
Azmi membuka pintu, aku bisa melihat kakinya dari celah kaki meja, tempat di mana aku sedang berjongkok menyembunyikan badan dan menutup mulut lantaran masih shok gegara guci yang jatuh. Mata ini siaga mengawasi gerakan kaki Azmi.
Bekas guci yang jatuh berserakan di depanku. Kalau Azmi melihat kepingan-kepingan guci itu lalu mendekatinya maka tamat riwayatku.
Dia berhenti tepat di depan pintu, menimbang permintaan Afni yang mencegatnya. Oh Tuhan jangan sampai Azmi melangkah keluar.
"Azmi, tidak usah dilihat itu bukan apa-apa, lagian di rumah ini tidak ada orang lain selain kita bertiga." Afni terus berusaha mencegat Azmi.
Jika usaha Afni berhasil, ia tidak hanya menyelamatkan reputasinya sendiri tapi juga menyelamatkan sepupunya yang kurang kerjaan, yang sedang menguping rahasianya.
"Terus yang bilang tadi brengsek siapa?" Azmi melepaskan tangannya dari gagang pintu.
[Semoga Azmi tidak keluar, semoga Afni bisa mencegatnya. Semoga kecurigaannya lenyap dan masuk kembali, supaya aku bisa segera kembali ke dalam kamar.] Berjuta semoga berjejal dalam hati, aku terus berdoa melangitkan kata semoga sambil memejam mata. Semoga aku bisa selamat dari jangkauan mata mereka bertiga.
"Gak ada yang bilang brengsek, mungkin pendengaranmu saja yang bermasalah," tuduh Afni.
"Aku juga dengar kok, ada yang bilang brengsek." Rima malah mendukung Azmi.
"Ya ampun Rima, diam kek atau cegat Azmi juga," aku menggerutu, posisiku semakin terancam.
"Kalian hanya salah dengar!"
"Tidak mungkin aku dan Rima salah dengar pada waktu yang bersamaan. Ada dua pasang telinga, masa kedua pasang telinga itu semuanya bermasalah," selidik Azmi, dia semakin yakin tidak salah dengar setelah Rima mengakui ada orang yang bilang brengsek. Dan memang ada, nih aku yang bilang sedang sembunyi di antara meja dan guci besar.
"A-ku yang bilang," Afni mengaku.
"Hahahha ... Afni mengakui kesalahanku, tau rasa kamu." Hati ini tertawa jahat atas kesialan Afni. Begitu akibatnya jika tidak mau mengakui sepupu sendiri.
__ADS_1
"Tapi suaranya dari luar deh, bukan dari dalam." Azmi berusaha mencari kebebaran.
"Itu pengaruh angin yang masuk dari jendela kamar. Ma-af ya Az, aku bilang Om Indra brengsek."
"Yang benar yang mana nih, barusan tadi kamu bilang gak ada yang bilang 'brengsek' sekarang kamu malah mengaku," selidik Azmi. Rupanya Azmi sulit untuk dibohongi. Dia pasti pembohong ulung.
"A-ku yang bilang Az, tadinya aku tidak mau mengaku tapi karena kamu mau keluar dari mencari orang yang bilang brengsek, makanya aku mengaku."
Azmi masih tidak menerima alasan Afni. Dia masih berdiri di atas keyakinannya bahwa ada orang lain di rumah ini, dan memang ada. Nih aku yang sedang jongkok menguping rahasia mereka.
"Masa ada orang lain di rumahku, terus kalau pun ada yang bilang Om Indra itu brengsek selain aku, apa coba alasannya? Siapa orangnya?"
"Ada yang tidak beres di rumah ini. Aku yakin ada orang lain selain kita bertiga." Azmi beringsut selangkah, kakinya sudah melewati batas pintu.
Jatung semakin berdebar mendengar ucapab Azmi. Bulu kudukku atur barisan. Keringat di kening semakin bertimbulan. Aku dalam bahaya. Kaki Azmi bergerak, ia melangkah keluar.
"Aku masih ragu, sebenarnya ada apa diluar?"
"Tidak ada apa-apa Az, aku cuma tidak mau kamu keluar."
"Kamu tahu sendiri kan apa resikonya kalau ada yang tahu kita berurusan dengan Om Indra?" Suara Azmi sedikit pelan tapi bernada kecaman.
