
Aku berjalan lesu keluar dari mall. Pernak pernik unik yang terpajang rapi sepanjang jalan keluar tak lagi menarik perhatian. Pikiranku fokus hanya pada novel itu, novel yang bahkan tak pernah kulihat wujud aslinya.
Aku terus melangkah keluar dengan perasaan putus asa. Aku menunggu angkot pulang di pinggiran mall. Suara bising kendaraan mulai terdengar. Klakson kendaraan mengeluarkan bunyi yang berentetan dibanyaknya kendaraan di hadapanku. Angkot-angkot penuh. Jalanan sedikit macet.
Orang-orang di sekeliling sepertinya sangat bahagia keluar dari mall dengan menenteng kantongan-kantongan berisi penuh belanjaan. Sedang aku, sudah tak ada teman, wajah cemberut tak menarik, jerawat bersaliweran di seluruh wilayah muka, tak menenteng apa-apa lagi.
Bus kota berhenti di depan halte, orang-orang dalam halte naik beraturan. Aku pun ikut serta, biarlah lama di dalam bus daripada lama menunggu angkot.
Aku ambil posisi paling belakang, seorang diri. Bait-bait tembang kenangan mengalun syahdu, menghibur para penumpang. Seperti suasana kota pada umumnya, orang-orang sibuk dengan diri sendiri.
Pandanganku tertuju pada pohon-pohon pinggir jalan kota yang kesepian di tengah ramainya kendaraan yang tiap detik menyumbang polusi. Mereka seperti aku, kesepian tanpa teman.
Tetiba saja aku teringat Mama dan Kak Anaya. Rindu dalam dada menyeruak untuk mereka. Dulu aku tak pernah sesusah ini jika butuh apa-apa, selalu ada Mama dan Kak Anaya yang membereskan.
Sekarang aku benar-benar sendiri.
Kota ini adalah kota yang asing bagiku. Mama mengirimku ke sini untuk melanjutkan sekolah. Katanya sekolah di kota ini cukup maju dibanding sekolah yang ada di kampung.
Selain mengasihani pohon yang kerja keras tiap hari melawan polusi, perhatianku juga tertuju pada semua nama jalan, toko, gedung termasuk halte yang terlewati agar mudah mengenal tempat-tempat di kota ini.
Tanpa terasa bus kembali berhenti di halte berikut. Beberapa penumpang turun. Setidaknya masih ada keteraturan di kota ini. Penumpang bus masih tahu cara saling menunggu giliran saat naik maupun turun.
Bus kembali berjalan dengan pelan dan makin lama kecepatannya semakin bertambah, kusandarkan dagu di tepi jendela kaca, perhatianku tertuju pada orang-orang yang baru saja turun dari bus, lambat laun mereka semakin dijauhi oleh bus.
Salah seorang diantara penumpang yang turun mengundang perhatianku. Retinaku tak sengaja menangkap sosok laki-laki memakai kaos putih yang dipadukan dengan jeans biru gelap. Dan tangan kanannya memegang buku.
Jantungku berdegup lebih cepat, rasanya aku menemukan kebahagiaan tak terduga. Dia orangnya, laki-laki yang baru saja membeli buku satu-satunya stok di toko itu.
Aku berdiri dan memperbaiki posisi tas kecil yang bergantung di bahu kiri. Sekuat tenaga aku berteriak.
"Stooooop!"
"Ghiiiikkkkk!" suara ban mobil cekikikan karena rem paksa.
Pak sopir kaget mendengar suaraku. Dan tentu saja semua pandangan tertuju padaku. Seketika musik berhenti bertalu Pandangan para penumpang berubah sinis, aku telah merusak ketenangan mereka. Aku jadi salah tingkah.
"Ada apa, Dik?" tanya kondektur heran.
"Aku mau turun di sini!" sahutku.
Aku melangkah menuju pintu sementara bus kembali bergerak dengan pelan.
"Maaf Dik penumpang hanya boleh turun di halte. Silakan turun di halte selanjutnya!" balas kondektur ramah.
"Tapi Pak ini penting, aku harus turun."
__ADS_1
"Itu aturan Dik, jika turun selain di halte sama dengan melanggar aturan. Silakan menunggu sampai halte berikutnya." Tegasnya.
Aku tak punya perlawanan. Mata-mata penumpang semakin menatap sinis.
"Silakan duduk kembali!" perintahnya ramah.
Aku hilang daya dan kembali duduk di tempat semula. Usaha yang sia-sia.
"Orang mana sih, kampungan sekali," tukas seorang perempuan berbaju mini dres berbunga ramai yang duduk tepat di depanku.
"Pasti dia dari kampung, lihat saja penampilannya, ketinggalan zaman," cerca perempuan berbibir merah terang yang duduk tepat di sampingnya. Sedang dua gadis seumuranku yang duduk di dekat pintu masuk saling berbisik sambil mencuri pandang padaku. Setelahnya mereka cekikikan.
Tingkah orang-orang itu membuatku semakin terpojok. Dan ini akibat kebodohanku sendiri.
[Ya ampun Za kenapa jadi setolol itu. Kamu sekarang tidak di kampung, kamu di kota. Ingat itu Za. Di sini semua berbeda, apapun itu, soal sedihmu, masalahmu, gelisahmu, siapa yang peduli. Jadi mulai sekarang kamu harus kuat dan kendalikan diri baik-baik.]
