
"Sini kamu!!!" Gio menarik tangan Tiara yang baru keluar dari mobil.
"Apaan sih?!" Tiara menghentakkan tangannya cukup keras. Tidak terima dengan perlakuan Gio padanya.
"Mau apa kamu kemari, hah?!" sangat jelas terlihat kalau Gio tidak menyukai keberadaan Tiara saat ini.
Saat ini mereka sedang berada di pinggir jalan raya. Yang mana tidak jauh dari jalan itu terdapat lapangan sepak bola khas perkampungan. Dengan rumput hijau yang tumbuh subur tanpa perlu perawatan khusus.
Sore ini ada pertandingan persahabatan. Tim Aditya melawan tim kampung sebelah. Bukan tim Gio. Tapi Gio sengaja datang karena mendapat kabar dari Aditya.
"Bukan urusan kamu ya." ujar Tiara.
"Jadi urusanku, karena kedatanganmu jelas untuk melihat Ryan. Iya kan?!" sentak Gio.
"Baguslah sudah tahu. Awas!" Tiara hendak pergi, tapi Gio menahannya.
"Apa yang kamu harapkan?" tanya Gio. "Tidak ada, Tiara. Ryan tidak akan menerimamu lagi. Siapapun belum tentu mau menerimamu. Kecuali aku!" tandasnya.
Tiara mengerti maksud dari ucapan Gio. Dia menghembuskan nafas panjang, menyadari bahwa dirinya tidak berharga lagi.
"Kamu penyebabnya Gio..." ucapnya lirih.
"Kita sama-sama menginginkannya waktu itu." ralat Gio. Dia tidak terima dijadikan tersangka utamanya. Karena semua berdasarkan suka sama suka.
Tiara melangkah mundur hingga dia menjatuhkan punggungnya pada pagar tembok yang catnya sudah memudar. Dia menitihkan air mata.
"Aku tidak pernah menyesal menyukaimu Tiara. Aku hanya menyesal karena kita melangkah terlalu cepat. Percayalah, aku mencintaimu. Aku sungguh menginginkanmu." ujar Gio dengan penuh kesungguhan hati.
"Kamu hanya menginginkan calon anakmu! Bukan aku! Dan juga melampiaskan dendammu, iya kan?!!" bentak Tiara.
"Awalnya iya. Tapi sekarang tidak. Percayalah! Kembalilah padaku! Aku mohon...!!!" Gio memohon sambil mengecup punggung tangan Tiara.
"Berhentilah mengejar Ryan. Aku bisa memberikan segalanya untukmu. Aku janji!"
"Aku tidak butuh kata-kata manis. Aku cuma butuh bukti." balas Tiara pada akhirnya.
"Aku akan menikahimu secepatnya!" tegas Gio penuh percaya diri.
Tanpa mereka sadari, tak jauh dari posisi mereka saat ini, ada Ryan dan Aira yang baru datang. Bahkan mereka masih memakai seragam kerja.
"Buktikan!" tantang Tiara.
"Serius...??!" Gio sangat senang. "Terimakasih, Tiara...!!!" Gio memeluk Tiara dengan erat.
"Ekhm!!!" Ryan tiba-tiba berdehem.
Dua sejoli itu panik dan saling menjauh.
"Tidak di sini juga kali..." ujar Ryan.
Tiara tampak tersipu, sedangkan Gio mengusap lehernya salah tingkah.
Aira melihat sorot mata Ryan yang lebih bersahabat. Jauh berbeda dengan sorot mata saat terakhir Ryan bertemu Gio.
"Apa aku melewatkan sesuatu?" gumam Aira lirih, tapi Ryan bisa mendengarnya.
"Jangan banyak tanya, ya...!" Ryan tersenyum sambil mencolek hidung mungil Aira.
"Iihh...!!"
Pemandangan yang sangat langka tampak di tepi lapangan. Dimana Ryan dan Gio berjalan beriringan. Di belakang mereka ada Aira bersama Tiara yang terlihat menikmati topik yang sedang mereka bicarakan.
"Wooooiih, man...!!" semua saling sapa dan berpelukan ala lelaki sejati.
Sementara Aira langsung duduk bersama Tiara beralaskan rumput.
"Bagaimana mereka bisa seakrab itu? Terakhir ketemu sudah kayak mau perang." gerutu Aira.
"Aku juga tidak tahu." balas Tiara.
Aira melihat Ryan mengambil topinya, lalu menepuk pundak Gio. Ryan kemudian berjalan santai menuju ke arah Aira.
"Kenapa?" tanya Aira penasaran.
