Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Berdebar-debar


__ADS_3

"Aku jatuh cinta?" sengaja kutanyakan lagi pertanyaan itu agar Ayu dan Daniza menarik tuduhannya. Mereka terlalu cepat menarik kesimpulan atas perasaan aneh yang menyeruak di seluruh rongga dada ini.


"Iya, kamu jatuh cinta," tegas Daniza.


"Masa iya aku jatuh cinta?" Aku berusaha meyakinkan diriku sendiri bahwa rasa yang berkecamuk ini bukan jatuh cinta. Hanya sebuah perasaan senang yang berlebihan.


"Lalu apa namanya Za, kalau bukan jatuh cinta?" Ayu malah bertanya balik.


"Aku hanya bahagia, seseorang telah menolongku," sanggahku.


"Emang siapa yang baru saja menolongmu?"


Ah, pertanyaan Ayu membuat hati-hati ini bergetar. Siapa yang baru saja menolongku? Ayu penasaran dengan malaikat rahasiaku.


"Ayo tebak siapa?"


"Ya Tuhan, Zaaa ... itu mainan anak Esdeh main tebak-tebakan, udah gak zaman diusia kayak kita," kurasa itu hanya akal-akalah Daniza yang kelewat penasaran atas peristiwa indah yang baru saja terjadi padaku.


"Hmmm ... kalian ingat nggak orang menolong aku saat Azmi menyamperin kita di kantin?"


"Ingat,"


"Orang yang memberi novel pada Azmi kan?" Ayu memperjelas.


"Jangan bilang dia lagi orangnya!" curiga Daniza.


"Iya," aku mengangguk meskipun ada rasa yang membuncah saat mengingatnya.


"Kakak kelas yang pembawaannya cuek itu kan?"


"Iya, dia cuek dan dingin tapi di lumayan tampan," timpal Ayu.


"[Apa lumayan tampan katamu Yu? Woiii itu bukan lagi lumayan tapi memang tampan], Iya benar," jawabku datar.


"Dan sekarang kamu mengingatnya?"

__ADS_1


"Iya, kan kita sedang ngomongin dia makanya aku ingat," pertanyaan-pertanyaan Ayu dan Daniza membuatku kurang nyaman.


"Itu namanya jatuh cinta," tegas Daniza lagi.


[Aku jatuh cinta] gumamku dalam hati.


Sebuah tuduhan dari kedua sahabatku yang tidak beralasan. Aku hanya bahagia selepas peristiwa 5 menit yang paling indah itu. Berjalan beriringan dengan orang asing, orang yang kali pertama kutemui di lift, orang yang menyelamatkan aku dari cengkraman Azmi, orang pertama tepuk tangan saat aku menuntaskan lagu saat seleksi masuk anggota vokal, lelaki bermata teduh di dekatnya jantung ini berdetak lebih cepat dari biasanya.


Atas peristiwa kecil itu, aku tidak bisa menyembunyikan keceriaan di wajah. Lantas Ayu dan Daniza seenaknyak melemparkan tuduhan bahwa aku sedang jatuh cinta.


Jika bahagia ini di sebut jatuh cinta, begitu mudahnya cinta itu jatuh.


"Aku tidak jatuh cinta," sanggahku tegas. Kutatap tajam kedua sahabatku, berharap mereka yakin dengan kata-kataku barusan.


"Oke, kamu membatah kata hatimu," tuduh Daniza lagi. "Bagaimana perasaanmu sekarang, bahagia kan?" Daniza bertahan dengan pendapatnya. Baginya aku ini sedang jatuh cinta namun aku menolak untuk mengakuinya.


"Iya, aku bahagia, terus?"


"Kamu ingat dia sekarang? Terbayang saat dia menolongmu?"


"Iya," jawabku lesu, Ayu dan Daniza menginterogasi tiada henti.


"Iya, jantungku berdebar-debar?"


"Ada pesarasaan tidak nyaman di sekitar perutmu? Hmmm ... semacam rasa mules tapi bukan?"


"Iya, ada, Niz."


"Ya ampun Za, kamu ini **** apa ***** atau peak atau bagaimana sih, kamu sedang jatuh cinta, cuma belum menyadarinya. Arggg ... aku gemes tau nggak pengen cakar muka kamu yang lugu itu." Daniza menggerutu.


"Aku tidak jatuh cinta, aku cuma kagum, titik."


"Susah ya bicara sama orang yang lagi mabuk asmara kayak kamu," Daniza mulai emosi.


