Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Mata Teduh


__ADS_3

Sekolahku dengan sekolah Nurul tidak searah. Sekolahku arah timur dan sekolah Nurul ke arah barat. Karena Nurul masuk lebih awal maka dia yang akan diantar lebih dulu.


Kota pagi ini masih masih sepi. Kendaraan yang lewat masih bisa dihitung jari. Aku duduk di kursi belakang, kutujukan pandangan pada langit yang mulai cerah.


Sekira 10 menit mobil membawa kami sampai di depan sekolah Nurul. Nurul turun dan melakukan ritual paginya, mencium pipi tante Yusnita dan hal yang sama juga berlaku untukku sebelum masuk gerbang sambil melambaikan tangan. Senyum lebar selalu menghiasi ritualnya itu.


Tanpa buang-buang waktu tante Yusnita langsung putar haluan. Kini ia konsentrasi mengendarai mobil karena jalan sudah mulai ramai, dibeberapa titik sudah terjadi macet ringan.


Galaksi Kinanti, novel itu mengaduk pikiranku lagi. Entah apa yang akan terjadi padaku hari ini. Perjuangan kemarin untuk menemukan novel itu berujung hampa.


Terbayang kembali wajah perempuan itu. Nanar ia menatapku ketika tanpa sengaja kutumpahkan cokelat cair pada novel yang sedang dibacanya.


Peristiwa memalukan itu terjadi di kantin sekolah saat istirahat pertama. Kantin yang sempit disesaki siswa yang hendak belanja, karena takut tidak kebagian, akhirnya berdesakan, sebenarnya cukup lima kantin di sekolah tapi kantin itu menyediakan varian menu beragam dengan harga terjangkau jadinya kebanyakan siswa senang belanja di situ. Terutama bagi perempuan.


Aku baru saja mengambil coklat panas pesananku, lalu mencari tempat yang kosong bersama Ayu dan Daniza, Karena badan Daniza kelewat gendut, jarak antata meja yang satu dan lainnya bisa dilewati dua orang hanya bisa dilewati Daniza seorang, tanpa sengaja dia menyenggol lenganku dan cokelat panas yang kupegang tumpah.


Perempuan berambut luruh berwajah oriental itu duduk bersama dua orang temannya di meja dekat kasir. Mereka sedang menikmati kentang goreng dengan coffe latte. Perempuan berkulit bersih itu yang jujur kuakui sulit dikatakan jelek sedang mengutui novel sambil sesekali menyeruput coffe latte hangatnya.


Bruuuussss ... coklat panasku menyimbahi novelnya, novel itu basah nyaris keseluruhan. Seragam putih abu-abunya pun gradasi dengan cokelat. Sontak ia kaget dan berdiri, suaranya berdesis dan memekik karena kena air panas, pandangannya nanar ditujukan kepadaku.


Wajahku yang memerah karena jerawat berubah pasi. Rasanya darah tidak mengalir di sana, gemetar tubuhku dan jantungku bertalu dengan kencang. Aku telah membuat kesalahan. Pandanganku lekat ke lantai, mencari pembelaan.


Pandangan anak-anak yang sementara belanja ataupun menikmati jajanan tertuju pada kami. Beberapa detik hening, lagu pop yang mengalun menjadi satu-satunya yang terdengar


Daniza mencoba menenangkan keadaan, ia berusaha menjelaskan dan mengaku salah "Maaf kak, kami tidak sengaja."


"Eh, Manusia Over Size, makanya kalau jalan hati-hati dong, pertimbangkan badan kamu yang boros tempat!" cacinya.


Berulang kali kuucap maaf untuk memperbaiki situasi tapi dia sudah terlanjur marah.


"Maaf Kak kami yang salah," lirihku.


"Eh Perempuan Norak, enak ya minta maaf, kamu kira maaf itu bisa memperbaiki semuanya, tau tidak kamu baru saja membuat acara nongkrongku berantakan, lalu merusak barang kesukaanku. Dasar junior kundang," hardiknya.


