
Aku belum sepenuhnya menyadari bahwa sudah berada di sekolah, di dalam kelas menerima pelajaran dari Bu Mirah.
Bu Mirah, selalu tampil dengan pesonanya sebagai guru favorit. Orangnya berjiwa muda, cantik, elegant, energik, ramah dan pendengar yang baik. Bagaimana ya rasanya jika bisa lebih dekat lagi dengan Bu Mirah, saling berbagi dan menerima nasihat darinya. Akan luar biasa jika bisa dekat dengannya, guru andalan yang suka memotivasi.
Separuh dari diri ini masih tinggal di dalam kamar ukuran 5 x 3 meter di rumah milik tante Yusnita dimana aku sedang menekuk badan, disaksikan oleh dinding dan langit-langit kamar yang bisu, ditertawai oleh decak-decak seekor cicak sialan yang selamat dari racun serangga.
Aku meratap atas kemalangan yang sedang menimpa, tempat satu-satunya yang kuanggap rumah di kota ini, tempat aku pulang dan tinggal ternyata tidak sepenuhnya menerimaku.
Tempat itu, sampai sekarang masih kuanggap rumah yang juga diklaim oleh anak sulung tante Yusnita yang tak lain saudara sepupu tega mengusir sepupunya, gadis kampung yang menurut dia ditampung oleh orang tuanya. Masihka tempat itu bisa kuanggap rumah?
Tidak pernah terbesit olehku kejadiannya akan seperti ini. Jauh-jauh dari kampung, naik pesawat dan naik mobil akhirnya sampai di sini. Impian tentang sekolah yang menyenangkan dan sepupu yang baik ternyata hanya ada dalam dongeng, sangat berbeda dengan kenyataan yang kuhadapi.
Mengapa hidupku seperti dalam sinetron yang dimusuhi anggota keluarga, di sekolah pun masih dimusuhi teman. Menjalani hidup yang penuh sandiwara dengan lakon ironi.
"Sampai jumpa pertemuan selanjutnya, semoga hari kalian menyenangkan," tutup Bu Mirah pada pembelajaran sebelum meninggalkan kelas.
Aku benat-benar tidak sepenuhnya di sekolah. Beberapa bagian dalam diriku tidak menyatu, jiwaku masih bergentayangan di rumah, ragaku sudah di sekolah, hatiku kebiarkan belajar mengeja cinta atas nama Faruq dan pikiranku terpencar kemana-mana.
"Za, kamu kenapa sih, dari datang sampai sekarang bawaannya murung terus?"
"Iya nih, nggak enak tau nggak ngelihatnya. Kamu kayak punya beban sebesar bumi deh, ada apa sih?" tambah Daniza yang sekang sudah duduk di depanku.
"Bicara dong, Za," bujuk Ayu
"Atau jangan-jangan kamu sudah patah hati, baru aja kemarin bahagia tak terhingga sekarang sudah murung tak ketulungan." Daniza mulai lagi.
"Iya, Za ada apa sebenarnya? kami ini sahabatmu, nggak tega ngelihat kamu begini, murung terud bawaannya, bikin kita juga hilang semangat," bujuk Ayu yang sedari tadi gusar di dekatku saat Bu Mirah menjelaskan sementara perhatianku tidak padanya.
"Atau karena soal semalam, aku yang balas pesan kamu sekenanya saja," aku melirik Daniza.
"Atau karena aku yang sama sekali tidak membalas?"
"Masalah itu? Ampun Zaaa, kamu kan tahu sendiri aku orangnya kayak gimana, kalo mau ngomong ya nhomong aja, to the point langsung. Apalagi semalam sumpah aku bingung, tugas belum kelar dan sinetronku udah tayang." Daniza berpanjang lebar berusaha mengembalikan senyumku.
Aku bergeming, tidak tahu harus bilang apa pada kedua sahabatku. Mereka tidak boleh tahu masalahku, apalagi yang ada kaitannya dengan Afni. Buaknkah aku harus merahasiakan hubungan keluarga antara aku dan Afni.
"Atau kamu masih bingung dengan perasaanmu soal keputusan hati terhadap kakak kelas?"
"Faruq, namanya Faruq," entah kenapa menyebut nama itu beban hatiku sedikit berkurang. Kuanggukan saja kepala agar kedua sahabatku tidak mengorek-ngorek lagi tentang penyebab wajah ini bermuram durja.
__ADS_1
"Kamu benaran kan jatuh cinta?" Selidik Daniza.
