Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Terjebak


__ADS_3

[Apa Jalan Kenaga II Nomor 3?] Aku berteriak dalam hati. Wajahku merah dibuatnya. Keringan dingin keluar.


Tidak mungkin, pasti ada yang salah. Bisa saja Radea ingin mengerjaiku. Mana mungkin dia tinggal di Jalan Kenanga II Nomor 3. Sedangkan di rumah itu aku tidak menemukan siapa pun selain Pak Anwar dan para pembantunya. Kalaupun Radea tingga di situ mengapa tidak ada satu pun fotonya yang terpajang atau motor yang kendarainya tempo hari terparkit di garasi.


Radea menuntaskan kalimatnya lalu menoleh ke arahku. Caranya melihatku seperti cara polisi memandang pencuri yang tertangkap basah. Aku berharap tidak orang yang mendengarkan dengan baik alamat yang disebutkan oleh Radea. Tapi sepertinya itu harapan yang tidak mungkin. Faruq melirik ke arahku, aku sempat mengkap retina matanya menyorotku sebelum aku tertunduk menyembunyikan kebohongan, hatiku berdesir dibuatnya.


"Kamu serumah dengan Kak Radea?" Celetuk Ayu membuat aku kelagapan.


"Apa? Maksud kamu Yu?" aku pura-pura tidak mengerti pertanyaan Ayu agar bisa mengubah anggapannya.


"Kak Radea juga tinggal di Jalan Kenanga II nomor 3. Alamat kalian sama, artinya kalian serumah dong." Ayu meminta konfirmasi.


"Emmm ... Kak Radea salah, kami tetanggaan. Alamanya di Jalan Kenanga III nomor 2."


"Oww, aku kira kalian serumah dan tidak pernah ceritain ke aku dan Daniza."


"Nggak kok," lirih aku menjawab Ayu. Ada rasa bersalah telah membohongi sahabat sendiri. Satu kebohongan akan melahirkan kebohongan baru, itu baru saja terjadi padaku.


***


Kegiatan pertemuan perdana telah selesai. Para pengurus masih tinggal untuk membahas hal-hal penting terkait kegiatan latihan rutin dan hal-hal penting lainnya.


Aku dan Ayu berjalan menuju gerbang. Kali ini tidak dijemput lagi oleh tante Yusnita. Aku akan pulang naik Bus.


"Yu ada yang pengen aku omongin."


"Ya ngomong aja lagi. Soal Kak Faruq ya?"


Aku menggeleng.


"Kamu benaran kan jatuh cinta pada Kak Faruq."


Aku mengangguk. Aku tidak tahu bagaimana harus menceritakan kepada Ayu tentang masalahku. Tentang kebohongan alamatku. Tentang hubunganku denga Afni. Tentang nasib getir yang menimpaku di kota ini. Kota tempat Ayu lahir dan besar. Hal-hal seperti ini mesti aku cerita pada Ayu sebelum Daniza karena Ayu lebih dewasa dalam memberikan solusi.


"Aku tidak tahu harus mulai dari mana Yu."

__ADS_1


"Apanya yanh susah, kamu bicara saja ke aku apapun itu. Mau mulai dari ujung ke langkal atau pangkal ke ujung, atau dari tengah-tengah pun nggak masalah!"


"Yu sebenarnya a-"


Mobil Fortuner Sport berhenti di depan kami. Orang di dalam mobil membuka kaca depan dan tampaklah wajah seseorang sumringah di dalamnya melihat ke Arahku dan Ayu. Radea memberikan senyuman manisnya. Aku salah tingkah dibuatnya, mengingat alamat yang ku sebut sama dengan alamatnya. Entah bagaimana perasaan Ayu yang melihat Radea Sekretaris organisasi musik berhenti di depan kami. Mungkin Ayu berpikir Radea akan minta konfirmasi soal alamat itu.


"Aku cari-cari di dalam rupanya kamu menunggu di sini. Pulang yuk!" Tanpa a i u e o Radea mengajakku pulang. Ayu senyum-senyum aneh akibat kelakuannya.


"Ha pulang?" aku melongo.


"Iya pulang!"


"Apa tidak salah Kakak ajakin aku pulang?"


"Iya tidak salah."


"Apa kamu tadi salah sebut alamat?"


"Emm ... tidak."


"Kakak serumah dengan Maiza?" Ayu ingin mencari kebenaran mana yang bohong antara aku atau Radea. Ayu


menautkan kedua alisnya dan menatapku dengan segudang tanya di kepalanya.


