Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Halte


__ADS_3

Aku terus mencoba menghubungi nomor tante Yusnita tapi usahaku sia-sia. Nomor tante Yusnita tidak aktif.


Sinar matahari mulai merendah, di ufuk timur, gelap telah membayang. Kendaraan yang mulai padat merayap di jalan yang lebar memberi isyarat bahwa orang-orang sibuk di kota ini sedang menuju pulang ke tempat yang mereka anggap rumah.


Gelisah berjejal di rongga dada. Bagaimana jika hal yang tidak diinginkan terjadi. Aku orang baru disini, sasaran empuk bagi mereka, orang-orang yang menyambung nyawa dengan cara jahat.


Aku belum tau seluk beluk kota ini dengan baik bagaimana cara menemukan jalan pulang. Bagaimana cara menjelaskan keberadaanku kepada tante Yusnita, sementara sampai sekarang nomornya tidak aktif.


Aku harus menghubungi Daniza atau Ayu. Mungkin mereka bisa membantu. Ayu saja, ia pasti bisa membantu. Daniza tidak mungkin mau keluar malam tanpa pengawalan ayahnya.


"Yu, sudah sampai rumah belum?" pesan terkirim. Beberapa menit berlalu Ayu belum membalas.


"Yu, aku butuh bantuan," pesan kedua kembali terkirim.


"Yu, plissss, GAWAT DARURAT nih!" pesan ketiga terkirim. Beberapa menit kemudian tak ada balasan.


Daripada kirim pesan, mungkin lebih baik langsung menghubungi nomornya.


"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangakauan, cobalah beberapa saat lagi atau rekam pesan anda setelah nada barikut!" Ya Tuhan nomornya tidak aktif, padahal baru saja tiga pesan terkirim, atau jangan-jangan Ayu tidak mau diganggu lagi.


Aku mondar mandir seperti setrikaan. Otakku terus berputar mencari cara. Di halte aku seorang diri. Beberapa orang yang lewat melihatku tanpa menawarkan bantuan. Tempat macam apa ini, disesaki dengan orang-orang yang tidak peduli sengan sesama.


[Mungkin sebaiknya naik ojol aja,] pikirku.


Naik ojol bukan solusi yang baik. Banyak ojol brengsek berkeliaran di kota ini kata Daniza. Aku orang baru, muka masih kampungan. Belum ada pembawaan orang kota yang melekat dalam diriku, sangat mungkin menjadi sasaran empuk bagi mereka yang jahat.


Daniza.


Aku harus menghubungi Daniza. Setidaknya dia harus tahu keadaanku. Jika terjadi apa-apa denganku Daniza akan menjadi saksi kunci.


Tanpa pikir panjang lagi aku langsung menelponnya, Daniza tidak menjawab. Kuulangi sekali lagi, masih tidak menjawab. Ini yang terakhir, jika tidak menjawab artinya Daniza juga tidak bisa diganggu. Syukur Daniza menjawab.

__ADS_1


"Hmmm ... siapa, maaf aku lagi mau istirahat, jika ada yang penting silakan kirim pesan, aku akan baca nanti." Daniza langsung menutup telepon tanpa basa basi. Suaranya seperti orang yang sedang dibuai mimpi.


Aku akhirnya putus asa. Ya Tuhan aku lelah.


Aku duduk lemas dengan jari tangan terus mengusap layar hape mencari kontak yang mungkin bisa kumintai bantuan.


Afni.


Ya Afni, aku harus minta tolong pada Afni. Semarah-marahnya dia padaku pasti ada sedikit belas kasihan dihatinya.


Kuhubungi Afni.


"Kenapa telpon aku?" jawabnya kasar


"Afni, a-ku mau minta tolong, tolong jemput aku di Halte Sutomo." nadaku memohon berharap dia sudi menolong sepupu yang tidak dianggapnya ini.


"Apa? Minta dijemput? Enak saja, pulang saja sendiri!" bentaknya.


"Salah sendiri, ngapain pakai acara lewat. Pulang aja sendiri. Aku lagi sibuk!" telepon ditutupnya.


Kembali kuhubungi nomornya tapi panggilanku ditolak. Kucoba berulang kali dan terus ditolak. Ya Tuhan bagaimana ini. Aku mencoba lagi menghubungi nomor tante Yusnita tapi belum aktif juga.


Matahari semakin renda, di kaki langit barat, langit sudah mulai merah keemasan. Nomor tante Yusnita tidak aktif, Daniza menolak dengan halus siapapun yang ingin mengusiknya, Ayu tidak membalas, dan Afni tak mau tahu. Tak ada tanda-tanda bantuan mendekat.