"Benaran, Za?" binar-binar bahagia muncul di sinar mata Ayu.
"Entahlah, aku masih belum yakin," sebisa mungkin aku sembunyikan perasaan pada Daniza dan Ayu.
"Tapi semalam kamu ingat nggak sama si ... siapa lagi?"
"Faruq," hatiku berdebar-debar lagi dan lagi.
"Iya, Faruq, kamu sudah tahu ya namanya, padahal aku cuma ngetes doang lho," Daniza cekikikan.
"Makanya semalam aku tuh pengen cerita sama kalian, pengen berbagi, semalam aku benar-benar tidak tahu perasaan ini, campur aduk."
"Hatimu berdebar-debar? ada rasa tidak nyaman di sekitar perut?" Ayu kembali mencari gelaja jatuh cinta padaku.
"Iyap, saat kamu ingat kakak kelas?"
Aku mengangguk lemah.
"Fix, kamu jatuh cinta, Za." Daniza menemukan kesimpulan akhir.
"Jadi sekarang gimana?"
"Gimana apanya?" Aku malah tanya balik ke Daniza. Aku tidak mengerti arah pertanyaannya.
"Kamu mau jadian nggak?"
"Jadian? Entahlah." aku mengedikan bahu. Belum tahun harus ngapain dengan perasaan sendiri.
"Jadi kamu cuma mau mencintai dia, tanpa mau tahu perasaannya ke kamu?"
"Untuk sekarang biarkan seperti ini,"
"Terserah kamu deh, aku malah jadi bingung mengerti jalan pikiran kamu," Daniza mulai menggerutu.
Dari bawah terdengar suara ribut-ribut. Arahnya dari sekitar papan pengumuman. "Di bawah ada apa sih, kok gaduh," Daniza keluar untuk mencari tahu sumber keributan.
Daniza masuk dengan wajah yang heboh. Matanya melotot gembira, "Eh, pengumuman seleksi oranisasi vokal."
__ADS_1
"Apa, serius?" mata kami tak kalah melototnya dengan Daniza, aku dan Ayu saling berpandangan.
Aku, Ayu dan Daniza keluar, dari depan kelas kami memandang turun. Di depan pengumuman banyak siswa yang mencari nama mereka.
"Za, lihat ada kak Faruq di sana," Tunjuk Daniza pada malaikatku.
"Niz, jangan ditunjuk. Nanti ada yang lihat."
"Za, wajah kamu bersemu, cie cie ada yang lagi berbunga-bunga nih." ledek Ayu.
"Tapi ngapaian ya Kak Faruq di sana?"
"Menekehe." jawabku cuek.
***
Lincah jari-jari Daniza menyelisir nama-nama yang ada dalam daftar pengumuman peserta yang lolos seleksi vokal. Ada dua puluh lima nama yang tertulis di sana. Dari nomor urut satu sampai dua puluh lima diselisirnya.
Daniza putar badan. Keceriaannya hilang. Ada mendung yang menggantung di kedua bola matanya yang bening. Aku dan Ayu berpandangan. Kami sudah tahu yang terjadi.
"Nama kalian ada, Za kamu nomor urut satu," tukas Daniza datar, setelahnya Daniza pergi tanpa menghiraukan aku dan Ayu. Aku melihat Ayu, Ayu juga melihatku sambil mengankat bahunya.
"Niz." Daniza terus berjalan tak peduli dengan aku. Ada banyak pasang mata yang meyorot ke arah Daniza, ia tidak peduli. Hatinya terlanjur hancur menerima kenyataan dirinya tidak lolos seleksi vokal.
Aku dan Ayu mengejar Daniza yang sekarang naik ke kelas.
Daniza sudah di tempat duduknya. Wajahnya sembab. Ia tidak menyangka hasilnya seperti ini. Padahal pada kenyataannya dia memang tidak pantas.
"Niz, kamu yang sabar ya, aku tahu kamu pasti kecewa dengan hasilnya, tapi mungkin memang passionmu bukan di vokal." aku mencoba menenangkannya.
"Seeanak perut kau bicara Za, mentang-mentang namamu berada posisi paling atas," aku malah dapat semprotannya.
"Apa maksud kamu bukan passionku di vokal? Bilang saja suaraku jelek kayak bebek," Suaranya tersedu.
"Bukan itu maksud aku Niz, mungkin-"
"Aku tidak mau dengar apa-apa lagi. Pergi kalian berdua." sergahnya dengan suara tersedu.
***
__ADS_1