"Udah deh Azmi, biarkan saja mereka pergi, lama-lama di sini bikin situasi jadi nggak nyaman. Biarkan saja orang-orang kampungan itu pergi!" Itu suara Afni, sepupuku, setidaknya dia memberikan pembelaan meskipun menganggap aku dan teman-temanku orang kampungan. Kucuri pandang dia, roman wajahnya penuh kesal. Setelah situasi ini pasti dia akan menyembunyikan bahwa aku serumah dengannya.


Ternyata namanya Azmi, perempuan cantik yang mulutnya baru saja lepas kontrol. Kedua tangannya ditumpukkan didepan dada. Pandangannya skeptis kepadaku. Seorang temannya yang masih duduk santai menyorot kami dengan tatapan merendahkan, sesekali bibirnya mengukir senyuman tak simetris.


"Tidak semudah itu, perempuan jerawatan ini harus bertanggungjawab!" nadanya mulai turun satu oktaf.


"Minta saja dia mengganti novelnya, begitu saja kok ribet," kata laki-laki yang baru saja berlalu di sampingku. Kutangkap punggungnya yang lebar, ia memegang gelas minuman dan terus berjalan meninggalkan kantin.


"Kalau bukan dia yang ngomong, kamu tidak bakalan aku lepasin." Tukasnya sambil menunjuk pada lelaki yang baru saja lewat itu.


Seorang lelaki tak kukenal menyelamatkan aku kemarin. Hari ini entah siapa lagi yang akan menyelamatkanku. Perasaan ini mulai tak tenang. Aku seperti sedang digiring menuju ruang eksekusi.


Mobil berhenti di depan sekolah. Anak-anak sudah ramai memasuki gerbang. Wajah-wajah mereka sumringah, sedangkan aku melihat gerbang sekolah seperti melihat gerbang neraka.


"Sudah sampai sayang," suara tante Yusnita menyadarkanku.

__ADS_1


"Oh iya, Tante." Berat rasanya kaki ini melangkah turun. Kujabat tangan tante Yusnita sebelum ia berlalu.


"Bismillah, semua akan baik-baik saja," lirihku.


Aku melangkah masuk melewati gerbang. Kuintip gazebo di sebelah kiri, tempat Kak Afni dan teman-temannya sering nongkrong. Syukurlah mereka belum datang. Langkah kupercepat, pandangan kutundukkan, berharap tak ada halangan sampai di kelas.


Lega, akhirnya aku sampai di kelas dan tidak melihat banyangan perempuan siluman itu. Tapi kelegaan itu bersifat sementara, masih tersisa waktu 11 jam di sekolah, masih banyak kemungkinan yang terjadi antara aku dan Pemilik novel Galaksi Kinanti itu.


***


Bu Mira menjelaskan materi tentang gambar ilustrasi. Seni budaya adalah pelajaran yang paling aku sukai. Aku suka melukis dan menyanyi. Aku selalu menikmati pelajaran seni. Bagiku dengan belajar seni kita akan lebih dekat dengan keindahan, tapi sekarang aku tidak menikmatinya. Pelajaran ini tak pernah membuatku bosan atau ngantuk tapi kali ini jauh berbeda. Penjelasan Bu Mirah sama sekali tidak masuk dikepalaku, hanya terpantul di daun telinga dan terlempar entah kemana.


Beda dengan Ayu yang duduk di sampingku, semangat 45 dia mengikuti pembelajaran. Aku menoleh ke arah Daniza yang duduk seorang diri pun begitu, alisnya berkerut-kerut, sesekali ia manggut-manggut menyimak penjelasan Bu Mirah.


Bu Mira sibuk menyampaikan materi pembelajaran, tayangan slide yang variatif menjadi daya tarik tersendiri bagi media pembelajarannya, sehingga pelajaran yang dasarnya mnyenangkan semakin menarik tapi sumpah aku benar-benar tidak menikmatinya.


