Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Ancaman


__ADS_3

Alam bawah sadar baru saja menghinggapiku, namun urung karena mendengar suara mobil berhenti di depan rumah. Kulirik jam, sudah tengah malam, setengah dua belas. Aku bangun mengintip, Afni baru pulang diantar teman lelakinya. Mereka sempat ngobrol sebentar sebelum Afni meninggalkannya masuk ke halaman.


Tante Yusnita akan tidur tenang malam ini. Anak gadisnya sudah kembali eskipun sudah larut. Afni akan menjawab pertanyaan sebelum ia dibolehkan naik ke kamar.


Afni berjalan masuk ke halaman, mobil yang mengantarnya masih berhenti, seorang lelaki memandangi Afni di sana. Afni balik badan dan berlari kecil kembali pada teman lelakinya itu.


Ya Tuhan, sebuah ciuman mendarat di bibir Afni. Mata lelaki itu penuh nafsu, ia bahkan mencium bibir Afni dari dalam mobil. Buas dan liar. Aku melihatnya. Lelaki itu mengedarkan pendangan mengintai mata yang menciduknya. Ia melihat ke atas ke arah jendela yang di dalamnya aku sedang berdiri. Laki-laki buas itu memperhatikan gorden yang tersingkap sedikit. Pandangannya padaku yang lumayan lama membuat Afni berhenti dan juga melihat ke atas. Mataku dan Mata Afni bertemu.


Pertemuan mata ini, aku yang mengintip dan Afni yang kedapatan menjadi awal prahara besar yang akan terjadi padaku. Afni tidak akan tinggal diam atas kejadian ini. Sebuah perhitungan akan dilayangkan padaku. Aku harus siap.


Cepat kututup rapat gorden jendela kamar lalu kumatikan lampu. Kutarik selimut dan membenamkan kepala di bawah bantal.


Peristiwa itu, Afni ciuman di depan rumah. Berani sekali, tak ada rasa takut maupun rasa malu diantara mereka. Apa Afni sudah gila, mau-maunya dicium oleh orang yang bukan suaminya. Setan liar apa yang telah merasukinya. Kurang perhatian apa dia dari tante Yusnita sampai harus cari perhatian dengan laki-laki perangai iblis itu.


Afni mulai tidak benar. Aku harus melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Afni dari laki-laki brengsek itu. Beraninya cuma di depan rumah saja, mencuri sedikit kehormatan Afni yang dijaga ketat tante Yusnita.


Terdengar suara pintu di banting dari bawah. Rasa takut menghantui, apa yang akan Afni lakukan padaku nanti.


"Dari rumah teman Ma," teriakan Afni terdengar ke sesisi rumah.


"Sampai larut begini? Nomor kamu tidak aktif," balas tante Yusnita.


"Acaranya kan malam Ma, hapeku lowbath."


"Terus pakaianmu kenapa seperti ini? Apa tidak ada pakaian yang lain,?" Protes tante Yusnita terhadap pakaian Afni yang memang agak terbuka, baju tanpa lengang dengan panjang selutut warna merah gelap.


"Namanya juga party Ma, masa aku harus pakai hijab kayak Maiza, kalau pakai hijab bukan party namanya Ma tapi pengajian." Suara Afni semakin tinggi.


"Acara macam apa yang mengharuskan tamunya pakai pakaian kayak begini?"

__ADS_1


"Mama sudah berubah. Apapun yang Afni lakukan selalu salah. Sejak ada Maiza di rumah ini Mama selalu membanding-bandingkan, anak Mama siapa sebenarnya, aku atau Maiza?" suara Afni makin garang.


"Itu semua demi kebaikan kamu Afni,"


"Kebaikan apa Ma, aku sama sekali tidak merasa Mama melakukan hal baik untuk aku. Mama mulai membagi kasih sayang kepada Maiza, ponakan kampungan Mama yang di tampung di rumah kita." bahasa sarkatis Afni telak membuat aku tahu diri.


Aku memeluk lutut mendengar kata-kata Afni. Ada rasa sakit memenuhi rongga dada, sakit sekali. Aku ponakan kampungan yang di tampung di sini.


"Afni, jaga mulutmu-!" suara tante Yusnita yang geram tertahan.


