
Tidak semua yang terjadi di dunia ini sesuai ekspektasi. Semua do'a pun tidak melulu akan dikabulkan oleh Allah SWT. Karena Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan, bukan apa yang kita inginkan. Terkadang keinginan kita hanyalah sebuah kamuflase, menyamarkan kebutuhan kita yang sebenarnya.
Tak jarang sebagai manusia yang dianugerahi sebuah rasa, kita akan kecewa dan terus mengeluh atas apa yang terjadi dalam hidup kita. Bahkan dengan entengnya kita mengatakan bahwa Tuhan tidak adil.
Seperti halnya Aira. Dia selalu mengharapkan yang terbaik untuk dirinya. Tapi pada kenyataannya, dia selalu merasa tersiksa dengan jalan takdir yang harus dia lalui.
Bagaimana tidak...?!
Ketika pergi menyusul orang tuanya ke pulau asing itu, Aira dikejutkan dengan kondisi mereka yang bisa dibilang jauh dari kata baik. Kemudian dia dipertemukan dengan orang-orang yang ujungnya membuatnya dipandang sebelah mata. Dan beberapa minggu yang lalu, dia harus pergi meninggalkan sosok yang sebenarnya sudah sangat menguasai ruang di hatinya.
Sekarang...
Aira kembali mengadu nasib di ibukota. Tempat juga asing baginya. Tidak mungkin dia terus berdiam diri di rumah. Dia pergi ke kota berbekal kenekatan, dan beberapa buah berkas untuk mencari pekerjaan. Seorang diri.
Hiruk pikuk ibukota tampak sangat jauh berbeda dengan kota kecil tempat dia tinggal. Bising, bau asap kendaraan, belum lagi orang-orang yang berlalu-lalang.
Angkutan umum yang dia naiki berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan. Dia turun dan masuk melalui lobi utama. Berkeliling di dalam gedung bertingkat itu bukan untuk shopping seperti pengunjung lainnya. Dia hanya mencari lembar pengumuman yang tertempel di depan toko. Berharap ada yang membutuhkan pekerja yang sesuai dengan kriterianya.
Cukup lama dia berkeliling, tas ranselnya terasa sedikit lebih ringan. Karena beberapa dokumen dalam amplop coklat telat dia titipan pada setiap toko yang membuka lowongan pekerjaan. Dan air minumnya juga tinggal sedikit saja.
Saat menunggu bus di terminal, ponselnya berdering. Aira tersenyum saat melihat layar ponselnya.
"Hai..."
"Lagi apa?"
"Lagi menunggu bus nih di terminal."
"Mau kemana?"
"Mau pulanglah. Aku habis cari kerjaan."
"Pakai naik bus segala, jauhkah?"
"Lumayan, dua jaman. Kalau nggak macet."
"Sejauh itu...?! Sama siapa?!"
Aira tersenyum saat mendengar nada suara yang penuh dengan kecemasan itu. Dan dia bisa membayangkan bagaimana ekspresi wajah Ryan di seberang sana.
"Yang pasti tidak sama kamu." Aira sedikit terkekeh.
"Ra..., aku tanya serius...! Kamu pergi sejauh itu sama siapa? Jangan bilang kalau kamu sendirian."
"Ya memang sendiri. Memangnya di sana, kemana-mana kamu yang kawal."
"Lain kali jangan pergi sendiri. Kalau kenapa-kenapa bagaimana?"
"Makanya do'a yang baik-baik buat aku."
Bus yang akan dinaiki Aira sudah tiba. Dia beranjak dari bangkunya.
"Busnya datang. Nanti lagi ya teleponnya. Lanjut chat saja."
"Oke, hati-hati."
......................
__ADS_1
Sudah berhari-hari tidak ada konfirmasi atas surat lamaran yang dia titipkan. Aira mulai putus asa.
"Susah ya, kalau di sana kenapa cepat sekali aku dapat kerjanya." umpat Aira dalam hati.
"Kenapa gelisah sekali?" tanya nenek Aira.
"Belum dapat panggilan, nek." jawabnya sambil memutar ponselnya yang ada di atas meja.
"Sabar. Berarti belum rejeki." ujar sang nenek. "Terus berdo'a ya."
"Iya, nek."
Menjelang siang Aira mendapat panggilan dari nomor asing. Rupanya itu adalah panggilan interview.
Keesokan harinya pun Aira berangkat lagi ke kota. Dia mengenakan setelan kemeja putih dan celana bahan hitam sesuai persyaratan yang disampaikan si penelepon kemarin. Tak lupa sepatu fantofelnya.
"Ini akan ribet kalau naik bus." gumamnya. "Oh, aku pakai kets saja dulu. Nanti ganti di sana." putusnya.
"Lama sekali, kakakmu menunggu itu." tegur nenek.