Terbayang terus wajah Azmi yang kecut padaku, tatapan sinis Afni dan senyum tak simetris temannya itu.


Pikiranku kalut, masih seputar novel itu. Pelajaran yang menyenangkan rasanya jadi hambar, hilang semangat. Sial, besar benar pengaruh cercaan Azmi padaku kemarin sampai-sampai untuk melihat kantin pun rasanya enggan.


Aku mencoba mencari jalan keluar dari masalah ini. Bagaimana pun caranya aku harus menghindar dari cengkraman Azmi hari ini, setidaknya sampai kutemukan pengganti novelnya.


[Mungkin lebih baik hari ini tidak jajan.] batinku.


"Baiklah anak-anak, sampai ketemu pertemuan selanjutnya, semoga hari kalian menyenangkan," tutup Bu Mirah diakhir pembelajarannya. Selepas ucapan Bu Mirah, bel berdering cukup lama tanda istirahat.


Daniza mendekat ke arahku, "Jajan yuk! ajaknya.


"Sepertinya aku tidak jajan hari ini," lirihku.


"Za, ayolah!" bujuk Daniza.


"Tapi Niz-"


"Masih masalah yang kemarin?" potongnya.


Aku mengangguk lemah.


"Ya Tuhan, tidak usah ambil pusing, ntar kalau ketemu perempuan kerempeng itu tinggal bilang novelnya belum diganti ya, nanti kalo stoknya sudah ada." Sembari ia mengikuti gaya bicara Azmi.


"Tidak semudah itu Niza, kamu kan lihat sendiri perlakuannya ke kita kemarin, belum lagi makiannya yang nancap dihati. Aku sudah cukup malu, dan artinya kalau hari ini aku ke kantin dan ketemu mereka, aku berani malu untuk kedua kalinya," tegasku.


"Za, saran Niza ada benarnya, kamu kan punya niat baik untuk menggantinya, kalau hari ini kita tidak kelihatan di kantin atau semisal pindah kantin, pasti mereka menganggap kita pengecut, lari dari tanggungjawab."


Penjelasan Ayu masuk akal. Ada benarnya, jangan sampai mereka menganggap aku lari dari tanggungjawab. Akhirnya kuputuskan ke kantin bersama Daniza dan Ayu.


Sepanjang jalan menuju kantin, mataku tak henti mengawasi keberadaan Azmi atau Afni atau temannya pemilik senyum tak simetris itu. Sampai di kantin syukur aku tidak melihat bayangannya. Kantin sudah ramai seperti hari-hari sebelumnya. Pesanan kuserahkan pada Ayu yang dan Daniza. Meskipun Daniza berbadan lebar tapi dia sangat lincah.


Aku langsung memilih tempat di pojok. Tempat yang sering kosong. Meskipun mungkin Daniza akan kesulitan menuju pojok tapi setidaknya ia akan leluasa menggerakkan badannya yang benar-benar melar itu.

__ADS_1


Ayu datang membawa sepiring singkong goreng dan tiga gelas teh hangat. Dan Daniza membawa dua buah piring. Sepiring nasi goreng dan sepiring kentang goreng. Nasi goreng itu bukan pesanan Daniza melainkan punya Ayu. Badan Ayu memang terbilang mungil tapi porsi makannya jumbo, beda dengan Daniza yang gembrot tapi makan irit.


Perasaanku mulai tenang setelah beberapa lama di kantin dan Trio Sinis itu belum datang. Mungkin mereka sudah belanja duluan, hmmm ... lebih baik lagi. Aku mulai menikmati suasana tanpa tekanan, musik pop mengalun menambah kenyaman.


