Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Karena Novel


__ADS_3

Bagaimana jika kamu menemukan sesuatu yang dicari-cari tapi tak bisa memilikinya. Bagaimana jika harimu berantakan hanya karena hal itu.


***


Nafasku tersengal. Dan Hampir saja aku ketinggalan lift yang selalu disesaki dengan pengunjung mall. Untung salah seorang di dalam lift menekan tombol buka ketika melihatku berlari melambaikan tangan.


"Terima kasih." ucapku. Rasanya garing, tak ada yang menjawab ucapan terima kasihku.


"Lantai tiga!" perintahku kepada siapapun yang berdiri di dekat tombol kendali ruangan kecil ini. Aku berusaha mengatur nafas.


Seseorang menekan tombol berangka tiga.


Aku memiringkan badan agar bisa menuju sudut. Setidaknya jika di posisi sudut, tak ada yang menganggu ataupun aku tidak mengganggu orang lain jika aku bergerak lebih dari yang seharusnya.


Kuseka keringat yang mulai bercucuran di pelipis. Tepi hijabku basah karenanya. Kurasa bedak tipis yang kukenakanpun sudah mulai luntur. Pendingin dalam ruangan lift tak cukup membuatku menimati sejuk.


Aku masih kesulitan mengatur nafas. Lututku rasanya bergetar karena baru berlari mengejar pintu lift yang nyaris tertutup. Olahraga dadakan memburu lift.


lift sesak, isinya nyaris penuh. Sekira satu orang lagi pasti sudah over. Kuperhatikan orang-orang di sekilingku. Mungkin tak ada yang saling kenal. Semua sibuk dengan urusan masing-masing. Sibuk dengan gawainya dan sesekali mengecek nomor lantai.


Pandanganku terhenti pada orang yang tadi memencet tombol lantai tiga. Hanya dia yang berbeda, tak ada gawai ditangannya, tak ada sirat buru-buru diwajahnya. Ia tenang menunggu lift bergerak naik menuju lantai tujuannya.


Matanya, aku suka tatapan matanya yang teduh "pohon kali teduh". Ah, pikir apa aku ini, masa seketika langsung suka dengan orang hanya gegara mengira dialah yang menyelamatkan separuh waktuku hari ini. Berkat kebaikannya aku tak harus menunggu lift. Tak harus menghitung anak-anak tangga untuk sampai ke toko buku.


Lelaki pemilik mata yang teduh itu membuat seluruh pandangku fokus. Fokus hanya kepadanya. Bola matanya mampu membuatku terpaku, terpanah dan hanya memperhatikannya.


Aku mencuri pandang padanya dari diding ruangan sempit yang berlapis cermin. Aku menangkap bayangannya. Dari sana aku memperhatikannya sedang dia memperhatikan yang lain.


Tak masalah setidaknya aku menikmati ini. Menatap detail wajah seseorang dari pantulan cermin. Orang yang berbuat baik padaku.


Terima kasih cermin kau telah membantuku hari ini untuk memperhatikan wajah orang yang telah menghargai usahaku berlari dari pintu masuk demi bisa ikut nimbrung di sini. Setidaknya suatu saat akan kubalas kebaikannya hari ini.


"Lantai tiga, siapa yang turun di sini?" tanya seseorang saat pintu lift terbuka. Aku tak menyadari, entah berapa lama aku memperhatikan lelaki bermata teduh yang menyelamatkan waktuku hari ini. Lelaki berbadan tegap yang entah bagaimana caranya sekarang sudah lesap dari pandanganu.


Seorang perempuan yang tadi berdiri tepat di sampingku menatap sinis. Dari ujung kaki sampai ujung kepalaku diperhatikannya. Aku merasa tak ada yang salah, dan anehnya akupun mengikuti tingkahnya, menatap diri dari ujung kaki sampai bahu, untuk memastikan bahwa memang tidak ada aneh dariku. Tingkah perempuan itu membuatku hilang rasa percaya diri.


