Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
30 Butir Soal


__ADS_3

Semua siswa sudah masuk di dalam kelas. Kulihat jam yang melingkar di lenganku, terlambat kurang lebih 20 menit. Aku mengetuk pintu lalu mengucap salam. Seperti biasa, semua mata orang di dalam kelas akan tertuju pada siapa pun yang berdiri di depan kelas saat pelajaran tengah berlangsung, termasuk guru yang sedang mengajar. Demikian Pak Arman yang menoleh ke arahku.


Setelahnya semua kembali tunduk mengutui buku yang ada di depannya masing-masing. Ayu dan Daniza sudah duduk manis di tempatnya, beberapa kursi masih kosong termasuk kursiku.


"Silakan masuk!" Perintah Pak Arman setelah menjawab salam.


"Boleh aku duduk, Pak?" tanyaku untuk memastikan tidak ada perlakuan istimewa bagi yang terlambat.


"Iya, silakan," jawab Pak Arman datar.


Baru kali ini ada siswa yang terlambat di kelas Pak Arman. Rumor yang beredar, Pak Arman sangat disiplin. Tidak terima siswa yang terlambat, kalaupun menerima jejeran tugas berat sudah menunggu dan tidak ada keringanan yang diberikan. Mungkin rumor itu salah, buktinya Pak Arman mengizinkan aku masuk di kelasnya tanpa syarat.


Aku langsung duduk di samping Ayu. Ayu serius mengerjakan tugas sampai-sampai untuk menoleh kearahku saja tidak sempat. Daniza yang boros suara juga tidak bergeming. Matanya lekat pada angka-angka yang tersusun berantakan di buku tulisnya.


Tak sabar ingin segera kuceritakan pada Daniza dan Ayu peristiwa indah yang baru saja terjadi, tapi nampaknya situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Ayu disibukkan dengan angka-angka, otaknya sedang bekerja keras, begitupun dengan Daniza. Sementara mata Pak Arman tidak berkedip mengawasi kami.


Kukeluarkan kelengkapan menulis dan buku matemtika dari dalam tas. Kualihkan pandagan ke papan tulis. What, papa tulis yang berwarna putih itu nyaris penuh dengan goresan-goresan tinta berwarna hitam. puluhan angka-angka sedang menari-nari di sana. Kepalaku pening melihatnya.


Jujur saja aku tidak suka dengan pelajaran matematika, bukan karena tidak tahu menghitung atau gagal paham dengan rumus-rumus atau guru pengampu yang selalu bermuka serius dan mahal senyum tapi memang pelajaran yang ada kaitannya dengan angka dan hitung-menghitung bagiku tidak menyenangkan.


Kehadiran Pak Arman di dalam kelas membuat suasana kelas seperti kuburan, berpenghuni tapi sepi, tenang tapi mengerikan. Kumisnya yang lebat berantakan bak padang sabana membuat siapa saja yang melihatnya bergidik.


Aku menulis tugas yang diberikan Pak Arman tanpa menunggu perintah lagi. Mungkin rumor itu benar adanya. Pak Arman tidak melakukan apa pun di tempat duduknya tapi membuat penghuni kelas merasa diawasi.


Angka-angka yang bertebaran di papan tulis kusikat habis setelah beberapa menit berlalu. Matematika pelajaran yang mudah meskipun tidak menyenangkan.


Aku menoleh ke arah Daniza, ia begitu kebingungan. Begitu pun dengan Ayu, belum ada apa-apa yang keluar dari mulutnya sejak aku duduk di sini, pekerjaannya pun belum selesai, mereka berdua baru menuju nomor sepuluh. Kristal bening bertimbulan di pelipisnya. Bukan hanya Ayu dan Daniza yang demikian, Hampir semua siswa yang hadir menampakkan ekspresi kurang bahagia. Hanya aku yang bahagia pagi ini.

__ADS_1


"Maiza!"


"Iya Pak."


"Kamu tahu kan kesalahanmu pagi ini?" wajah Pak Arman datar tapi pertanyaannya penuh tekanan.


Pak Arman dikenal sebagai guru yang tidak fasih dengan bahasa senyum. Mungkin Tuhan tidak memberinya kemampuan tersenyum sejak dari dalam rahim sampai ia lahir ke dunia ini.


"Ta-tahu, Pak."


