Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
35


__ADS_3

Sore itu Arlan baru pulang dari tokonya. Dia melihat Aira sedang menyirami tanaman di halaman depan.


"Tanaman saja sudah disiram. Yang nyiram sudah mandi belum, sih...?" Arlan mendekati Aira.


"Sudah mas." Aira mencium punggung tangan suaminya.


"Kalau begitu ayo siap-siap. Siapkan bajuku juga ya." katanya.


"Kemana mas?" tanya Aira.


Tapi Arlan sepertinya tidak mendengar. Aira melanjutkan merapikan selangnya, lalu menyusul suaminya.


Hingga Arlan keluar dari kamar mandi, Aira masih duduk manis di tepian kasur. Dia bingung mau menyiapkan baju apa. Karena belum tahu mereka akan pergi ke mana.


"Kok masih bengong?" tanya Arlan.


"Kan aku juga bingung mas, baju apa yang mau disiapin. Mas Arlan tidak jelas sih kasih tahunya..." gerutu Aira.


Arlan hanya tersenyum sambil geleng kepala. Lalu dia sendiri yang memilih bajunya, juga baju untuk istrinya.


"Pakai ini. Cepat ya!" ujarnya.


Aira menerima baju dari Arlan. Lalu pergi ke kamar mandi.


Rupanya Arlan mengajak Aira pergi ke acara pernikahan teman kuliahnya. Pantas saja, Arlan memilih setelan baju yang formal dan senada.


"Yang nikah siapa, mas?" tanya Aira ketika mobil mereka memasuki halaman sebuah gedung.


"Teman kuliah." jawabnya. "Yuk, turun!" ajak Arlan.


"Mas..., aku malu..." Aira tak percaya diri.


Teman-teman Arlan kuliah, pastinya mereka orang-orang sukses, berpendidikan tinggi. Sedangkan dia hanya perempuan dari keluarga biasa saja, yang tidak bisa melanjutkan pendidikan ke bangku kuliah. Dia merasa tidak pantas berada di antara mereka.


"Apa yang membuat kamu malu? Tidak ada, sayang..." ujar Arlan.


"Tapi, mas..."


"Kalau begitu kita pulang saja!" putus Arlan.


Arlan yang hendak memutar kunci mobilnya, tangannya ditahan oleh Aira.


"Aku turun. Tapi mas jangan tinggalin aku ya...?!" pinta Aira.


"Tidak akan." Arlan merapikan rambut istrinya.


"Ini dia bos kita...!!" seru seorang teman Arlan, saat melihat Arlan datang.


"Istrimu cantik bro." bisik yang lain, sambil memperhatikan Aira dari ujung rambut hingga kaki.


Arlan menyadari sikap temannya itu. Dia juga tahu, pasti Aira merasa tidak nyaman. Arlan merangkul pinggang Aira dengan posesif.


"Jaga pandanganmu, bro." tegur Arlan.


"Oh..., ini rupanya istri kecilnya bapak Arlan..." ujar seorang perempuan yang baru bergabung, sambil memperhatikan Aira.


Aira hanya menanggapinya dengan senyuman. Arlan menatap perempuan itu.


"Aku ke sana dulu ya, mau menyapa yang lain." kata Arlan.


"Ciiieehh..., si paling posesif..." cibirnya.


Mereka berdua meninggalkan orang-orang itu.


"Maafkan teman-temanku." bisik Arlan.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, mas." balas Aira berbohong.


"Istri kecil...??!!" umpat Aira.


Memang usia Arlan dan Air terpaut 8 tahun. Tapi baru kali ini Aira mendengar orang menyebutnya seperti itu. Dengan nada yang sangat tidak enak pula.


"Bagaimana kabarmu? Mentang-mentang sudah punya istri, jarang nongkrong sekarang." kata temannya, yang malam ini menjadi pengantin itu.


"Kamu juga akan begitu nanti. Percaya padaku." balas Arlan sambil melihat kedua mempelai itu bergantian.


Setelah menemui kedua mempelai, mereka bergabung dengan undangan lainnya.


"Bagaimana bisa seorang Arlan mendapat istri secute ini...?" ujar temannya.


"Katakan, apa rasanya enak gadis kecil ini?" gurau yang lain.


"Bisa jaga omonganmu?!" sahut Arlan. "Harusnya orang sepertimu bisa mengontrol ucapannya!"


"Mas..., sudah!" Aira menarik tangan suaminya.


"Santai, bro...!!" ujarnya. "Aku hanya bercanda." katanya.


"Tidak lucu!" Arlan kemudian mengajak Aira pergi dari tempat itu.


......................


Aira membersihkan wajahnya dari make up tipis yang menempel. Ketika Arlan menghampirinya.


"Aku minta maaf..." gumamnya.


Aira tersenyum menatap suaminya dari cermin. Kemudian dia berbalik.


"Untuk apa?" tanya Aira.


"Mereka pasti membuatmu kesal." katanya.


"Sayang..., jangan katakan itu. Kamu istri tercintaku." Arlan memeluk Aira.


"Sebesar apa?" balas Aira.


"Aku bahkan tidak bisa mengukurnya." katanya.


