
Perut yang keroncongan adalah keadaan yang tidak bisa dikendalikan tanpa memasukkan makanan yang bisa menyumbat suaranya terdengar ke luar. Mau berdiri, duduk atau baring sekalipun kalau datang maunya pasti tidak bisa di tahan-tahan.
"Nyiuiiuu ... nyiuiui ... gruiiiik ...." Bunyinya bisa kudengar dengan jelas meskipun tak sampai masuk ke dalam kamar Afni, tapi kentut persoalan lain. Kentut bisa ditahan atau di keluarkan pelan-pelan, diangsur sedikit demi sedikit agar tidak bersuara.
Mungkin karena pengaruh kelelahan berjongkok, dan rasa takut yang mendera saat nyaris kedapatan aku tidak menyadari kentut keluar diwaktu yang tidak tepat. Suaranya bebas menggelegar karena tak ada yang menahannya. Keadaan berjongkok, apa yang bisa menghalagi suaranya.
"Iya, juga dengar ada suara seperti suara kentut." Rima lagi-lagi meyakinkan pendengaran Azmi. Afni belum mengeluarkan suara. Mungkin dia sedang mencari alasan.
Kalau Afni mau mengakui lagi suara kentutku adalah kentutnya, itu berarti dia sekarang kena batunya. Ancaman makan tuan. Gengsi yang menyiksa diri. Siapa suruh tidak mau mengakui sepupu sendiri. Begini nih jadinya.
"Kamu ya yang kentut?" tuduh Azmi kepada Afni.
"Emang ada suara kentut? Aku tidak dengar apa-apa!" Afni mungkin mengalami gangguan telinga akut. Suara kentut sebesar erangan angsa dia tidak dengar.
"Iya, ada suara belum jelas suara apa tapi seperti suara kentut."
"Kalian salah dengar kali, bisa saja kan itu suara kendaraan di luar, atau suara mobil truk yang opor gigi kalian kira suara kentut." Afni sudah jelas punya gangguan telinga stadium empat. Ia sama sekali tidak mendengar suara kentutku.
"Mungkin juga," Rima mengiyakan pembenaran Afni sekenanya.
"Eh, tau nggak kalau adik kelas jerawatan itu lolos seleksi organisasi vokal?"
"Apa? Masa sih lolos? Padahal suaranya biasa aja." Berita kelolosanku adalah kabar buruk untuk Afni. Dia tidak mau sepupunya ini punya prestasi. Kalau aku jadi anggota vokal maka dengan mudah orang akan bergaul denganku dan itu bisa mengancam reputasinya.
Hem ... ! Bau sekali kentutku. Aku nyaris sesak napas dibuatnya. Aku menutup hidung, tidak bisa menerima bau kentut sendiri. Jangan-jangan kasarnya juga ikut nih, kok bau sekali. Semoga tidak. Semoga ini hanya pengaruh kebanyakan makan ubi goreng di sekolah. Kukibaskan tangan berusaha mengusir bau kentut yang masih melayang-layang di depanku, jangan sampai baunya masuk ke dalam kamar Afni.
"Iya, dia lolos dan namanya berada di nomor urut satu yang artinya dia adalah peserta terbaik diseleksi kali ini." Penjelasan Rima membuatku senang.
"Memang sih suaranya bagus. Itu tidak bisa dipungkiri. Aku pun mengakuinya. Tapi kenapa ya kok aku semakin tidak senang kalau dia masuk dalam bagian kita. Dia bisa menjadi ancaman untuk kita. Kalau dia tetap bergabung maka kita agak sulit untuk tembus event-event besar." Keluh Azmi.
"Udah deh, nggak usah bahas dia, malas aku ingat dia. Bikin perut mual tau nggak." Sebisa mungkin Afni menghindari pembahasan tentang aku.
"Lho kok ada yang bau?" Rima bicara sambil menutup hidungnya.
"Iya nih ada yang bau kentut." Azmi pun mulai menyadarinya.
"Emmm ... " Afni tak berkomentar tapi menutup mulutnya dengan bantal.
Mereka baru membahas tentang aku tapi malah aroma kentut tidak bisa diajak kompromi. Jadi penasaran ingin tahu tanggapan mereka tentangku dan alasan mereka menjadikanku orang yang wajib dimusuhi.
__ADS_1
Aku harus masuk kamar. Keadaan tidak aman kalau di sini terus. Bahaya mengintai. Aku berdiri dan berjalan mengendap-endap.