Matahari baru saja terbungkus pekat. Aku berdiri di balik jendela memandang situasi di seberang jalan. Di depan rumah terlihat orang-orang yang baru saja keluar dari masjid. Kulihat tante Yusnita dan Nurul baru saja keluar dari masjid. Hari ini aku ketinggalan salat berjamaah.
Rasanya ada segumpal sesal dalam rongga dada yang membuat hati ini berat, pikiran jadi tidak tenang dan tentu saja mata terus-terus saja menampakkan gelisah yang berkecamuk dalam hati. Aku telah melewati hari yang berat. Dan besok tentu saja akan lebih berat.
Seseorang mengetuk pintu kamarku, "Za," panggil tante Yusnita.
"Iya tante, aku segera datang," sahutku.
Kubuka pintu kamar, di depanku telah berdiri tante Yusnita dengan senyumnya yang manis. Sebisa mungkin kubalas juga dengan senyum yang lebih manis.
"Oh iya tante,"
"Kamu kenapa Sayang?" tanya tante ketika menangkap kegelisahan diwajahku.
"Tidak apa-apa Tante, mungkin karena kelelahan," jawabku dengan senyum agar kegelisahan hatiku tidak nampak.
"Kalau begitu kamu istirahat saja, nanti Nurul dibantu Afni saja kalau sudah pulang!"
"Tidak usah Tante, biar aku yang batuin Nurul, sekalian aku juga ingin menyelesaikan PR."
"Baiklah, tapi jangan paksakan diri ya!"
"Sip Tante," jawabku mantap.
Mengerjakan tugas yang bertumpuk saat badan letih dan hati lelah ternyata bukan hal yang mudah. Belum lagi aku harus kelihatan kuat di depan tante Yusnita dan Nurul. Nurul tidak boleh tahu kalau aku sedang ada masalah. Gadis kecil itu bisa mengadu ke tante Yusnita saking tak teganya melihat aku, kakak sepupunya disandung masalah.
Setidaknya mengobrol dengan Nurul dapat mengalihkan pikiranku akan novel yang tidak kunjung kutemukan itu.
"Kakak dari mana sih, kok lama banget," tanya Nurul disela-sela mengerjakan tugas.
__ADS_1
"Dari mall,"
"Kakak kok tidak ajak Nurul. Kakak cari apaan di mall?" jiwa keponya menggeliat.
"Cari buku!" jawabku cuek karena sibuk menghitung, mencari rumus yang tepat untuk tugasnya.
"Buku apaan, Kak? Buku tulis?" mulutnya tak mau diam.
"Novel."
"Novel, hmm ... apa judulnya kak?" bakat wartawannya mulai muncul.
"Galaksi Kinanti."
"Galaksi Kinanti?" ia kedengaran berpikir, seolah-olah bukan bocah ingusan yang tau genre novel.
"Hmm ... ."
"Kakak mau beli untuk baca atau mau kasi ke orang?" sekarang ia bertanya tentang tujuan, bak pembawa acara talk show.
"Hmm ... baca." jawabku singkat.
"Kayaknya Kak Afni punya novel Galaksi Kinanti deh," ia mulai memberikan solusi.
Dan "Apa? Kak Afni punya?" tanyaku berapi-api.
"E em ... ," sekarang dia yang cuek.
"Serius?" aku bersemangat.
"Kalau mau bisa pinjam sama Kakak Afni," jawabamnya sangat solutif.
"Kalau begitu nanti Kakak bujuk Kakak Afni agar meminjamkan novel itu," aku punya harapan. Semoga Afni mau membantu.
"Tapi Kak novel itu kayaknya sangat berharga buat Kak Afni, aku pernah sekali menyentuhnya dan bukan main marahnya. Wajahnya merah, matanya melotot dan aku disuruh keluar dari kamarnya, saat aku keluar pintu dibantingnya, hiasa tak berharga yang tergantung dipintu kamarnya nyaris copot, aku berlahan menjauh dan masih kudengar suaranya, dia bilang 'dasar anak nakal, berani-beraninya menyentuh barang-barangku, dia tidak tahu apa novel ini sangat berharga' katanya. Sejak saat itu aku tidak berani menyentuh barang-barang Kak Afni, masuk kamarnyapun kalau Kak Afni yang minta." Nurul menjelaskan panjang dan lebar, mata sipitnya melotot-lotot meyakinkan bahwa semua ucapnnya itu benar.
Mendengar pemaparan Nurul, nyaliku langsung ciut, Nurul yang adik kandungnya saja, yang belum tahu apa-apa membuatnya kebakaran jenggot apalagi aku yang hanya sepupu.
***
Aku susah tidur gegara memikirkan novel itu. Lelah dan letih seluruh badanku, harusnya aku mudah tidur tapi pikirann terus diaduk-aduk oleh novel itu. Jiwaku tidak tenang, dan hariku dibuatnya berantakan.
Sekarang aku benar-benar hilang harapan. Hilang harga diri pula. Semua karena kecerobohanku sendiri. Semua karena aku kurang hati-hari.
Biarlah besok nasib kuserahkan pada siluman berwujud manusia itu, aku yakin Tuhan akan melindungiku dengan caranya.
__ADS_1
***