"Kalau begitu silakan kerjakan semua soal yang ada di papan tulis. Tunjukkan pada teman-temanmu bahwa orang yang terlambat di kelas Pak Arman adalah orang yang sudah bisa menyelesaikan soal dengan baik dan benar tanpa perlu diberi contoh!" lugas, padat dan jelas kalimat Pak Arman tapi penuh dengan peringatan.


Mendengar ucapan Pak Arman, aku langsung telan liur. Mengerjakan semua soal yang ada di papan tulis? Apa tidak salah, aku seorang diri harus menyelesaikan tiga puluh butir soal aljabar di papan tulis.


"Semuanya, Pak?" tanyaku berusaha mencari celah agar Pak Arman berubah pikiran dan mau memberikan sedikit keringanan.


Pasangan bola mata teman-teman fokus pada perempuan bernama Maiza Kartika di kelas. Dari wajah mereka ada riak bebas karena tidak akan mendapat giliran mengerjakan soal dipapan tulis lagi, ada Maiza si pahlawan yang terlambat. Daniza kelihatan gugup, bukan dia yang diminta mengerjakan soal tapi dia yang merasa tertekan memikul beban berat. Daniza menyeka keringan di keningnya dengan telunjuk. Ayu melirikku meskipun kepalanya tetap menunduk.


Aku tahu apa yang sedang dipikirkan kedua teman baikku ini, 'Tamat riwayatmu, kamu akan kering berdiri sampai pertemuan selanjutnya', seperti rumor yang beredar.


Tanpa meminta penawaran lagi, aku maju ke depan teman-teman, kuraih spidol yang terletak di tepi kiri papan tulis dan mulai mengerjakan soal satu persatu.


Aku menggunakan semua bagian papan tulis untuk menyelesaikan semua soal. Untung saja papan tulis di sekolah ini sudah canggih, bisa digeser-geser jika papan yang satunya sudah penuh. Dalam waktu sekira 40 menit semua soal selesai. Jari-jariku rasanya kaku dan ngilu habis bekerja keras.


"Selesai, Pak."


Pak Arman menoleh kepadaku sambil membetulkan posisi kacamatanya.

__ADS_1


"Selesai?" tanyanya dengan wajah setengah percaya. Beberapa temanku juga menampakkan ekspresi yang sama. Apalagi Ayu dan Daniza, mereka tidak menduga aku bisa menyelesaikan soal matematika dengan cepat karena setahu mereka aku tidak tertarik dengan pelajaran yang mainannya angka-angka ini.


"Iya Pak, selesai." jawabku mantap.


Pak Arman bangkit dan mendekati papan tulis lalu mengecek jawabanku dengan teliti mencari kesalahan. Matanya bergerak cepat dengan mulut komat-kamit. Pak Arman melihat kepadaku yang masih berdiri di tepi papan tulis masih dengan wajah setengah percaya.


"Yang lain bagaimana?" pandangannya dialihkan kepada teman-temanku.


Tak ada jawaban. Semua diam, menunduk, pura-pura sibuk mengerjakan soal, padahal mereka sedang mengulur-ulur waktu.


"Ada yang jawabannya sama dengan Maiza?" tanya Pak Arman lagi. Masih tak ada jawaban.


Tak ada yang berani, jika ada yang mengatakan salah maka akan diminta mengerjakan ulang dengan benar.


Jika ada yang mengatakan benar mesti maju ke depan lalu memberikan penjelasan logis alasan mengatakan benar, alhasil diam adalah cara yang tepat untuk selamat.


"Silakan duduk Maiza!"


Aku mengikuti perintah Pak Arman. Akhirnya aku bisa duduk, betisku sedari tadi menahan pegal.


"Tolong semua angkat kepala, perhatiannya ke papan tulis!" teriak pak Arman sambil memukul-mukul papan tulis menggunakan mistar, gaya khas guru matematika angkatan 90-an dari Sabang sampai Merauke.


Beberapa orang temanku masih menunduk. Pak Arman mengedarkan pandangan ke seisi kelas. Daniza rupanya masih sibuk dengan cakarannya.


"Tolong perhatikan, semua angkat kepala. Daniza tolong lihat kemari!" secepat kilat Daniza angkat kepala dan melepaskan polpennya. Wajah Daniza pasi, Pak Arman menatapnya lekat.


Dari nada bicara Pak Arman dan tatapan matanya mengidikasikan, sebuah penghakiman akan dijatuhkan untuk Daniza.

__ADS_1


__ADS_2