Liebe Zu Maiza

Liebe Zu Maiza
Terperangkap


__ADS_3

Radea menambah kecepatan mobil yang di kemudinya. Rasanya aku semakin di seret pada kelam yang mencerca. Ia memilih rute yang lengang meskipun jauh asal tidak terjebak macet. Hari sudah gelap tapi alamat yang ada dalam kepala Radea belum sampai.


Aku tidak bisa lagi melakukan apa-apa. Aku pasrah dan diam di tempat. Radea akan melakukan aksi jahatnya padaku. Santai sekali dia mengatakan ingin mengajakku bersenang-senang. Mendengar kata bersenang-senang sudah membuat aku telan liur tak senang ditikam takut apalagi kalau itu benar-benar terjadi. Bersenang-senang yang ada dalam kepala Radea tentu sama dengan yang aku bayangkan, bersenang-senang dalam arti yang negatif.


Radea masih seperti tadi. Ia sangat bahagia melihatku seperti ini, siap diterkamnya kapan saja. Ia menang kali ini atas kebodohanku naik di mobilnya. Pikirku Radea orang baik-baik seperti kesan pertama saat pertama kali ia menawariku boncengan. Pikirku Radea teman yang baik seperti yang kubayangkan saat aku membalas pesan-pesannya. Ah tetiba saja aku ingat kepada Faruq, malaikat penolongku selama ini. Andai saja ada Faruq di sini situasinya mungkin tak sehoror ini.


Kota kok gini amat ya Tuhan. Penuh dengan segerombolan orang-orang yang mencari kesenangan tanpa peduli dengan nasib orang lain. Radea dan Azmi masuk ke dalam kelompok yang sama dalam memori di kepalaku, mereka ada dalam daftar hitam.


"Hei ... Maiza, jangan kaku kayak gitu dong, cobalah untuk santai." Radea kembali memecah alunan musik dengan menanyaiku. Semakin Radea memintaku untuk santai, aku malah semakin tidak bisa menikmati keadaan ini.


"Aku tidak bisa santai dalam keadaan seperti ini Radea." Radea melihatku lalu tersenyum licik lagi. Masih dengan bendera kemenangan di tangannya. Sedangkan aku sedari tadi menaikkan bendera putih tanda kekalahan. Radea rupanya tidak mau melepaskan aku begitu saja setelah mengaku salah.


"Lho kenapa? Kamu masih takut dengan aku?" Cara bicara Radea membuatku ingin menabok wajahnya itu. Andai kata akuntidak berada di dalam wilayak kekuasaanya, sedari tadi Radea KO akibat dari ilmu beda diri yang kumiliki.


"Kamu punya niat jahat kan padaku?" lirihku tanpa sedikit pun melihat wajah Radea yang menakutkan, memuakkan, menjengkelkan dan semua hal-hal jelek ada pada Radea.


"Ya ampun Maiza, aku ini sudah melakukan kebaikan untukmu, aku mau mengajakmu bersenang-senang lalu mengantarmu pulang." Radea mendekatkan wajahnya padaku seperti mau menerkam mangsanya.


"Aku tidak butuh bersenang-senang Radea, aku hanya ingin diantar pulang," lirihku, berusaha tetap tenang agar makhluk terkutuk yang ada di depanku ini tidak tersinggung.


"Aku sekarang mau mengantarmu pulang Maiza, kamu duduk tenang saja dan nikmati perjalanam menyenangkan ini bersamaku!" Tegas Radea, suaranya yang berat mampu membuatku sedemikian takutnya sampai menghirup oksigen pun rasanya perlu hati-hati.


"Tapi bukan di alamat Jalan Kenangan II nomor 3 Radea." Aku tak melihatnya lagi. kepala kusandarkan pada kaca mobil dengan melipat kedua tangan di atas paha.


"Di mana alamat kamu tadi Maiza?" Semoga Radea berubah pikiran.

__ADS_1


"Di Jalan Sudirman nomor 22." Jawabku sedikit bersemangat.


"Mengapa tadi kamu harus bohong Maiza?" Radea ingin mengorek tentang kehidupan pribadi yang hanya boleh diketahui oleh orang-orang tertentu saja.


"Bukan urusan kamu," datarku.


"Ayolah Maiza, jangan keki seperti itu dong." Radea berusaha mengembalikan keceriaan diwajah ini dengan sentilannya yang receh.


"Aku menyesal ikut denganmu Radea." aku hampir berbisik, kalimat itu sedari tadi ingin keluar dari mulutku.


