Lembaran Kisah Aira

Lembaran Kisah Aira
8


__ADS_3

Lista dan Yesi datang ke rumah Aira. Mereka membawa kabar baik siang itu.


"Kita berempat masuk dalam empat besar kak. Keren kaaaan...!!!" Yesi terlihat begitu senang. Pasalnya ini pertama kali dia mendapat nilai sebaik itu.


"Iya, kak. Benar deh!" sahut si Lista yang tak kalah antusias.


"Syukur alhamdulillah...!" ujar Aira. "Kalian memang luar biasa." puji Aira sambil mengangkat kedua jempolnya.


"Semua itu karena trik yang kakak ajarkan. Jadinya sat set wat wet, kayak kata kakak waktu itu. Terimakasih ya kaaakk...!!!" celoteh Yesi.


Mereka berdua memeluk Aira. Aira membalasnya dengan tulus. Diam-diam sang ayah tersenyum bangga di balik bilik kamarnya.


"Ayah bangga padamu, nak..."


Tak cukup sampai di situ. Sore harinya saat orang tua Aira sedang menyiapkan barang dagangannya, bu Sari datang membawa satu kantong kresek hitam.


"Ini hasil saya buruh di kebun tadi pagi bude. Tidak seberapa dibanding kebaikan anak bude yang selalu mengajari anak-anak saya." kata bu Sari sambil menyerahkan satu kantong ubi jalar pada ibu Aira.


"Terimakasih bu, harusnya tidak perlu serepot ini." ujar ibu.


"Ah, tidak apa-apa bude. Justru saya yang banyak-banyak berterimakasih pada anak bude. Saya bersyukur, akhirnya si Bima itu lulus sekolah." ungkap bu Sari.


Aira yang sedang berada di dalam kamar hanya bisa mendengarkan pembicaraan itu dengan mata berkaca-kaca. Dia bersyukur karena usahanya selama ini membuahkan hasil. Meski dia harus merasakan sakit karena menjadi topik perghibahan orang-orang di sekitarnya. Setidaknya anak-anak itu bisa mewujudkan impian mereka menjadi lulusan dengan nilai terbaik.


Kabar itu pun sampai di telinga umi Khusnul, pemilik yayasan taman pendidikan di kampung itu. Umi Khusnul pun mendatangi rumah Aira untuk menawarkan sebuah pekerjaan.


"Saya sudah mendengar semuanya mbak Aira. Bahkan abi membenarkan semua itu. Abi adalah guru di SD tempat mereka sekolah, jadi beliau tau betul bagaimana perubahan anak-anak didiknya sebelum dan sesudah mendapat bimbingan dari mbak Aira. Makanya saya mau menawarkan mbak Aira untuk bergabung menjadi tim pengajar di yayasan kami." tutur umi Khusnul dengan sangat ramah.


"Itu sangat berlebihan umi. Saya tidak memiliki pengalaman dalam bidang itu." ujar Aira.


"Tapi bukti sudah ada. Apa lagi yang mbak Aira ragukan." umi Khusnul tersenyum manis.


"Begini saja, mbak Aira pikirkan dulu. Kalau sudah yakin dengan keputusan mbak, mbak bisa hubungi saya. Bisa juga datang langsung ke yayasan kami. Bagaimana?" ujar umi kemudian.


"Iya, umi." Aira sedikit menganggukkan kepalanya.


......................


Aira masih mempertimbangkan penawaran itu. Sebenarnya ada sedikit keinginan untuk menerima tawaran itu, sambil menunggu panggilan kerja. Karena sebelumnya dia sudah mengirim CV ke beberapa tempat atas rekomendasi langganan ayahnya. Tapi sebelumnya dia akan membicarakan hal itu pada kedua orang tuanya.


Akan tetapi dia mengurungkan niatnya untuk menceritakan kedatangan umi Khusnul pada orang tuanya. Lantaran sang ayah sudah lebih dulu menyampaikan sebuah kabar yang mengejutkan sepulang jualan. Katanya ibu Aditya datang ke tempat ayah jualan.


"Tidak diperpanjang??!!" ibu tampak terkejut. Ibu tidak tahu kedatangannya, karena selepas isya' ibu sudah pulang.


"Kenapa tiba-tiba berubah, yah?" tanya ibu yang masih penasaran.


"Katanya Adit akan menikah, dan rumah ini akan direnovasi untuk tempat tinggal Adit dan istrinya." ujar ayah.


"Kenapa Adit tidak cerita?" batin Aira.


"Lebih cepat kita pindah akan lebih baik. Ayah memang merasa di sini sudah tidak nyaman buat kita. Ayah akan cari kontrakan baru secepatnya." putus ayah Aira.


Ayah menatap wajah Aira yang terlihat sangat sendu.


"Kenapa?" tanya ayah.


"Tidak ayah." balas Aira singkat. "Aku hanya berpikir, apa mereka berubah pikiran karena aku?" Aira menundukkan kepalanya.


"Jangan pernah berpikir kalau ini karena kamu. Ini bukan salah kamu, nak." tutur ayah sambil mengusap rambut panjang putrinya.


"Ayah, kejelekan orang akan menyebar lebih cepat karena sering dibicarakan. Terlepas itu fakta atau kabar burung semata. Mereka pasti mendengar gosip itu." ucap Aira.


"Maafkan aku ayah, ibu..." Aira kembali menundukkan kepalanya. Sang ibu merangkul dan memberi usapan lembut pada bahunya.


"Bukan salah kamu, Aira..." ujar ibunya.


"Andai aku nggak datang ke sini. Pasti ayah dan ibu tidak akan mengalami semua ini..." Aira masih saja menyalahkan dirinya.


