
Aula semakin ramai dengan suara uuu, sebagian bernada ptotes meminta aku turun. Ada yang mengangkat jempol terbalik untukku.
Apa jadinya jika aku turun, mungkin akan lebih baik dari pada menjadi bahan tertawaan seperti Daniza.
Sebuah rencana sedang diatur di kepalaku. Aku akan turun, mengambil tas lalu berlari keluar lewat pintu samping. Aku baru sebulan di sini, tentu masih kurang yang mengenalku.
"Silakan mulai Maiza, ini kesempatan terakhir!" tegas Bu Mirah.
Tadinya aku sangat yakin akan mengalahkan rasa malu, tapi melihat Azmi dkk. masuk, rasa malu itu timbul kembali bersama rasa mules berlebihan. Kristal-kristal bening bermunculan di ujung pelipis.
Ayu dan Daniza menyemangatiku meskipun dibola mata keduanya ada khawatir berlebihan.
Terbanyang wajah Mama, Anaya dan tante Yusnita beserta putri kecilnya yang manis. Mereka adalah orang-orang yang mencintaiku, sebagian harga diri mereka tersimpan diwajahku. Demi mereka, orang-orang yang kucintai aku akan melakukannya.
Kekacauan di aula semakin sulit di kendalikan. Beberapa kali pembawa acara meminta ketenangan penonton maupun peserta.
Kupejam mata agar terhindah dari pemandangan tak menyenangkan dari mereka yang tak senang padaku dan memulai. Lagu Gugur Bunga mengingatkan pada Ayah, cinta pertama di dunia ini, satu-satunya laki-laki yang berjuang membahagikanku sampai akhir usianya. Suaraku mulai menguasai aula yang berlahan hening sejak aku memulai tadi. Aku berusaha menuntaskannya tanpa peduli tanggapan siapapun yang ada di depanku.
Masuk lagu kedua My All. Aku berusaha menjiwainya. Bayangan lelaki bermata teduh itu masuk dalam kelopak mataku yang rapat. Hanya dia yang kuingat. Sesekali kubuka mata untuk menghilangkan bayangannya. Tapi bayangan itu kembali masuk jika netra ini rapat.
Akhirnya aku telah menyelesaikan pekerjaan yang berat. Nada yang tinggi berusaha kucapai meskipun dengan susah payah. Untungnya tak melengking atau kehabisan suara.
Mata ini masih rapat. Tak berani kubuka, tak siap dengan cacian dan pandangan merendahkan dari siapapun. Meskipun aku yakin tak ada sedikitpun nada yang fals.
Seseorang memberikan tepuk tangannya membuatku yakin, aku telah melakukannya dengan baik. Kubuka mata dan melihat di kejauhan sana, ia berdiri dan memandang kearahku. Dengan ekspresi datar tapi tatapan matanya membuat diri ini serasa melayang, ia terus tepuk tangan, gerakannya diikuti yang lain. Aula kembali riuh dengan suara tepuk tangan beraduk dengan siulan.
Di sudut sana Bu Mirah tersenyum. Di belakangnya tiga anak manusia melihatku seperti melihat aib. Azmi sangat geram, air mukanya mulai padam, senyum puasnya telah raib, ia mengatupkan rongga mulutnya.
Rongga dada Afni dijejali kesal, itu sangat nampak dirautnya. Tatapan matanya padaku penuh ancaman. Mungkin hatinya sedang berkata 'awas saja kalau sudah di rumah.'
Sedang temannya yang satu, yang sampai saat ini belum kutahu namanya, dan memang aku tidak berniat mencari tahu, masih memberikan ekspresi yang monoton seperti biasa, tersenyum dengan bibir yang tidak simetris sambil memainkan rambut keritingnya.
__ADS_1
Daniza dan Ayu menyambutku. Ada rasa tak percaya dari mereka atas apa yang baru saja dilihatnya. Mulut mereka setengah terbuka.
"Dia temanku!" teriak Daniza bangga.
Daniza mendekatkan mulutnya di telingaku, suaranya pelan didominasi udara tapi terdengar jelas, "Kamu telah melakukan yang terbaik, suaramu berkarakter dan punya warna, kamu melakukannya dengan sempurna, kamu pantas sepanggung dengan Maria Carey," bisiknya.
"Aku mau mundur!"
"What?" teriak Daniza nyaris bersaman dengan Ayu. Bola mata keduanya nyaris keluar.
"Aku mau mundur!"
"Tunggu tunggu, bisa diulang? Mau mundur katamu?" Daniza meyakinkan diri bahwa dia tidak salah dengar.
