
Aku melihat Aira memperhatikan teman-teman yang sedang bercanda. Mata itu menyiratkan kegelisahan. Ku genggam tangan kirinya yang sedang mencengkeram unjung bajunya. Berharap dia merasa lebih tenang. Dia menggelengkan kepalanya, seperti ingin mengatakan kalau dia baik-baik saja. Tapi cara dia mengulas senyuman cukup bisa menunjukkan kalau dia sedang berbohong. Karena senyuman itu sangat hambar. Tak semanis biasanya.
Tak lama setelah itu, semua tertarik untuk melihat sunset yang terlihat jelas dari kafe. Dan saat semua sedang menikmati lukisan alam yang indah itu, aku jadi memikirkan Aira. Ku lihat sosok perempuan yang berada di sampingku, dia sedang melihat langit senja seperti yang lainnya. Siapa sangka tak lama lagi dia akan meninggalkanku.
Jujur, hal itu membuatku kacau. Bahkan ini lebih parah jika dibandingkan dengan saat dimana Tiara meninggalkanku dan memilih bersama Gio. Aku merasa menjadi pecundang, karena aku tidak bisa mempertahankan orang yang sangat berarti dalam hidupku.
Jangan pernah katakan aku tidak mau berjuang. Apa lagi menyerah sebelum perang. Aku sudah berjuang meluluhkan hatinya, dan aku sangat yakin aku berhasil dalam hal itu. Hanya saja dia dan aku tidak bisa melangkah lebih jauh lagi. Dia milik orang tuanya. Dan orang tuanya menerapkan sebuah batasan. Sehingga kami tidak bisa menjalin hubungan lebih serius lagi.
Kalau saja aku mau egois, mungkin saat ini aku akan membawanya lari. Sehingga dia tidak bisa bertemu keluarganya lagi, apalagi pergi meninggalkanku. Tapi aku selalu ingat nasihat ibu. 'Apapun yang aku lakukan akan sia-sia kalau tidak mendapat restu orang tuaku. Apalagi ibuku.' Terlebih untuk yang berhubungan dengan Aira.
Iya, si pendatang yang membawa banyak cinta pada semua orang itu membuatku ibuku jatuh hati. Ibu sangat menghargai Aira dan keluarganya. Ibu melarang keras, aku melangkah tanpa restu darinya dan orang tua Aira. Kata ibu, jika Allah menakdirkan kami berjodoh, maka tidak akan ada yang bisa memisahkan kami.
......................
Setelah sholat maghrib, kami bersiap untuk pulang. Aku juga sudah janji pada orang tua Aira, kalau tidak akan pulang terlalu malam.
Aira keluar menenteng jaketnya. Lebih tepatnya outer. Karena bahannya tak setebal jaket pada umumnya. Aku sangat yakin, itu tak akan mampu melindunginya dari suhu dingin malam ini. Rupanya outer itu basah. Dia tidak bisa memakainya. Sehingga aku memberikan jaketku untuk dia pakai.
"Yang penting kamu jangan sampai sakit."
Aira tampak makin mungil dan lucu saat memakai jaket itu. Tapi tetap saja terlihat cantik. Oh Tuhan..., kenapa Engkau ciptakan makhluk semenggemaskan ini sih?!... Kan jadinya ingin bawa pulang dan simpan di lemari biar tidak diambil orang.
"Duluan ya." kata Aditya. "Ingat, langsung pulang!" ujarnya.
"Oke, kita nyusul di belakang." kataku.
Aku memang tidak pernah ngebut saat bersama Aira. Tapi untuk kali ini, aku benar-benar pelan mengendarai motorku. Karena aku ingin lebih lama bersamanya.
Sebelum sampai di tikungan terakhir menuju rumah Aira. Aku ajak dia mampir untuk membeli coklat hangat kesukaannya. Juga sedikit oleh-oleh untuk orang rumah.
"Aira..., boleh aku tanya sesuatu?"
"Apa?"
"Apa ada sesuatu yang ingin kamu lakukan sebelum pergi?"
"Apa ya...?"
__ADS_1
"Katakan saja!"
Melihat Aira yang sedang berpikir, membuatku semakin penasaran. Kira-kira apa? Dan apa aku bisa mengabulkannya?...
"Tidak ada."
Jawaban yang benar-benar di luar dugaanku. Sebegitu gampangnya dia mengatakan itu.
