
Besamamu, di bawah payung yang sama selama lima menit adalah peristiwa paling indah dalam hidupku.
------
Dia lelaki bermata teduh, untuk kesekian kalinya jadi malaikat penolong. Aku tidak mengerti apa yang terjadi di dalam hati ini. Ada rasa yang membuncah di dalam dada. Yang jelas aku sangat bahagia.
Saat ini aku berjalan beriringan dengannya, tinggi badanku hanya sampai di bahunya. Aku dan lelaki pemilik mata teduh sedang berlindung di bawah payung yang satu di tengah derasnya rinai hujan.
Aku dan dia terus berjalan, tak ada kata-kata, tak ada saling menyapa, hanya kata 'ayo' yang menjadi awal dari semua peristiwa ini, peristiwa yang namai indah, awal dari timbulnya bahagia di sudut hati ini.
Aku diam dalam bahagia, seisi kepalaku dipenuhi tentangnya dan dia entah apa yang ada dipikirannya. Aku diam, dia juga diam, hanya suara hujan dan langkah kaki yang terdengar dari dua insan yang tidak saling mengenal dibawah payung yang sama.
Sekira lima menit berjalan, aku dan dia sudah sampai di depan gerbang sekolah yang tertutup. Aku terlambat tapi aku tetap bahagia.
Pak Ikbal dengan jas hujan yang melekat di badannya, satpam sekolah berlari kecil ke arah kami membuka pintu gerbang. Ia sigap atas tugasnya, setelahnya ia kembali duduk di tempatnya semula. Pak Ikbal termasuk satpam yang baik hati. Dia jarang memberikan hukuman. Dia hanya menjalankan tugas yang diberikan guru piket.
Pak Iqbal menunjuk kami berdua sambil membunyikan sempritan lalu melambaikan tangan dan menunjuk ke arah pos. Sebuah kode agar kami masuk ke dalam pos yang dikuasainya.
Aku dan dia lelaki pemilik mata teduh, masih berdiri di depan pos. Aku mengelap baju yang kena percikan hujan. Sedangkan dia lelaki bermata teduh yang mulai detik ini, menit ini, jam ini, hari ini disaksikan oleh ramainya air yang jatuh dari langit kunobatkan sebagai malaikat penolong yang sampai sekarang tidak kutahu namanya. Dan kunamai dia Malaikatku.
Ia menyelisik rambutnya yang basah karena percikan hujan.
Aku mencari cara untuk mengucap terima kasih tapi tidak tahu harus memulai dari mana. Dia yang tadi bersamaku di bawah payung yang sama super duper cuek, dia sibuk dengan dirinya, tak ada sapaan atau apa pun yang keluar lagi dari bibirnya selain kata 'ayo' tadi.
__ADS_1
Tidak ada kata yang bisa kuucapkan atas semua peristiwa indah yang baru saja terjadi. Aku tidak tahu harus bilang apa pada malaikat penolongku, masa iya bilang aku bahagia telah diberi tumpangan payung, kan konyol.
Payung yang tadi melindungi kami digantungnya di depan pintu, sebuah tempat khusus untuk menyimpan barang bawaan siswa yang tidak boleh dibawah masuk ke dalam kelas.
"Terima kasih," akhirnya kalimat itu sanggup terucap dari bibirku yang tadinya kelu.
Dia menoleh kearahku, sekali lagi ia memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
"Sama-sama" jawabnya.
Ya, Tuhan rasanya kakiku saat ini tidak menginjak ke tanah. Perasaan ini melayang-layang lantaran bahagia luar biasa. Entah karena bertemu dengan orang baik hati atau karena efek senyumannya barusan.
Tanpa berlama-lama aku dan dia masuk ke dalam pos, masuk bersamaan. Di dalam ternyata ada banyak siswa yang terlambat. Beberapa diantaranya perempuan. Padahal biasanya tempat ini hanya dipenuhi siswa laki-laki. Mungkin karena pengaruh hujan yang tiba-tiba turun kepagian.
Azmi menusukku dengan tatapannya yang garang, sesekali ia melihat dengan cara yang sama pada malaikatku. Dan malaikatku melihatnya dengan cara yang biasa saja, seperti tak ada apa-apa dengannya.