"Sudah, sudah, ayo kita ke kantin. Lupakan masalah itu." Ajakku pada Ayu dan Daniza untuk mengakhiri keributak kecil yang baru saja terjadi.

__ADS_1


[Niatnya pengen berbagi bahagia sama mereka tapi malah berakhir perdebatan. Kalau tahu, mereka akan menuduhku dan menarik kesimpulan semau mulutnya, aku tidak bakalan cerita. Tabu sekali, perempuan jatuh cinta.] gerutuku dalam hati.


***


Kantin agak sepi, hujan yang awet membuat penghuni sekolah malas bergerak.


Aku kembali memilih kursi yang berada di sudut kantin, posisi yang paling nyaman untuk mengawasi siapa pun yang masuk. Ayu dan Daniza memesan makanan. Aku titip pesan nasi goreng dan teh hangat.


Aku duduk seorang diri menunggu Ayu dan Daniza mengambil pesanan, rasa malas mengampiri, kusandarkan dagu pada tangan kanan, moodku berantakan sejak Ayu dan Daniza menuduhku jatuh cinta.


Pandanganku liar, mencari-cari keberadaan malaikat penolong, hati kecil ini berharap hujan tidak membuatnya malas ke kantin. Sedang kepala ini disesaki dengan kata-kata Ayu dan Daniza di kelas tadi. Perasaan berdebar-debar dan rasa tidak nyaman di perut, aku mengalaminya.


Apa iya aku jatuh cinta? Beginikah rasanya cinta? Jantung berdebar tidak karuan, bahagia tiada tara dan pikiran dijejali dengan dia yang mampu membuat kita mengingatnya hanya karena menunjukkan kepedulian yang kecil dan setelahnya ia masuk kedalam hati dan pikiran semau-maunya. Pertanyaan-pertanyaan itu berloncat-loncatan di kepalaku.


Ayu dan Daniza datang membawa makanan. Mereka lalu mengambil posisi duduk ternyaman untuk menikmati makanan hangat di tengah rinai hujan yang mulai reda.


"Nasi goreng pesananku kok rasanya hambar?"


"Masa sih, coba," Daniza menyendok nasi di piringku, ia ingin memastikan benarkah nasi goreng itu hambar atau hanya perasaanku saja.


"Nggak kok, rasanya sama saja dengan yang kemarin-kemarin,"


"Atau jangan-jangan kamu nggak nafsu?" curiga Ayu.


"Tahu nih, rasanya hambar."


"Hmmm ... selera makan berkurang, begini nih kalau orang lagi jatuh cinta," Daniza mulai lagi.


"Ya ampun, apa kaitannya coba Niz?"


"Za, orang kalau lagi jatuh cinta tuh mood berantakan, nafsu makan naik turun, hati bergetar-getar, jatung berdetak tak beraturan, ingatnya cuma dia dan dia, dan satu lagi, kalau ternyata kamu akhirnya cemburu melihat kakak kelas bicara dengan perempuan lain, maka fix kamu jatuh cinta."


Aku baru mau menyangga pernyataan-pernyataan Daniza tapi dia langsung nyerocos lagi, "Kamu tidak usah komentar atau membela diri sekarang, kamu pikirkan baik-baik, dan sebentar malam kalau kamu lagi sendiri lalu ingat dia si kakak kelas itu dan perasaanmu tiba-tiba bahagia, jantungmu berdebar-debar, jangan malu untuk mengakui, rasa yang kamu sebut kagum itu mulai naik level jadi jatuh cinta. Kamu boleh bilang ke kita, jangan malu Za karena jatuh cinta adalah hak asasi setiap orang. Sekarang kamu makan, karena nasi goreng ini sama sekali tidak hambar. Aku tidak mengajakmu berdebat, oke!" Kalimat yang lugas, tegas dan telak membuatku terpojok.


"Za, jatuh cinta memang kadang membuat orang yang hatinya lembut, penurut, tenang berubah drastis menjadi keras hati, keras kepala dan menolak pendapat," bijak sekali Ayu menasihatiku.

__ADS_1


"Betul Za, ini belum apa-apa, kamu baru merasakan yang enak-enaknya, bunga-bunga di hatimu sedang bermekaran, ada waktu bunga-bunga itu akan layu dan hari-harimu mulai kelam. Di saat seperti sekarang ini kamu cuma butuh teman untuk berbagi, jadi tolong jangan keras kepala."


Aku tahu kedua sahabatku ini sangat peduli. [Mungkin benar, aku jatuh cinta tapi tabu mengakuinya.] bisik hatiku lirih.


__ADS_2