
"Daniza, aku mengerti perasaan kamu, kalau dengan menangis kamu bisa menata kembali hati yang hancur, maka menangislah!" Aku mencoba menenangkan Daniza sekali lagi. Ayu tidak tahu harus bagaimana, ia juga mencoba menenangkan dengan memegang lengan perempuan berwajah sembab di sampingnya.
Daniza bergeming, air matanya tetap tumpah. Menjadi bagian jadi organisasi vokal adalah impiannya sejak masih SMP, sayangnya dia tidak pernah punya keberanian untuk bergabung. Daniza pernah cerita, dia adalah siswa yang kerap mendapat bullying saat SMP. Masuk SMA dia ingin mengubah hal itu, ia berharap punya tempat diantara orang yang melihatnya berbeda.
Aku kagum dengan Daniza, meskipun sering dicibir karena ukuran badannya yang gemuk bahkan sangat gemuk, beratnya mencapai 107 kilogram. Tapi dia tidak malu, rasa percaya dirinya tetap ada. Dia mencintai diri apa adanya. 'Kalau aku tidak menerima diriku yang gemuk, bagaimana orang lain mau menerimannya, setiap perempuan itu cantik jika bisa mencintai diri sendir' katanya suatu hari saat kakak kelas menegur ukuran badannya yang harus jahit seragam sendiri. Dan hari ini dia kecewa, kurasa Daniza akan berubah, kepecayaan dirinya akan luntur akibat pengumuman itu.
Mengapa bukan aku saja yang gagal. Kalau aku yang gagal dan Daniza yang lolos, maka hari ini kebahagiaan menyertai kepulangannya. Dan aku tidak perlu repot-repot lagi mengundurkan diri. Hidup ini memang kadang penuh ironi yang sulit diterima akal sehat.
"Daniza, kami ini sahabatmu, jika kamu merasa sedih, kecewa atau apapun itu, berbagilah dengan kami. Aku tahu Niz, kecewa itu berat tapi lebih berat lagi jika disimpan," Ayu juga mulai membujuk Daniza.
"Apa kamu bilang Za, mengerti perasaan aku? Hatimu saja tidak kau mengerti, berani bilang mengerti perasaan aku." Aku sekali lagi ingin membujuknya tapi niat itu kuurungkan ketika melihat ia menatapku nanar. Nasihat Ayu diabaikannya.
"Niz, aku pernah berada diposisimu, memang berat tapi kita harus tegar. Ada sesuatu yang lain yang sedang menunggumu, mungkin bukan di vokal tapi-" belum berakhir kalimat Ayu tapi Daniza telah menyergah.
"Kalian dengar nggak, tinggalkan aku sendiri," teriaknya.
"Tapi Daniza-"
Daniza tidak hirau, ia menarik kasar tasnya lalu keluar meninggalkan aku dan Ayu. Ayu menatapku, usaha menenangkan Daniza sia-sia. Bujukan dan usaha untuk membuatnya lebih baik malah semakin menyulutkan api kekecewaannya.
"Lebih baik kita pulang saja, biarkan Daniza tenang, dia butuh ketenangan sekarang. Semoga besok perasaannya sudah membaik." ajakku pada Ayu.
***
__ADS_1
Hari ini aku dijemput Bang Salim, tante Yusnita ada acara kantor sampai malam. Bang Salim sudah menunggu di tempat biasa. Aku berlari kecil ke arahnya.
"Sendiri aja, Dik?"
"Iya Bang, Afni lagi sakit,"
"Sakit?" tekanan yang butuh dibenarkan. Bang salim mengintipku dari cermin yang ada di atas sebelah kirinya, alisnya bertautan.
"Iya Bang." Manggut-manggut Bang Salim mendengar jawabku, mungkin ia sedang mengaitkannya dengan sesuatu yang lain perihal penyebab sakitnya Afni.
"Emang kenapa Bang, kelihatannya kurang percaya gitu?"
"Ah tidak, aku cuma bertanya," gelagapan Bang Salim sambil berusaha fokus dengan jalan yang sesak kendaraan di depannya.
"Dik, kenapa kemarin tidak ikut pulang saat aku jemput?"
"Bang, kemarin waktu jemput Kak Afni langsung pulang ke rumah kan?"
Ada keingin untuk tahu lebih jauh tentang acara Afni semalam sampai pulang larut, mungkin Bang Salim tahu sesuatu.
