
Aku buka mata dengan pelan. Pening masih menguasai seluruh bagian kepala. Sekujur tubuh lemas karena mengirim kekuatan pada perang di kampung tengah pecah minta jatah.
Kesadaran jiwaku kembali satu persatu. Pandangku tertuju pada langit-langit kamar yang berwarna ungu pastel, di sana lampu sedang menyala pertanda malam telah menguasai separuh wilayah bumi. Kuedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang di dominasi warna ungu. Semua yang terlihat olehku asing.
Aku mengingat-ingat kembali peristiwa yang barus saja terjadi. Terakhir aku berada di Halte Sutomo, seseorang menempuk pundakku dan setelahnya gelap.
"Ya Tuhan." Tanpa menggerakkan badan ke kiri atau ke kanan aku langsung bangun.
"Di mana aku?" Kuperiksa semua bagian tubuhku. Jari-jari kaki dan jari-jari tangan masih utuh. Seragam lengkap juga masih melekat di badan seperti saat terakhir di halte.
Kembali kuperhatikan sekeliling dan semua benar-benar asing.
"Aku di mana?"
Aku bangkit dari tempat tidur, kudekati tas yang terletak di meja yang berada di samping tempat tidur. Isinya kuperiksa satu persatu dan masih utuh. Di samping tas terletak dua potong roti selai coklat dan segelas air minum.
"Kamu sudah sadar, Nak?"
Aku tersentak, jantungku bergetar hebat, suara laki-laki mengangetkanku. Aku menoleh ke arah suara, laki-laki paruh baya berdiri di depan pintu. Wajahnya penuh wibawa, pakaiannya rapi khas orang berkelas, aku langsung ambil posisi siaga, jangan sampai ia menyerangku.
"Tidak usah takut, Nak!" Seuntai senyum menyertai wajahnya yang dihiasi janggut dan kumis tipis.
Aku memeluk tas, satu-satunya harta yang kumiliki saat ini.
"Duduklah Nak, tenangkan pikiranmu." ucapnya sekali lagi untuk membuatku nyaman.
Ia berjalan masuk mendekatiku. Lalu menarik kursi yang terselip di bawah meja. Pembawaannya tenang, senyum tak pernah hilang dari wajahnya.
"Duduklah, Nak!" Katanya sembari menggerakkan tangannya menyilakanku duduk di tempat tidur. Aku mengikuti perintahnya.
"Tadi bapak melihatmu sedang kebingungan di halte. Bapak pikir kamu membutuhkan bantuan olehnya bapak turun dari mobil dan mendekatimu untuk menawarkan bantuan. Bapak baru mau bertanya dan kamu langsung pingsan. Bapak tidak mungkin meninggalkanmu sendiri di halte, jadi Bapak membawamu ke sini. Syukurlah karena kamu sudah sadar." paparnya. Aku tidak tahu harus bilang apa pada bapak yang tadinya.kucurigai ternyata baru saja menolongku. Aku masih diam dan mencari-cari kalimat yang tepat untuk berterima kasih.
__ADS_1
"Oh ya, siapa nama kamu, Nak?"
"Maiza, Pak. Maiza Kartika"
"Maiza, nama yang bagus."
"Kamu mau ke mana? Kenapa sampai sore kamu masih di halte dengan seragam sekolah seperti ini?"
Aku lalu menceritakan ***** bengek peristiwa yang baru saja kualami dari awal kegiatan di sekolah sampai lewat dari Halte Sudirman ke Halte Sutomo. Tidak semuanya aku ceritakan, hanya hal yang penting saja yang perlu bapak yang baik hati ini tahu.
Soal penolakan Afni dan perlakuan Azmi yang membuatku hilang konsentrasi di bus tidak perlu bapak baik hati ini ketahui. Sekiranya masalah itu cukup aku yang menyimpannya.
Bapa baik hati menunduk mendengarkan penjelasanku. Setelah selesai kujelaskan peristiwanya, ia mengangkat kepala dan tersenyum padaku.
"Ya sudahlah, mungkin kamu lapar. Mari makan bersama Bapak."
Bapak yang baik hati ini menawariku makanan. Artinya aku akan makan malam dengan keluarganya. Ya keluarganya yang tentu semua orang-orang berkelas. Rasa minder timbul dalam hati, tapi belum mengalahkan rasa lapar yang dari tadi berputar-putar di kampung tengah.
"Silakan, Nak."
"Nama Bapak siapa?" Kutanyakan namanya agar aku bisa merasa sedikit akrab dengan Bapak yang baik hati ini.