Ryan tidak menjawab pertanyaan Aira. Dia hanya memakaikan topi di atas kepala Aira. Lalu merapikan anak rambut Aira yang sedikit berantakan.
"Jangan kepanasan." ujarnya.
"Terimakasih..." Aira tersenyum.
"Ciiieeh..." Tiara menyenggol bahu Aira.
"Biasa saja." balas Aira.
"Terimakasih selalu care sama aku." batin Aira.
"Pasang tenda lain kali, woih...!!" seru temannya menggoda.
"Aku panas hati pasang apa dong...??!" sahut yang lain.
__ADS_1
"Pasang cincin di jari manisku, sayang...!!" ujar yang lain lagi.
Aditya dan Gio hanya tertawa melihat teman-temannya. Tapi tidak dengan Rangga. Dia terlihat cuek, tidak peduli dengan apapun di hadapannya. Dia hanya fokus dengan pemanasan yang sedang dia lakukan.
......................
Beberapa minggu kemudian...
Gio membuktikan ucapannya. Dia melamar Tiara beberapa waktu lalu, dan hari ini mereka menggelar resepsi pernikahan.
"Selamat ya..." Aira mencium pipi Tiara.
"Terimakasih." balas Tiara.
"Segera nyusul." sahut Gio. Aira hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Selamat, bro...!!" Ryan menepuk pundak Gio.
"Thanks. Kapan nih?" Gio melirik Aira yang sudah bergabung dengan Putri dan Ninik.
"Kalau tiba jodohnya." balas Ryan asal.
"Semoga secepatnya." kata Gio.
Ryan kemudian menemui ibunya yang juga turut andil dalam pesta pernikahan Gio.
"Sudah makan?" tanya ibunya.
Ibu tahu kalau anaknya ini pulang kerja langsung datang ke acara Gio.
"Sudah tadi bu, Aira membawakan makan siang tadi." jawabnya sambil tersenyum senang.
"Jangan manja sama anak orang." tegur ibunya. "Kamu kan juga kerja di kafe, kenapa minta makanan orang." omel sang ibu.
"Orang dia yang kasih." Ryan membela diri.
"Kamunya yang cari perhatian. Pasti cerita kalau ibu sibuk di sini dan tidak menyiapkan apapun di rumah."
Iya, begitulah emak-emak kalau kekuatan indra keenamnya keluar. Mereka bisa mengetahui segala hal tanpa menunggu pengakuan sang anak.
"Ngarang sekali ibu, nih..." sangkal Ryan.
"Ryan..." itu adalah ayahnya.
"Iya ayah." balas Ryan.
"Bukan ayah. Dia Aira, teman baikku." jawab Ryan.
"Kalian tidak terlihat seperti teman. Iya kan bu?" ayah Ryan meminta pendapat dari istri keduanya. Ibu Ryan hanya menjawab dengan senyuman.
"Bawa kemari, perkenalkan pada ayah dan ibumu." titah sang ayah.
"Yah, Aira itu pemalu. Dia pasti canggung apalagi banyak orang." kata ibu. "Ayah fokus sama tamu undangan ayah saja. Kasihan anak orang nanti merasa tidak nyaman."
"Kamu benar."
Ryan merasa lega. Dia kemudian pamit pada orang tuanya untuk menemui Aira dan temannya yang lain.
"Ah, itu Ryan!" kata Putri.
"Ada apa?" tanya Ryan setelah mendekat.
"Kamar mandi sebelah mana?" tanya Aira pelan.
"Oh, ayo aku antar." katanya. "Nik, ikut kita!"
"Heleeeh..." dengus Ninik. "Berdua saja kenapa?!" gerutunya.
"Ayooo...!" Aira menggandeng paksa tangan Ninik.
Ryan hanya menunjukkan tempatnya, lalu dia sedikit menjauh. Sangat tidak sopan kalau dia menunggu di depan sana.
Setelah menyelesaikan ritualnya, Aira segera keluar. Di luar ternyata ada ibu Ryan yang sedang ngobrol dengan Ninik.
"Aduh..., gimana dong??!" Aira terlihat gelisah.
Ibu Ryan melihat gelagat anehnya. Lalu menghampirinya.
"Aira, kenapa?" tanya ibu Ryan dengan suara yang begitu lembut. Khas seorang ibu yang kalem, yang hatinya bak ibu peri.
"Em..., i-ini..." Aira ragu. "I-itu..." masih ragu.
Ibu Ryan melihat Aira mengusap perutnya. Lalu dia menatap mata Aira.
"Sini ikut ibu." ibu Ryan merangkul Aira, membawanya ke suatu tempat.