Tersisa satu kursi kosong. Aku melihat ke arah malaikatku. Dia menyilakan aku duduk dengan kode gerakan tangan. Sekali lagi aku merasa dihargai. Dia mendahulukan perempuan. Apalagi yang kurang darinya, suka menolong, sopan dan menghargai perempuan, wajah yang sulit dikatakan jelek dan yang terpenting dia peduli.
Melihat kejadian ini Azmi dan Rima semakin berang. Bibir keduanya dikatupkan dengan paksa. Ada apa, marahkah Azmi dan Rima padaku? Toh malaikatku tidak mengganggu kesenangannya, dia baru saja menolongku, apa masalahnya dengan dia. Akupun tidak mengusik kebahagiannya.
Soal dia garang, naik darah atau apalah namanya bukan urusan saya, toh dia memang mungkin seperti itu, tidak senang melihat perempuan jerawatan sepertiku bahagia, apalagi bahagia karena diperhatikan malaikat tampan. Hmmm ... dasar manusia aneh.
Semua siswa yang terlambat wajib menulis tiga puluh empat nama provinsi di Indonesia beserta dengan ibu kotanya. Itu tugas dari guru piket, Pak Iqbal hanya penyambung lidah. Sesuai dengan mata pelajaran yang diampu oleh guru piket yakni geografi.
__ADS_1
Aku cekikikan dalam hati, hanya mencatat tiga puluh empat nama provinsi. Mudah sekali tugasnya, kenapa tidak sekalian mencatat semua negara yang masuk sebagai anggota dalam organisasi dunia PBB beserta ibu kota dan nama kepala negaranya, sepertinya itu lebih sulit. Jangankan tiga puluh empat nama provinsi beserta ibu kotanya masing-masing, menulis tahun berdirinya beserta nama gubernurnya pun aku bisa.
Dan mereka yang sekarang berkumpul dalam ruangan ini yang datang lebih awal, aku yakin tidak mampu menyelesaikan dengan baik tugas yang anak TK pun tahu. Buktinya mereka masih berada di ruangan ini dengan gaya leher jerapa mencari jawaban, saling sontek.
Bolehkah aku tertawa jahat dalam hati. Untuk kali ini aku menang.
Kurobek secarik kertas dari dalam tas, tak lupa juga kuambil polpen. Aku mulai menulis tugas dari guru piket. Jari-jari ini tiada berhenti bergerak. Malaikat penolongku juga melakukan hal sama.
Tanpa butuh waktu lama tugas itu sudah selesai. Malaikatku pun sudah selesai. Selesai nysris bersamaan lalu menghadap Pak Iqbal juga bersamaan untuk menyerahkan tugas menulis tiga puluh empat nama provinsi beserta ibu kotanya.
Ketika aku dan malaikatku menyetor tugas, Pak Iqbal melihat kami dengan wajah setengah percaya. Siswa yang paling terlambat tapi paling cepat menyelesailan tugas.
Aku dan malaikatku melangkah masuk setelah Pak Iqbal membuka gerbang yang kedua untuk kami.
Kurasa Azmi dan Rima sulit menerima kenyataan ini. Mereka masih di dalam pos seperti cacing kepanasan menyelesaikan tugas itu.
Setelah gerbang terbuka malaikatku berjalan cepat menuju kelasnya. Kuperhatikan ia dari belakang. Kelasnya di lantai 1, jelas dia kelas XI. Setelah ia hilang dari pandanganku karena berbelok ke arah kanan, akupun berjalan menuju kelasku.
Terbayang kembali peristiwa yang baru saja terjadi. Perasaanku melayang-layang, wajah ini rasanya selalu ingin tertawa
Sulit kukendalikan bahagia ini. Tak ada waktu bagi wajah ini memperlihatkan ekspresi datar.
lima menit bersmanya, di bawah lindungan payung yang sama di mana aku dan malaikatku berjalan beriringan. Lima menit paling indah selama hidupku. Mengalahkan indahnya saat aku memenangkan lomba melukis tingkat provinsi.
__ADS_1
----