Kalau tiba-tiba satu orang jahat mendekat padaku, mungkin aku bisa melawan tapi jika dua orang jahat mendapatiku, maka banyak kesempatan bagi mereka untuk beraksi. Aku perempuan, punya beberapa barang berharga dan mudah untuk dibunuh jika mereka berniat untuk membunuh.


Masih mending kalau aku langsung dibunuh tapi aku diperkosa dulu lalu di bunuh terus dipotong- potong untuk menghilangkan jejak kemudian dibuang ke tong sampah atau ke kali, ihhhh ... mengerikan sekali. Membayangkannya saja bulu kudukku sudah atur barisan.


Aku menyandarkan kepala yang mulai pening di tiang halte. Aku terus mencari cara agar bisa pulang. Aku tidak mau mati sia-sia di sini.


Sementara itu kampung tengah mulai melilit, sejak siang tadi belum diisi apa-apa. Tenggorokan sudah mulai kering, air dalam botolpun sudah habis. Tetiba saja ngilu menghujam rongga dada. Di tengah ingar bingar kota aku seorang diri.

__ADS_1


Lamunanku melayang ke awang-awang. Jawaban Afni terngiang. Sepupuku itu nampaknya mulai tidak suka dengan kehadiranku dalam hidupnya. Karena peristiwa coklat yang tumpah di novel sahabatnya itu diapun ikut-ikutan menyimpan amarah padaku. Padalah masalah itu sudah clear.


Dulu Afni tidak begitu. Dulu dia sangat baik dan perhatian padaku. Selepas liburan sekolah Afni, Tante Yusnita dan Om Haris selalu berkunjung ke kampung. Hadiah kecil selalu ia berikan pada kami jika datang.


Kadang Afni ingin berlama-lama di kampung, ingin tetap tinggal walau libur telah usai. 'Ingin main bersama Maiza lebih lama' katanya. Afni sering bercerita tentang teman-temannya saat masih SMP. Sering berbagi pengalaman tentang lomba-lomba yang diikutinya. Kadang ia bercerita tentang sulitnya masuk dalam peringkat lima besar. Bahkan ia sering mengajakku ikut ke kota ini dan memintaku lanjut sekolah di sini.


Saat liburan sekolah usai, ia selalu mengirimiku kabar. Menanyakan kabar Kak Anaya dan Mama, ingin tahu segala aktifitasku di sekolah, merencanakan kegiatan liburan di kampung atau bercerita tentang kegiatan sekolah yang sementara ikutinya.


Kehangatan sikap Afni membuatku yakin untuk melanjutkan sekolah di kota besar ini dengan harapan kelak akan lebih banyak pengalaman dan pengetahuan, terlebih lagi Afni satu tingkat di atasku. Aku bisa belajar banyak hal darinya tentang apa saja.


Dua tahun tidak bertemu, sejak Om Haris meninggal ternyata Afni banyak berubah.


Aku menghela nafas, ternyata waktu dan keadaan bisa mengubah sikap seseorang kepada siapa saja bahkan dengan orang dekatnya sekalipun.


Sebuah panggilan membuyarkan lamunanku. Kulihat layar ponsel, panggilan dari tante Yusnita, lega menelusuk ke rongga dada, akhirnya ...


"Halo, Tante"


"Kamu di mana sayang?" tanya Yusnita, ada rasa khawatir menyertai suaranya.


"Aku di halte-, tut tut tut," telepon terputus.


Ya Tuhan, baterai habis.


Perasaan lega itu lenyap seketika berganti dengan gundah bertumpuk gelisah, tante Yusnita pasti khawatir. Hape tidak bisa diajak kompromi, sedang hari sudah mulai terbungkus malam.


Aku kembali menyandarkan kepala di tiang halte. Kepalaku semakin pening. Penglihatanku mulai berkunang-kunang. Beberapa orang yang lewat menoleh ke arahku mungkin mereka perpikir aku adalah anak sekolah liar yang seharian keluyuran dan ketinggalan bus.


[Semoga tante Yusnita menanyakanku pada Afni dan Afni berbaik hati memberi tahu keberadaanku.] harapku meskipun itu harapan yang cukup sulit.


Seseorang mengagetkanku dengan menepuk pundak sebelah kiri. Aku menoleh ke arahnya, netraku menangkap sosok laki-laki dan setelahnya semua gelap.

__ADS_1


***


__ADS_2