"Hmm ... mungkin dia baru melihat perempuan unik sepertiku." gumamku menyemangati diri sendiri.

__ADS_1


***


Toko buku disesaki pengunjung. Mungkin karena banyak novel-novel menarik yang baru saja terbit. Tapi bukan novel-novel terbaru itu tujuanku. Aku hanya menginginkan sebuah novel lama.


Aku masuk berdesakan dengan pengujung. Sejurus mataku menangkap situasi di jajaran rak novel. Banyak orang di sana. Di rak paling depan bagian atas berjejer rapi novel-novel terlaris dan terbaru.


Mataku bergerak dengan cepat, mengintip rak paling bawah mencari judul buku terbitan beberapa tahun lalu. Tentu buku itu tak lagi berjejer dibagian atas.


Semoga novel itu masih ada, mengingat buku itu sudah tidak dicetak lagi. Dan ini adalah toko buku kelima yang kusinggahi. Jika buku itu tidak kutemukan juga tentu nasib baik tidak akan berpihak padaku besok.


Aku berjongkok dan terus mencari. Kubaca setiap judul novel yang ada tapi judul yang kuinginkan belum juga kutemukan. Padahal ketika tadi kucek diinformasi stok buku, buku itu masih tersisa satu.


Aku tak mau berhenti sebelum menemukan novel itu, aku terus mencari di semua rak buku yang berisi novel. Peluh mulai bercucuran dikeningku. Mataku pun berkunang-kunang karena membaca judul demi judul novel yang ada. Kurasa beberapa kali orang menendangku tanpa sengaja. Kuambil minuman dari dalam tas, kuteguk perlahan untuk menambah tenaga.


"Maaf!" kata seseorang yang baru saja menginjak tepi rok dan betisnya mengenai sikuku. Tangan kananku hilang kendali karena sambaran betis berotot pria berkulit gelap. Air di dalam botol mengalir bebas menyembur wajahnku. Dengan cepat kukeringkan wajahku dengan mengelapkan tepi jilbab dibagian yang basah, sebelum orang-orang melihat dan menertawaiku.


Ya ampun, sial benar hari ini. Sekarang bagian depan rok dan bajuku basah karena tingkah laki-laki yang berjanggut berantakan itu. Sebuah kata 'maaf' keluar dari mulut tanpa dosanya itu. Seolah kata 'maaf' bisa memperbaiki semua kelasahannya tanpa melihat keadaanku. Sekarang ia berlalu begitu saja, gayanya angkuh sekali, tangan kanannya terselip di saku celana dengan santai ia membaca judul-judul novel di rak atas. Anting hitam di telinga kirinya semakin membuat penampilannya tak menarik.


"Iya, tidak apa-apa," balasku.


Dua rak buku telah tuntas kuselisir. Sekarang sudah mulai di rak ketiga. Rak terakhir di toko buku ini. Rak yang menjadi satu-satunya harapanku. Aku mulai mencari dari ujung kiri. Beberapa novel angkatan Balai Pustaka berjejer rapi. Tapi novel yang kuingikan tak kutemukan.


Sampai pada ujung kanan novel itu tidak kutemukan. Aku menghela nafas panjang. Putus asa, tentu saja. Kucuri pandang tatapan orang padaku, mereka melihatku seperti melihat orang baru saja kehilangan sesuatu yang berharga, atau mungkin pula iba terhadap seorang perempuan yang pakaiannya sedikit basah. Adapula yang memberikan tatapan tak suka dengan tingkahku yang masih berjongkok di pojok rak.


Sejak pulang sekolah tak ada pekerjaan lain yang kuselesaikan selain mencari novel itu. Novel yang sudah tidak beredar.


Aku putar otak. Bagaimanapun aku harus menemukan novel itu agar nasibku besok baik-baik saja.