"Iyap aku tahu." Suara Afni melemah.
"Tidak boleh ada satu orang pun di luar kita bertiga yang tahu masalah ini. Ini soal reputasi Om Indar dan reputasi kita di sekolah. Siapa yang tidak kenal Om Indra, pemilik label rekaman yang berkelas, sulit untuk ditemui dan hanya mengorbitkan penyanyi papan atas, sementara kita bertiga masih kacangan dan ingin segera terkenal. Nah untuk itu aku berani ambil resiko masuk ke dalam kehidupan Om Indra dan siap membantunya mendekati perempuan impiannya itu. Jadi aku harap kalian bisa jaga rahasia ini baik-baik. Dan aku yakin ada orang lain yang sedang mendengar pembicaraan ini. Ada orang selain kita di sini, aku bisa merasaknnya."
"Tidak ada siapa pun selain kita. Mama dan Nurul lagi di luar. Itu hanya perasaanmu saja karena takut kalau rahasia kita terbongkar." Hening, Azmi mencerna semua kebohongan Afni, Rima meyakinkan diri dan berusaha menerima bahwa memang tadi dia salah dengar. Sementara Afni harap-harap cemas, ia kembali meyakinkan Azmi dengan alasan-alasan yang dibuatnya.
__ADS_1
"Karena memang Om Indra itu brengsek." Mendengar Afni mengatakan om pujaannya dikatai brengsek, Azmi beringsut masuk mendekati Afni. Lega perasaan ini ketika kaki Azmi tidak lagi terlihat di balik kaki meja. Begitu Azmi masuk aku akan pindah tempat. Kalau di sini terus bisa bahaya urusannya.
"Lho maksud kamu apa ngatain Om Indra brengsek?" Azmi menarik kembali gagang pintu, terdengar ia menghempakan badannya di sofa, tempat aku dan Afni biasa menghabiskan untuk nonton sambil ngemil, tapi itu dulu saat semuanya masih berjalan sesuai harapan.
[Yes, Azmi menyerang Afni, rasain kamu biar ****** dicerca teman sendiri.] Ada kebahagiaan kecil di hati ini mendengar Azmi membentak Afni. Aku usap dada, akhirnya pintu kamar di tutup.
Aku harus masuk ke kamar lagi. Rasa haus dan lapar yang tadi mendera sudah lenyap. Aku pelan-pelan berdiri tapi mendengar Afni bicara lagi soal brengseknya Om Indra yang ia kaitkan kejadian memalukan malam itu, aku urung berdiri dan kembali jongkok di tempat semula.
"Waktu Om Indra mengantarku pulang malam itu, dia memaksa mau cium aku, tapi aku tidak mau. Kalau aku menolak dia tidak akan memuluskan jalanmu untuk jadi penyanyi."
"Apa Om Indra mengancam seperti itu?" Suara Azmi naik satu oktaf. Sepertinya situasi makin seru untuk di dengarkan.
"Iya, makanya aku bilang Om Indra brengsek."
"Kurang ajar betul Om Indra, lihat saja, kalau dia berani menipuku, menipu kita aku akan bikin perhitungan padanya."
"Tapi Az, kamu nggak usah bilang ke Om Indra masalah ini. Anggap saja kamu tidak tahu dan biarkan berjalan seperti rencana awla sampai akhirnya kita bisa jadi penyanyi terkenal."
"Tapi Af, Om Indra harus mematuhi aturan mainnya. Tidak bisa dong seenakanya dia begitu."
"Kalau kita diam masalah malam itu, Om Indra akan ikuti aturan mainnya. Anggap saja malam itu Om Indra tidak melakukan perbuatan kurang menyenangkan padaku. Kita fokus saja ke tujuan kita."
"Yup, asal kamu tidak keberatan. Biar masalah ini kita yang simpan saja."
Akhirnya situasi untuk nguping aman kembali. Tetiba saja perut yang tadi lapar keroncongan, akibat kelamaan jongkok aku juga buang angin tanpa sengaja.
"Pruuutttt."
__ADS_1
"Itu suara kentut kan?" tanya Azmi meyakinkan diri kali ini dia tidak salah dengar.