"Lihat aku!" katanya sambil menatapku.
Mata yang indah itu seolah menghipnotisku. Menuntunku untuk menatapnya lebih dalam lagi, dan mencari tahu ada apa di dalam sana. Bahagiakah dia saat ini? Apakah masih merasa sedih? Atau ada hal lain yang ingin dia katakan?...
"Katakan sesuatu." ujarnya lagi.
Apa yang harus aku katakan, Aira?... Apa yang sebenarnya ingin kamu dengar dariku?... Aku benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa. Karena aku takut kalau ucapanku nantinya justru membuatnya sedih.
"Katakan apa yang kamu rasakan saat ini?!" katanya lagi.
"Yang aku rasakan..." aku menarik nafas sebelum kembali berbicara. "Kamu tahu aku belum bisa menerima semua ini, Aira."
"Tiba-tiba kamu datang, membuat segalanya berubah. Membuatku sangat tergantung padamu. Aku mulai menyukaimu, mungkin juga sudah jatuh cinta terlalu dalam padamu. Tapi sekarang kamu akan pergi meninggalkanku dan kebersamaan kita. Kamu bertanya apa yang aku rasakan?... Ini lebih sakit dari yang aku rasakan sebelumnya. Saat Tiara meninggalkanku."
Tiba-tiba Aira mengusap punggung tanganku. Membuat perasaanku lebih tenang.
"Kamulah satu-satunya alasan yang membuatku ingin tinggal lebih lama di sini. Tapi maaf. Aku tidak bisa." Aira menundukkan kepalanya.
"Maaf membuatmu sedih lagi." kataku.
"Permisi, kak. Ini sudah selesai."
"Iya, terimakasih."
Kami tidak melanjutkan pembicaraan itu lagi. Karena pesananku sudah jadi, dan aku harus segera mengantar Aira pulang.
"Jika Allah menghendaki kita bersama. Maka tidak akan ada yang bisa memisahkan kita." aku menjiplak kalimat yang sering ibu ucapkan.
Aira tersenyum, aku colek hidungnya karena dia sangat mengemaskan ketika tersenyum.
__ADS_1
"Kita berdo'a saja yang terbaik untuk hubungan kita. Oke?!"
Aira pun menganggukkan kepalanya.
"Naik, kita harus segera pulang. Karena aku tidak mau dicincang sama ayahmu." gurauku.
......................
Akhirnya aku sampai di rumah. Ku rebahkan tubuh lelahku setelah memberikan oleh-oleh pada ibu. Baru sebentar, aku kembali bangun. Ku ambil ponsel di kantong celanaku. Lalu mengirim pesan pada Aira.
Aku :
Bawa saja jaketku bersamamu. Itu akan menemanimu ketika di sana nanti kamu merindukanku😉
Aku pun membuka tasku, mengeluarkan outer milik Aira. Dengan atau tanpa izinnya, aku akan menyimpan ini bersamaku juga.
Aira :
Kalau aku ingin orangnya yang datang?!...
Anak ini kadang-kadang meresahkan juga.
Aku :
Bagaimana kalau aku pergi saja bersamamu?... Bukannya ayahmu ingin pendampingmu di masa depan adalah orang yang bersedia mengikutimu dan keluargamu kembali ke kampungmu
Aira :
Lalu kamu meninggalkan ibu sendirian, begitu?...
Aku :
😪😪😪 sulitnya menggapaimu
Aira :
Memilih untuk bersamamu juga sangat sulit 😣😖😫😭
__ADS_1
Benar kata ibu, manusia hanya bisa menjalankan perannya sesuai skenario yang ditulis Allah. Selebihnya adalah urusan Allah. Dan aku hanya bisa pasrah. Jika dia tercipta untukku. Maka dia hanya akan menjadi milikku. Bukan yang lain.
Tapi Tuhan..., apakah aku boleh sedikit memaksa. Aku ingin Airaku. Aira yang ini. Bukan Aira yang lain. Kau pasti tahu kalau ibuku juga sangat menyukainya. Ibu menyayanginya seperti anaknya sendiri. Bukankah itu pertanda baik?... Kita akan jadi pasangan yang cocok di masa depan. Aku mohon ya Allah...!! Semoga Engkau tidak marah karena aku terlalu lancang bernego. Maafkan aku. Aku sungguh tidak siap jauh darinya😭🙏