Didepan toko ini terdapat rak yang berisi novel tidak laku, di sana banyak novel-novel terjemahan yang diobral. Aku sedikit lega, semoga aku bisa menemukan novel itu di sana.


Ya, pasti novel itu ada di sana. Informasi dalam pencarian buku tadi tidak mungkin salah. Masih tersisa satu eksamplar untuk judul yang kuinginkan.


Seorang panjaga toko menhampiri, "cari novel terbaru Dik?" tanyanya.


"Novel lama, Kak." jawabku setengah putus asa.


"Judulnya apa?"

__ADS_1


"Galaksi Kinanti, Kak."


"Oo, Galaksi Kinanti, stoknya sudah habis Dik, baru saja seseorang membelinya!"


"Baru saja, Kak?" tanyaku bersemangat.


"Dimana orang yang membelinya, Kak?"


"Dia baru saja keluar, Dik."


Aku berdiri dan rasanya seluruh semangatku yang tadinya hilang kembali terkumpul. Aku harus mencari orang yang membeli buku itu.


"Bagaimana ciri-cirinya, Kak?"


"Tinggi berbadan tegap, memakai kaos putih dan jeans biru gelap- "


Belum selesai ucapan penjaga toko itu langsung kupotong menucap terima kasih. Aku langsung bergegas, keluar dari toko mencari orang yang mungkin ciri-cirinya sama dengan disampaikan penjaga toko. Kuedarkan pandangan ke segala sudut mall yang luas untuk mencari orang yang dimaksud penjaga toko.


Banyak yang mengenakan kaos putih tapi tidak memakai jeans biru gelap. Ada yang memakai jeas biru gelap tapi tidak memakai kaos putih. Ada yang mengenakan kaos putih dan jeans biru gelap tadi tingginya semampai. Ada yang memakai pakai persis dengan yang disampaikan penjaga tokoh tapi badannya jangkung dan bungkuk.


"Oh, Tuhan dimana bisa menemukan orang itu di mall yang luasnya beratus-ratus jengkal.


Aku berjalan ke tepi, melihat kerumanan orang yang sedang memadati pameran busana pengantin di lantai dua. Suara pembawa acara menguasai separuh ruangan di mall ini. Aku melempar pandangan ke sana kemari kalau-kalau orang kucari itu nongol dari arah yang tidak terdunga.


Dan jantungku berdegup kencang. Aku akhirnya menemukan orang yang membeli buku itu, ia masih memegang buku itu dengan tangan kanannya. Dia sedang berdiri membelakangi kerumunan, menyembunyikan wajah dari arah aku berdiri. Ia menghadap ke pintu lift.


"Ya, Tuhan. Oh no! Jangan masuk dulu!" aku sampai berteriak padanya. Seketika semua mata pengunjung yang berlalu, termasuk penjaga lapak tepi-tepi toko tertuju padaku.


Secepat kilat aku menuruni tangga manual agar tidak kehilangannya lagi. Aku baru sampai pertengahan tangga dan lift sudah terbuka. Ya Tuhan dia sudah masuk.


Aku terus berlari menuruni tangga. Tak peduli tanggapan orang-orang terhadapku. Yang penting aku bisa menemukan novel itu. Semoga aku bisa menemukannya di pintu keluar di bawah. Semoga lift itu menyinggahi setiap lantai.


Nafasku tersengal. Aku kehilangan limapuluh persen tenaga berlari menuruni tangga. Aku berdiri setengah berjongkok untuk mengatur nafas. Kedua tangan kutumpukan pada lutut yang bergetar, kulihat pantulan wajahku di lantai mall, ya Tuhan pucat pasi.


Aku mengatur nafas agar kembali rileks. Rasanya aku menyerah sampai disini. Usahaku sia-sia belaka. Lebih baik pulang saja. Aku butuh istirahat yang cukup untuk menghadapi hari yang berat besok.


****

__ADS_1


__ADS_2