"Aku bahagia atas penyesalanmu, Maiza." Radea terkekeh lalu membunyikan klakson mobil. Akhirnya sampai juga ke alamat yang sedari tadi jadi masalah sehingga aku duduk ketakutan di samping Radea. Jalan Kenanga II nomor 3. Aku terperangah melihat nomor rumah yang dituju Radea. Nekat benar manusia ini membawaku ke sini. Ke rumah Pak Anwar Baddu, konglomerat baik hati yang pernah menolongku tempo hari. Aku masuk ke dalam masalah yang baru, apa yang harus kukatakan kepada pemilik rumah jika menanyai tentang kedatanganku ke rumahnya. Tak ada hujan tak ada angin tiba-tiba orang kecil sepertiku datang ke istananya.


Seseorang membuka gerbang untuk kami sambil memberikan hormat kepada Radea dengan membungkukkan badan. Apa hubungan Radea dengan Pak Anwar Baddu? Sebuah pertanyaan besar yang masih memenuhi rongga kepala ini. Benarkah Radea tinggal di rumah inj bersama Pak Anwar Baddu?


"Sama-sama Tuan." jawab seseorang yang membuka gerbang, dari pembawaannya dan caranya menyambut Radea aku bisa menarik kesimpulan orang itu adalah pembantu di rumah ini dan Radea adalah tuan, pemilik rumah ini.


Radea menghentikan mobilnya di depan rumah, seseorang datang mendekati mobil. Aku ingat orang itu, orang yang dulu membuka pintu untukku saat Pak Supri hendak mengantarku pulang.


Radea mengangkat tangan kepada orang yang mendekat sehingga ia menghentikan langkahnya. Radea tersenyum pada orang itu sebelum ia masuk kembali. Radea lalu menoleh padaku dan tersenyum.


"Hei Tuan Putri kita sudah sampai," raut wajah dan intonasi Radea berubah seperti gambaran Radea yang ada di kepalaku selama ini. Seperti Radea yang pertama kali kukenal dulu.


"Radea a-"


"Tidak usah takut Maiza, aku akan mengantarmu pulang, tapi sebelumnya kita masuk dulu ya, aku harus ganti baju dan mandi dulu sebelum itu." senyum lepas kulihat di wajahnya yang berjanggut halus.

__ADS_1


"Ta-tapi Radea?" sesuatu yang lebih jahat akan dilakukan Radea padaku, wajahnya yang manis hanyalah topeng.


"Maiza, kamu takut denganku kan? Percayalah aku tidak akan mencelakaimu atau melakukan apapun." potong Radea, dia tahu betul membaca isi pikiranku.


"Tapi tadi kamu bi-"


"Maafkan soal yanh tadi, aku hanya menakutimu. He ... he ... he ... dan ternyata aku berhasil melakukannya. Ayolah!" Radea sudah berdiri di samping pintu dan membuka pintu untukku. Berat hati ini mengikuti ajakan Radea, rasa was-was dan takut masih menghantui.


Aku turun dari mobil dan Radea berjalan di depanku, aku mengikuti langkahnya memasuki rumah Pak Anwar Baddu yang mungkin juga milik Radea. Rumah yang sungguh besar. Dari semua yang ada di dalam rumah ini adalah barang mewah dan mahal. Aku bahkan tidak pernah menemukan barang serupa di kampung. Tante Yusnita sajanyang menurutku sudah tajir tapi tak ada apa-apanya dibanding dengan apa yang ada di depan mataku saat ini.


Di dalam rumah aku di sambut oleh seorang pembantu yang dulu menyiapkan makanan untuk Pak Anwar. Rumah yang besar ini hanya diramaikan oleh pembantu.


"Baru pulang tuan?" sapanya ramah dan mengambil ransel yang baru saja dibuka oleh Radea. Radea menaiki tangga, dan aku berhenti.


"Ayolah Maiza, kamu juga harus bersih-bersih." Radea menoleh padaku.


"Aku di situ saja menunggu," aku menungjuk sofa yang ada di depan tangga naik.


"Maiza, kamu masih ragu?"


Aku menggeleng dan kembali mengikuti jejak Radea. Pada akhirnya kami sampai di depan sebuah kamar yang dulu pernah kutempati saat Pak Anwar menolongku.


Radea membuka pintu kamar dan memintaku masuk. "Masuklah Maiza," aku mengikuti perintahnya, ketakutanku sudah mulai hilang sejak melihat di rumah ini banyak orang selain aku dan Radea.


Aku masuk mendekati jendela, ternyata Radea pun ikut masuk, aku baru menyadarinya saat ia menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Aku menoleh dan Radea menatapku aneh.

__ADS_1


__ADS_2