"Semua yang terjadi pada manusia tidak ada yang kebetulan, tidak ada yang tiba-tiba. Semua sudah digariskan. Dan pasti ada hikmah di balik semua yang menimpa kita." ujar ayah.

__ADS_1


"Bukan saatnya berandai-andai. Karena semua sudah terjadi. Yang penting kita ikhlas menjalaninya." sambung ayah sambil mengukir senyuman.


......................


Handphone Aira bergetar, sebuah pesan dari Ryan.


Ryan :


Gimana kabarnya?...


Aira :


Baik. Kamunya gimana?


Ryan :


Kurang baik.


Aira :


Kenapa?


Ryan :


Sedikit demam.


Aira :


Sudah ke dokter?


Ryan :


Ibu sudah memberiku obat.


Aira :


Syukurlah. Cepat sembuh ya.


Ryan :


Aira :


Terus...


Ryan :


Tidak ingin datang menjengukku?


Aira menarik nafasnya, lalu menghembuskannya secara berlahan.


Aira :


Maaf Ryan, aku sedang bersama ayah mencari rumah kontrakan. Aku do'akan cepat sembuh. Banyak istirahat ya. Jangan lupa minum obatnya juga.


Ryan :


Kamu akan pindah?!


Aira :


Iya


Ryan :


Secepat itu?!


Aira tidak membalas lagi. Dia kembali fokus melihat rumah yang didatanginya bersama sang ayah.


"Bagaimana menurut kamu?" tanya ayah ketika mereka dalam perjalanan pulang.

__ADS_1


"Pokoknya aku terserah ayah saja. Ayah lebih tau tempat ini kan..." jawab Aira.


"Ayah kurang suka dengan lingkungannya." begitu ujar ayah.


Aira pun sebenarnya merasakan hal yang sama dengan sang ayah. Hanya saja dia tidak punya cukup keberanian untuk mengungkapkannya. Lingkungannya memang terbilang kumuh, sampah berserakan. Belum lagi bangunan yang terlalu rapat, dengan jemuran di sembarang tempat. Ayam yang dibiarkan berkeliaran, dan buang kotoran dimana-mana. Begitu juga dengan keberadaan tempat nongkrong anak-anak muda di ujung gang, yang semakin membuat Aira mengkidik ngeri. Dia tidak akan nyaman tinggal di lingkungan seperti itu.


......................


Aira menarik selimut yang tidak begitu tebal, dan terdapat beberapa lubang di sana. Menandakan bahwa itu adalah selimut yang sudah cukup lama, sudah waktunya diganti dengan yang baru. Tapi dia tetap bersyukur, karena selimut berlubang itu masih bisa memberikan kehangatan untuknya.


"Setelah bertemu mereka, aku pikir kehidupanku di sini akan lebih baik. Karena memiliki banyak teman yang berhati baik. Tapi nyatanya..." Aira memejamkan matanya sejenak.


"Lalu..., bagaimana kalau ayah tidak menemukan kontrakan. Kita akan tinggal dimana?"


Dreet... Dreeet...


Aira melihat handphonenya, panggilan masuk dari Aditya. Aira selalu saja tidak bisa menolak panggilan itu.


"Ya, Dit..."


"Aku dari tempat ayahmu. Kamunya tidak ada."


"Aku pulang lebih awal. Kenapa?"


"Aku tadi kesana untuk minta maaf sama orang tuamu. Dan sekarang aku mau minta maaf juga sama kamu, Aira..."


"Untuk apa?"


"Untuk semua yang dilakukan orang tuaku, Aira."


Diam...


"Ibu termakan omongan orang. Jadi dia melakukan hal itu. Maaf..."


"Nggak perlu minta maaf." balas Aira. "Aku, ayah, dan ibu, nggak terlalu memikirkan itu."


"Kata pakde kalian belum dapat kontrakan. Bagaimana kalau aku bantu cari?"


"Nggak perlu, Dit."


"Aira..., kali ini saja terima ya?! Please...!!! Aku merasa bertanggungjawab juga."


"Adit..., aku nggak mau kamu terus bersikap seperti ini ke aku..."


"Kenapa Aira??? Apa itu salah??"


"Itu terlalu berlebihan, dan bisa membuat orang lain salah paham, Adit. Mengertilah!! Aku sudah capek, Adit...!!!"


Suara Aira mulai bergetar. Membuat Aditya yang berada di seberang sana semakin khawatir. Apalagi saat isak tangis Aira samar-samar terdengar di telinganya.


"Tolong jangan menangis Aira. Aku mohon...!"


"Aku hanya merasa lelah, Diiit..." hanya pada Aditya, Aira berani mengadukan apa yang dia rasakan.


"Harusnya aku tidak pernah datang ke tempat ini. Aku menyusahkan orang tuaku. Aku membuat semua orang benci padaku..." ujar Aira.


"Tidak Aira. Mereka hanya merasa iri karena kamu bisa melakukan apa yang tidak bisa mereka lakukan."


Aira tidak menjawab.


"Aira...?? Kamu tidur?"


"Tidak." balas Aira. "Terimakasih ya, Dit. Karena kamu selalu ada untukku, saat yang lain menjauhiku. Tapi aku harap, ini terakhir kalinya. Aku tidak mau Putri ikut membenciku, karena perhatian kamu."


"Raaa..."


Tuuut... Tuuut...


Aira menangis di balik selimutnya. Setelah mengakhiri panggilan tanpa permisi pada Aditya.

__ADS_1


......................


"Hanya kamu dan Putri yang masih percaya padaku. Ninik pun mulai menjauhiku seperti yang lain. Aku tidak mau kehilangan lagi. Akan lebih baik jika aku lebih dulu pergi, daripada aku harus melihat satu persatu dari kalian meninggalkan aku..."


__ADS_2