
Apa jadinya jika sahabatmu memiliki 99 persen rasa pecaya diri dan 1 persen rasa malu?
________
Bergabung dengan organisasi vokal di sekolah ternyata tidak mudah. Seleksinya ketat. Hanya siswa yang benar-benar punya bakat dan karakter suara yang bagus bisa lolos seleksi.
Para calon anggota baru bersiap unjuk kebolehan. Di depan sana sudah duduk Ibu Mirah sebagai penanggungjawab organisasi ini. Beliu yang akan menilai calon anggota yang pantas bergabung. Deretan beberapa kursi di belakangnya diisi oleh pengurus organisasi. Beberapa kursi lagi masih kosong.
Ternyata peminat organisasi ini cukup banyak, lebih seratus calon anggota. Aku tidak tahu persis berapa lebihnya, yang jelas lebih seratus. Padahal yang akan diterima sebagai anggota hanya dua puluh lima orang.
Satu persatu calon anggota unjuk kebolehan. Gugur Bunga ciptaan Ismail Marzuki dan My All milik Maria Carey wajib dinyanyikan dengan baik agar bisa lolos seleksi, intinya jangan bikin malu.
Nyaliku seketika ciut mendengar suara dan kemampuan vokal calon anggota. Banyak suara emas, sudah pantas lolos Indonesian Idol, Bu Mirah mesti kerja keras untuk memilih yang layak.
Namun beberapa calon anggota juga tidak layak. Banyak yang suka menyanyi tapi tidak menyanyi dengan baik. Bahkan lebih pantas menanyi di kamar mandi untuk menghibur kuman-kuman. Ternyata masih ada orang yang kelewat percaya diri memamerkan suaranya yang sekelas suara bebek hendak kawin.
Daniza dan Ayu sangat menikmati ini. Riak kekaguman Ayu selalu nampak jika ada yang dapat mencapai nada tinggi tanpa lengkingan. Terutama Daniza, ia sampai pejam-pejam mata sambil menggerakkan mulutnya mengikuti syair lagu. Apalagi kalau dapat mencapai nada tinggi dengan mulus, ekspresinya pun sangat meyakinkan layaknya penyanyi profesional.
Aku ragu dengan kemampuan nyanyi Daniza. Sejak bersahabat dengannya tak pernah sekalipun kudengar ia bernyanyi. Kalau ekspresi menjiwai seperti yang dilakukannya sekarang, sudah sering. Apalagi kalau di kantin, ia akan melakukan hal yang sama sambil sesekali menyeruput minuman.
Kesangsianku bertambah-tambah, mengingat saat kelas bertugas sebagai pelaksana upacara. Harusnya Daniza bergabung di kelompok penyanyi bukan malah jadi pembaca Undang-Undang Dasar 1945.
Tiba giliran Ayu, ia maju dengan ragu-ragu. Senyumnya kecut saat disilakan oleh Bu Mirah. Ayu mulai. Ada keraguan yang tersirat menyertai suaranya. Wajahnya sedikit pucat. Mungkin ia gugup. Tapi itu diawalnya saja, lama-lama akhirnya Ayu bisa bernyanyi dengan rileks. Suara Ayu memang bagus. Punya karakter meskipun jatuh di di nada tinggi.
Ketika nyanyiannya tuntas, ia langsung turun dengan senyuman lega.
"Za, gimana tadi?" Kurasankan sentuhan tanggannya dingin. Ternyata gugup menguasai dirinya.
__ADS_1
Kuangkat dua jempol untuk membunuh keraguannya itu.
"Kamu mesti banyak latihan pada suara tinggi, Yu!" timpal Daniza santai. "Tadi kamu hampir kehabisan suara lho di nada tinggi," sambungnya lagi.
Mendengar komentar Daniza, keraguanku sirna.Dia tahu letak kelemahan Ayu. Mungkin memang dia memiliki suara emas tapi menyembunyikannya karena tak ingin suara emasnya itu diincar produser rekaman berdarah dingin.
Nama Daniza kena giliran. Ia berdiri sembari melambaikan tangan kepada peserta yang lain layaknya artis yang akan menerima piala Amy Award. Kor uuu menggema, akibat tingkahnya itu Bu Mirah terkekeh.
Tetiba suara gemuruh peserta lenyap saat Daniza sudah berdiri di depan. Tatap matanya sangat meyakinkan. Selaksa senyum percaya diri ia lemparkan.
"Ehmmm ... ehmmm." Ia membuka penampilannya dengan dua kata itu.
Daniza mulai bernyanyi. Kor uuu semakin banyak. Kor uuu itu semakin riuh.