Kakak yang dimaksud nenek adalah Yusuf. Dia adalah kakak sepupu Aira. Nenek sengaja minta tolong Yusuf, untuk mengantar Aira sampai terminal.
"Hati-hati ya, kalau ada apa-apa telepon kakak." ujar Yusuf sebelum Aira naik bus.
"Siap, kak!" balas Aira.
Bus yang full penumpang itu segera melaju kencang menuju ke kota. Aira terus berdo'a agar semua berjalan lancar.
"*Semoga aku diterima. Meski kata orang gajinya kecil, setidaknya aku punya pekerjaan. Biar tidak dibilang pengangguran. Apalagi teman-teman yang kuliah. Mereka lihat aku seperti seongok sampah tidak berguna. Kayak mereka kuliah pakai biaya sendiri saja, bangganya tidak ukur."
Aira memang kerap dipandang sebelah mata. Latar belakang keluarganya yang biasa saja, tidak dapat melanjutkan kuliah, ditambah tidak memiliki pekerjaan. Seolah menjadi bahan ghibah paling utama di kalangan para tetangga.
Kesal??!... Jangan ditanya lagi. Kadang dia protes kenapa nasibnya tidak seperti temannya yang lain. Tapi setelah dia melihat bagaimana kerja keras orang tuanya dan hidup bersama mereka. Dia mulai bisa sedikit mengurangi kebiasaannya yang suka mengeluh akan jalan hidupnya.
......................
Sepertinya kali ini pintu rejekinya terbuka lebar. Karena setelah interview, Aira langsung mendapat surat kontrak selama 1 tahun. Dia bekerja sebagai SPG sesuai pengalamannya yang tercantum dalam CV.
"Kalau butuh tempat kos, tunggu di luar sebentar. Aku akan menemuimu nanti." kata Mega.
Mega adalah supervisor di counter kosmetik tempatnya bekerja.
"Dua puluh menitan kayaknya, aku lanjut memeriksa laporan sebentar." sambungnya.
"Aku tunggu di luar ya, kak."
"Oke. Jangan jauh-jauh nanti nyasar." ujarnya.
"Iya, kak."
Aira memutuskan untuk melihat-lihat di sekitar counter, sambil menunggu Mega keluar. Belum sampai 20 menit, Mega sudah menemui Aira.
Karena Mega sedang mendapat giliran beristirahat, dia mengajak Aira pergi ke foodcourt.
"Jadi bagaimana? Mau ngekos? Atau barang kali ada saudara di sekitar sini, dan tinggal bersama mereka." ujar Mega.
"Pastinya kos sih, kak. Tidak ada saudara di sini." kata Aira dengan jujur.
__ADS_1
"Di kosanku masih ada kuota. Salah satunya di kamarku. Temanku nikah, jadi dia sekarang sama suaminya." terang si Mega setelah mengunyah makanannya.
"Perbulan berapa kak?" tanya Aira.
Tentu saja dia harus memperhitungkan semuanya dengan matang. Uang kos, uang makan, kebutuhan lainnya juga.
"Aman, Aira. Kosku termasuk murah kok. Free uang listrik dan air. Kita juga bisa masak. Jadi tidak terlalu boros."
"Khusus cewek kan?" tanya Aira lagi.
"Iya, dong. Aman, tertutup rapat, pakai pagar tinggi. Dekat pula. Kita bisa jalan kaki."
Aira merasa tidak ada pilihan lain. Dia tidak mengenal siapa-siapa di sana. Jadi dia memutuskan untuk mengikuti saran Mega.
Malamnya Aira mulai mengemasi barangnya. Dia tidak membawa banyak, secukupnya saja. Dia belum tahu bagaimana kondisi di kosan Mega. Dia belum sempat melihatnya, karena Mega harus segera kembali bekerja. Aira pun takut kalau pulang terlalu malam.
Malam itu Aira di temani oleh Ryan, tentu saja lewat chat. Karena Aira tidak berani menerima telepon dari Ryan ketika kakek dan neneknya di rumah.
Ryan :
Jadi kamu akan kos?!
Aira :
Begitulah
Ryan :
Apa lingkungannya aman?
Aira :
Kak Mega bilang aman kok. Tapi kalau ternyata tak senyaman itu, aku akan cari tempat lain yang lebih baik.
Ryan :
Memang tidak ada pekerjaan yang dekat dengan rumah?
Aira :
Kalau ada, aku tidak akan sampai di sana. Aku sudah coba titip lamaran, tapi nihil.
Ryan :
Kirimi aku alamat kerja dan kos kamu ya
Aira :
Buat apa?
Ryan :
Kali saja aku mau kirim-kirim paket 😄😄
......................
"Seperti mulai segalanya dari nol lagi. Kembali bekerja di bidang yang sama, dengan tempat dan orang yang berbeda. Semoga semua berjalan dengan baik. Bismillah..."
__ADS_1