
Bulan malu-malu lantaran masih sabit, pucat pasi kedapatan pagi. Angin menjadi beku, matahari enggan menyapa. Burung bersiul sekenanya. Aku menyambut pagi dengan harapan cita dan cinta dapat digapai dengan mudah.
Aku datang lebih awal daripada biasanya. tante Yusnita mengantar aku dan Nurul lebih cepat karena ada acara kantor. Tante Yusnita semakin sibuk dengan pekerjaannya.
Sekolah masih agak sepi. Baru satu dua siswa yang datang.
"Pagi Pak Iqbal!"
"Pagi Nona." Balas Pak Iqbal ramah. Nona adalah sapaan hangat Pak Iqbal untuk semua siswa yang menyapanya. "Sendiri aja Nona, pacarnya mana?" Meskipun di sekolah ini ada ratusan siswa bahkan mencapai dua ribuan tapi Pak Iqbal nyaris menghafal semua wajah-wajahnya, apalagi kalau sudah pernah masuk ke dalam daerah kekuasannya, pos keramat bagi yang terlambat, maka Pak Iqbal akan ingat seingat-ingatnya.
"Ha? Pacar." Pertanyaa Pak Iqbal membuatku bingung. Sejak kapan aku punya pacar. Pak Iqbal mungkin salah orang, kali aja dia masih ngantuk.
"Iya pacar Nona!"
"Aku tidak punya pacar, Pak. Pak Iqbal salah orang kali?"
"Masa saya salah orang Nona. Nona kan yang terlambat saat hujan kemarin, yang datang terlambat sama pacarnya? Yang pakai satu payung berdua?" Pak Iqbal mengingatkan aku tentang peristiwa manis itu, wajahku bersemu dibuatnya.
"Oh itu, dia bukan pacarku Pak, cuma kakak kelas dan kenal-kenal amat juga. Kebetulan kita ketemu di depan toko ATK dan dia menawariku payung."
"Ah, Nona bisa aja cari alasan."
"Serius Pak, masa aku bohong?"
"Hmmm ... tapi ... Nyong Faruq itu tidak pernah lho jalan dengan perempuan. Sudah kelas sebelas, dan aku tidak pernah melihatnya satu kalipun sama perempuan, jadi aku kira Nona ini pacaranya."
"Ah, bukan Pak. Cuma kebetulan aja, Ya udah aku masuk Pak."
"Yo, silakan Nona!"
Pak Iqbal ada-ada saja, baru jalan berdua saja sudah dikira pacaran. Tapi apa benar kata Pak Iqbal kalau Faruq tidak pernah jalan dengan perempuan? Artinya Faruq jomblo dong. Aku punya kesempatan untuk dekat dengannya. Dekat dan menjadi teman baiknya sudah cukup membuatku bahagia. Hati ini bahagia tas tuduhan Pak Iqbal. Aku dikira pacaran dengan Faruq.
__ADS_1
***
Kelas masih sepi, satu seorang siswa yang duduk dengan wajah dingin. Aku harus membujuk Daniza untuk baik kembali. Daniza kalau ngambek bujuknya setengah mati. Tapi kalau dia yang ngambek tak ada keceriaan diantara aku dan Ayu. Karena Daniza pembawa keceriaan diantara kami. Daniza selalu berhasil membuatku cekikian, entah karena dirinya yang memang lucu ataupun ucapannya yang menusuk tapi ada benarnya, meskipun Daniza mudah tersinggung.
"Hei, Niz." Sapaku pada Daniza yang datang lebih awal dan sudah duduk di kursi besar khusus untuknya. Sekarang Daniza sudah nyaman duduk berlama-lama di kelas berkat bantuan Pak Arman. Daniza hanya melirikku dengan wajah masam.
Aku menarik kursi dan mendekati Daniza, "Niz, aku tahu kamu masih kecewa soal kemarin, tapi jujur Niz aku merasa ada yang kurang jika tidak mendengar candaanmu." Daniza mendengar kalimat-kalimatku tapi dia tetap dingin. Bahkan memalingkan wajah dariku. Dia tidak peduli aku yang duduk di sampingnya.
"Niz, kalau aku salah tolong maafkan." Daniza tidak hirau padaku. Ia tetap bergeming. Pandangan ia lemparkan ke luar, wajahnya tetap masam.