Astaga ... suara Daniza ternyata jauh dari dugaan. Memang ia mempunyai rasa percaya diri level tinggi tapi percaya diri saja tidak cukup. Bagi seorang penyanyi, kemampuan vokal, teknik menyanyi dan warna suara jadi modal awal. Lah, Daniza percaya diri jadi modal awal, level suara sekelas suara bebek. Persis suara bebek kejepit pintu lengkingannya. Sebenarnya diam bagi Daniza adalah emas.
Kritis stadium empat saat Daniza masuk lagu kedua. Bahasa inggrisnya berantakan. Penutur Bahasa Inggris sekaliber Tantowi Yahya pun sulit menerjemahkan bahasa Inggris Daniza yang blepotan. Tapi itulah Daniza yang cuek bebek meski suara seperti erangan bebek, Ia terus bernyanyi tanpa memperhatikan siapapun, ia sibuk sendiri menuntaskan nyanyiannya.
Kulihat Bu Mirah geleng-geleng kepala. Pengurus yang lain ada yang terbahak sampai memegang perutnya, adapula yang kesal. Perasaanku campur aduk melihatnya. Dibilang lucu ya memang lucu, dibilang menjengkelkan memang menjengkelkan.
Setelah tuntas, Daniza turun. Senyum puas mengiringi langkahnya, ia telah melakukan hal luar biasa dalam hidupnya. Cibiran dan makian tidak ia peduli. Ia tetap santai sampai duduk kembali di tempatnya.
"Za, Yu, gimana suaraku?" tanyanya percaya diri.
Senyum kecut pantas jadi jawabannya.
"Aku yakin, setelah penampilan tadi Bu Mirah akan memperhitungkanku." senyum bangga menutup ucapannya.
__ADS_1
Kulirik Ayu yang menutup mulutnya. Kurasa apa yang dipikirkan Ayu sama dengan pikiranku "parah".
Daniza memang parah, satu-satunya manusia berani malu yang masih terpelihara di bumi ini. Ide cemerlang ini sebenarnya muncul dari lubuk hatinya yang paling dalam, 'Bekat menyanyiku meronta-ronta ingin bergabung diorganisasi vokal ini,' katanya saat melihat pengumuman organisasi vokal sekolah membuka pendaftaran anggota baru.
Awalnya aku tidak mau, tapi Daniza terus membujuk. Ayu juga dipengaruhinya. Kutegaskan berkali-kali bahwa suaraku tidak bagus. Aku memang suka musik dan suka menyanyi tapi tak pantas jadi peserta vokal. Aku jauh dari itu.
Setelah Daniza tampil ternyata banyak yang lebih parah. Banyak siswa yang hanya ingin viral dan dikenal dengan cara memalukan. Harus jujur kuakui diantara mereka yang bersuara bebek masih banyak yang memiliki suara luar biasa termasuk Ayu. Sedangkan aku, aku di sini hanya karena mengikuti keinginan Daniza dan Ayu, dua orang yang peduli padaku di sekolah ini.
"Maiza Kartika!"
Aku dapat giliran. Dentuman cepat menghantam seluruh rongga dadaku. Ngilu terasa dintara perut dan dada, perutku mules mendengar nama itu disebut.
Aku berdiri. Semua mata tertuju padaku, sama halnya dengan peserta yang lain. Berat kaki melangkah. Ini semua gara-gara Daniza yang memaksa. Mungkin setelah ini akupun akan hilang viral di sekolah, perempuan jerawatan yang punya nyali nol prestasi.
Kualihkan pandanganku pada Bu Mirah, senyumnya memberiku harapan. Aku melangkah maju, baru dua langkah tiba-tiba ada yang membuka pintu, dan langsung duduk di belakang Bu Mirah.
Aku tidak salah lihat. Mataku belum rabun. Meraka adalah Azmi, Afni dan temannya yang suka senyum tak simetris itu.
Tatapan Azmi tajam. Ada amarah yang ia perlihatkan padaku. Kedua temannya pun demikian. Wajah cerah Afni berubah kelam ketika melihatku sudah berdiri di depan.
Tuhan, lututku bergetar. Rasanya aku mau lari dari tempat ini. Ke mana saja asal tak ada tatapan ketiga orang itu.
"Silakan mulai Maiza!" perintah Bu Mirah.
Aku masih diam, berusaha mengumpulkan rasa percaya diri yang terpencar-pencar. Teriakan uuu mulai terdengar. Penonton mulai tak sabar, beberapa mengangkat jempol terbalik. Teriakan uuu semakin riuh. Dari belakang Bu Mirah kutangkap senyum penuh kemenangan dari Azmi dan temannya. Rasa percaya diri semakin terpenjar jauh.
"Silakan mulai Maiza!" ulang Bu Mirah.
__ADS_1
***