"Terimakasih, mas Arlan sudah sabar menungguku selama ini." Aira membalas pelukan Arlan dengan erat.


"Selama mas Arlan bersamaku, aku percaya kalau aku pasti baik-baik saja." gumam Aira.


"Terimakasih sudah percaya padaku." kata Arlan. "Sekarang sudah malam, kita tidur ya."


Mereka pun berbaring di atas kasur. Aira tidur di bahu Arlan. Mereka berpelukan penuh sayang.


"Terus seperti ini ya..." kata Arlan.


"Em..." Aira mengangguk. "Mas..."


"Apa?"


"Tadi temannya mas nanyain soal kehamilan." ujar Aira.


"Oh, ya?" Arlan terkejut. "Kok aku tidak tahu?"


"Tadi pas mas dipanggil itu."


"Terus kamu bilang apa?" Arlan penasaran dengan cara Aira menanggapi mereka.


"Aku bilang minta do'anya saja semoga disegerakan." balas Aira dengan entengnya.

__ADS_1


"Memangnya cukup hanya dengan do'a?" goda Arlan. Aira menggeleng pelan.


Meski dibilang istri kecil, tapi Aira sudah sangat paham apa yang dimaksud suaminya.


"Mas menginginkan baby segera?" tanya Aira.


"Kita menikah berdua, menjalani hidup berdua. Mau baby pun butuh persiapan berdua. Tidak bisa sendiri. Jadi aku tunggu istriku ini siap untuk menjadi seorang ibu dengan segala tugasnya." tutur Arlan.


"Sambil menunggu saat itu tiba, aku maunya kamu menikmati kebahagiaan yang selama ini tidak kamu dapatkan, sayang... Sekarang kamu bebas, tidak perlu bekerja keras. Aku akan bantu menanggung semua kebutuhan kamu dan juga keluarga kita."


Air mata Aira menetes mendengar ucapan suaminya itu.


......................


Hari demi hari berlalu. Selama itu Aira banyak menghabiskan waktu di rumah, dia banyak belajar tentang bagaimana menjadi istri yang baik. Baik dari buku yang dia beli, atau via internet. Niatnya benar-benar tulus mempelajari semua itu demi Arlan. Karena dia tidak punya keberanian bertanya pada orang tuanya.


"Kok gitu, kan malu..." pikir Aira saat membaca artikel di salah satu laman website.


Aira melihat jam di dinding kamarnya. Sudah hampir jam empat sore. Waktunya Arlan pulang dari toko. Aira bersiap menyambut suaminya. Dia mengambil baju di lemari, lalu masuk ke kamar mandi.


Ternyata Arlan pulang lebih awal. Mendengar suara air kran yang menyala, Arlan tidak lagi mencari keberadaan Aira. Dia duduk di kasur sambil melepas sepatunya. Tidak sengaja dia melihat ponsel Aira. Aira lupa menghapus historinya, sehingga Arlan bisa tahu apa-apa yang dibaca yang istri.


"Rupanya dia sudah belajar banyak hal." Arlan tersenyum.


Air kran sudah tidak terdengar lagi, Arlan bergegas mengembalikan ponsel itu ke tempat semula.


"Ya ampun!" Aira terkejut. "Mas ngagetin saja. Kok sudah pulang?"


"Baru sampai kok." bualnya.


"Mau disiapin air hangat?" tanya Aira.


Arlan justru berdiri dan menghampiri Aira.


"Tidak perlu..." bisik Arlan tepat di telinga Aira.


"Aku sengaja pulang lebih awal. Kamu tahu kenapa?" suara itu masih sangat pelan. Aira menggeleng.


"Tiba-tiba aku mau seperti ini..." Arlan memeluk Aira.


"Kamu tidak akan bisa memulainya, sayang. Maka aku akan bantu kamu." batin Arlan.


"Mas..., tidak mau mandi dulu...?" tanya Aira.


"Nanti mandinya sama kamu." balasnya.


Arlan mengangkat tubuh Aira, menurunkannya di kasur dengan hati-hati.


"Sekarang sudah siap?" tanya Arlan.


"M..., mas..." Aira gugup.


"Aku tidak akan kasar, sayang. Percayalah. Hanya pemanasan." bujuk Arlan.


Sore itu pun keduanya menunaikan ibadah yang cukup lama tertunda. Pengalaman pertama yang sangat mengesankan bagi keduanya.


"Mau lagi?" bisik Arlan beberapa saat setelah pertempuran mereka berakhir.


"Jangan sekarang ya, mas. Capek..." adu Aira.


"Baiklah..." Arlan tersenyum sambil mengecup bibir Aira sekilas.


......................


"Alhamdulillah ya Allah. Aku sudah memenuhi kewajibanku sebagai seorang istri bagi mas Arlan.

__ADS_1


Sesungguhnya aku belum siap menjadi seorang ibu. Tapi aku yakin, Engkau pasti membantuku. Sebagaimana Engkau yang terus membimbingku kala itu. Sehingga sekarang aku bisa sepenuhnya menerima mas Arlan dalam hati dan hidupku. Jaga cinta kita ya Allah, jangan biarkan apapun mengusik kehidupan kita."


__ADS_2