"Mama memang kertelaluan," tangis Afni mulai pecah.


"Afni, Afni, Afni sayang, Mama belum selesai bicara,"


"Aku capek, Ma." teriaknya.


Terdengar suara hentakan kaki menaiki tangga. Itu Afni, setelah tante Yusnita kena amarahnya, tentu akan berlanjut padaku. apalagi setelah ia kedapatan berciuman di depan gerbang.


***


Pandangan mata teduh, yang dilindungi alis lebat melengkung itu tertuju padaku. hanya padaku seorang diantara banyaknya orang yang berada di ruangan ini.


Jari jemarinya lentik menekan tuts-tuts pada piano. Ia mengiringi sekaligus nyanyi bersama denganku dalam acara penamatan kelas dua belas. Aku bernyanyi bukan sekadar hiburan lagi tapi lebih dari itu, jiwaku, kata hatiku terungkapkan lewat lagu bukan untuk kakak kelas yang baru saja lulus tapi untuk orang yang mengiringiku.


Lagu kemesraan yang dipopulerkan oleh Iwan Fals, mewakili perasaan aku dan Faruq. Aku dan Faruq resmi menjadi dua orang yang saling mengasihi. Kisah indah ini baru berlangsung sejak dua bulan lalu. Faruq yang diam, beku, dan kaku menyatakan cintanya lewat sebuah surat. Setelah itu aku dan dia bertemu di tepi waduk atas bantuan Daniza di belakang sekolah yang dilengkapi beberapa bangku taman.


Faruq tiada henti memandang ketika aku bernyanyi. Tak dapat diungkapkan dengan bahasa manapun di dunia ini tentang keindahan yang menyulam aku dan Faruq.


Pintu digedor dengan keras membuyarkan mimpi indah yang baru saja mengenggamku. Sekali lagi pintu kamar digedor. Aku bangun lalu menyalakan lampu. Kulirik beker, waktu menunjuk ke angka 5 lewat seperempat.

__ADS_1


Astagfirullah, aku baru saja mimpi. Gegara mimpi itu aku nyaris kesiangan. Kusingkap gorden, salat jamaah sementara berlangsung. Aku baru mau buka pintu dan kembali terdengar suara gedoran yang lebih keras.


Di Depanku Afni sudah berdiri, ia murka.


"Lama sekali pintunya dibuka, pura-pura tidak dengar ya kamu?" bentaknya.


"Maaf Af-"


"Maaf maaf, seenak perut ya kamu bilang maaf."


Afni dirasuki setan liar. Aku lebih baik diam daripada berurusan dengan setan yang merasukinya.


"Eh, semalam kamu ngintip aku kan!" ia memicingkan mata, dengan kasar telunjuknya diarahkan padaku, tepat di depan mulutku.


"Afni, bukannya aku mau ikut campur atau apa, tapi yang kamu lakukan itu salah, suatu saat kamu akan menyesal, apa tidak kasihan sama tante Yusnita?"


"Eh orang kampung tidak usah mengguruiku. Awas saja ya kalau kamu sampai jadi ember bocor, kalau sampai ada yang tahu kejadian semalam, berarti itu dari kamu." Aku belum sempat bicara Afni kembali menyeringai.


"Satu lagi, kamu jangan coba-coba bilang ke siapapun, terutama dengan teman-teman kampunganmu itu kalau kita serumah, apalagi kalau sampai mereka tahu kita ini sepupuan. Dan kalau di sekolah, tolong jauh-jauh dari jangkauan mataku. Paham kamu?"


"Sebenarnya apa salah aku Af, kenapa akhir-akhir ini kamu berubah sama aku?"


"Salah kamu banyak, tidak terhingga." santai tapi menusuk.


"Bagaimana aku bisa memperbaiki agar hubungan kita bisa baik sepeti dulu?"


"Gampang kok kalau kamu mau," nada Adni mulai melemah.


"Aku mau asal kita baik seperti sbelumnya," aku hanya berharap aku dan Afni bisa seperti dulu lagi. Sepupu yang selalu baik dan perhatian padaku.

__ADS_1


"Kamu kembali ke kampung!"


__ADS_2