"Anwar Baddu, Kamu boleh menaggil saya Pak Anwar!" jawabnya ramah.
"Pak Anwar, terima kasih telah menolongku."
"Tidak usah sungkan, mari kita makan," ajaknya.
"Tapi pak, aku mau pulang, pasti orang rumah khawatir dengan keadaanku." pintaku, berharap Pak Anwar langsung mengantarku pulang.
"Nanti setelah makan, Supri akan mengantarmu pulang."
__ADS_1
Aku lalu mengikuti langkahnya menuju ruang makan. Ketika keluar kamar, kutangkap sekilas rumah pak Anwar adalah rumah besar nan mewah dua lantai. Itu jelas terlihat dari plafon dan tangga rumah yang terbuat dari kayu yang diukir. Dinding dihiasi dengan lukisan-lukisan yang kelihatannya sangat mahal. Pak Anwar pasti salah satu konglomerat di negeri ini. Konglomerat baik hati.
Dari kamar, aku melewati ruangan yang elegan, sebuah televisi lebar yang entah ukuran berapa, yang jelas aku tidak pernah melihat model demikian di kampung, sebuah sofa bulu dan karpet mewah di letakkan di depan televisi dan dua buah meja yang berisi vas bunga, mungkin ini adalah ruang keluarga.
Aku terus mengikutinya sampai di ruang makan. Di meja makan sudah dihidangkan makanan, seperti tatanan makanan di restoran, di sana terletak dua buah piring dan gelas.
[Hanya dua? Artinya hanya aku dong dan pak Anwar yang akan makan,] batinku.
Pak Anwar menyilakanku duduk dan makan bersamanya. Seorang perempuan menarik kursi untuk pak Anwar dan untukku, lalu dia menuangkan air putih pada gelas yang tadinya terbalik. Bisa kutebak, perempuan itu pasti pembantunya.
"Silakan makan Tuan," ucapnya dengan badan sedikit berbungkuk, selepas ucapannya ia masuk ke dalam.
Benar dugaanku, kami hanya berdua menikmati makan malam. Ingin kutanyakan tentang anggota keluarga Pak Anwar yang lain tapi tidak berani, takut kalau menyinggung perasaannya.
Seusai makan malam, aku pamit pada Pak Anwar dan mengucap banyak terima kasih atas pertolongannya. Pak Anwar memberiku kartu namanya 'jika suatu saat kamu butuh bantuan, apapun itu, selama bisa maka Bapak bantu' katanya ketika menyodorkan kartu nama itu padaku.
Pak Anwar meminta Supri sopir pribadinya untuk mengantarku pulang. Supri lalu melaksakan perintah tuannya yang baik hati itu. Sepanjang jalan, aku dan Supri tidak ada komunikasi. Supri sibuk mengenderai mobil mewah milik Pak Anwar, dan menjalankan perintah tuannya itu. Sedangkan aku meladeni pikirannku yang tertuju pada rumah dengan mata yang lekat pada tepi jalan yang berhias lampu warna-warni.
Bagaimana jika tante Yusnita marah aku pulang larut, atau Afni mengadukan aku dan mengatakan hal yang tidak-tidak pada tante Yusnita, atau tante Yusnita kelewat khawatir lalu mengirim kabar ke kampung. Mama dan Kak Anaya akan tidak tenang kalau tahu aku belum pulang sampai malam begini.
Perasaanku gelisah kembali bermain di sudut hati, kakiku tidak tenang terus bergerak-gerak, ingin rasanya cepat sampai dan melihat keadaan di rumah. Sementara itu mobil berjalan cukup lambat karena beberapa kali terjebak macet. Kalau punya sayap, mungkin sedari aku terbang menuju pulang.
Sudah sampai Halte Sudirman, artinya beberapa meter lagi sampai di rumah. Dan akhirnya Pak Supri menghentikan mobil di depan rumah yang kutunjuk. Aku langsung turun setelah mengucap salam pada Pak Supri.
" Pak Supri, terima kasih sudah mengantarku pulang."
"Sama-sama, Dek!"
"Hati-hati di jalan Pak!"
"Iyya," jawab pak Supri sambil memutar mobilnya.
__ADS_1
Kuperbaiki perasaanku dengan menarik nafas dalam-dalam, sekilas kulihat Afni duduk di teras rumah, mungkin ia sedang menungguiku. Aku harus siap menerima kenyataan di depan mata apapun itu.