"Niz, aku ingin kita baikan lagi. Lupakan soal organisasi vokal itu. Aku juga mau mundur kok." Daniza tetap membatu.
"Niz, aku akan mundur dan kita cari organisasi yang tepat untuk kita bertiga. Aku ingin kita tetap baik seperti sebelum-sebelumnya, baikan ya." Daniza memutar leher dan melihatku. Aku tersenyum akhirnya Daniza mau mendengarku.
"Kamu bisa diam nggak?" Wajahnya garang dan alisnya tertaut membuat tubuhku bergetar lantaran tidak menyangka Daniza akan murka.
"Niz, aku tahu kamu kecewa dan marah tapi jujur Niz, aku merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Kamu tahu kan Niz, aku hanya dua orang teman baik di sekolah ini, dan itu kamu dan Ayu, kalau akhirnya kamu pun marah padaku aku hanya punya Ayu. Niz-" Aku belum menuntaskan kata-kataku, Daniza langsung menyangga.
"Iya, Niz. Kita baikan ya?" Ia mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
Daniza mengangguk, "Kamu jangan mundur Za, jangan sia-siakan mimpimu."
Lega aku mendengar bisikan Daniza.
***
Aku memasuki sekretariat organisasi vokal bersama Ayu. Hari ini adalah pertemuan perdana antara pengurus dan anggota baru. Karena datang telat, semua mata mengarah kepada kami. Beberapa terlihat berbisik dan curi pandang kepada aku dan Ayu.
Anggota baru dan pengurus duduk di tempat terpisah. Bu Mirah berada di antara jajaran pengurus.
Hari ini agendanya perkenalan antara pengurus dengan anggota baru dan penentuan jadwal latihan rutin. Selain itu ada agenda pertemuan dengan organisasi musik. Organisasi musik dan vokal selalu latihan bersama meskipun punya ketua dan penanggung jawab yang berbeda.
__ADS_1
Mataku nyaris keluar ketika ketua organisasi vokal memperkenalkan diri.
"Za, lihat siapa yang di sana."
Aku tak hirau dengan seruan Ayu, fokusku tertuju pada lali-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai ketua organisasi vokal "Saya ketua organisasi vokal, kenalkan nama saya Muhammad Al Faruq Zaahirulhaq, selamat datang di organisasi vokal, salam kenal dan semoga kalian loyal."
Jantungku berdebar lagi. Debar yang aneh itu, cupid sialan berterbangan liar di sekitar perut menimbulkan rasa tidak nyaman.
Faruq memperkenakan dirinya dengan tenang, santai, sedikit tersenyum dan tidak peduli dengan siapa pun. Dia memang laki-laki yang dingin.
Di jejeran pengurus juga duduk Azmi, Afni dan Rima. Sesekali muka masam mereka muncul tatkala pandangannya terganggu oleh kehadiranku.
Setelah semua pengurus memperkenalkan diri. Tiba giliran anggota baru untuk memperkenalkan diri tanpa kecuali.
Wajib disebutkan nama lengkap, alamat, dan kelas. Tamat riwayatku kalau harus menyebutkan alamat rumah.
Sejak anggota baru mulai memperkenalkan diri satu persatu, Retina mata Afni tidak lepas dariku. Ada ancaman yang ia berikan.
"Za, kenapa sih Kak Afni melihatmu seperti itu? Tatapannya itu loh, penuh amarah?"
"Entahlah, mungkin dia masih menyimpan dendam atas peristiwa kala itu."
"Aneh banget ya, jadi manusia kok pendendam."
"Entahlah." aku mengedikan bahu sekenanya.
Hampir tiba giliranku, aku belum mendapatkan alamat yang tepat untuk kusebutkan. Aku tidak mungkin menyebutkan alamat yang sama dengan Ayu apalagi menyebutkan alamat sendiri. Afni akan semakin murka padaku. Ancamannya untuk mengusirku akan ia laksanakan segera jika itu terjadi.
"Perkenalkan nama saya Maiza Kartika, kelas sepuluh Mia 1. Alamat ... "
Kulirik Afni, dia juga melakukan hal yang sama padaku.
__ADS_1
Alamat Jalan Kenanga II No. 3.