"Iya, aku mau mundur!"
"Jangan bilang gara-gara Azmi ada dijejeran kursi pengurus!" curiga Ayu.
"Ehe ... kamu lucu ya, kita baru saja seleksi dan sudah mau mundur, yakin kamu akan lolos?"
"Memang suara kamu bagus tapi belum tentu teknik vokal kamu bagus. Banyak yang tepuk tangan menganggap suaramu bagus, itu karena mereka buta dengan musik. Banyak peserta yang suaranya bagus, teknik vokalnya pas, penjiwaannya juga dapat, sementara yang akan lolos jadi anggota cuma dua puluh lima orang. Jadi tolong jangan kelewat pede!" gaya bicara Daniza mirip juri kontes dangdut.
Daniza benar. Aku kelewat pede. Mungkin itu karena pengaruh kedatangan Azmi dkk., rasanya aku sudah malas berurusan dengan mereka. Baru dua hari ini berada dilingkaran mereka tapi rasanya sudah seabad.
"Za, kamu punya potensi, kenapa mesti surut hanya karena ada beberapa orang yang tidak suka. Acuhkan saja mereka, tunjukkan bahwa mereka bukan apa-apa dalan hidup kita, jangan berikan ruang dalam hati," nasihat Ayu seperti nasihat Mama. Ah, kedua sahabatku ini memang selalu membuatku berani.
Acara seleksi telah berakhir. Aku, Ayu dan Daniza berpisah di gerbang. Jemputan mereka sudah datang.
Hari ini tante Yusnita ada acara kantor sampai malam, jadi aku akan pulang naik Bus. Rasanya malas naik bus, tapi harus bagaimana lagi, tidak ada jalan lain.
Aku bergegas menuju halte, tetiba langkahku dihentikan dengan tiga anak manusia berjiwa setan berdiri di depanku.
__ADS_1
"Eh, perempuan kampung, aku ingatkan ya, mulai detik ini jauh-jauh kamu dari jangkauan mataku. Aku mulai kena sakit mata gara-gara lihat kamu terus." bentaknya.
"Kehadiranmu di sekolah ini membuat hariku berantakan!" bentaknya lagi.
Aku ingin membalas dengan makian yang lebih kejam, yang lebih menusuk [Eh, perempuan kota, kalau kamu sakit mata gara-gara melihat saya, sana ke toko obat, disana banyak tetes telinga yang bisa membuat matamu tak melihat apapun! Dan kehadiranmu pun membuat hari-hariku porak poranda!] tapi kuurungkan, Cukup kumaki dia dalam hati.
Afni ada bersamanya, sorot matanya masih seperti tadi, penuh ancaman. Aku tidak bisa melakukan apa-apa, kebaikan ibu dan adiknya bisa menutupi semua sisi buruknya.
"Oh iya satu lagi, jika lolos sebagai anggota vokal, aku sarankan untuk mengundurkan diri atau kamu akan menyesal!" peringatan yang tajam sebelum mereka pergi.
Di halte aku seorang diri menunggu. Perlakuan Azmi terbayang-bayang.
Di dalam bus pun masih mereka yang menguasai pikiran ini. Kebahagiaanku hanya sekejap. Mereka tidak membiarkan aku menikmati hari-hari di sekolah dengan baik selepas peristiwa cokelat panas yang tumpah itu.
Bukankah masalah itu sudah selesai. Novelnya telah berganti yang baru, meskipun bukan aku yang menggantinya.
Apa salahnya coba, kalau aku bergabung dengan organisasi vokal, masalah mereka yang pengurus di sana itu urusan lain.
Afni juga ikut-ikutan. Aku ini sepupunya, Mamaku dan tante Yusnita masih saudara kandung, tapi perlakuannya padaku seperti musuh. Letak kesalanku dimana?
Mataku lekat pada pemandangan di luar sana. Dedangkan pikiranku berhamburan kemana-mana, hatiku kacau balau.
"Dik turun di mana?"
Suara kondektur mengagetkanku. Aku menoleh ke kanan, orang-orang sudah turun. tinggal tiga penumpang termasuk aku yang belum turun. Dua orang di depan juga sudah berdiri, artinya mereka pun akan turun.
"Di Halte Sudirman."
"Halte Sudirman sudah lewat dari tadi Dik, ini sudah halte ketiga setelah Halte Sudirman."
"Apa!"
__ADS_1
Aku cepat-cepat turun. Hari sudah mulai gelap. Di Halte aku mencoba menghubungi tante Yusnita. Gawat, nomornya tidak aktif.
***