Satu hal lagi yang membuat kantin ini mempunyai nilai lebih, meskipun disesaki pengunjung setiap jam istirahat tapi kantin selalu tampak bersih. Tong sampah tersedia hampir di setiap sudut. Kata-kata motivasi menghiasi dindingnya. Memang hanya sebuah kantin sekolah tapi tampilannya ala kafe.


Ubi goreng menjadi jajanan andalah di kantin ini. rasanya memang beda, entah apa rahasianya, meskipun makan beberapa potong tapi tak membuat kembung.


"Emmm ... di sini rupanya."


Suara Azmi yang runcing membuatku kaget. Teh yang kuseruput keluar kembali dan membuatku batuk. Dia sudah berdiri di depanku, sambil menolak pinggang.


"Mana novelnya?" to the point tanpa a i u o, ia menjulurkan tangan kanan ke arahku.


Aku gelagapan.


"Jangan bilang gak ada ya," sambung temannya, pemilik senyum tak simetris itu.


Kulihat tatapan Afni padaku tajam dan menusuk. Sejuta kesal berkecamuk di dadanya dialamatkan kepadaku. Wajahnya merah padam. Tak pernah kulihat Afni semarah itu.


"Kak, jadi be-gini," sesekali mataku menyorot kepada Afni, "Kemarin aku mencari buku itu di lima toko buku dan-,"


"Jangan bilang gak ada!" sergahnya.


"Kak serius, a-ku sudah berusaha tapi belum dapat, insyaa Allah aku akan ganti,"


"Tahu tidak, Azmi tidak suka dijanji?" tanyanya pelan tapi menekan.


Kulirik Ayu dan Daniza, mereka mematung, tak bisa melakukan apa-apa, tak punya pembelaan karena kami memang salah. Siswa yang melihat kejadian ini jadi penonton, seperti penonton bayaran, tidak ada yang berani membela. Ibu kantin geleng-geleng melihat sikap Azmi, mungkin bukan lagi hal yang baru baginya.


"Pokoknya aku tidak akan meninggalkan tempat ini sebelum kalian mengganti novel itu, atau ... emmm ... ," ia memukul-mukul dagu dengan telunjuknya dan memandang kami dengan licik, "atau aku laporkan ke guru BK bahwa kalian telah merusak bukuku dan menyirami aku dengan coklat panas," ancamnya.


"Ja-ja-ngan Kak, aku janji akan ganti. Aku mohon kak," aku menunduk kurasa netraku mulai mengembang.


"Pokok-"


Suara melengkin Azmi terhenti seketika. Entah apa yang menghentikannya. Aku masih melihat ke bawah, tiada keberanian sedikitpun menatap wajahnya.


"Masih masalah novel itu?" tanya seorang lelaki. Aku angkat kepala dan melihat ke sumber suara.


"Ini gantinya!" ia meletakkan novel ditangan Kak Azmi dengan kasar. "Sudah beres kan masalahnya," sambungnya lagi.


"Aku tidak butuh novel dari kamu," Azmi melemparkan novel itu.


"Itu bukan dariku, itu novelnya sendiri." Jelasnya sambil melihat ke arahku. "Tadi orangtuanya datang mengantarkan novel itu karena ketinggalan." Selepas ucapannya ia kembali membelakang dan berjalan, tak lupa diambilnya kopi pekat pesanannya.


Mendengar itu, Kak Azmi spechles tapi roman wajahnya semakin padam. Ia menatap tajam penuh ancaman ke arahku lalu pergi setelah memungut novel yang dibuangnya. Beberapa siswa yang melihat kejadian itu malah cekikikan.


Aku masih terperangah menyaksikan peristiwa yang baru saja berlalu, memoriku berputar dan menemukan ingatan tentang lelaki yang sudah hilang dari pandanganku.

__ADS_1


Azmi kembali lagi, sepertinya ia lupa sesuatu.


"Kali ini kamu selamat, tapi besok-besok belum tentu, tunggu pembalasanku," nadanya penuh ancaman.


__ADS_2