Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Rahasia Kecil


__ADS_3

Oh jadi namanya Om Indra. Lelaki brengsek, tepatnya Om brengsek yang mengantar Afni pulang malam itu. Lelaki yang membuat Afni kesetanan sehingga lari kembali mencium bibirnya. Afni kena hipnotis apa dari Om Indra itu sampai rela dicium di depan rumah lagi.


Di tempat terbuka tepatnya di depan rumah Afni rela menciumnya. Sangat mungkin dilihat oleh siapa pun yang berlalu dan mereka tidak ada rasa malu, apalagi kalau di tempat tertutup. Sebelum insiden memalukan itu terjadi, sebelumnya pasti sudah ada peristiwa lain. Apalagi mereka cuma berdua di dalam mobil, di tempat tertutup. Tidak, aku tidak boleh negative thinking pada Afni.


Tidak mungkin Afni melakukan hal hina seperti yang dibayangkan kepala polos ini. Afni masih waras meskipun telah dirasuki setan. Afni masih menghargai dirinya. Tidak mungkin melakukan hal yang tidak senonoh itu.


Tapi mereka ngomong, barusan Azmi diajak karaokean dengan Om Indra, diajak jalan dan belanja, terus keuntungannya Azmi akan diorbitkan menjadi penyanyi terkenal. Terus Om Indra itu apa hubungannya dengan Afni, ngapain dia yang ngantarin Afni pulang malam itu. Yang dekat dan mencari keuntungan dengan Om Indra kan Azmi tapi kenapa Afni yang rela dicium.


Sepetinya ada konspirasi diantara mereka untuk menjebak Om Indra, atau bisa jadi Afni yang akan menjadi korban atas semuanya.


Jiwa detektif ini memberontak, ingin tahu lebih jauh tentang Om Indra dan hubungannya dengan Afni, Azmi dan Rima. Aku tidak peduli dengan Azmi dan Rima, terserah mereka kalau mau hidup dilingkaran setan bersama Om Indra. Tapi Afni harus diselamatkan dari situasi buruk ini.


Aku mengendap-endap membuka pintu kamar lalu keluar. Kuintip ke arah kamar Afni, sayup-sayup terdengar suara kelakar Afni, Azmi dan Rima. Aku mendekati pintu kamar Afni dengan kaki melangkah sangat pelan, nafas tertahan dan mata mengintai ke sana kemari, lalu sembunyi di belakang meja tempat bunga hias dan guci guci mini kesayangan tante Yusnita di letakkan, yang tepat berada di samping pintu kamar Afni.


Aku harus mencari tahu lebih banyak tentang Om Indra, lelaki busuk yang tengah trending topic diantara mereka. Aku sudah dapat satu bocoran, namanya Om Indra dan punya kolega di bidang musik dan tarik suara, yang membuat ketiga cewek SMA yang gila populer itu kesetanan.


Suara terkekeh terdengar lagi. Yang paling heboh suara Rima. Perempuan pemilik senyum tak simetris itu ternyata boros bicara juga, padahal di sekolah dia kebanyakan diam dan memainkan rambut keritingnya.


Perasaan ini dag dig dug, prahara besar menanti di depan mata kalau sampai aku ketahuan tinggal di sini apalagi kalau kedapatan menguping pembicaraan mereka, bisa tamat riwayaku di kota ini. Jalan Afni untuk segera melemparku dan angkat kaki dari rumah ini terbuka lebar.


Wajah ini, wajah yang sering membuat mereka naik pitam tidak boleh kelihatan sama sekali. Tapi karena cemilan habis, air minum juga sudah habis, mau tidak mau aku harus keluar kamar dengan resiko terbesar bisa terciduk oleh teman-teman Afni. Ditambah lagi rasa penasaran yang merongrong jiwa akhirnya sampailah aku di balik meja ini, duduk jongkok terjepit diantara meja dan guci. Dari sini aku mendengar jelas pembicaraan mereka.


"Tapi Om Indra serius kan akan membatu kita jadi penyanyi terkenal?" Keraguan menyertai pertanyaan Afni.

__ADS_1


"Iya dong, masa Om Indra mau bohong ke kita. Kartu jokernya ada di tangangku, Om Indra tidak mungkin macam-macam sama kita." Azmi meyakinkan kedua temannya.