"Kayaknya tadi bukan suara kendaraan tapi memang suara kentut, siapa sih yang kentut?" Rima mulai curiga.
"Iya nih. Bau banget. Aku penasaran siapa sih di luar sana yang sedang mengintai kita?"
Terdengar suara kaki Azmi melangkah menuju pintu. Tangannya sudah memegang gagang pintu. Aku mengendap-endap dan mempercepat langkah secepat yang kubisa. Gagang pintu di putar dan aku masih berada di depan kamar Afni. Aku mengendap-endap lebih cepat dan ... .
Azmi membuka pintu saat aku telah sampai di dalam kamar.
***
Rasa lapar ini semakin tidak bisa dikendalikan. Perutku mulai melilit. Aku harus bagaimana sementara Azmi dan Afni masih di sini.
Magrib sudah berlalu tapi mereka belum pulang juga. Apa sih yang mereka bicarakan sampai malam begini tidak pulang-pulang juga. Bisa ****** aku kalau mereka nginap di sini. Sebentar kalau tante Yusnita pulang, dan menanyakan aku maka rahasia Afni akan terbongkar. Afni akan malu sendiri dengan teman-temannya.
Tapi kalau tante Yusnita pulang dan semuanya terbongkar kan itu jadi keuntungan buat aku. Afni akan malu pada teman-temannya dan akhirnya akan baikan dengan aku. Azmi dan Rima juga akan berhenti menghina aku karena tidak enak hati denga Afni.
Tak ada ruginya kalau semua akhirnya terbongkar. Lebih baik aku nyalakan tivi, menikmati tayangan kontes suara yang menarik sambil menunggu tante kesayangku pulang.
"Hey, selamat malam." Pesan dari Radea.
"Aku tidak menganggu kan?"
"Emmm ... tidak, santai aja lagi."
"Selamat ya, kamu lolos seleksi anggota vokal."
"Terima kasih. 😊"
"Kita nanti akan sering-sering latihan bareng lho."
"Oh ya, bagus dong." balasku sekenanya.
Entah mengapa Radea yang keren, bisa memainkan alat musik. Tinggi dengan badan atletis, pundak yang bidang, janggut tipis yang menarik, dan dari kendaraan yang dimilikinya menandakan dia orang berduit sama sekali tidak membuatku terkesan.
"Kamu suka ya kalau sering-sering ketemu sama aku?"
[Ihhh ... apaan sih, kok balasannya kayak gitu. Tu kan aku tak tahu harus balas apa. Bilang apa ya? Masa aku balas iya, kan malu. Aduuuhhh ... Kalau aku bilang tidak kira-kira apa ya respon Radea.]
__ADS_1
"Tidak juga."
"Terus tadi bilang 'bagus dong' maksudnya apa?"
"Bagus aja, kalau sering latihan bareng artinya aku akan nyanyi diiringi musik dan itu bagus untuk melatih kemampuan vokalku."
"Oh ya Maiza, boleh nggak kapan-kapan aku main ke rumahmu?"
Waduh, bahaya nih kalau mengiyakan permintaan Radea. Dengan santainya mau main ke sini, kita kan baru kenal.
"Boleh. Tapi nanti ya."
"Siapa juga yang bilang sekarang."
"Siapa tau aja kamu mau datang sekarang."
"Kalau kamu terima aku datang sekarang, ya aku ke sana sekarang, apalagi aku sendiri di rumah, sumpek nggak ada teman."
"Dasar, karena sendiri makanya kamu mau ke sini. Emangnya kamu tahu rumahku?"
"Iya tahu."
"Asal, di mana coba?"
"Di jalan Jendral Sudirman No. 22 kan?"
Waduh, Radea kok tahu alamat rumah ini. Posisiku tidak aman. Satu saja yang tahu aku tinggal di sini dan serumah dengan Afni maka semuanya akan berakhir. Fix aku akan diusirnya.
"Yee, salah."
"Ngaku saja. Aku tahu kok kamu tinggal di jalan Jendral Sudirman kan?"
"Kamu salah 😋"
"Ngaku sajalah, ngapain disembunyikan? Aku nggak boleh ya main ke sana?"
"Tahu dari mana kamu kalau aku tinggal di jalan Jendral Sudirman?"
"Tahu dari formulir masuk organisasi vokal Maiza Kartika! 😊."
__ADS_1
😲😨😱