Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
Aira_1


__ADS_3

Hari itu adalah hari terakhirku bekerja. Sebelum pulang aku berpamitan pada teman-teman di sana. Meski belum terlalu lama bersama mereka, rasa sedih itu tetaplah ada. Karena perpisahan akan selalu beriringan dengan kesedihan.


Aku menuju parkiran, rupanya Ryan sudah menungguku sambil duduk santai di atas motornya.


"Mau langsung pulang? Atau mau kemana gitu?" tanya Ryan sambil memasangkan helm untukku.


Sebenarnya aku bisa melakukannya sendiri. Tapi sejak awal memang Ryan tidak pernah membiarkan aku melakukannya. Dan aku hanya bisa mengiyakan saja. Sama sekali tidak bisa menolak. Konyol...!!😄


"Kamu mau pergi?" tanyaku.


Karena aku tahu ada sesuatu di balik pertanyaan basa-basi yang dia utarakan. Aku merasa dia pun merasakan sesuatu di hatinya, yang mungkin sama dengan apa yang aku rasakan saat ini. Tapi aku tidak bisa pergi begitu saja. Orang tuaku pasti mengkhawatirkan aku.


Akhirnya aku memilih pulang terlebih dulu, dan minta izin pada orang tuaku. Setelah aku membersihkan diri dan berganti pakaian, aku pergi bersama Ryan.


Saat melintasi jembatan besar itu, aku teringat pada hari pertama aku menginjakkan kakiku di kampung itu. Ku pandangi setiap sudutnya, ku beri salam pada orang-orang yang aku kenal meski dengan senyuman. Hingga motor Ryan memasuki pekarangan rumahnya.


Aku menunggu Ryan yang sedang sibuk dengan urusannya di dalam. Karena ibunya sedang tidak di rumah, aku hanya duduk di teras. Tidak mungkin aku masuk begitu saja. Sangat tidak sopan.


"Aira...!!!"


Ibu baru datang sambil membawa dua kantong plastik. Aku rasa ibu pasti habis beli jajanan di bawah sana. Di bawah sana terdapat sungai kecil, dan di tepi sungai itu setiap sore banyak orang jualan makanan. Di situlah tempat jajanan yang pertama kali aku datangi bersama ibuku.


"Ayo masuk!" ajak ibu sambil merangkul pundakku.


"Tidak bu, di sini saja." kataku.


"Baiklah."


"Ibu dari mana?" rupanya Ryan sudah selesai.


"Beli lauk. Ibu tidak masak tadi." kata ibu.


"Bu, aku pergi sama Aira dulu ya." pamit Ryan.


"Mau kemana? Ibu belum ngobrol sama Aira."


Aku tidak bisa berkata apa-apa, hanya diam. Sesekali tersenyum saat ibu menatapku.


"Bukannya Aira akan kembali. Ibu ingin ngobrol banyak hal dengannya."


Ryan menatapku, seolah bertanya 'bagaimana?'


"Kita bisa pergi bentar lagi. Aku juga mau ngobrol sama ibu." kataku.


Ryan meninggalkan kami berdua di teras rumah. Mungkin dia ingin memberi ruang pada kami agar bisa lebih santai.


"Kapan berangkat?" tanya ibu.


"Lusa, bu. Penerbangan pagi." kataku.

__ADS_1


Ibu meraih tanganku, mengusapnya dengan lembut.


"Hati-hati. Jaga diri baik-baik. Jangan lupa tetap jaga silaturahmi. Bukannya kamu sudah bersedia jadi putri ibu waktu itu." ibu tersenyum padaku.


"Iya bu." aku pun membalas senyuman tulus itu.


"Maafkan Aira kalau ada salah ya, bu..."


"Ibu juga ya..." katanya. "Sini ibu peluk..."


Aku tenggelam dalam pelukan ibu. Hingga pundakku terasa basah, ibu menangis. Aku yang cengeng pun, ikut menangis saat itu.


"Aira sayang ibu..."


"Ibu juga menyayangimu, nak..."


Entah berapa lama kami menangis dalam pelukan. Hingga deheman Ryan membuat tautan kami terurai. Aku dan ibu sama-sama tersenyum sambil menghapus air mata. Setelah merasa lebih tenang, aku dan Ryan pun pamit.


......................


Singkatnya Ryan membawaku ke kafe di atas bukit. Dan bukan hanya kami berdua. Ternyata Aditya dan yang lain juga sudah di sana.