"Kartu joker, maksud kamu?" Afni ingin tahu lebih dalam kehidupan pribadi Om Indra.


"Om Indra itu lelaki kesepian, dia sama sekali tidak pernah punya niat untuk menikah lagi setelah diceraikan oleh istri pertamanya,"


"Terus," Rima mendesak penasaran.


"Om Indra ingin mengakhiri masa kesepiannya, percuma punya harta banyak, perusahaan yang maju, kolega dimana-mana tapi hidup Om Indra kosong,"


"Maksudnya?" Rima pe ak gagal paham.


"Om Indra sedang mengincar seorang perempuan, kabarnya juga janda tapi sulit sekali Om Indra untuk menaklukkannya, nah makanya aku mau bantu Om Indra untuk mendekati perempuan itu,"


"Kamu sudah ketemu dengan perempuan itu?" Afni terus mendesak ingin tahu.


"Aman apanya?"


"Kalau perusahaan tempat perempuan itu bekerja sudah tanda tangan kontrak dengan perusahaan om Indra."


"Maksudnya?" Rima masih gagal paham juga, otak anak itu malas sulit makna dengan baik.


"Setelah perusahaan tempat perempuan itu bekerja dibawah kuasa perusahaan besar milik Om Indra, maka Om Indra akan memutuskan kerjasama kalau perempuan itu masih tidak mau menerima Om Indra." Jelas Azmi seterang-terangnya kepada kedua temannya yang belum paham skandal yang sedang terjadi dengan orang yang mereka temani berurusan saat ini.

__ADS_1


[Hmmm ... Jadi Om Indra punya rencana menjebak perempuan incarannya itu. Melalui kerjasama perusahaan, Om Indra akan menjalankan aksinya. Perempuan incarannya yang mungkin hanya karyawan biasa dapat dijadikan umpan untuk menaikkan pamor perusahaan dengan menjalin kerjsama perusahaan penanam modal macam Om Indra. Ce ce ce, kejam sekali rencana mereka. Hufttt ... kasihan sekali perempuan incaran Om Indra itu. Ternyata ada orang nasibnya lebih genting lagi dari pada aku. Harus terjebak dalam situasi sulit demi keuntungan orang-orang berkuasa macam Om Indra.] aku membatin membayangkan betapa kasihannya hidup perempuan yang diinginkan lelaki macam Om Indra.


"Enak banget ya jadi perempuan incaran Om Indra itu, apa kurangnya coba om Indra, sudah kaya, ganteng, baik dan pabrik duitnya tersebar dimana-mana pula." Rima berangan-angan kalau kelak dia juga mendapatkan incaran dari lelaki seperti Om Indra.


"Iya tapi brengsek," sambungku tanpa sengaja.


"up!" Refleks kututup mulut kedua tangan dan siku menyenggol guci kecil yang diletakkan di dekat tanaman hias tante Yusnita.


[Mati aku, kenapa tak sengaja ngomong, ini juga guci pakai acara kesenggol segala.]


Keringat dingin mengucur keningku, membasahi pelipis. Tanganku bergetar lantaran ketakukan.


"Lho siapa yang bilang brengsek," intonasi suara Azmi meninggi tak terima pahlawannya itu dikatai brengsek.


"Bukan aku," Rima mengelak.


"A-ku juga bukan?" Afni pun mengelak tapi berusaha menyembunyikan sesuatu.


"Terus itu tadi suara apa, kayak sesuatu yang jatuh di depan pintu," selidik Azmi.


"Iya, aku dengar juga ada suara sesuatu yang jatuh dan kayaknya suara yang bilang brengsek itu dari luar deh," curiga Rima.


"Coba aku periksa," Azmi bergegas, tangannya sudah memegang gagang pintu, terdengar suara "krek," dari dalam dan gagang pintu di sampingku bergerak.

__ADS_1


"Azmi, jangan jangan, tidak usah keluar palingan itu suara cicak yang nyenggol sesuatu." Cegat Afni kepada Azmi yang sudah menekan full gangang pintu.


"Aku harus memastikan." Azmi melanjutkan aksinya.


__ADS_2