membasahi pipinya.
"Aira, dari semua kalimat yang kamu ucapkan, aku tau sekali kamu sedang tidak baik-baik saja. Aku akan menemuimu bersama Putri."
"Aku nggak apa-apa, Dit. Jangan khawatirkan aku seperti itu." pinta Aira.
Tut... Tut... Tut...
Aira memutuskan sambungan secara sepihak. Dia menekuk kedua lututnya, lalu menenggelamkan wajahnya di sana. Menumpahkan segala kesedihannya dalam tangisan tanpa suara yang begitu menyakitkan.
__ADS_1
......................
"Aku tidak pernah menyangka akan seperti ini rasanya. Saakiiiit....!!!!"