Di tengah obrolan, aku memandangi wajah mereka satu persatu. Mereka yang selalu ada bersamaku, menemaniku. Dan akan aku tinggalkan sebentar lagi. Sungguh berat sekali.


Ryan menggengam tanganku. Aku menggelengkan kepala dengan pelan. Sebagai isyarat bahwa aku baik-baik saja.


"Sunsetnya indah, coba lihat...!!" seru Ninik.


"Apa bisa kita bertemu lagi setelah ini?" ujar Ryan ketika semua sedang terpukau dengan keindahan sunset.


Tidak hanya aku, teman yang lain pun mengalihkan pandangan mereka pada Ryan yang ada di samping kiriku.


"Aku harap bisa." jawabku yang memang sungguh menginginkan pertemuan dan kebersamaan itu selalu ada


"Jangan lupakan kita ya, Ra..." Ninik yang ada di sampingku tiba-tiba memelukku.


"Aku malah takut kalian yang akan melupakanku." celetukku.


Aku memang takut akan hal itu. Setelah aku pergi, mungkin mereka tidak lagi peduli padaku dan lambat laun mereka pasti melupakanku. Lalu aku?...


"Kalau saja bisa, kita pasti akan menahan kepergianmu, Ra." ujar Aditya kemudian.


Kalimat yang diucapkan Aditya itu mendapatkan anggukan dari teman lainnya.


"Aku tidak punya pilihan. Maafkan aku..." aku berusaha keras menahan air mata yang selalu saja ingin lolos dari mataku. Tapi aku tidak bisa. Kadang aku merutuki diriku sendiri, kenapa aku begitu cengeng?!...😞


"Airaaa..." Putri dan Ninik memelukku lagi saat melihatku menangis.


Langit semakin gelap, lampu di setiap penjuru kafe sudah dinyalakan. Setelah melakukan ibadah maghrib, kami memutuskan untuk pulang. Agar tidak terlalu larut sampai di rumah.

__ADS_1


"Pakai jaketnya, ini dingin sekali." kata Ryan.


Aku menunjukkan jaketku yang basah karena terjatuh saat mengambil wudhu.


"Ceroboh..." Ryan memites hidungku, tapi tidak sakit kok. Dia tidak pernah menyakitiku.


Ryan melepaskan jaketnya, lalu memakaikannya padaku. Oversize. Aku merasa seperti sedang memakai selimut.


"Kamunya gimana?"


"Aman. Yang penting kamu jangan sampai sakit." katanya sambil memasang helmku. Setelah itu Ryan menyimpan jaketku dalam tasnya.


Ryan membawa motornya dengan sangat pelan. Dia memang tidak pernah ngebut saat memboncengku. Tapi tidak pernah juga sepelan ini. Tiba-tiba dia menarik tanganku saat tiba di lampu merah.


"Aku tidak ingin cepat sampai rumah. Maaf..." katanya.


Andai saja dia tahu, kalau aku juga tidak ingin cepat pulang. Tapi aku tidak bisa. Itu akan membuat ayah dan ibuku sangat kecewa.


"Kalau saja aku bisa membawamu pulang..."


Spontan aku tabok pundaknya, karena omongannya mulai absurd.


"Mau dicincang ayahku?!" sahutku.


"Tidaklah. Makanya aku antar kamu pulang sekarang." balasnya sambil terkekeh.


"Dasar!" kataku.


Beberapa saat kemudian kami tiba di rumah. Pintu pagar yang terbuka lebar, membuat motor Ryan bisa masuk dengan mudah.


"Assalamu'alaikum pakde..."


Ryan memberi salam pada ayah, dan mencium punggung tangan ayah. Aku pun melakukan hal yang sama.


"Waalaikumsalam." balas ayah. "Cepat sekali pulang? Sudah selesai acaranya?"


"Iya, yah." kataku.


"Masuk dulu, sepertinya bude membuat sesuatu." kata ayah.


"Maaf pakde, tapi saya langsung pamit saja. Ibu menunggu."


"Oh, baiklah. Oh ya, lusa pagi bisa minta tolong antar Aira ke bandara?!"


Aku terkejut dengan permintaan ayah. Kenapa ayah jadi minta Ryan mengantarku?...


"Tentu pakde, siap 86!"


Begitulah pembicaraan mereka sebelum Ryan pamit pulang. Ku tatap kepergiannya hingga keluar dari pintu pagar. Dan aku baru sadar, jaket miliknya masih membalut tubuhku.

__ADS_1


......................


__ADS_2