"Langsung ke rumah Dik, tapi Afni dan teman-temannya sudah bikin rencana mau ke diskotik, katanya untuk hilangin stres."
"Ha, diskotik Bang? mereka bertiga pada ke diskotik? Bang Salim salah dengar kali?" kali saja Bang Salim punya gangguan kesehatan telinga.
__ADS_1
"Sumpah Dik, mereka memang bilang mau ke diskotik, si Azmi yang traktir."
Azmi bukan teman yang baik bagi Afni. Dari awal aku sudah curiga, melihat gelagatnya saja, sudah mengindikasikan ada yang tidak beres dengan Azmi dan Rima. Aku harus melakukan sesuatu demi Afni.
***
Sabtu yang sepi, Nurul ikutan tahfiz dan wajib nginap di tempat tahfiz, Ahad sore baru dijemput tante Yusnita. Tante Yusnita lembur, biasanya akan pulang menjelang larut malam. Dan Afni, entah kemana perginya sepupuku yang mengaku sedang sakit itu. Ia tidak ada di rumah, tante Yusnita bilang ia istirahat di rumah, tapi orangnya raib. Ada yang tidak beres dengan Afni.
Semua tugas dari sekolab yang wajib kumpul pertemuan selanjutnya dari Bapak Ibu Guru sudah beres. Setidaknya ada tujuh tugas dari mata pelajaran selesai sore ini.
Aku merebahkan badan yang agak pegal di tempat tidur setelah semua tugas-tugas itu tuntas. Pikiran ini kembali bercabang-cabang. Satu masalah belum selesai, datang lagi masalah yang lain. Afni yang mengancam bahkan tega mengusirku dari rumah, Daniza yang pakai acara ngambek, cengeng sekali dia padahal mulutnya kadang lepas kendali bicara seenak perut tanpa peduli orang tersinggung atau tidak, dan sekarang giliran dia yang bapernya minta ampun.
Azmi juga memberi peringatan agar mengundurkan diri dari organisasi vokal jika lolos, memangnya siapa dia, sok kuasa mengatur-atur. Kalaupun aku tidak mengundurkan diri, tentu setiap kegiatan vokal aku bertemu dengan mereka. Mau tidak mau Azmi akan semakin sering berurusan denganku. Hubunganku dengan Afni akan semakin sulit di rahasiakan.
Menjadi anggota vokal sekolah adalah impianku dari dulu. Sejak Sekolah Dasar aku mengejar impian itu tapi tidak pernah dapat kesempatan, guru Seni Budaya selalu menempatkanku di tim lukis. Hari ini, impian itu ada di depan mata tapi begitu banyak masalah. Maju kena mundurpun kena.
Jika mundur maka impianku menjadi peserta Gita Bahana Nusantara akan terkubur, harapan menjadi wakil provinsi dalam FLSN harus pupus, keinginan untuk bebas tes di perguruan tinggi terbaik harus dilupakan begitu saja. Di sisi lain kalau mundur hubunganku dengan Afni tidak akan semakin buruk karena tidak perlu main petak umpet dengan teman-temannya.
Jika tetap memilih bergabung maka setiap kegiatan aku akan berurusan dengan Azmi, Afni dan Rima. Azmi akan selalu menganggu ketenanganku di sekolah. Aku dan Ayu sering bersama dan mengabaikan kehadiran Daniza diantara kami.
Pengumuman itu bukannya membuat hati ini bahagia malah menimbulkan dilema. Gara-gara pengumuman itu Daniza kecewa dan nangis, akhirnya ngambek kepadaku dan Ayu. Kenapa bukan Daniza saja yang lolos, kan tidak akan ribet. Tak perlu repot-repot mengundurkan diri, tak perlu ada Daniza yang kecewa.
Kepala ini rasanya mau pecah memikirkan masalah kecil itu. Masalah kecil yang bisa saja berakibat fatal.
__ADS_1
Tadi di sekitar pengumuman juga ada Faruq. Ngapain ya Faruq disitu? Atau jangan-jangan dia juga anggota vokal? Masalah semakin runyam kalau Faruq juga anggota vokal. Tapi kalau dia anggota vokal, kenapa tidak duduk di belakang Bu Mirah waktu itu? Mungkin kebetulan saja dia lewat.
Perasaan aneh itu muncul lagi, jantung yang bergetar hebat, perut dan sekitaranya yang tidak nyaman. Cupid sialan mungkin sedang menari-nari tak karuan di sana.