"Iya, kamu dengar sendiri kan tadi alamat yang kusebut sama dengan alamat Maiza, iya kan Za?"


Aku mati kutu. Tidak punya pembelaan. Mulai hari ini Ayu akan menganggapku seorang pembohong. Bagaimana aku bisa menceritakan yang sebenarnya kepada Ayu kalau satu kebohongan kecil telah menghancurkan kepercayaannya.


"Tapi Kak, tadi Maiza bilang kakak salah, Kakak tinggal di jalan Kenanga III nomor 2 dan Maiza di Jalan Kenanga II nomor 3."


"Emang ada ya Jalan Kenanga III? Yang ada cuma jalan Kenangan I dan Jalan Kenanga II."


"Aargggg ... dasar perusak suasana." aku menggerutu dalam hati. Kebohonganku mulai terbongkat. Ingin rasanya menyuruh Radea enyah dari hadapanku tapi urung karena ada Ayu.


"Za, kamu bohong ya sama aku?" tatapan Ayu garang.

__ADS_1


"Ayu, a-"


"Maiza tidak berniat bohong kok Yu, dia hanya ingin menyembunyikan yang sebenarnya agar tidak ada yang menjailinya di organisasi. Aku yang melanggar janji semalam dengan dia."


"Benar itu Za?" Ayu masih ragu. Sedang aku tidak tahu harus jawab apa.


"Iya Yu," lirihku. Aku terpkasa mengiyakan daripada masalah kecil ini berbuntut pada rusaknya hubunganku dengan Ayu. Lagi-lagi aku berbohong.


"Jadi benaran nih nggak mau pulang bareng?" Radea semakin ambil kesempatan untuk menjebakku di kesalahan yang telah kulakukan. Aku harus menolak. Radea orang asing. Jangan sampai ada niat terselubung dalam hatinya ingin mencelakaiku. Atau jangan-jangan ia ingin melakukan hal tidak senonoh padaku karena melihat pembawaanku yang kampungan, mudah untuk dibodohi. Aku harus menolak bagaimana pun caranya.


"Kakak pulang duluan aja, aku ingin temani Ayu menunggu jemputannya." harapku Ayu memintaku tetap tinggal menemaninya.


"Nggak usah Za, aku tidak apa kok menunggu sendiri. Tidak lama lagi Ayahku datang kok."


Ayu tidak tahu kalau aku sedang dalam masalah. Ia santai saja membiarkan aku ikut dengan Radea.


"Tapi Yu," aku mencoba melakukan penawaran. Bagaimana mungkin aku akan ikut Radea pulang sementara alamatku yang sebenarnya bukan di sana. Bagus kalau tadi Radea jujur, tapi kalau Radea bohong dan mau menipuku kan cari mati namanya.


"Iya tidak apa-apa, aku sekalian temani Ayu menunggu." Radea malah ikut-ikutan menunggu. Orang yang satu ini keras kepala juga. Nekat benar dia ingin mengantarku pulang dari kemarin-kemarin. Akub semakin yakin dia punya keinginan terselubung.


"Nggak apa-apa kok Za, beneran. Kamu pulang duluan aja sama Kak Radea." Senyum samar terlihat dibibir tipisnya.


"Tapi Ayu,"


"Beneran, aku tidak apa-apa. Kasihan Kak Radea menunggu lho." Kasihan? Ayu lebih kasihan kepada orang lain daripada kasihan pada dirinya sendiri yang harus menunggu sendiri sementara waktu tak lama lagi berganti malam. Ingin rasanya aku teriak sekecangnya mengatakan bahwa aku tidak serumah dengan Radea. Dan Radea, sumringah mendengar Ayu mengizinkanku untuk segera ikut dengannya.


Aku tidak ada pilihan, mau tidak mau aku harus ikut Radea, naik di mobilnya dan menyerahkan nasibku di tangannya.


"Baiklah, aku jalan dulu ya Yu." Aku membuka pintu belakang.


"Lho kok duduk di belakang, memangnya aku ini sopir?" Radea membuka pintu depan untukku. Artinya aku akan duduk berdampingan dengannya.


Aku naik dan duduk di sampingnya. Ayu melambaikan tangan untukku sebagai ucapan selamat jalan dan hati-hati.


Sementara itu hatiku dag dig dug. " Tuhan lindungi aku."

__ADS_1


__ADS_2