"Aira kenapa bu?" tanya Ryan saat melihat Aira bersama ibunya keluar dari koridor yang terhubung ke kamar mandi tamu.
"Tidak apa-apa." jawab ibu. "Tolong bawakan air hangat ke kamar ibu ya!" titah ibu Ryan.
__ADS_1
Sampai di kamar tempat ibu Ryan menginap, Aira diminta duduk dengan nyaman di atas kasur.
"Lagi dapat tamu rutin ya?" tutur ibu. Aira mengangguk.
"Istirahat dulu di sini." katanya lagi.
"Sakit, Ra?" Ninik ikutan cemas.
"Em. Biasanya nggak pernah gini sih." balas Aira yang masih memegangi perutnya.
Ryan masuk ke kamar tanpa mengetuk pintu. Dia membawa segelas air hangat seperti perintah ibunya.
"Minum dulu, nak." kata ibu Ryan.
"Terimakasih." ucap Aira setelah meminum sebagian airnya.
"Perlu ke dokter?" tanya Ryan.
"Tidak. Hanya soal kecil. Sudah, kamu pergi sana. Banyak temanmu di luar, kasihan."
"Tapi, bu. Aira gimana?" Ryan sangat mengkhawatirkan Aira.
"Biar ibu yang jagain. Ninik juga bisa pergi, temani yang lain." ibu Ryan tersenyum.
Dengan berat hati Ryan mengikuti perintah sang ibu.
"Kenapa aku ditinggal di sini sendiri?" Aira merasa tidak enak karena hanya berdua dengan ibu Ryan.
Perempuan paruh baya itu tersenyum melihat Aira, lalu duduk di tepi kasur.
"Jangan begitu. Apa ibu terlihat menakutkan?" guraunya.
"Tidak, bu. Aira nggak enak, jadi merepotkan." ujarnya.
"Tidak ada yang direpotkan." kata ibu Ryan.
"Bagaimana rasanya? Masih sakit?" tanya ibu kemudian.
"Sedikit." balas Aira.
"Kalau sakit bilang, jangan ditahan ya."
"Iya, bu. Terimakasih." Aira tersenyum.
"Cantik sekali." ibu mengusap pipi Aira. "Bagaimana mereka bisa sejahat itu sama kamu waktu tinggal di kampung? Padahal kamu anak yang baik."
"Kamu sabar sekali. Pantas saja sekarang kamu dikelilingi orang-orang baik." ibu Ryan terus saja mengungkapkan isi hatinya.
"Apa Ryan juga baik sama kamu?" tanya ibu.
"Iya, bu. Ryan sangat baik." Aira tersenyum.
"Syukurlah." kata ibu Ryan. "Main-main ke rumah ya. Jangan sungkan." pintanya.
"Iya, bu."
"Ya Allah..., gemas sekali sih. Pingin ibu cubit saja." katanya. "Boleh ibu peluk kamu?" Aira pun mengangguk.
"Ibu tahu kalian berdua saling sayang." ujar ibu sambil mengusap rambut Aira. "Tapi banyak hal yang membuat kalian tidak ingin melangkah lebih jauh. Kalian pasti tidak ingin saling menyakiti. Iya kan?"
Aira menitihkan air matanya. Dia mengangguk dalam dekapan seorang ibu dari teman baiknya.
"Yang terpenting kalian tetap saling menyayangi, dan menjaga hubungan baik. Allah lebih tahu mana yang terbaik buat kamu dan Ryan." katanya sebelum melepaskan pelukan itu.
"Terimakasih bu..." ujar Aira.
"Sama-sama, nak. Sudah jangan sedih. Nanti Ryan bisa marah sama ibu." ibu Ryan mengusap air mata Aira.
"Andai ibu punya anak perempuan seperti kamu..." katanya.
"Ibu boleh kok anggap aku sebagai putri ibu." sahut Aira yang mulai merasa nyaman.
"Aaah..., senangnya." ibu kembali memeluk Aira.
......................
"Jika ditanya kriteria, semua perempuan pasti menginginkan sosok seperti dia.Termasuk aku...
Iya, siapa yang bisa menolak???...
Tapi masih terlalu dini untuk memikirkan hal seserius itu, apalagi mengambil langkah menuju ke arah sana.
Mungkin bisa dipertimbangkan, kalau saja tidak terhalang tembok tradisi yang teramat kental.
Tapi rasanya tidak mungkin.
Bukan menyerah sebelum berjuang.
Tapi sama-sama tidak ingin menyakiti orang yang kita sayang..."
__ADS_1